Chereads / The Lord of Warrior / Chapter 26 - Kemenangan Masih Belum Sirna

Chapter 26 - Kemenangan Masih Belum Sirna

"Perasaan apa yang kurasakan saat ini?" Tangan Eiireen gemetar, padahal keadaan di sana tidak dingin sama sekali. Bola matanya terus berpendar ke segala arah, mencari sesuatu yang salah.

Namun, sejak tadi dia tidak menemukan keanehan apapun yang ada di sekitar. "Meskipun tidak ada yang salah, kenapa perasaanku terasa seperti ini?" Hingga akhirnya bola matanya menatap telapak tangan Aarav yang tergerai.

Seketika, bola mata Eiireen terbelalak lebar. Kepalanya segera didongakkan ke atas, menatap apa yang ada di sana. Pada jarak beberapa meter, pedang kayu berputar mengarah pada wajahnya.

"Sialan!" umpat Eiireen menarik pedang kayu yang sebelumnya diarahkan pada Aarav. Kemudian memasang kuda-kuda bertahan dan menangkis pedang kayu yang mengarah padanya.

Aarav yang melihat celah untuk kabur, segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sangat baik. Tanpa sepengetahuan Eiireen, dia telah berhasil lari dari keadaan yang berbahaya.

Namun, lagi-lagi Eiireen berada beberapa langkah di depan. Dia seakan tahu tentang rencana yang akan dilakukan Aarav untuk kabur. Setelah menangkis Pedang kayu yang mengarah padanya, dia segera melemparkan pedang kayu yang ada pada genggaman tangan ke arah Aarav.

Ujung pedang kayu yang tajam mengarah langsung pada punggung Aarav, sudah seperti mata panah yang mengikuti gerakannya. Beberapa kali Aarav mencoba untuk menghindari serangan tersebut, tetapi tidak dapat dia lakukan dengan mudah.

Pedang yang dilemparkan Eiireen, sudah seperti memiliki mata sendiri agar dapat terus mengincar punggung Aarav. Setiap kali dia bergeser, pedang tersebut juga akan bergeser mengikuti. Hal itu dapat terjadi karena Eiireen telah memasukkan sebuah mantra sihir ke dalam pedang kayu sebelum melemparnya.

"Sialan!" umpat Aarav menggigit ujung bibir, kepalanya terus menghadap ke belakang dengan bola mata menatap tajam. "Meskipun pedang kayu itu tidak membuatku mati, sepertinya akan sangat berbahaya jika terkena secara langsung!" teriaknya semakin menambah kecepatan.

Eiireen tersenyum simpul dengan tubuh terduduk. Tenaga yang dia miliki telah mencapai batas maksimal dan tidak dapat bergerak kembali. Selama ini, dia tidak pernah mendapatkan perlawanan yang cukup berarti dari Aarav. Akan tetapi, hari ini Eiireen selalu mendapatkan kejutan.

"Kau benar," kata Eiireen menyunggingkan senyuman. "Mantra yang telah kurapalkan pada pedang tersebut, bukanlah sebuah mantra biasa. Jika kau menyentuh benda yang terkena mantra tersebut, tubuhmu akan mati rasa selama beberapa jam. Hingga akhirnya kekuatan yang ada dalam tubuhmu akan berkurang secara drastis," jelasnya dengan bola mata sedikit tertutup.

Setelah mengatakan hal tersebut, darah segar mengalir dari ujung mulut Eiireen. Detik berikutnya, bukan hanya beberapa tetes darah yang mengalir, melainkan keluar muntahan darah deras dari dalam mulutnya. Kedua tangan Eiireen menutup mulut, mencoba menghalangi darah yang mengalir begitu deras dari sana.

Pedang kayu yang sejak tadi mengikuti pergerakan Aarav dari belakang, akhirnya mengenai punggung. Cahaya merah merekah dari dalam pedang kayu, menyebar ke seluruh tubuh Aarav dengan sangat cepat. Hingga akhirnya menyelimuti seluruh tubuh dan membuatnya bercahaya sangat terang.

Sehubungan dengan itu, tenaga yang ada di dalam tubuh Aarav serasa menghilang. Kakinya yang sejak tadi masih dapat berdiri dengan kokoh, bagaikan kehilangan tenaga. Kemudian lemas dan membuatnya terjatuh dari posisi berdiri. Kedua lututnya menempel pada tanah, diikuti dengan kedua telapak tangan.

