"Dadaku.." Spencer meremas dada sebelah kiri. "Dadaku terasa sesak..."
"OH YA AMPUN!!" Ekspresi Alan menjadi sangat cemas. Dia sekonyong-konyong mengeluarkan ponsel miliknya, mengetik beberapa digit angka yang membuat layar ponselnya bergetar. "Halo! Rumah sakit—"
Sebelum perkataan lanjutan keluar, Spencer dengan cepat berdiri lalu menyambar ponsel dari tangan Manajernya. Menekan tombol berwarna merah dan menatap tajam ke arah pria yang hanya mematung dengan wajah panik bercampur bingung. "Kau tidak bisa membaca situasi yah?!"
Mendengar dirinya seolah disalahkan, Alan tidak bisa diam saja. Dia merebut kembali ponselnya. "Kau tidak lihat?! Ini namanya membaca situasi bodoh!"
"Kenapa kau menghubungi Rumah sakit?!"
"Lalu aku harus menghubungi apa?!" Alan semakin berapi-api. "Pemadam kebakaran?! Kau tidak mungkin berharap aku akan diam saja melihat seseorang sedang sekarat bukan?" Nada bicaranya terdengar menyindir, atau memang begitu.
"Aku bukannya sedang sekarat. Aku hanya... bukan.." Spencer menggeleng beberapa kali, yang terakhir terlihat lebih lemah. "Tidak tahu kenapa dadaku terasa sesak tiba-tiba. Seperti seseorang telah merebut hal yang paling berharga darimu."
"Oh bagus!" Alan mengangkat kedua tangannya ke udara. Barangkali begitu caranya menyalahkan keadaan, menyalahkan langit, menyalahkan kebodohan si model tampan ini. "Harusnya kau sungguhan menjadi Aktor saja, dan bukannya bermain peran konyol di internet. Itu membuat pikiranmu kacau."
"Diamlah.." Satu kata sebagai perwujudan sikap defensif, Spencer sama sekali tak menyangkal ucapan Alan. Karena, kalau boleh jujur ucapan si Manajer itu tidak sepenuhnya salah. Spencer lah yang tidak ingin mengiyakan secara terang-terangan. Itu bisa menghancurkan harga dirinya. "Kau sama sekali tidak membantu."
Alan mendengus, namun dia juga cukup prihatin dengan Spencer. Terutama pada kejiwaan pemuda itu. Banyak dampak negatif yang disebabkan oleh kecanduan bermain internet. Sebagian orang menjadi sosiopat -tidak peduli dengan sekitar- sebagian lagi malah bersikap agresif. Tetapi untuk kasus Spencer bisa dibilang lain. Pemuda itu bukanlah sosiopat. Karirnya sebagai model dan bintang iklan terbilang cukup sukses meski usianya muda, 26 tahun.
Hanya saja, kadang-kadang Spencer memang menunjukan sikap agresif, terlebih saat Alan membahas kekasih RP nya. Audy Piers. Yang mana itu benar-benar akun palsu, seseorang lain berada di balik akun tersebut. Siapa saja bisa menjadi siapa pun. Seorang remaja bisa bermain peran sebagai bintang ternama, aktor, aktris, idol bahkan sekedar animasi dua dimensi. Tidak ada peraturan yang mengikat, kebebasan adalah satu hal yang dijual dalam dunia Roleplay. Termasuk umur, jenis kelamin, dan bagaimana sifat sesungguhnya.
Itulah yang Alan khawatirkan. Tidak ada yang tahu jika seseorang dibalik akun Audi adalah nenek tua kesepian, lelaki hidung belang, para penjahat kelamin. Siapapun bisa menjadi siapa saja.
"Tumben sekali kau tidak bermain ponsel?" tanya Alan tanpa menatap Spencer. Makanan jepang di hadapannya lebih menarik daripada seorang pemuda berwajah sendu. Oh, itu bisa membuat nafsu makannya hilang.
"Ponselku mati." Spencer merapatkan alis-alisnya saat dia meluruskan pandangan ke arah depan. Sayangnya, Alan masih fokus melahap sushi. "Seseorang meninggalkannya di atas meja yang basah."
"Oh.." Alan sepertinya belum tahu jika nyawanya sebentar lagi terancam. "OH!" Dia baru saja sadar.
Tetapi sudah terlambat. Spencer bertindak lebih cepat, memasukan satu sashimi yang dipenuhi oleh wasabi ke dalam mulut Alan. Membungkamnya, memaksa si Manajer untuk mengunyah dan menelannya.
"Rasakan itu!"
.
.
.
.
.
