Chapter 13 - BAB 13

Pekarangan rumah pak Usman.

Tiba di rumah itu, rumah itu

terlihat sepi,

Tok.. Tok.. tok!!"Assalamu'

alaikum pak"

Salwa mengetuk pintu pak

Usman.

"Walaikum salamn"sahut

suara wanita dari dalam, tak lama

pintu di buka istri pak Usman.

"Buk pak Usman nya ada"

tanya salwa sopan

"Owalah nak salwa, silahkan

masuk,Mereka pun masuk, wajah

istri pak Usman terlihat cemas,

beberapa kali gerak tubuh nya

terlihat gelisah,

"Pak Usman nya ada buk? "

Tanya salwa sekali lagi

"Suami saya jarang pulang ke

rumah, semenjak Hastaru menghilang, beliau terus mencari

nya, ke kampungitu jelas wanita

itu gelisah.

"Saya turut prihatin buk, saya

sudah dengar berita tentang

Hastaru, ibu yang sabar ya saya do'

akan salwa bisa ditemukan secepat

nya"salwa turut prihatin dengan

kabar hilang nya Tari,

"Tolong saya nak, tolong

bawa kembali pak Usman, saya

tidak ingin kehilangan suamni saya,

saya tidak ingin kehilangan lagi"

istri pak Usman tak dapat

membendung air mata nya, di

bersimpuh memohon, sepertinya

dia sudah sangat kehilangan,

"Iya iya ibu, tenang ya, kami

akan membantu pak Usman, do'

akan semua baik baik saja"ucap

Anisa sambil mengelus punggung

wanita itu, Arif dan Sapta

hanya bisa diam menyaksikan

peristiwa itu, mereka tak bisa

berkata apa apa, mereka turut

prihatin dengan keadaan

kampung ini sekarang, siapa

sangka, kampung Jahannam itu

mencari tumbal sampai ke desa

desa tetangga nya, ya korban

korban yang hilang itu pasti

bukan hanya di desa ini saja, pasti

mereka terus mencari di luar luar

korban untuk dijadikan tumbal.

Tak berlama lama mereka

pamit pergi, sudah tidak ada

waktu untuk bersantai santai lagi,

mereka harus menyelidiki apa

yang sebenar nya yang ada di

kampung itu,Motor mnereka terus melaju,

memecah jalan berbatu dan hutan hutan kecil di kiri kanan jalan.

Hari sudah menjelang siang,

rencana nya mereka akan ke

rumah lama salwa kedatangan

mereka tidak boleh terlihat

mencurigakan,Salwa sudah mempersiapkan alasan agar mereka bisa tinggal dikampung itu,Tiga puluh menit berkendara,tibalah mereka di gapura

kampung itu, tampak gapura itu

sudah kusam, memasuki kampung itu, sejenak bulu kuduk merinding, aura nya langsung berubah, bau kembang melati

tercium, sesekali bau dupa juga semerbak, rumah rumah di sana

terlihat menaruh beberapa dupa

di dinding rumah mereka.

"Astagfirullahalazim, kok jadi seperti ini kampung ini" batin salwa

"Kak!!! A wass!! "pekik anisa, Ccriiieeeettt...!! Salwa mengerem mendadak, mereka di hadang sesosok nenek nenek yang berdiri ditengah jalan,

Melihat salwa ngerem mendadak dari depan, arif dan Sapta yang di belakang pun, mengerem secara bersama an.

Sosok nenek nenek itu terlihat memakai baju kebaya jadul,rambutnya putih di sanggul, dia tampak menatap rombongan

Salwa dengan tatapan tidak suka,melihat itu salwa langsung turun dari motornya dan menghampiri nenek tua itu, Belum semnpat salwa menyapa,Jangan ikut campur!l, atau kalian akan mati!!"Ucap nenek itu lantang,seakan-akan sudah mengetahui maksud dan tujuan mereka

kesana, aneh, salwa dan anisa sudah bertahun-tahun tinggal di kampung itu tapi tidak mengenal nenek ini, siapa beliau ini? ? Batin salwa.

