Chereads / The Lord of Warrior / Chapter 12 - Kesadaran Aarav Kembali

Chapter 12 - Kesadaran Aarav Kembali

Perlahan, Aarav mulai mengerjapkan mata. Atap berbahan dasar daun kelapa kering. Sela-sela daun kelapa yang tidak tertutup rapat, membuat cahaya matahari menusuk mata.

"Akhirnya kau sadar juga." Terdengar suara seseorang berbicara di dekat telinga Aarav. "Sudah tiga hari kau tidak sadarkan diri. Kau membuatku sangat khawatir."

Suara gemericik air begitu nyaring menusuk telinga. Padahal seingat Aarav, di dekat sana tidak terdapat air terjun satu pun. Detik berikutnya, sesuatu yang dingin menempel pada keningnya. Membuat nyaman seluruh tubuh yang memang terasa panas saat itu.

"Apa yang sudah terjadi?" tanya Aarav dengan wajah pucat. "Apa maksudmu dengan pingsan selama tiga hari?" Aarav bangkit dari tidur dengan bersusah payah.

Tenaga yang belum terkumpul sempurna, membuat Aarav kesulitan untuk bangkit dari tidurnya. Keringat dingin keluar dari wajah, membasahi tempat tidur yang hanya berlapiskan anyaman tipis bambu.

"Jangan banyak bergerak terlebih dahulu. Tenagamu belum pulih sepenuhnya." Erina bangkit dari duduk, menangkap tubuh Aarav yang hampir terjatuh ke samping tempat tidur. Detik berikutnya, Erina membaringkan tubuh Aarav secara perlahan ke tempat yang tadi. "Lebih baik kau istirahat dulu," lanjutnya menempelkan kepala Aarav di atas gumpalan kapas.

Bola mata Aarav kembali berwarna kuning, pandangan matanya mulai kabur. Detik berikutnya, kesadarannya mulai menghilang. Tubuh Aarav terkulai lemas dengan tangan terjatuh di samping ranjang. Tangan yang panjang, membuat ujung jari Aarav menyentuh dan menempel pada lantai yang masih terbuat dari tanah.

"Oi, Aarav!" Terdengar suara kencang dari luar rumah.

Tekanan suara yang dihasilkan membuat Erina terkejut. Jantungnya berdetak begitu kencang, bagaikan ingin mengungkapkan perasaan kepada orang lain.

Erina memalingkan wajah, bola matanya berputar cepat. Mencari asal suara yang dia dengar begitu memekakkan telinga. Hingga akhirnya, seseorang masuk begitu saja ke dalam ruangan, di mana hanya terdapat Aarav yang terbaring dan Erina yang menemani.

Bola mata Erina menatap begitu tajam, kemarahan yang ditujukan begitu mengerikan. Kening yang sebelumnya mulus bagaikan lapangan bola, sekarang terlihat berkeriput.

Erina bangkit dari duduknya, berjalan menuju Eiireen yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar. "Kenapa Ayah berteriak seperti itu! Aarav baru saja bangun setelah tiga hari terbaring. Biarkan dia istirahat terlebih dahulu!" Erina berkacak pinggang, menatap Eiireen dengan penuh kekesalan.

Seakan tidak memperdulikan apa yang dikatakan Erina, Eiireen berjalan melewati putrinya begitu saja. Tubuh Erina yang menghalangi jalan, disingkirkan secara perlahan oleh Eiireen. Detik berikutnya, dia berjalan menuju tempat Aarav terbaring di atas kasur beralaskan tikar bambu.

"Tidak ada waktu untuk menunggu. Jika dia tidak segera menguasai dan mengendalikan kekuatan yang ada di dalan tubuhnya, sesuatu yang lebih buruk dari tiga hari lalu akan terjadi kembali. Aku tidak bisa membiarkan hal seperti itu terjadi. Setidaknya selama aku masih hidup di dunia ini." Eiireen menggigit ujung bibir hingga mengeluarkan darah.

Bola mata Erina yang mendengar ucapan Eiireen. Otak yang sebelumnya memikirkan banyak hal dalam satu waktu, seolah berhenti berputar dan kehilangan kesadaran. Tatapan matanya penuh kekosongan, begitu juga dengan wajah yang hanya mengeluarkan ekspresi datar.

"Apa yang dimaksud Ayah sebenarnya? Sebenarnya, kekuatan apa yang ada di dalam tubuh Aarav," tanya Erina di dalam batinnya.

Meskipun berusaha untuk mengeluarkan bebarapa pertamanya, mulut Erina tidak dapat bergerak sama sekali. Suaranya tertahan di dalam kerongkongan, tidak dapat didorong lebih kencang agar dapat keluar.

