Chereads / At The Edge Of Absolute Infinity / Chapter 10 - ATEOAF 10

Chapter 10 - ATEOAF 10

Pagi itu, suasana desa seolah diliputi kedamaian semu. Udara terasa segar, namun tetap saja, aroma khas jalanan pedesaan bercampur dengan bau busuk kotoran manusia. Sebagai bagian dari masyarakat miskin, aku telah terbiasa dengan keadaan ini. Di desa kami, keberadaan kamar mandi masih menjadi sesuatu yang asing. Banyak warga yang memilih untuk membuang hajat sembarangan, sehingga kotoran manusia berserakan dan menjadi pemandangan sehari-hari.

Di antara kisah kelam yang mewarnai desa ini, ada satu peristiwa yang tidak akan pernah kulupakan. Seorang anak kecil yang tinggal dekat kandang kuda ditemukan meninggal dunia. Tubuhnya yang ringkih akibat kelaparan tak mampu bertahan, dan dalam keputusasaan, ia memakan kotorannya sendiri. Bukannya bertahan hidup, ia malah meregang nyawa akibat keracunan.

Kematian anak itu menjadi luka mendalam bagi desa ini. Namun, tak ada yang dapat kami perbuat selain menerima kenyataan pahit tersebut. Demi mencegah penyebaran penyakit, warga sepakat untuk membakar rumahnya beserta jasadnya. Keputusan itu diambil dengan berat hati, tapi apa lagi yang bisa dilakukan oleh orang-orang seperti kami?

Di tengah segala keterbatasan ini, aku dan nenek menjalani kehidupan seadanya. Air yang kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari hanyalah sisa aliran dari wilayah bangsawan. Kami bahkan hanya mandi sebulan sekali. Bagi kami, air itu adalah berkah yang tak ternilai harganya, meskipun orang lain mungkin memandangnya sebelah mata.

"Nenek, apakah mereka akan datang lagi hari ini?" tanyaku perlahan, mencoba menyembunyikan keresahan dalam suaraku.

"Iya, Fery. Mereka akan datang. Pergilah ke pasar dan carilah sepotong roti untuk tamu kita," jawab nenek dengan lembut, meskipun raut wajahnya tampak begitu lelah.

Tanpa banyak bicara, aku segera bangkit dari tempat tidur kayu kami yang sudah lapuk. Dengan tas rotan tua yang hampir rusak tersampir di bahuku, aku melangkah keluar rumah. Sebelum benar-benar pergi, aku menoleh ke arah nenek dan memberinya senyum tipis. "Nenek, Fery pergi dulu," ucapku, lalu melangkah menuju jalan setapak di depan rumah kami.

Pemandangan pagi itu tak berbeda jauh dari biasanya. Anak-anak kecil bermain di antara tumpukan jerami, tawa mereka mengalun ceria, memberikan sedikit warna dalam kehidupan desa yang suram.

"Hei, Fery! Mau ke mana pagi-pagi begini?" panggil seorang anak laki-laki yang akrab dipanggil Loki. Bajunya lusuh, tapi senyumnya selalu hangat.

"Ke pasar. Jangan pikirkan aku. Cepat susul adikmu sebelum dia terlalu jauh!" balasku sambil menunjuk seorang gadis kecil yang berlari menjauh.

Loki tertawa kecil, lalu bergegas mengejar adiknya. Sementara itu, aku melanjutkan perjalanan, melewati jalanan berlumpur yang mulai dipenuhi oleh petugas kebersihan desa. Sebagian dari mereka menggunakan sapu dan bakul bambu untuk membersihkan jalan, sementara yang lain terpaksa menggunakan tangan kosong.

"Kelak, aku ingin menjadi petugas kebersihan," pikirku. "Tidak peduli seberapa rendahnya pekerjaan itu di mata orang lain, selama dilakukan dengan jujur, pekerjaan itu tetaplah mulia."

Aku terus berjalan hingga tiba di pasar tradisional yang mulai ramai. Hiruk-pikuk para pedagang dan pembeli memenuhi udara, menciptakan suasana yang kontras dengan kesunyian desaku. Aroma roti yang baru dipanggang menarik perhatianku. Aku mendekati toko kecil di sudut pasar, tempat roti-roti segar tersusun rapi di atas meja kayu.

Sambil memperhatikan penjualnya yang sibuk melayani pelanggan, aku mendekat perlahan. Dalam hitungan detik, tanganku mengambil sepotong roti, lalu menyelinap pergi sebelum ada yang menyadari.

