Jeyhan menyandarkan tubuhnya di sisi kursi dan menengadahkan wajahnya ke arah langit yang mulai menampakkan redupnya cahaya matahari. Senja akan segera tiba. Pikirannya bercabang bukan karena perusahaan akan tetapi ulah Marinka yang menagihnya cicit.
"Apa aku bisa menyukai wanita lain, selain orang itu?" gumam Jeyhan.
"Kakak!" Monika dengan lantang mengagetkannya.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Jeyhan dingin. Dengan segera ia pun membetulkan posisi duduknya menjadi mengarah ke depan.
"Ah Kakak, kok malah bertanya seperti itu? Jangan benci nanti cinta lho," ledek Monika.
"Apa kau kira aku ini bodoh ya, suka sama adik sendiri," jawab Jeyhan. Sebenarnya ia tahu Monika menyukainya. Akan tetapi, ia berusaha berpura-pura untuk tidak tahu karena biar bagaimanapun Monika anak ayahnya.
"Kakak, bisa tidak pandang aku sebagai wanita. Aku ini sudah dewasa Kak dan aku ingin kita pacaran," jawab Monika.
"Hentikan omong kosong itu! Sebelum aku marah, kusarankan kau untuk tinggalkan aku sendiri. Aku tidak butuh siapapun!" tegas Jeyhan.
Monika pun bungkam, ia lalu berbalik bergegas pergi.
"Dan satu lagi, jangan mendekatiku! Kita ini satu ayah. Ini peringatan jika kau melanggarnya aku tidak akan sungkan. Mengerti 'kan apa maksudku?"
"I-iya Kak," jawab Monika melanjutkan langkahnya.
Anelis setelah apa yang kau lakukan padaku. Kenapa aku masih menyukaimu? Perempuan kejam sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan cinta terlebih itu dariku. Batin Jeyhan seraya mengepalkan tangannya.
***
Prang!
Sebuah kotak jatuh mengagetkan Anelis yang sedang duduk dengan lamunan di tepian tempat tidur. Ia pun segera berlari ke arah kotak yang terjatuh tersebut.
"Kenapa bisa jatuh? Padahal enggak ada yang ganggu. Kak Han apa kabar?" Anelis memegangi kotak yang terbuat dari kayu serta tulisan 'J A' perpaduan inisial nama Jeyhan dan Anelis.
Anelis pun membuka isi kotak tersebut tampaklah benda-benda yang menggambarkan kenangan-kenangan di saat ia dan Jeyhan memiliki ikatan yaitu cinta.
-Flash Back On-
Jeyhan yang berpakaian seragam rapi dengan 7 bunga beda suku serta sebuah kotak mini di tangannya. Jantungnya berdegup kencang menanti Anelis, siswi yang populer dengan kecantikan dan kelembutannya itu.
"Kak Han." Tampaklah Anelis dengan kuciran kepang dua serta setelan seragam SMA tersenyum mengarahnya.
Jeyhan memandangi wajah gadisnya itu dengan teduh, matanya tidak berkedip sedikit pun.
"Kak Han. Sudah menunggu lama?" tanya Anelis yang Jeyhan sendiri tidak sadar bahwa Anelis sudah berada di depannya.
"Baru saja, eh tadi. Ah! Aku lupa," jawab Jeyhan salah tingkah dengan tatapan Anelis kepadanya.
Anelis tersenyum ia pun berjinjit sambil mengelus rambut hitam Han dengan poni ala-ala aktor Korea. Jeyhan terkejut dengan perlakuan lembut Anelis padanya. Ya, Anelis sosok yang hangat.
"Itu apa Kak?" tanya Anelis melihat kedua tangan Jeyhan yang sembunyi di belakang pinggangnya.
"Bu-bukan apa-apa," jawab Jeyhan.
Dengan cepat Anelis berhasil merebut kotak kecil tersebut dari tangan Jeyhan. Jeyhan tampak frustasi dan merunduk malu.
"Maaf Kak, ini aku kembalikan," ucap Anelis sambil memberikan kotak tersebut ke tangan Jeyhan.
"Kenapa dikembalikan, ini memang untuk kamu," ujar Jeyhan sambil memberikan kotak tersebut.