Keringat dingin mengucur deras dari wajah, menetes beberapa kali di atas tanah kering di bawah. Wajahnya terlihat masam dengan tatapan tajam ke arah Eiireen. Terlihat dari tangannya, Aarav mencoba sangat keras untuk menggerakkan tubuhnya.

Namun, tangan atau bagian tubuh lain tidak ada yang merespons hal tersebut. Setiap kali mencoba mendorong tubuhnya mengunakan telapak tangan, tenaga yang ada di sana seakan menghilang begitu saja. Hingga akhirnya, tubuh Aarav terjatuh dengan posisi tengkurap. Kepalanya mendongak, membuat wajahnya berhadapan langsung dengan Eiireen.

"Sialan. Bagaimana mungkin aku bisa kalah seperti ini," batin Aarav berwajah kesal. Tangannya terus digerakkan, mencoba untuk bangkit kembali dan berusaha menghajar Eiireen.

Melihat usaha Aarav yang sia-sia, Eiireen justru tertawa begitu puas. "Sia-sia saja kau melakukan hal itu! Tidak akan ada seorang pun yang bisa lepas dari mantra tersebut!" teriaknya begitu puas dengan tubuh terduduk.

Beberapa saat kemudian, telinga Eiireen dikejutkan dengan suara teriakan dari mulut Aarav. Suara tersebut terdengar begitu lantang dan dipenuhi ambisi yang sangat besar. Tidak ada rasa penyesalan atau kekalahan yang ada di dalam suara tawa tersebut.

"Sepertinya kau sudah kalah," ucap Aarav setelah tertawa begitu lama. "Akhirnya setalah sekian lama kalah darimu, aku dapat mengalahakan dirimu. Walaupun dengan bantuan dari orang lain!" lanjutnya masih dengan tawa yang bergema di seluruh tempat.

Setelah mendengar ucapan dari mulut Aarav, bola mata Eiireen terbelalak lebar. Keningnya mengerut sambil mengangkat sudut mulut.

"Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Eiireen berwajah serius. Padahal sudah sangat jelas jika Aarav telah kalah di depannya, tetapi kenapa dia masih saja tertawa seperti itu.

Menjawab pertanyaan Eiireen, tangan Aarav terangkat dengan hari telunjuk menghadap ke langit. Bola mata Eiireen menatap langit yang ditunjuk Aarav, bergerak secara perlahan agar tidak ada yang terlewatkan. Detik berikutnya, bola mata Eiireen terbelalak lebar menatap benda yang ada di langit.

Eiireen memalingkan pandangan dari langit, menatap tangan Aarav yang sejak tadi menggenggam. "Jadi seperti itu," ucapnya dengan menggigit ujung bibir. "Ternyata sejak tadi kau masih belum menyerah."

"Jangan lupakan aku!" teriak Erina yang sudah berdiri di dekat Aarav, tatapan matanya begitu tajam ke arah Eiireen.

Erina mengangkat salah satu kaki, kemudian menempelkannya pada punggung Aarav. Cahaya merah yang sebelumnya menyelimuti tubuh Aarav, menghilang secara perlahan.

Setelah cahaya merah menghilang dari tubuhnya, Aarav dapat merasakan kekuatannya kembali mengalir. Tubuh yang sebelumnya mati rasa, dapat digerakkan kembali dengan normal. Meskipun tidak sepenuhnya, tenaga di dalam tubuhnya telah kembali.

Salah satu tangan Erina terangkat, menunjuk benda yang melayang di udara. Eiireen yang menyaksikan hal tersebut, segera mendongakkan kepala ke atas. Bola matanya menatap benda yang sebentar lagi mengarah pada dirinya. Pedang kayu berputar begitu kencang.

"Sepertinya cukup sampai di sini saja, Ayah," ucap Erina mengepalkan tangan yang terjulur ke langit. Pedang kayu yang ada di sana, segera bersinar begitu terang dengan cahaya merah menyala. Sama seperti yang terjadi pada pedang kayu Eiireen sebelumnya.

Kekuatan yang dihasilkan juga sangat mirip seperti itu. Aura yang dikeluarkan Erina, terasa sangat sama dengan Eiireen. Entah bagaimana caranya dia dapat melakukan hal tersebut.

"Kekuatan itu ...." Eiireen tersenyum simpul sebelum akhirnya pedang kayu bercahaya merah menyentuh kepala.

Cahaya merah menyala mulai menyebar ke seluruh tubuh Eiireen dimulai dari kepala. Hingga akhirnya membuat seluruh tubuhnya mati rasa, kemudian memejamkan mata dengan perlahan.