Ketika sudah cukup jauh dari pasar, aku berhenti sejenak untuk mengatur napas. Perasaan lega bercampur dengan rasa bersalah menyelimuti hatiku. Namun, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini semua kulakukan demi nenek.

Fery melanjutkan langkahnya dengan tujuan kembali ke rumah. Namun, perhatiannya tiba-tiba teralihkan oleh kilauan sesuatu di atas tanah. Dengan rasa penasaran, ia mendekat untuk memastikan apa yang menarik pandangannya. Setelah diamati, ia mendapati bahwa benda tersebut adalah sebuah kepingan koin perak.

Penemuan itu membuat Fery tertegun. Ia memahami betapa berharganya koin perak tersebut, sebab nilainya setara dengan lima belas koin perunggu. Sebagai perbandingan, satu koin perunggu bernilai dua puluh empat koin tembaga, dan bahkan satu koin tembaga saja sudah cukup untuk membeli sepotong roti kecil.

Pengetahuan tentang perbedaan nilai koin itu bukanlah sesuatu yang ia pelajari secara kebetulan. Fery mengingat kembali sosok seorang wanita muda, berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, yang sering menjual buku bekas di kawasan kumuh tempat tinggalnya. Setiap akhir pekan, baik pagi maupun sore, wanita itu selalu melewati rumah Fery. Kadang kala, ia dengan murah hati memberikan buku-buku gratis kepada Fery, salah satunya berjudul Dewa Perun, yang menjadi salah satu bacaan favoritnya.

Namun, hari ini terasa berbeda. Wanita itu tidak tampak seperti biasanya. Padahal, saat ini adalah akhir pekan, dan matahari hampir mencapai puncaknya. Fery merasakan kegelisahan mengusik hatinya. "Mengapa dia tidak muncul hari ini?" pikirnya dengan penuh tanda tanya.

Meski demikian, Fery memutuskan untuk menyingkirkan rasa gundah yang membebaninya. Ia segera mengingat kembali tujuan utama perjalanannya. Kunjungan seorang tamu ke rumah neneknya adalah hal yang lebih mendesak untuk dipikirkan. Dengan tekad yang mulai menguat, ia kembali melangkah menyusuri jalan menuju rumah, koin perak itu kini tergenggam erat di tangannya.

Sesampainya di gerbang desa, aku dikejutkan oleh kerumunan orang yang berkumpul di depan rumahku. Dengan perasaan cemas, aku segera berlari. Setibanya di sana, aku melihat beberapa ksatria kerajaan sedang berdiri di depan rumah kami. Salah satu dari mereka tengah mengangkat tubuh nenekku yang tampak tak berdaya.

"Lepaskan nenekku!" seruku dengan suara lantang, mencoba menahan rasa takut yang perlahan merayap di dadaku.

Salah seorang ksatria menoleh dengan tatapan sinis. "Jadi ini cucunya? Hah, aku tidak menyangka perempuan tua hina ini masih punya keluarga," ujarnya sambil terkekeh.

Aku memandang mereka dengan marah, tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tubuhku gemetar, dan air mata mulai mengalir tanpa bisa kutahan. Di tengah kepanikan, aku hanya bisa berharap ada keajaiban yang menyelamatkan kami dari kekejaman ini.

"Komandan, ini anak yang disebut wanita itu, bukan?" tanya salah seorang ksatria dengan nada penuh rasa ingin tahu.

"Wanita yang kita temui semalam, maksudmu?" Komandan menjawab seraya memastikan. Sebuah senyuman lebar muncul di wajahnya, mengguratkan kesan mengejek. "Kurasa itu benar. Aku masih tak paham kenapa perempuan penjual buku bekas itu memohon begitu putus asa untuk anak sekecil dia."

Gelak tawa mulai terdengar dari para ksatria lainnya, seolah mereka menikmati setiap kata yang diucapkan. Komandan itu kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih dingin dan penuh ejekan, "Malam tadi sungguh tak terlupakan, bukan? Dia menemani kita berenam untuk bersenang-senang. Aku benar-benar menikmati saat dia menangis, memohon belas kasihan. Namun, pada akhirnya, tak ada yang dapat menyelamatkannya. Dia hanyalah mainan yang hanya layak digunakan sekali."

Pernyataan itu disambut dengan sorak-sorai meriah dari para ksatria, menciptakan suasana yang semakin menyesakkan di sekitar Fery. Bocah itu hanya bisa berdiri membeku, tubuhnya bergetar hebat, sementara matanya memandang nanar ke arah neneknya yang masih terkulai lemah di tangan salah satu ksatria. Keputusasaan menyelimuti hatinya, namun ia tak memiliki daya untuk melawan kekejaman yang ada di hadapannya.