"Pergii!!! Pergi dari sini...! "

pekik nenek tua itu sambil

menunjuk ke arah jalan keluar

kampung itu

"Assalamu'alaikum nek, maaf

nenek siapa ya, sudah lama

tinggal di kampung ini? " tanya salwa sopan.Nenek itu diam, tak

menjawab pertanyaan salwa,

matanya terus melotot dengan

tajam ke arah Salwa dan yang lain

nya. Merasa tidak beres Salwa

seakan sudah paham, seperti nya

nenek ini sangat tidak suka

dengan kehadiran mereka semua.

"Saya salwa, saya lahir

dan tumbuh di kampung ini,

seumur umur saya disini, saya

tidak pernah melihat nenek,

nenek tidak ada hak mengusir

saya, ini tanah kelahiran saya,

saya kemari ingin melihat rumah

dan sawah peninggalan orang tua

saya, permisi! Assalamu'alaikum."

Salwa lalu naik ke motor nya, dan

memberi kode pada dua teman di

belakang untuk segera

melanjutkan perjalan mereka,

Salwa mengabaikan nenek itu

begitu saja, arif dan Sapta pun

segela melaju, mengikuti laju

motor Salwa di depan mereka.

Mereka mepet ke pinggir mencari jalan, karena nenek itu memang

lah berdiri pas di tengah tengah

jalan, nenek itu terus melototi

mereka, Arif dan Sapta

menundukan kepala mereka

dengan sopan,tanda mereka

menghormati orang tua,

sekalipun kehadiran mereka tak

diinginkan.motor mereka berlalu,

tapi nenek itu tetap berdiri di sana

menatap mereka tanpa henti.

Mereka pun kenmbali melewati

beberapa rumah penduduk yang

berjarak berjauhan.

Semua tampak sepi, hanya

ada beberapa orang yang terlihat

berada di rumah, mereka pun tak

henti henti nya menatap Salwa dan yang lain nya, tatapan seperti

harimau yang melihat mangsa

nya, rumah rumah penduduk

disana telihat bagus bagus

berbeda dengan dahulu, rata rata

sudah bangunan permanen,

terlihat pula beberapa mobil

terparkir di depan rumah mereka,

padahal dulu rata rata rumah

rumah di sana terbuat dari kayu,

salwa takjub sekaligus heran

melihat pemandangan di desa nya

itu, terlihat warga warga disana

berkembang maju.Tibalah mereka di

persimpangan di dekat surau,surau itu terlihat terbengkalai,semak semak memenuhi halaman nya, warna dinding nya sudah pudar cat nya, tampak sekali tak pernah di gunakan, salwa dannyang lainnya sudah tak heran lagi,pasti lah warga sini tak pernah ibadah di surau ini. Melawati surau dan persawahan warga,

tibalah mereka di rumah Salwa

dahulu, Salwa membelokan motor

nya ke halaman rumah nya,

diikuti motor Arif dan Sapta,

setelah memarkirkan motor

mereka, Ratih dan yang lain nya

pun turun dari motor mereka,

sejenak mereka memandangi

rumah itu, rumput tampak tinggi

menjulang, serta tanaman

merambat mulai menjalar ke dinding rumah, salwanmemandangi keadaan rumah itundengan meneteskan air mata,

begitu juga anisa, rumah itu menyimpan banyak kenangan masa kecil nya, masa masa di mana keluarga nya masih lengkap,ayah ibunya masih ada, saat itu

kampung ini masih normal,kampung yang orang orang nyamasih ramai, dan penuh keceriaan, lalu salwa melangkah

ke pintu belakang, dia Ingat betul,

waktu itu mereka pergi dari pintu

belakang,Krieettt!! Suara deritan

pintu belakang yang di buka salwa,

bau lembab khas rumah kosong menyambut mereka, salwa segera

ke membukakan pintu depan yang terpalang waktu itu, Arif dan Sapta menunggu di depan,sementara anisa mengekor sejak tadi,Pintu di buka, arif dan Sapta dipersilahkan untuk

masuk kerumah nya. Assalamu'alaikum "salam Arif sapta bersamaan.

"Walaikumsalam"jawab salwa dan anisa bersamaan pula,Untung dikamar ibunya ada tikar yang disimpan, tikar yang hanya mereka keluarkan ketika ada tamu yang datang, mereka pun berdua yang sepupuan itu berbaring di tikar itu.