Chereads / At The Edge Of Absolute Infinity / Chapter 4 - ATEOAF 04

Chapter 4 - ATEOAF 04

Hari semakin beranjak siang, dan aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Matahari berada tepat di atas kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga membuat bajuku mengering dalam waktu singkat. Meski demikian, hutan tropis yang membentang sepanjang lebih dari 130 kilometer, memberikan naungan yang cukup dari teriknya matahari. Dan merupakan salah satu yang terluas di kawasan ini, menyimpan keragaman kehidupan yang tak terbayangkan.

Aku tak membiarkan cedera pada kakiku-yang mengalami patah tulang-menghalangiku. Rasa sakit yang menyiksa ini hanya menjadi pengingat akan ketegaranku. Harapanku tetap tertuju pada ibu kota, tempat yang kuimpikan lebih baik daripada desa yang baru saja kutinggalkan. Aku berharap, setidaknya, suasana di sana tidak seburuk dan sekelam desa yang kutinggalkan sebelumnya.

Waktu melaju tanpa jeda. Matahari perlahan menenggelamkan diri, seolah ingin beristirahat sejenak, sementara bulan bangkit dengan semangat, memancarkan sinarnya yang memukau. Langit membentang dalam balutan warna jingga, melukiskan panorama keindahan yang tak terbantahkan. Suasana sore itu terasa begitu syahdu, diiringi kembalinya para hewan ke sarang masing-masing. Di sisi lain, kehidupan malam mulai bangkit-jangkrik dan serangga hutan melantunkan irama alam yang memenuhi setiap sudut belantara.

Aku, yang menyadari waktu yang kian larut, segera mencari tempat untuk bermalam. Tak jauh dari tempatku berdiri, aku menemukan sebuah tanah lapang kecil berukuran tiga meter persegi. Namun, ketika aku mengamatinya dengan lebih saksama, terlihat jejak kehidupan manusia: ranting kayu, batu api, dan sisa-sisa arang yang tersebar. Tempat ini tampak seperti baru saja dihuni seseorang, mungkin kemarin.

Tanpa membuang waktu, aku segera duduk di tanah tersebut dan menurunkan ranselku yang penuh dengan tanaman obat. Tanaman-tanaman ini kukumpulkan sepanjang perjalanan tadi. Di dalam ransel itu juga tersimpan uang hasil menjual sebagian tanaman yang telah kuolah sebelumnya.

"Semoga ini cukup untuk bertahan hidup di ibu kota," gumamku lirih, seraya menatap isi ransel.

Rasa ngilu dikaki juga tak kunjung reda, ditambah dinginnya angin malam, membuat sekujur tubuhku menggigil. Tak punya jubah untuk menghangatkan diri, hanya kain compang camping inilah yang menyelimutiku.

"tidak bisa, ini terlalu dingin. Aku akan mati kedinginan bila terus menetap disini semalaman. Mau tidak mau aku harus menemukan tempat lain" gumam Argia bangkit dari tidurnya.

Ia memanggul ranselnya dan kembali melangkah menyusuri gelapnya hutan. Cahaya rembulan yang lembut menemani perjalanannya, memberikan penerangan seadanya, cukup untuk menunjukkan jalan setapak yang membelah semak belukar. Suara angin malam yang dingin menjadi satu-satunya irama yang mengiringi langkahnya. Di ujung jalan, tampak sebuah area terbuka. Padang rumput luas terbentang, dan di tengahnya berdiri kokoh sebatang pohon besar, menjulang dengan dahan-dahan yang merentang seperti tangan raksasa.

Saat harapan untuk segera mencapai tempat terbuka itu mulai membuncah, telinganya menangkap suara samar-samar. Derapan kaki kuda terdengar mendekat, memecah keheningan malam. Ia segera menghentikan langkah dan memperhatikan dengan saksama. Dari balik bayang-bayang pepohonan, sebuah kereta barang muncul perlahan, diterangi sinar rembulan. Ketika kereta berhenti, dua orang gadis turun dari dalamnya.

Mata Argia terbelalak ketika mengenali salah satu dari mereka. Yuki, gadis yang ditemuinya pagi tadi.

