Chereads / The Lord of Warrior / Chapter 29 - Pukulan Salah Sasaran

Chapter 29 - Pukulan Salah Sasaran

"Apa yang kau lakukan!" teriak Aarav sembari menekan hidungnya yang berdarah. Kepalanya sedikit pusing akibat pukulan yang dilakukan Erina. "Kenapa memukulku secara tiba-tiba!"

Tidak merasa bersalah atau sekedar meminta maaf, Erina justru berjalan dengan angkuhnya mendekati Aarav. "Salahmu sendiri karena mengejutkanku. Jika saja kau tidak melakukan itu, semua ini pasti tidak akan pernah terjadi!" bentaknya menatap Aarav begitu tajam.

Suasana kembali hening, Aarav masih berpikir apa yang sebenarnya ingin diucapkan Erina kepada dirinya. Akan tetapi, dia tidak ingin menambah kekesalan yang saat ini dimiliki Erina. Jika terus saja mengungkit sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, hanya akan menambah beban untuk kedepannya.

"Terserah apa yang kau lakukan saja." Aarav bangkit dari duduk sembari menekan wajah. Masih terlihat dengan jelas bekas pukulan Erina, bahkan darah terus saja mengalir dari hidungnya. "Aku tidak peduli lagi."

Setelah berdiri sempurna, Aarav mulai melangkahkan kaki menuju kursi yang ada di samping tempat tidur Eiireen. Ketika melewati Erina, bola mata Aarav sempat melihat wajahnya yang memerah. Seakan bukan Erina yang selama ini dia kenal.

"Apa yang terjadi pada dirinya?" batin Aarav menempelkan bokongnya di atas kursi panjang. "Tidak biasanya dia terlihat seperti itu. Apa ini karena sesuatu yang akan dia tanyakan sebelumnya? Kenapa aku sangat penasaran dengan semua hal ini!"

Aarav terus saja berdebat di dalam kepalanya sendiri. Salah satu sisi sangat ingin mengetahui apa yang dilakukan Erina. Namun, pada sisi yang lain dia tidak ingin mengganggu hal tersebut. Perbedaan tersebut terus saja berada di dalam kepalanya.

"Hei," panggil Erina lirih, kepalanya ditundukkan begitu dalam. Butiran hujan yang masih membasahi kepala, terus mengalir dan menetes di ujung rambut.

Mendengar suara Erina, Aarav begitu antusias. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memutar kepala dan menatap wajah Erina dengan berbinar. Bola mata hitamnya berbinar begitu cerah, sudah seperti bintang yang bertaburan di langit malam. Senyuman lebar diperlihatkan diikuti dengan alis yang sedikit terangkat.

"Iya,_" jawab Aarav cepat. "Apa kau memanggilku?" Bokong yang sebelumnya menempel pada kursi kayu, kini telah berpisah. Aarav berjalan beberapa langkah ke depan, mendekati Erina yang ada di depan sana.

Masih dengan kepala menunduk, Erina memilin tangan di depan dada. "A–aku ingin bertanya sesuatu ..." Ujung bibirnya digigit, berusaha keras untuk mengeluarkan apa yang ingin diucapkan. " Tadi, kau sempat berkata sesuaty. Sebenarnya, apa yang kau maksud dengan kejadian buruk?" Setelah mencapai klimaks dalam perdebatan di dalam kepala, akhirnya Erina berhasil mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di dalam kepala.

Mendengar hal tersebut, kepala Aarav langsung mengerut. Ternyata, sesuatu yang membuat Erina bertingkah aneh adalah ucapannya tadi. Pantas saja jika dia tidak sanggup mengucapkannya, karena hal itu memang sulit untuk dikatakan.

Beberapa saat kemudian, Aarav menggaruk pelipis menggunakan jari telunjuk. Sudut matanya berkerut dengan bola mata yang ada di ujungnya. Otaknya terus berputar mencari jawaban yang ditanyakan oleh Erina.

"Bagaimana ini?" batin Aarav tersenyum simpul ke arah Erina. "Kejadian buruk yang ingin kumaksud adalah, menghangatkan diri dengan tubuh kita berdua. Tidak mungkin aku mengatakan hal seperti itu langsung kepadanya."

Helaan napas silih berganti, tetapi jawaban yang dinanti tak kunjung didapati. Erina terus menatap Aarav penuh dengan rasa penasaran, sedangkan Aarav terus mencari hal yang tidak dapat diungkapkan.

"Itu ... maksudnya ..." Aarav mendongakkan kepala, menatap cicak yang menempel pada atap rumah. Detik berikutnya, cicak tersebut terjatuh, mendarat di atas tanah setelah salto beberapa kali.