Lembaran tisu yang tadinya berada di tangan Dennis, berpindah pada Casie. Gadis itu merebutnya, secara cepat tanpa izin lebih dulu. "Kau tidak perlu melakukan itu," ucapnya di sela-sela membersihkan noda kecoklatan. Dessert keparat itu banyak membuatnya terlihat kotor, meski rasa manis memang tidak bisa disalahkan.
Dennis tersenyum . Entah sudah berapa lama bibirnya tertarik. Casie rasa, pemuda ini sudah seperti robot penyambut tamu yang biasa di letakan di gerbang depan arena bermain.
"Aku tidak bisa mengabaikan sesuatu yang sudah terlanjut ku lihat."
"Berusahalah.."
Dennis menegakkan tubuhnya, ekspresi pemuda itu telah beralih menjadi sayu. Seolah-olah memancing rasa iba dari gadis di depannya. "Apa kau keberatan dengan yang ku lakukan?"
'Sangat. Aku sangat keberatan. Ini salah, tidak seharusnya aku mendapat perlakuan seperti ini dari orang lain.'
"Aku tidak mau lebih merepotkanmu.." Harusnya bukan kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Sopan santun sialan ini telah membuat Casie tidak bisa mengutarakan ketidaksukaannya dengan lantang. Terkecuali pada Carla. Mungkin dia hanya bisa menjadi dirinya sendiri pada orang-orang yang cukup lama bersama dengannya, seperti si gadis berambut sebahu yang menyebalkan.
Senyum Dennis mengembang lebih lebar dari sebelumnya. Ini titik dimana Casie menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan. "Tidak sama sekali. Justru aku senang melakukannya.."
Baiklah.. Ini terdengar cukup intim di telinga Casie. Dia harus cepat-cepat mengalihkan pembicaraan sebelum obrolan menuju ke arah yang tidak diinginkan. "Kau belum menjawab pertanyaanku."
Dennis memiringkan kepala (berusaha terlihat imut rupanya) sedang mengingat-ingat percakapan mereka. Walau ditarik garis lurus ke belakang, mereka tidak berbicara sejak bertemu di sekolah. "Ah benar.." seru pemuda itu tiba-tiba. Rupanya telah menemukan potongan ingatan yang menghilang. "Kenapa aku tidak ikut klub Basket?" Pertanyaan itu tak lebih dari pengulangan. Seakan meminta Casie untuk mengiyakan.
"Kau punya keahlian di sana. Aku melihatmu sering memasukan bola ke dalam keranjang," tutur Casie sambil sesekali melahap dessert box cokelat dalam gigitan lebih kecil dari sebelumnya.
"Benarkah?" Wajahnya lebih berseri-seri dan deretan gigi putihnya memantulkan cahaya matahari di luar sana, lebih cerah. "Aku senang kau memperhatikanku~"
Casie hampir saja tersedak. Lalu tangannya tergesa-gesa meraih gelas plastik berisi cairan cokelat dan kotak-kotak batu es. Sebelum mengernyitkan dahi ketika menyadari itu adalah es kopi, dan bukannya susu dingin. "Bukan aku saja, seluruh orang memperhatikannya.." Dia menegaskan lagi sambil memasukan suapan kue cokelat ke dalam mulutnya. Lebih banyak. Untuk menetralkan rasa pahit yang mulai masam di seluruh permukaan dinding-dinding mulutnya.
"Setidaknya kau juga~"
Casie tidak tahu harus merespon bagaimana selain mengangkat bahu. Tidak mengiayakan, tidak juga mengelak. Sebentuk respon netral tanpa memberikan kesan negatif pada lawan bicara. Sejujurnya dia tak terlalu pandai mengobrol secara santai dengan orang asing. Dalam artian, orang yang berada cukup jauh dari jangkauan seorang 'teman'. Tetapi dia bukanlah seorang introvet, Casie secara sadar membantah jika orang lain menganggapnya demikian.
Hanya tidak bisa terlalu lama memasang tampang lain yang bukan merupakan kepribadiannya. Casie tidak bisa memasang muka kedua, memunculkan perasan yang bertolak belakang dengan sesungguhnya. Meski istilah bermain peran, Roleplay, kebanyakan orang disana lebih menunjukan kepribadian asli daripada ketika di dunia nyata.
"Hanya itu saja yang kau ingin bahas mengenai Basket?"
"Aku tidak tahu hal lain tentang basket, tidak tahu harus bertanya mengenai apa." Casie pikir dengan cara ini dia bisa melarikan diri dari topik pembicaraan bersama si pangeran sekolah (sebutan dari Carla).
"Kalau begitu.." Dennis mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku bisa ajarkan apapun yang kau mau, mengenai Basket."