Chereads / HAIKAL / Chapter 10 - PART : AYAH HAIKAL RINDU

Chapter 10 - PART : AYAH HAIKAL RINDU

"Nit! Nita!"

Nita menoleh saat panggilan tak asing itu terdengar, temannya Ayu.

"Kenapa si?"

"Lu tau gak tadi pagi ada ribut ribut disini," ujar Ayu.

"Ribut? apaan?"

"Haikal sama Andhika berantem, Haikal mukul Andhika sampe babakbelur tau nggak, iih kasian banget, tapi Andhika mancing Haikal si denger denger dia ngomongin Alm. Ayahnya Haikal, yaudah deh jadi ribut, satu kampus heboh!" jelas Ayu.

"Terus Kak Haikal nggak kenapa kenapa?" tanya Nita yang mungkin sedikit khawatir.

"Nggak.."

"Terus sekarang gimana?"

"Mereka lagi di ruang konseling sama pak Direktur langsung," jawab Ayu.

"Semoga mereka akur yaa."

Brukk

Nita menabrak beberapa pria yang hendak berjalan, hal itu membuat chiki yang Nita bawa tumpah.

"Hati hati dong kalo jalan!" tukas pria itu.

Nita mendengus, bukannya meminta maaf malah sarkas.

"Maaf, tapi situ yang nabrak duluan!" kesal Nita.

"Ngelunjak! gue ini senior dosen!"

"Dih saya nggak nanya ya, kalo salah ya salah nggak usah ngotot, gak jelas banget!" ujar Nita makin kesal.

"Udah dong, duh maaf ya kak, temen saya emosian maaf maaf.." ujar Ayu.

"Apaan si orang dia yang salah, ngapain minta maaf!"

"Mau jadi sok jagoan?" pria itu mendorong tubuh Nita pelan, membuat sang empu semakin kesal.

"Jangan kasar dong sama cewek!" tukas Nita.

Brukk!!

Bukan Nita atau siapapun, tapi Haikal.

"Kak Haikal.."

"Minta maaf!" ujar Haikal pelan dengan muka datar.

Kedua pria itu saling menoleh, mungkin merasa takut.

"Mau lo direktur atau penguasa, kalo salah ya minta maaf!" tukas Haikal.

Lalu ia bergegas, menarik lengan Nita. membuat sang empu kebingungan.

"Mau kemana kak.." tanya Nita yang masih Haikal tarik lengannya.

...

Di Makam.

"Lo tunggu disini... kalo ada Yanu sama Jian kesini telpon gue," ujar Haikal.

Nita mengangguk paham, lalu Haikal berjalan ke tempat yang tak jauh dari Nita.

Ia berjongkok, lalu mengusap Nisa yang ternyata milik Ayahnya, pria itu terdiam sejenak menatap Nisa yang ada dihadapannya.

"Haikal dateng Ayah.." ujarnya pelan.

Haikal membersihkan beberapa rumput yang mulai tumbuh menutupi batu nisan.

"Udah lama Haikal gak kesini, maaf ya Ayah.."

"Maaf, Haikal masih berantem sama Andhika... Haikal marah, dia ngehina Ayah, dia bilang Ayah pengecut, Haikal gak terima.. Maafin Haikal gak bisa dengerin Ayah.." lirihnya pelan.

Disisi lain, Nita tengah melihat Haikal.

Pria yang selalu ia lihat tak ada beban, pria yang sering sekali mencari masalah, pria yang tak pernah ia lihat bersedih itu kini sedang bersimpuh, didepan batu nisan.

Menunduk, mengelus, bisa Nita lihat, Haikal tengah menangis, bahunya bergemetar, sesekali sesegukan, Nita melihat itu langsung, betapa sakitnya kehilangan seorang Ayah.

...

"Anggep aja lo gak pernah liat gue tadi."

Haikal tersenyum canggung setelah tiba saat ia mengantarkan Nita ke pulang kerumahnya, sementara Nita pun juga merasakan hal yang sama, sama sama canggung.