Hingga akhirnya, nyawa cicak tersebut melayang. Seketika itu pula, Aarav menemukan jawaban yang bisa saja berhubungan dengan pertanyaan Erina. Dengan begitu, dia tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut dengan sejujurnya. Tidak perlu malu dan tidak perlu bingung kembali.

Bola mata hitam tersebut berkedip di atas bibir. "Maksud dari kejadian terburuk adalah, kita bisa saja terbunuh jika terus terkena hujan. Hawa dingin dari air terus bercampur dengan terpaan angin yang dingin. Hal itu mengakibatkan pembuluh darah kita membeku, disertai dengan jantung yang terpacu begitu cepat, hingga akhirnya seluruh tubuh tidak dapat melakukan tugasnya masing-masing."

Mendengar penjelasan yang dilakukan Aarav, kening Erina tampak mengerut. Meskipun yang dijelaskan Aarav cukup mendetail, tetap saja hal itu sangat sulit untuk diterima. Erina berpikir sejak kapan Aarav memikirkan hal tersebut.

Padahal selama ini, Aarav yang dia tahu tidak pernah berpikir sejauh itu. Namun, tidak ada cara untuk membuktikan kebenaran atau kebohongan yang dilakukan Aarav. Erina hanya dapat menerima penjelasan tersebut tanpa harus bertanya lebih lanjut.

Sementara itu, Aarav yang melihat raut wajah Erina. Merasa penjelasan tersebut memang sulit diterima olehnya. Keringat dingin terus saja keluar dari wajah dan tubuhnya, padahal keadaan di sana begitu dingin karena diterpa hujan lebat.

"Apa yang sebenarnya tadi kukatakan?" Kening Aarav berkedut diiringi dengan tatapan mata tajam ke arah Erina. Bibirnya bergetar menampakkan seringai menyeramkan.

Keadaan di luar semakin tidak terkendali. Gesekan antara partikel yang berbeda, menyebabkan suara yang keras memekakkan telinga. Petir semakin kian menjadi, begitu juga dengan kilatan cahaya yang tercipta beberapa kali. Membuat seisi ruangan bersinar karena hal tersebut.

"Wajar saja jika Erina berpikir hal aneh tentang diriku. Tidak diragukan lagi jika dia memang berpikir aneh. Sialan!" umpatnya di dalam hati. Entah apa yang terjadi, hal itu membuat perasaan Aarav semakin kian menjadi.

Keringat yang dikeluarkan Aarav semakin banyak. Beberapa kali dia menelan ludah, jantungnya kian berdegup kencang, disertai dengan perdebatan yang semakin panas di dalam kepala.

Beberapa saat kemudian, ketika Aarav masih kebingungan atas apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba saja Erina memalingkan wajah dari tatapan mata Aarav. Hal itu semakin membuat hati Aarav merasa tidak nyaman. Bukan hanya mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, tetapi juga raut wajah yang diperlihatkan Erina bagaikan menghina.

Melihat hal tersebut, Aarav menundukkan kepala begitu dalam. Helaan napas keluar silih berganti begitu cepat, aliran darah yang sebelumnya mengalir menuju otak seakan berhenti.

"Apa yang kau katakan memang benar," kata Aarav lirih masih dengan kepala menunduk. Semangat yang ada di dalam dirinya menghilang, tidak ada ambisi apapun yang ditunjukkannya sekarang. "Aku pantas mendapatkan perlakuan seperti ini."

Setelah menghela napas sambil tersenyum getir, Aarav berbalik dan kembali duduk di kursi kayu pada samping tempat tidur Eiireen. Bola matanya tidak menampakkan semangat, hanya sebuah tatapan kosong seperti ikan mati.

Merasa bersalah, Erina berusaha menghibur Aarav yang terlihat sangat murung. Padahal apa yang dipikirkan dirinya tidaklah seperti ini. Erina menjulurkan tangan ke arah Aarav, kemudian menyentuh bahunya secara perlahan dengan tatapan mata sayu penuh perhatian.

"Maafkan aku, Aarav," ucap Erina penuh penyesalan. "Aku seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu."

Kepala Aarav dipalingkan setelah beberapa detik. Bola matanya menatap Erina lamat-lamat. Tangan Erina yang ada di atas bahu segera dipegang Aarav. Pada saat seperti itu, sebuah kejadian yang seharusnya menjadi hal yang romantis, justru berbanding terbalik.

"Apa yang kalian lakukan di dalam kamarku?" Terdengar suara tegas di tengah pembicaraan.