"Itu Yuki!" serunya dalam hati. "Aku ingat cerita ini-kalau tidak salah, ini adegan di bab empat dalam novelnya. Yuki beristirahat di bawah pohon besar itu."

Ia menatap penuh minat. Gadis di samping Yuki juga menarik perhatiannya. "Dan kalau aku tidak salah, wanita itu pasti Viola, gadis yang berhasil selamat dari serangan bandit gunung," gumamnya lirih, sambil terus memperhatikan dari kejauhan.

"Viola, sepertinya kita harus berhenti dan beristirahat di sini. Terlalu berisiko melanjutkan perjalanan saat malam hari," ujar Yuki dengan nada tegas namun lembut. Setelah itu, ia segera mengatur barang-barang yang sekiranya diperlukan untuk bermalam. Sementara itu, Viola mulai mengeluarkan sebuah kasur lipat kecil-pemberian dari gurunya yang sangat berguna di saat seperti ini.

Viola merebahkan diri di dalam kereta barang. Ruangannya memang sempit, namun cukup memadai untuk bermalam semalam saja. Sementara itu, Yuki berjalan memutari kereta, memastikan bahwa tidak ada ancaman atau bahaya yang mengintai mereka di tengah kegelapan malam.

"Baiklah, semuanya aman," batin Yuki sambil menghembuskan napas lega. Malam itu terasa begitu hening dan tenteram. Suara-suara serangga malam memecah kesunyian, menciptakan suasana yang jarang dirasakan di desa, apalagi di kota.

Tetesan air yang perlahan jatuh dari dedaunan pinus menambah kedamaian yang menyelimuti malam itu. Dalam kesunyian ini, Yuki seolah terhanyut dalam refleksi batinnya. Satu adalah kehidupan, dan kehidupan adalah satu. Satu menciptakan dua, dan dua melahirkan tiga, pikirnya, merenungi harmoni alam yang begitu nyata.

Sesaat Yuki termenung di bawah naungan pohon itu. Perlahan ia melangkah menjauh, namun ketika mencapai langkah keempat, keberadaannya lenyap seketika, seolah ia tak pernah hadir sejak awal penciptaan dunia. Jejaknya, bayangannya, bahkan kehadirannya, sirna begitu saja.

Aku, yang menyaksikan peristiwa aneh tersebut, segera meninggalkan tempatku berdiri. Dengan hati yang tak menentu, aku mencoba mendekati kereta kudanya. Namun, yang kudapati bukanlah keadaan yang biasa. Dunia di sekitarku mendadak membeku. Segalanya terasa hampa-udara tak lagi terasa memenuhi paru-paru, dan angin yang sebelumnya menderu kini menghilang tanpa jejak. Para hewan, serangga kecil seperti semut yang sebelumnya sibuk beraktivitas, kini membeku dalam diam. Hukum-hukum alam seolah runtuh; segala sesuatu yang pernah kukenal sebagai dunia kini tak lagi berlaku.

Mataku tertuju pada Viola yang terlelap di dalam kereta kuda, tak menyadari kekacauan ini. Di bawah kereta, barang-barang milik Yuki yang tertinggal tampak tercecer, menjadi satu-satunya bukti keberadaannya. Pikiranku kacau, kewarasanku diuji. Aneh sekali, di tengah dunia yang membeku ini, hanya diriku yang masih mampu bergerak.

Namun, sebelum sempat kutemukan penjelasan atas segala keanehan ini, tiba-tiba sebuah bola hitam muncul di hadapanku. Bola itu tak memiliki bentuk pasti; wujudnya abstrak dan bergerak secara liar, mengandung energi yang begitu dahsyat hingga sulit untuk dijelaskan. Energi itu terasa asing, seperti tidak berasal dari dunia ini.

Bola tersebut bergerak perlahan, seolah menuntunku ke suatu tempat. Dengan perasaan was-was, aku mengikutinya. Hingga akhirnya, langkahku membawaku kembali ke pohon tempat Yuki menghilang. Sepertinya, pohon itu menyimpan jawaban atas segala misteri yang baru saja terjadi.

