Chereads / The Lord of Warrior / Chapter 13 - Bocah Dalam Ramalan Kuno

Chapter 13 - Bocah Dalam Ramalan Kuno

"Apa kau sudah mengerti, Eiireen?" Ingatan tentang masa lalu Eiireen teringat di dalam kepalanya.

Seseorang berambut putih terbaring di atas pangkuan Eiireen, bola matanya menatapnya begitu tajam. Wajah tua terbalut oleh cairan merah yang keluar begitu deras.

"Orang yang akan menyelamatkan dunia ini harus kau bimbing dengan baik." Darah yang ada pada wajah orang tersebut mengalir, hingga akhirnya menetes di atas paha Eiireen.

Tangan Eiireen terangkat secara perlahan, menyentuh pergelangan tangan orang berambut putih begitu lembut. Wajah garang dibalut dengan kesedihan mendalam. Butiran bening mengalir begitu deras melewati pipi.

Terpaan angin yang selembut sutra, membelai tubuh Eiireen. Rambut panjang yang tergerai, tertarik oleh angin bagaikan bendera yang berkibar. Beberapa helai menempel pada wajah, hingga menghalangi matanya.

Beberapa saat kemudian, bola mata pria berambut putih mulai memejam. Cahaya pada bola matanya menghilang, begitu juga dengan denyutan pada pergelangan tangan yang saat ini digenggam. Embusan napas tidak dirasakan oleh kulit Eiireen, hanya suara gemericik air berwarna merah darah yang mengalir.

Melihat pria berambut putih yang sudah tidak sadarkan kembali, Eiireen secara perlahan menurunkan kepala pria tersebut. Bola matanya terbuka lebar dengan darah mengalir dari ujung mata, rahangnya mulai mengejang dengan gigi saling berbenturan.

"Aku berjanji akan menjaga orang itu dengan baik. Tidak akan kubiarkan hal buruk terjadi padanya." Eiireen mengepalkan tangan sebelum bangkit dari duduk.

Sebelum pergi dari tempat tersebut, Eiireen menatap tubuh pria berambut putih untuk terakhir kalinya. Cairan merah kental sedalam mata kaki, dilewati oleh Eiireen dengan tatapan kejam. Langit gelap seakan mengerti apa yang terjadi di atas dunia tempat Eiireen berada.

"Aku akan membalaskan kematianmu, guru. Tidak akan kubiarkan mereka melakukan hal yang buruk lagi." Setiap langkah yang dilakukan Eiireen, membuat tekanan pada permukaan air bercampur darah.

"Ayah!" Suara teriakan disertai dengan tepukan pada bahu, menyadarkan Eiireen dari lamunan. "Kenapa Ayah bertingkah aneh sejak tadi?"

Suara lirih dengan gelombang rendah mengalir menuju telinga. Eiireen yang baru saja melamun, segera memutar kepala ke arah suara.

Aarav dan Erina telah berdiri di samping Eiireen. Meskipun Aarav saat ini terlihat layaknya mayat berdiri, tetap saja hal tersebut membuat perubahan yang begitu besar. Karena tidak dapat berdiri dengan kedua kakinya sendiri, Aarav harus dibantu dengan satu tongkat setinggi bahunya.

"Akhirnya kalian datang juga kemari." Eiireen menancapkan pedang kayu yang sebelumnya ada di dalam genggaman tangan. "Sekarang, kita akan melakukan latihan kembali," lanjutnya.

Erina yang mendengar hal tersebut segera naik pitam. Padahal sudah jelas-jelas jika Aarav baru saja terbangun dari pingsan selama tiga hari. Sekarang dia harus melewati latihan yang begitu berat untuk kesekian kali. Apakah Eiireen tidak mengingat kejadian sebelumnya, di mana Aarav hampir dikuasai iblis di dalam tubuhnya.

"Kenapa Ayah melakukan hal seper—"

"Asalkan kau tahu saja," potong Eiireen sebelum Erina menyelesaikan protesnya. "Aarav adalah kunci untuk keselamatan dunia ini. Kekuatan yang ada di dalam tubuhnya, akan menjadi penentuan keberlangsungan kehidupan umat manusia di dunia ini."

"Entah kedamaian atau kehancuran yang akan Aarav berikan, semua itu akan ditentukan mulai saat ini. Jika dia hanya bermalas-malasan dan tidak mengasah kekuatan yang ada di dalam tubuhnya, aku sangat yakin jika kehancuran yang akan dia berikan nantinya. Karena itulah, apapun yang terjadi dan seperti apapun rintangan yang akan dia hadapi, Aarav harus dapat menekan kebencian akibat kekuatan besar di dalam tubuhnya."