Anelis memelotot tidak percaya, ia pun membuka kotak tersebut. Tampak sebuah rangkaian manik-manik yang berukir nama Anelis di setiap butirnya dan menjelma menjadi sebuah kalung.
"Wah benaran untukku ya, Kak. Cantik banget," ujar Anelis sambil memelotot memperhatikan detail kalung tersebut.
Jeyhan mengangguk pelan, membuat senyum Anelis melebar. Ia begitu bahagia mendapkan hadiah sederhana dari Jeyhan.
"Dan ini juga buat kamu. Aku nyolong bunga tetangga bahkan di jalanan sampai aku dikejar satpam depan hotel Auston," ujar Jeyhan sambil memberikan rangkaian 7 suku bunga berbeda kepada Anelis.
"Kakak nyolong?" tanya Anelis.
"Iya, di rumahku tidak ada bunga seperti itu," jawab Jeyhan santai.
"Kakak kok tahu aku suka bunga?" tanya Anelis sambil menciumi bunga tersebut.
"Karena kamu itu ibarat bunga dan aku batangnya. Terlihat indah setelah ditumbuhi bunga. Begitu juga dengan hidupku, terasa indah setelah bertemu denganmu," jawab Jeyhan dengan tatapan serius membuyarkan senyuman Anelis. Ya, dia begitu terkesima dengan kepribadian Jeyhan yang apa adanya.
"Ehmmm, mau kalungnya aku bantu pakaikan?" tanya Jeyhan.
"Ah, i-iya tentu. Terima kasih," jawab Anelis sambil berbalik.
Jeyhan pun membantu memakaikan kalung buatannya ke leher Anelis.
"Selamat hari pertama jadian," bisik Jeyhan.
Ya, hubungan manis itu dimulai beberapa minggu yang lalu. Di saat Jeyhan remaja tampan namun sederhana mendatangi pertandingan basket sepupu yang sebenarnya sangat enggan untuk ia datangi. Akan tetapi siapa sangka waktu itu justru mempertemukannya dengan Anelis, si gadis cantik yang tidak sengaja bertabrakan dengannya di saat mereka sama-sama mencari toilet.
"Terima kasih Kak," jawab Anelis membuyarkan lamunan Jeyhan akan bayangan pertemuan pertamanya dengan Anelis.
"Apa kamu suka?" tanya Jeyhan.
"Iya suka banget, Kakak beli dimana? Kok namanya sesuai dengan namaku, Kakak pesan khusus ya," tanya Anelis.
"Itu, aku buat sendiri," jawab Jeyhan sambil menggaruk pelan kepalanya.
"Apa? Ya ampun Kak, ini cantik banget. Terima kasih Kak," ucap Anelis tak sadar memeluk Jeyhan. Tubuh Jeyhan sontak kaku, ia menahan napasnya.
"Ah maaf, aku enggak sengaja. Oh ya. sebentar lagi bel masuk. Aku pergi dulu ya, Kak!" teriak Anelis sambil berlari menjauhi Jeyhan.
-Flash Back Of-
Tok! Tok!
"Masuk! Enggak dikunci," jawab Anelis sambil menyimpan kotak tersebut.
"Nona dipanggil nyonya di ruang pribadi," ujar Titi dengan napas tersenggal-senggal.
"Kenapa Bibi sampai tersenggal-senggal," jawab Anelis sambil memberikan bi Titi minuman.
"Kata nyonya saya harus sampai ke kamar Nona 60 detik." Dengan napas yang tersenggal-senggal bi Titi memaksakan suaranya untuk menjawab pertanyaan Anelis.
"Apa?" Anelis memelotot tidak percaya apa yang dilakukan ibu tirinya itu kepada bibi yang sudah ia anggap pengganti ibu kandungnya. Marah itulah yang bersarang di hati Anelis.
Ia pun bergegas keluar dari kamar dengan tempo langkah yang cepat, ia tidak mau ibu tirinya itu menghukum bi Titi kalau ia tidak segera menemuinya.
Tibalah Anelis di depan ruangan pribadi yang seperti Santi perintahkan kepada bi Titi. Anelis pun mengetuk pintu tersebut.
"Masuk!" Teriakan Santi membuat Anelis segera membuka pintu tersebut.