"Mm.. iya kak, tenang aja aku gak akan bilang ke siapapun," jawab Nita yang mungkin terdengar canggung.

"Maaf juga gue lancang," ujar Haikal lagi.

Nita tersenyum sembari mengangguk pelan,

"Makasih ya kak, udah anterin pulang."

"Sama sama, kalo gitu gue pamit ya."

"Iya kak."

Haikal lalu memakai helm nya, menyalakan motornya dan berjalan perlahan lalu menancapkan gas dengan kecepatan sedang.

Sementara Nita, gadis itu masih memperhatikan Haikal yang perlahan mulai menjauh, lalu menghilang. Gadis itu diam sejenak, menghela pelan lalu bergegas masuk kerumahnya.

Pukul 20.00

Haikal tiba dirumahnya, ia memarkirkan motornya, sekilas menoleh yang ternyata bundanya sudah pulang.

Haikal memasuki rumahnya, dan tepat yang pertama ia lihat adalah Bunda nya, yang tengah menunggunya dengan tatapan yang dapat Haikal tebak.

Lantas pria itu enggan bersuara, ia melewati Bundanya begitu saja, dan mulai menaiki tangga, menuju kamarnya.

"Bunda gak pernah ajarin kamu seperti itu Haikal!"

Langkah Haikal terhenti ketika sang bunda mulai bersuara, mungkin nadanya terdengar menahan amarah.

"Jangan buat Bunda malu dengan sikap kamu kayak gini Haikal!"

Haikal berbalik menatap Bundanya dingin, sedikit terkekeh pelan.

"Bunda gak tau yang sebenarnya, makanya Bunda nyalahin Haikal," ujar Haikal.

"Kalau pun kamu benar, kamu gak seharusnya pukulin Andhika! Dia itu teman kamu!" sarkas Bunda nya.

Haikal terkekeh pelan, "Nda-"

"Besok kalo kamu gak minta maaf, kamu gak usah balik kerumah!"

"Nda tanya nggak sama Haikal kenapa Haikal pukul Andhika?!" tukas Haikal.

"Perbuatan kamu itu bisa masuk penjara Haikal!"

"Anak mana yang nge lihat Ayahnya di hina dihadapan semua anak kampus Nda!!" bentak Haikal.

Bundanya terdiam setelah mendengar pernyataan Haikal.

Haikal menatap Bundanya, memang tidak seharusnya ia membentak Bundanya, tapi Bundanya tidak pernah bertanya sekalipun saat Haikal bermasalah di kampusnya.

"Bunda nggak tau kan yang terjadi sebenarnya?! yang bunda tau Haikal salah!! Haikal suka berantem!!"

"Bunda pikir Haikal diem aja liat Ayah dihina sama Andhika!!"

"Tapi nggak ada salahnya kamu minta maaf nak," sela Bunda nya.

"Haikal nggak salah! dan Haikal nggak sudi minta maaf!"

"Haikal nggak seperti Bunda! dan Haikal nggak mau kayak Bunda!"

"Selalu mengalah! apa katanya, mengalah bukan berarti kalah?"

Haikal tersenyum getir, "Bunda aja kalah telak sama keluarga Bunda!"

Bundanya masih terdiam, wanita itu memejamkan matanya, matanya memanas, menahan tangis setelah mendengar apa yang anaknya itu katakan.

"Salah ya tetap salah Nda! kalo kita minta maaf justru dia nggak akan tau kalo dia itu salah! yang egois bakal selalu nginjak harga diri! itu yang Bunda lakukan, ngebiarin keluarga Bunda menginjak harga diri Bunda!"

Plakk!!

Wanita paruh baya itu menampar putranya tanpa sengaja. Hal itu membuat Haikal terkejut, benar benar terkejut, pipinya merah.

Lalu Haikal menatap Bundanya marah, matanya memerah.

"Haikal benci Bunda!" tukas Haikal.

Lalu ia bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Bundanya hanya bisa terkejut, bisa bisanya ia menampar putranya begitu keras, sungguh wanita itu merasa sangat bersalah.

"Haikal.. bunda nggak bermaksud," lirih nya pelan.