Erina dan Aarav yang sejak tadi saling pandang dengan tatapan mata penuh perhatian, segera teralihkan ketika mendengar suara tegas di dekat mereka berdua. Kedua tangan yang sebelumnya saling berpegangan, dengan detak jantung yang sudah seperti drum yang heboh. Segera buyar begitu saja, seperti pedagang kaki lima yang diciduk satpol PP.
"Kenapa dengan kalian berdua?" Terdengar kembali suara tegas di sekitar kamar. Bahkan suara petir yang cukup kencang, tidak dapat menyamarkan suara tersebut.
Aarav segera memalingkan wajah ke arah suara tersebut. Bola mata hitamnya bergetar tatkala menatap sesuatu yang ada di atas tempat tidur. Eiireen yang sebelumnya terbaring lemah, terlihat sangat segar bugar seakan tidak terjadi apapun. Wajah yang pucat menghilang bagaikan kotoran yang tersapu ombak.
Tanpa menunggu lama, kaki kecil Aarav langsung bergerak tanpa perintah. Begitu mantap dia berjalan menuju tempat Eiireen duduk berpangku tangan. Senyuman lebar dikeluarkan, dengan wajah bersinar diterangi kilat yang menyambar.
Sementara itu, Erina hanya bisa termenung menatap ayahnya yang sudah sadar begitu saja. Kepalanya masih dipenuhi begitu banyak pertanyaan, salah satunya kenapa Eiireen dapat sadar secepat itu. Dia memang merasa senang karena tidak terlalu lama melihat tubuh Eiireen yang tidak sadarkan diri.
Namun, hal itu juga pertanda jika kekuatan yang dimiliki Erina sangatlah kecil. Bahkan hanya untuk menahan Eiireen selama satu hari saja sangat sulit. Masih ada sedikit kekesalan karena kesadaran Eiireen saat ini.
"Bagaimana mungkin Ayah bisa sadar secepat ini?" Erina menekan pelipisnya begitu kencang, merasa pusing dengan apa yang sedang terjadi di depan. "Bagaimana mungkin bisa tidak sadarkan diri selama tiga hari. Satu jam saja kekuatanku sudah dipatahkan dengan mudah." Kepalanya didongakkan setelah menghela napas kecewa.
Seringai menyedihkan dikeluarkan Erina, menatap daun kelapa kering yang ada di atas kepalanya. Hanya itulah yang melapisi atap rumah agar air hujan dan panas tidak masuk. Kilatan petir terus menyambar, menciptakan suara memekakkan telinga.
Melihat Erina yang terlihat kesal, Eiireen justru tersenyum simpul. Senyuman yang biasa digunakan untuk mengejek seseorang. Itulah yang saat ini diperlihatkannya kepada Erina. Seakan bermaksud mengatakan kalau kekuatan yang dimiliki Erina masih belum ada apa-apanya.
Langkah Aarav terhenti ketika sudah berada di samping tempat tidur Eiireen. Bola mata hitamnya terus saja menatap wajah Eiireen lamat-lamat, berharap jika kejadian di depannya bukan sekedar halusinasi belaka. Mulutnya terus menganga sembari terus menatap Eiireen dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Apa kau benar-benar sudah sadar?" tanya Aarav setelah menelan ludah beberapa kali, memaksakan diri untuk bertanya. "Aku tidak sedang berhalusinasi, kan? Kau memang sudah sadar, kan?"
Tanpa menunggu jawaban Eiireen, sebuah pelukan langsung mendarat pada tubuhnya. Ujung mata Aarav terlihat dipenuhi dengan cairan bening, kemudian mulai mengalir secara perlahan dan bertahap. Suara tangisan mengisi ruangan yang tanahnya mulai basah karena air hujan dari luar.
Karena keadaan tubuh yang belum pulih sepenuhnya, Eiireen harus merasakan rasa sakit ketika tubuhnya dipeluk Aarav. Sebuah teriakan kencang keluar dari mulut Eiireen, mencoba agar Aarav dapat segera melepaskan pelukan yang menyiksa tersebut.
Beberapa kali tangannya terus menepuk punggung Aarav. Akan tetapi, hal tersebut seakan tidak berguna sama sekali. Meskipun sudah memukul punggung Aarav berkali-kali, tetap saja dia tidak melepaskan pelukan tersebut. Hal itu semakin menyiksa Eiireen yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Hampir kehabisan napas akibat ulah Aarav. Akhirnya Eiireen menggunakan kekuatan dengan tenaga yang masih tersisa di dalam tubuhnya.