"Hmmm lumayan cepat juga," ujar Santi sambil duduk di sofa dengan sebuah koran di tangannya.
"Menyuruh bi Titi memanggilku dengan waktu 50 detik. Bukankah itu kejam Mama?" ujar Anelis.
"Aku sudah menduga dia akan mengadu. Aku hanya bermaksud mendisiplinkannya sayang. Enggak lebih," jawab Santi sambil tersenyum.
Anelis terdiam, ia pun duduk tepat di hadapan ibu tirinya tersebut. Pandangan mereka pun beradu. Anelis tampak tajam sedangkan Santi tampak santai.
"Kamu kenal Tora Aruan 'kan? Putra teman bisnis papamu, nanti malam tepat di hari ulang tahun Erika dia dan keluarganya akan datang sebagai tamu," ujar Santi.
"Lalu?"
"Aku akan mengenalkanmu dengannya dan jangan menolaknya. Ini perintah papamu," lanjut Santi.
"Apa? Perintah papa?" Tatapan Anis semakin tajam ketika Santi memberikan alasan yang baginya tidak masuk akal.
"Iya, aku harap kamu menghormati keputusannya yang akan menjodohkannya denganmu." Melipat koran yang sedari tadi ia pegang.
Anelis terdiam seketika, ia pun menghela napas panjangnya.
"Baik, akan aku lakukan," jawab Anelis.
Santi tersenyum, ia pun berdiri berjalan mendekati Anelis.
"Kamu memang putri yang sangat baik, bersiaplah untuk pertemuanmu sayang," bisik Santi lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut.
Waktu itu juga demi papa 'kan. Memaksa hubunganku dengan kak Han berakhir karena papa 'kan dan perjodohan ini untuk papa juga. Apa lagi yang harus aku korbankan untukmu Papa! Batin Anelis diiringi isak tangisnya.
***
Jeyhan menatap wajah murung neneknya yang sedang mogok makan. Ia benar-benar mengabaikan cucunya itu yang sedang memegang sendok berisi bubur, untuk menyuapinya.
"Nek, makanlah. Kata bi Rasel hari ini Nenek tidak mau makan sama sekali," ujar Jeyhan lembut.
"Katakan padaku, apa alasan aku untuk hidup? Orang yang menyayangiku sudah pergi dan aku akan menemuinya. Kamu mau mencegahku, apa alasan aku hidup?" tanya Marinka sambil mengalihkan wajahnya.
"Bukankah Nenek bilang mau punya cicit. Jadi aku mohon makanlah agar tenagamu stabil agar bisa menggendong cicit yang akan ku berikan nanti," jawab Jeyhan.
"Tidak akan! Kencan buta yang sudah aku aturkan untukmu berakhir sia-sia. Wanita mana yang akan kamu nikahi. Apa kamu pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Aku rasa tidak pernah! Atau jangan-jangan kamu tertarik dengan sesama jenis," ujar Marinka.
"Aish! Nenek apa aku terlihat seperti itu? Jangan menuduhku yang tidak-tidak," jawab Jeyhan mulai frustasi dengan pertanyaan neneknya itu.
"Pernakah kamu menjalin hubungan dengan seorang wanita? Katakan siapa namanya dan bagaimana keluarganya?" Marinka menodong Jeyhan dengan beberapa pertanyaan yang enggan ia jawab.
"Kenapa tidak menjawab? Apakah itu berarti kamu tidak punya dan itu membuktikan kalau kamu menyukai sesama jenis," ujar Marinka.
Jeyhan terdiam, wajahnya kali ini merah padam. Diletakkannya piring kaca yang berisi bubur di atas nakas. Ia pun bangkit dari duduknya.
"Apa kamu marah?" tanya Marinka.
"Itu hanya masa lalu yang sudah aku lupakan tolong jangan mengungkitnya. Luka yang sudah mulai mengering tolong jangan menggoresnya lagi," jawab Jeyhan sambil beranjak keluar.
Siapa gadis itu? Apakah karena dia membuat Jeyhan takut jatuh cinta? Atau hanya gadis itu yang yang mampu mencairkan sikap dinginnya. Batin Marinka.
BERSAMBUNG...