Sementara itu, Eiireen sejak tadi menatap tubuh Aarav yang terbaring di atas ranjang. Kemudian berkacak pinggang dengan tatapan mata tajam. Embusan napas yang keluar dari mulut, terasa begitu panas di sekitar.

"Mau sampai kapan kau tidur seperti ini!" teriak Eiireen secara tiba-tiba, mengejutkan Erina yang berada di belakang tubuhnya.

Meskipun sudah mendengarkan keluh kesah yang dilakukan Erina, tetap saja tidak menggoyahkan keputusan yang sudah sejak lama dipendam. Jika saja bukan karena tekanan dari Erina, Eiireen mungkin sudah mencoba membangunkan Aarav pada hari pertama ketika dia tidak sadarkan diri.

"Apa yang Ayah lakukan sebenarnya!" bentak Erina yang tidak terima dengan keputusan Eiireen. "Bukankah sudah kukatakan, agar jangan mengganggu istirahat Aarav untuk beberapa hari? Latihan mengerikan yang diberikan Ayah, hanya akan membuat keadaan tubuhnya semakin memburuk," lanjutnya begitu ketus.

Tatapan mata yang selama ini tidak pernah diperlihatkan Erina kepada Eiireen, terlihat begitu mengerikan. Memperlihatkan giginya yang rapi dengan beberapa pagar menghalangi, apalagi terdapat kulit cabai yang masih menempel pada sela gigi

Bola mata Aarav yang sebelumnya menempel bagaikan terkena lem super kuat. Perlahan mulai bergerak untuk membuka. Begitu juga dengan tangan yang sebelumnya terjatuh di samping tempa tidur, mulai bergerak secara perlahan.

"Akhirnya kau sudah sadar juga," kata Eiireen ketika bola matanya menatap wajah Aarav. Lingkaran berwarna hitam pada bola matanya berputar cepat, mengawasi seluruh anggota tubuh Aarav dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Apa yang terjadi?" Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Aarav, tentunya setelah dia pingsan bebarapa menit sebelumnya.

"Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Sekarang saatnya untuk berlatih dengan sungguh-sungguh. Sebelum mereka semua mulai mengincarmu." Eiireen memutar tubuhnya, berjalan keluar dari dalam ruangan.

Bola mata Erina terus memandang kepergian ayahnya. Langkah yang begitu lebar, hanya membutuhkan bebarapa langkah saja, untuk dapat keluar dari dalam ruangan selebar empat meter tersebut.

Aarav yang baru terbangun dan masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, berusaha untuk memahami apa yang barus aja didengarkan dari mulut Eiireen.

Tubuh yang belum memiliki tenaga yang cukup, sudah dipaksakan untuk memulai pergerakan yang besar. Aarav memiringkan tubuh, kemudian menempelkan tangan di depan wajah.

Secara perlahan, dia mengalirkan tenaga ke dalam lengan. Baru saja kepalanya melayang satu jengkal di atas ranjang, kekuatan yang ada pada telapak tangannya menghilang. Keseimbangan yang sudah dijaga begitu lama, akhirnya menghilang begitu saja.

Ketika tangan Aarav tergelincir dan kehilangan keseimbangan, seluruh tubuhnya ikut merasakan hal yang sama. Aarav mengerang kencang, berteriak kesakitan pada saat wajahnya menghantam ranjang yang berlapiskan anyaman bambu.

Erina yang mendengar suara teriakan Aarav, segera memalingkan wajah ke arah ranjang tempat Aarav terbaring. Begitu melihat tubuh Aarav yang berada pada ujung ranjang, suara teriakan secara refleks keluar dari mulutnya.

"Aarav!"

Secepat kilat, kaki ramping Erina bergerak menuju ranjang. Kedua tangan yang sebelumnya menggenggam handuk untuk mengompres kening Aarav, segera dijatuhkan di atas tanah.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Erina sembari membaringkan tubuh Aarav kembali. "Kau baru saja sadar, lebih baik istirahat saja terlebih dahulu."

Seakan tidak mendengarkan apa yang dikatakan Erina, Aarav justru kembali mengangkat tangan di samping kepala. Kali ini tidak hanya menggunakan satu tangan, melainkan dua tangan secara bersamaan.

Sementara itu, Eiireen yang sudah beberapa saat yang lalu keluar dari ruangan. Sekarang sudah berdiri di tengah lapangan tempat biasanya mereka bertarung bersama.

"Kau harus bisa melewati semua ini Aarav. Karena kau adalah bocah yang ada di dalam ramalan buku kuno."