Bola mata Eiireen terpejam beberapa saat, berkonsentrasi dengan sangat penuh. Segala suara yang ada di sekitar, seakan tidak pernah ada di sana. Telinganya tidak mendengar suara apapun, selain suara dari tulangnya yang hampir parah karena ulah Aarav terhadap dirinya.
Setelah lima detik berlalu, Eiireen membuka mata begitu cepat. Bola mata yang sebelumnya hitam polos, berubah menjadi merah merona. Sudah seperti darah yang mengalir dari mata, warna itulah yang saat ini memenuhi mata Eiireen.
Detik berikutnya, tiba-tiba saja pelukan yang dilakukan Aarav terlepas begitu mudah. Terpaan angin seakan mendorong tubuhnya menjauh ke belakang dengan kuat. Hingga punggung Aarav hampir menghantam tembok dari anyaman bambu di belakang sana.
Jika saja bukan karena refleks berhenti yang cepat, tembok tersebut pasti sudah berlubang sebesar tubuh Aarav saat ini. Otak Aarav terus berputar, mencari jawaban atas apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Mungkinkah ..." Pandangan mata Aarav tertuju pada Eiireen yang sudah mengangkat tangan di depan dada. Sudut bibirnya terlihat terangkat, menciptakan senyuman yang menggoda. Tubuh atas tanpa satu benang terasa dingin. "Hebat juga rencana yang kau lakukan."
"Apa yang kau lakukan sejak tadi!" teriak Eiireen dengan tubuh bergetar. Bukan kedinginan karena di luar sedang hujan, tetapi karena apa yang baru saja dia dapatkan setelah bangun dari tidur. "Kenapa kau memelukku seperti itu? Rasanya sangat menjijikkan, apa kau tidak tahu itu!"
Erina yang sejak tadi merenung karena efek kekuatannya tidak terlalu lama bekerja. Akhirnya menghela napas panjang dan berjalan menuju tempat Eiireen berada. Suara hujan deras masih terdengar dari luar. Begitu juga dengan petir yang menyambar beberapa kali.
"Bagaimana mungkin kau bisa bangun secepat ini?" tanya Erina berhenti dua langkah di depan Eiireen. "Bukankah seharusnya kau akan tidur selama beberapa hari ke depan? Kenapa bisa secepat ini."
Segala hal yang ada di dalam otak Erina, hanya pertanyaan itulah yang dapat dikeluarkan dengan mudah. Padahal sudah jelas jika efek kekuaran tersebut tergantung pada kemampuan yang dimiliki penggunanya. Jika target telah bangun hanya dalam beberapa jam saja, tentu saja orang itu tidak berbakat dalam menggunakannya.
Erina hanya menundukkan kepala. Susah payah dia mencoba untuk menghilangkan perasaan tidak menyenangkan yang sebelumnya ada di dalam hati. Akan tetapi, pertanyaan yang baru saja dia lontarkan, justru membuat hatinya kembali merasakan hal tersebut.
Suara langkah kaki terdengar ketika Erina tengah menundukkan kepala. Detik berikutnya, sebuah sentuhan hangat terasa di atas kepala Erina. Sentuhan yang sangat jarang dia terima, sebuah perasaan yang menyejukkan tiba-tiba saja memenuhi seluruh hatinya.
Kepala yang sebelumnya tertunduk lemah, langsung diangkat untuk menatap sosok orang yang menyentuh kepala. Sebuah senyuman lebar terpampang nyata di depan mata Erina, membuat kenyataan kembali menjadi pertanyaan besar.
"Bukan karena kau lemah dalam menggunakan kemampuan ini, Erina," kata Eiireen yang sedang menyentuh kepala Erina. "Justru karena kau memiliki potensi yang besar dalam menggunakan kekuatan ini, hingga akhirnya kau bisa melakukannya dengan mudah. Bahkan membuatku pingsan selama hampir satu jam pada percobaan pertama."
Mendengar pernyataan Eiireen, membuat kepala Erina kembali dipenuhi berbagai pertanyaan. Bukankah buku tersebut tertulis, jika hanya menghilangkan kesadaran selama satu jam saja, tidak akan memiliki kesempatan untuk menguasai kemampuan tersebut.
Lalu, potensi apa yang sebenarnya dimaksud oleh Eiireen kepada Erina.