Chereads / The Lord of Warrior / Chapter 18 - Erina dan Aarav

Chapter 18 - Erina dan Aarav

"Kenapa tadi kau menangis? Dasar cengeng," ejek Erina ketika mereka sudah sampai di rumah. Salah satu bila matanya menutup, sedangkan yang lain menatap secara samar wajah Aarav.

Aarav berdiri beberapa langkah di depan pintu, menatap Erina sedikit kesal. Sedangkan Erina berada lebih jauh dari tempat Aarav saat ini. Sebelumnya, wajah Erina terlihat kesal dengan mulut manyun ke depan. Namun sekarang, ekspresi tersebut tidak diperlihatkannya kembali.

"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti," sangkal Aarav beberapa kali, padahal sudah terlihat dengan jelas bekas tangisan pada wajahnya. "Bukankah selama ini yang sering menangis itu kau sendiri?" Aarav memejamkan mata, sedikit mendongakkan kepala dengan penuh kebanggaan.

"Sialan ... kauuuu!" Erina mengangkat tangan yang mengepal, tatapan matanya dipenuhi dengan niat membunuh. "Apa kau tidak ingin menarik kata-katamu kembali?" tanyanya dengan wajah kesal, bibir kecilnya membentuk lingkaran dan sedikit ke depan.

Aarav yang melihat ekspresi Erina, tidak sanggup lagi menahan tawa. Karena tertawa dengan terlalu kencang, hingga membuat ujung matanya mengeluarkan cairan bening. Bahkan dia sampai memegang perutnya karena terlalu terbawa suasana. Aarav segera mengusap ujung mata dengan perlahan, menghilangkan butiran bening pada ujung mata.

"Apa yang kau tertawakan!" Tangan Erina yang sudah mengepal segera diayunkan ke depan, berusaha untuk menghajar Aarav yang ada di sana.

Beberapa jengkal sebelum kepalam tangan Erina mengenai wajah, Aarav mundur beberapa langkah. Pukulan Erina mengenai udara kosong, sedangkan salah satu kakinya berhasil menginjak tanah becek. Hingga lumpur pada tanah terciprat ke segala arah, beberapa mengenai kaki Erina sendiri.

Aarav yang melihat hal tersebut di depan mata, hanya bisa tertawa lebih kencang dari sebelumnya. "Perlu seratus tahun lebih cepat untukmu dapat melakukan semua itu padaku," katanya penuh dengan kepercayaan diri.

Erina mengangkat kaki yang berada dalam kubangan lumpur, wajahnya terlihat begitu kesal bercampur marah. Akibat ulahnya sendiri, tubuhnya menjadi kotor oleh lumpur. Walaupun sebelumnya memang sudah kotor karena keringatnya sendiri.

"Dasar, Aarav bodoh!" Erina mengangkat tangan yang mengepal, wajahnya dipenuhi dengan rasa kesal serta tatapan mata berapi-api menyala. "Kuberi pelajaran sekarang juga!" lanjutnya sembari melangkahkan kaki ke depan, sedangkan kepalan tangannya meluncur ke arah wajah Aarav.

Sebelum kepalan tangan Erina mengenai target, Aarav telah mengantisipasi hal tersebut dengan cara mundur beberapa langkah. Senyuman licik dikeluarkan sembari tangannya menangkis ke depan, berjaga-jaga jika Erina mengetahui rencana yang telah dia siapkan.

Namun, apa yang terjadi jauh lebih mengejutkan dari semua yang telah direncanakan. Hanya tinggal beberapa jengkal saja pukulan Erina mengenai wajah, pintu yang ada di belakang tubuh Aarav mengeluarkan suara tanda akan dibuka.

Karena tidak mengetahui hal tersebut, membuat perut bagian belakang Aarav tertusuk gagang pintu yang lumayan panjang. Akibat terkejut, dia melompat ke depan beberapa langkah. Hingga pukulan yang Erina yang seharusnya tidak mengenainya, dapat mendarat pada wajah Aarav.

Tekanan yang kuat dari pukulan Erina, membuat wajah Aarav tertekuk mengikuti arah pukulan. Dalam gerakan lambat, mulutnya terlihat bergeser beberapa senti, diikuti dengan darah segar keluar dari mulut.

Kepala Aarav terasa hampir lepas dari lehernya. Itu semua akibat tekanan yang diberikan oleh pukulan dari Erina yang begitu kencang, hingga mengakibatkan wajah Aarav sedikit merasakan guncangan.