Di dalam batang pohon itu, tersembunyi sebuah patung yang memancarkan aura penuh misteri. Bentuknya menyerupai manusia, namun dengan ciri-ciri yang tidak sempurna. Wajahnya polos tanpa ekspresi, seolah-olah identitasnya telah lenyap dari keberadaan. Rambutnya tergerai, memancarkan perpaduan antara keanggunan dan kengerian. Sementara itu, tangannya menggenggam sebuah benda yang sekilas menyerupai bola hitam-entitas yang sebelumnya menuntunku. Aku tak mampu memahami makna dari patung ini, tetapi keberadaannya menghadirkan perasaan ganjil, seakan-akan aku sedang menyaksikan sebuah fragmen dari teka-teki yang jauh lebih besar.

Kesadaranku terguncang hebat kala mendapati diriku tersesat dalam dimensi yang sepenuhnya asing-sebuah ruang tanpa kaidah, tanpa tatanan. Hukum ruang dan waktu, yang biasanya menjadi landasan eksistensi, seolah-olah musnah tanpa jejak. Gravitasi lenyap dalam kekosongan, dan segala sesuatu bergerak dengan pola yang absurd, mustahil ditafsirkan oleh nalar manusia. Anehnya, aku menyadari bahwa tubuh fisikku telah sirna. Ketika kucoba memandang diriku sendiri, yang kulihat hanyalah bayang-bayang kabur, sebuah ilusi yang terus-menerus bertransformasi, seolah mencerminkan esensi ketidakstabilan itu sendiri. Wujudku kini adalah abstraksi-sesuatu yang cukup untuk menggiring siapa pun ke tepi jurang kegilaan. Namun, aku sadar betul bahwa ini bukan sekadar mimpi buruk yang dimainkan oleh imajinasi.

Dalam dimensi ini, molekul-molekul terhenti sepenuhnya, seakan membeku dalam keabadian. Tidak ada gerakan, tidak ada aliran energi, dan suhu telah mencapai titik nol mutlak. Segala bentuk kehidupan yang dikenal manusia mustahil bertahan dalam lingkungan seperti ini. Hukum-hukum fisika, yang seharusnya menjadi kerangka kokoh bagi realitas, telah tereduksi menjadi kehampaan, sirna tanpa meninggalkan jejak. Meski demikian, secara paradoksal, aku tetap menyadari keberadaanku-tetap "ada" di tengah ketidakberadaan. Sebuah ironi eksistensial yang memaksa pikiranku untuk menerima absurditas yang tidak terpahami ini.

Pikiranku sempat berada dalam pusaran yang kusut, terombang-ambing di antara gelombang absurditas keadaan yang tiada ujung pangkal. Namun, di tengah gejolak itu, terselip secercah ketenangan yang tak mampu diterjemahkan dengan nalar. Rasanya seperti deja vu yang menggema tanpa akhir, seolah-olah kehampaan ini telah menjadi bagian intrinsik dari diriku, tertanam jauh sebelum aku mampu memahami eksistensi.

Di tengah kebingungan yang begitu dalam, sebuah nama muncul dari balik kabut kesadaranku-Nyxaroth. Nama yang terdengar asing, namun pada saat yang bersamaan, memancarkan keakraban yang mencekam.

"Apakah itu adalah namaku?" tanyaku dengan suara yang hampir lenyap, hanya bergema samar dalam kehampaan yang luas tak bertepi.

Tanpa peringatan, sesosok bola hitam kembali hadir. Dialah entitas yang sebelumnya memanduku ke pohon itu, melayang dalam keheningan yang penuh misteri di hadapanku. Wujudnya tetap seperti semula-abstrak dan tak berbentuk, namun kini menyiratkan kehadiran yang lebih mendalam. Dari tubuhnya yang seolah menyatu dengan kehampaan, sebuah suara terdengar. Suara itu melantun, bercampur antara kebijaksanaan yang menggugah dan kegilaan yang mencengangkan.

"Akhirnya kau ingat, Nyxaroth, teman lamaku!" jawab bola hitam itu, menggema dalam ketiadaan.