Penjelasan yang diberikan oleh Eiireen, sama sekali tidak dimengerti oleh Aarav dan Erina. Bagaimana mungkin jika Aarav akan membawa kehancuran di dunia ini. Jika mereka selalu bersama, tidak akan ada yang terjadi. Lagi pula, ada Eiireen yang akan selalu berada di sampingnya.

"Jika kalian berdua berpikir aku akan selalu melindungi kalian berdua, hal itu tidak akan pernah bisa kulakukan. Tidak selamanya aku bisa melindungi kalian berdua. Ada kalanya, setiap kejadian harus kalian hadapi seorang diri tanpa bantuan orang lain di sekitar." Eiireen berbicara seolah mengerti akan apa yang sedang dipikirkan Erina dan Aarav.

Mendengar hal tersebut, Aarav menundukkan kepala. Memang benar, jika saatnya sudah tiba Eiireen tidak akan datang melindunginya. Jika hanya mengandalkan kekuatan orang lain, selamanya dia tidak akan pernah bisa menjadi kuat.

Bola mata yang semula satu bagaikan tidak memiliki gairah hidup, kaki yang sebelumnya hampir tidak dapat menahan berat badannya sendiri. Sekarang Aarav sudah seperti orang yang sangat berbeda dari sebelumnya.

"Aku harus menghancurkan pemikiran naif seperti itu." Aarav mengalirkan energi pada tubuh bagian belakang, berusaha agar punggungnya terasa ringan untuk mengangkat tubuh bagian atas. "Jika tidak segera menjadi kuat, aku tidak akan pernah bisa membalaskan kematian mereka semua."

Tongkat sepanjang bahu yang sebelumnya menempel pada telapak tangan, sekarang dilepaskan Aarav seakan berusaha berdiri dengan kekuatan kakinya sendiri. Meskipun hampir terjatuh, tetapi Aarav tidak menyerah sedikit pun.

"Bagus. Kau memang harus memaksa dirimu untuk melakukan sesuatu yang lebih tinggi," batin Eiireen menatap Aarav dengan tatapan penuh penghargaan. "Lagi pula, kau adalah anak yang sudah diramalkan oleh ramalan buku kuno. Jika tidak memiliki tekad kuat seperti ini, kau tidak akan pernah bisa menjaga dunia ini," lanjutnya masih di dalam hati.

"Aku siap melakukan pelatihan apapun darimu." Bola mata Aarav bergetar, mencoba untuk menekan rasa sakit yang menyelimuti seluruh badan. "Aku mengerti bahwa waktu kita tidak banyak. Karena itulah, aku akan melakukan apapun agar menjadi lebih kuat."

Mendengar jawaban dari Aarav, Eiireen tersenyum tipis. "Jadi, apa kau sudah mendengarnya sendiri? Aku tidak pernah memaksa seseorang untuk mengikuti apa yang kuinginkan. Jika memang dia berusaha untuk menjadi lebih kuat, inilah jalan yang harus dia tempuh." Eiireen menjulurkan tangan ke arah Erina, menyingkirkan secara perlahan tubuh Erina dari depan mata.

Erina hanya dapat mengikuti apa yang dikatakan ayahnya. Jika Aarav sudah memutuskan hal tersebut, dia tidak akan dapat mengubah semua hal itu.

"Jika memang kau sudah mencapai batas, jangan pernah memaksakan diri." Bola mata Erina terlihat berair, apalagi ketika menatap keadaan tubuh Aarav yang belum sepenuhnya pulih.

Tanpa menghiraukan apa yang dikatakan Erina, Aarav terus saja berjalan melewatinya begitu saja. Bola matanya berkedut kencang, seakan menahan rasa sakit begitu mendalam.

"Aku tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Apa yang dikatakan Eiireen memang benar. Jika tidak memaksakan diri lebih dari batas, sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa melewati batas yang ada," batin Aarav setelah melewati tubuh Erina.

Ketika jarak mereka berdua hanya tinggal beberapa langkah, Aarav mendongakkan kepala ke atas. Senyuman getir dengan keringat bercucuran, dibarengi dengan tatapan mata sayu.

"Hari ini, aku akan melewati batasan yang selama ini ada padaku!" teriak Aarav begitu lantang, hingga suaranya menggema ke seluruh tempat.