"Apa yang terjadi?" tanya seseorang yang ada di balik pintu. Mengeluarkan kepala tanpa ada rasa penyesalan. "Kenapa kau tidur di tempat seperti itu, Aarav?" Bola matanya menatap Aarav yang saat ini tengah tertidur dengan posisi tengkurap di atas tanah.

Aarav bangkit dengan memegang bekas pukulan dari Erina. Terdengar suara erangan keluar dari mulutnya, tanda bahwa pukulan tersebut terasa menyakitkan. Beberapa saat kemudian, bola mata Aarav melirik tajam ke arah orang yang berada di depan pintu yang tidak lain adalah Eiireen.

"Kenapa tatapan matamu seperti itu?" Eiireen mengangkat kepalanya, bola matanya menatap Aarav sedikit ke bawah. "Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"

Debu tanah yang sebelumnya menempel pada baju Aarav, segera dia tepuk hingga beterbangan dari bajunya. Akan tetapi, karena beberapa bagian ditempeli tanah basah. Aarav tidak dapat menghilangkannya dengan mudah.

***

"Apa kau bisa mengulangi ucapanmu kembali? Aku tidak mendengarnya dengan baik?" tanya Eiireen ketika mendengar Erina memutuskan untuk ikut dalam pertarungan. Keningnya mengkerut dengan tatapan mata tajam ke arah Erina, kedua alisnya saking menyatu.

"Aku ingin mengikuti pertarungan kalian berdua. Kali ini, aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya bisa melihat semuanya dari belakang. Aku akan terus melangkah hingga dapat berjalan di samping Aarav. Semua itu agar aku tidak menjadi orang yang selalu dilindungi." Bola mata Erina bergetar, tatapannya dipenuhi dengan api membakar.

Senyuman tipis keluar dari wajah Eiireen ketika menatap wajah Erina yang begitu serius. Tangannya diangkat dan menepuk keningnya sendiri, dibarengi dengan helaan napas panjang dari mulut.

"Ayah dan anak sama bodohnya," kata Eiireen begitu lirih, hingga suara angin saja dapat menyamarkan suaranya. "Dia telah menjadi anak yang kau pikirkan, Xenia," lanjutnya dalam batin.

Erina yang mendengar suara samar keluar dari mulut ayahnya, mengerutkan kening dan menyatukan kedua alisnya. Kepalanya sedikit dimiringkan sambil mengapit dagu menggunakan kedua jari.

"Apa Ayah mengatakan sesuatu?" tanya Erina lirih, gelombang suara yang dikeluarkan begitu rendah. "Aku tidak terlalu mendengar apa yang baru saja Ayah katakan."

Sebagai jawaban, Eiireen hanya tersenyum simpul menatap wajah penasaran Erina. Detik berikutnya, Eiireen mengangkat tangan dan berhenti di atas kepala Erina. Selanjutnya dia menurunkan tangan, kemudian mengelus kepala putri satu-satunya yang dia miliki dengan lembut.

Rambut hitam yang tidak diikat dan dibiarkan tergerai begitu saja, menjadi berantakan ketika tangan besar Eiireen mengusapnya dengan kencang.

"Ayah tidak mengatakan apapun tadi. Mungkin kau hanya salah mendengarnya saja." Eiireen terus saja mengusap kepala Erina. Semakin lama, usapan yang dilakukan semakin kencang. Hingga membuat kepala Erina terasa kesakitan.

Karena tidak tahan dengan perlakukan Eiireen, Erina segera menyingkirkan tangan yang ada di atas kepalanya. Tatapan mata kesal dengan mulut sedikit dimajukan, diarahkan pada Eiireen agar dia merasakan apa yang saat ini dirasakan Erina.

"Bisakah Ayah menghentikan perlakuan ini?" Erina menggembungkan pipinya, membuatnya seperti seekor tupai yang menyimpan biji ek di dalam mulutnya.

Menanggapi protes yang dilakukan Erina, tidak membuat Eiireen merasakan sesuatu yang salah. Justru dia tertawa simpul sembari bekacak pinggang.

"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau minta." Tangan Eiireen dijulurkan ke depan, mengambil pedang kayu yang sudah tertancap di depan kaki. "Akan tetapi, kau tidak akan mendapatkan perlakuan khusus dariku. Tidak peduli bagaimana kau meminta ampun, aku tidak akan menghentikannya sebelum menjadikanmu kuat."

Mendengar hal tersebut, Erina mengangkat ujung bibirnya tanda kesiapan. "Baiklah. Aku tidak akan melakukan semua itu."