Keesokan paginya, Ren terbangun karena suara ketukan keras di pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Bangun. Ujianmu dimulai sekarang," suara Shira terdengar dari luar.
Ren menguap dan mengusap wajahnya. Badannya masih terasa pegal setelah perjalanan panjang kemarin, tapi dia tidak punya pilihan selain bangun. Setelah mencuci muka di ember kayu di sudut ruangan, dia keluar dari rumah dan menemukan Shira sudah menunggunya di depan.
"Makan dulu," katanya, melemparkan sebungkus roti dan sebotol air ke Ren.
Ren menangkapnya dengan refleks. "Lo serius? Gue bahkan belum pemanasan."
Shira menatapnya datar. "Ini bukan ujian sekolah. Kau tidak punya kemewahan untuk bersiap-siap dalam pertarungan nyata."
Ren mendesah, lalu cepat-cepat menghabiskan roti itu. Rasa lapar membuatnya tidak peduli pada teksturnya yang agak keras. Setelah selesai makan, Shira membawanya ke tanah lapang di belakang desa.
Di sana, beberapa orang sudah berkumpul. Mereka tampaknya penasaran dengan "pendatang baru" ini. Beberapa berbicara pelan di antara mereka sendiri, dan Ren bisa merasakan tatapan penuh keraguan.
"Ujian pertama," kata Shira, menarik perhatian semua orang. "Pertahankan dirimu selama lima menit melawan ini."
Dia menjentikkan jari, dan tiba-tiba, tanah di depan Ren mulai bergetar. Sebuah lingkaran sihir muncul, dan dari dalamnya, sosok humanoid dengan tubuh batu keluar. Matanya bersinar merah, dan tinjunya sebesar kepala manusia.
Ren mundur selangkah. "Lo gak bercanda, kan?"
"Jika kau ingin bertahan di dunia ini, kau harus bisa mengatasi ancaman seperti ini."
Monster itu menggeram, lalu berlari ke arah Ren.
Refleksnya langsung bekerja. Ren melompat ke samping, menghindari pukulan monster yang menghantam tanah, menciptakan lubang kecil.
"Oke… ini serius!"
Ren mencoba berlari menjauh, tapi monster itu lebih cepat dari yang ia duga. Tinju batu melayang ke arahnya, memaksanya melompat ke belakang.
Krak!
Sebagian tanah retak akibat serangan itu. Ren tahu dia tidak bisa hanya menghindar terus.
"Oi, gue bahkan gak punya senjata! Gimana gue bisa lawan ini?" teriaknya.
Shira tetap berdiri di tempatnya. "Gunakan apa yang kau punya."
Ren menggertakkan gigi. Gunakan apa yang gue punya? Gue bahkan gak tahu punya apa!
Saat monster itu menyerangnya lagi, Ren refleks mengangkat tangan, berharap bisa menahan pukulannya—
Tiba-tiba, sesuatu terjadi.
Tepat sebelum tinju monster itu menyentuhnya, udara di sekitar Ren bergetar. Seberkas cahaya biru samar muncul di tangannya, membentuk semacam penghalang tipis.
BAM!
Monster itu terpental ke belakang, sementara Ren sendiri terhuyung ke belakang.
Dia menatap tangannya, terkejut. "Apa… ini?"
Shira tersenyum tipis. "Sekarang kau tahu apa yang kau punya."
Ren menatap monster yang mulai bangkit lagi, dan kali ini, dia merasakan sesuatu yang berbeda.
Dia mungkin belum tahu cara menggunakannya, tapi sekarang dia yakin—dia punya kekuatan di dunia ini.
Monster batu itu bangkit kembali. Matanya yang merah menyala semakin terang, menandakan bahwa serangannya kali ini akan lebih ganas.
Ren masih menatap tangannya dengan bingung. Barusan, dia berhasil memblokir serangan monster itu dengan semacam penghalang tak terlihat. Tapi… bagaimana dia melakukannya?
"Tunggu… Jadi gue punya kekuatan?" gumamnya pelan.
Shira, yang berdiri di pinggir lapangan, mengangguk. "Sepertinya begitu. Tapi kau tidak punya waktu untuk merenung. Jika kau tidak bisa mengendalikannya, kau akan mati."
Ucapan itu menyadarkan Ren. Monster batu itu menggeram, lalu kembali menyerang dengan kecepatan yang mengejutkan untuk makhluk sebesar itu.
BRAK!
Ren melompat ke samping, tapi monster itu sudah mengayunkan tangan lainnya. Tanpa berpikir panjang, Ren mengangkat tangannya lagi—dan seketika, penghalang biru samar muncul kembali!
Duum!
Monster itu terpental ke belakang sekali lagi, tapi kali ini Ren merasakan sesuatu. Ada semacam aliran energi yang mengalir dari dalam tubuhnya ke telapak tangannya.
Jadi ini… mana?
Ren mulai mengerti. Kalau dia bisa mengontrolnya, mungkin dia bisa lebih dari sekadar bertahan.
Monster itu kembali berdiri, kali ini lebih marah. Ia menancapkan tinjunya ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang membuat tanah bergetar hebat. Retakan mulai menjalar ke arah Ren.
Mampus! Kalau kena gue bisa mati!
Tanpa sadar, Ren merentangkan kedua tangannya. Kali ini, bukan hanya penghalang kecil yang muncul. Sebuah lapisan energi biru berbentuk kubah muncul di sekelilingnya, melindunginya dari gelombang kejut itu.
BOOM!
Tanah di sekitarnya hancur, tapi Ren tetap berdiri di tengahnya, tak tersentuh.
Orang-orang yang menonton mulai bersuara. Beberapa tampak terkejut, sementara yang lain berbisik satu sama lain.
Shira tersenyum tipis. "Menarik. Kau ternyata lebih berbakat dari yang kukira."
Ren menatap tangannya, lalu ke arah monster yang mulai goyah setelah menyerang berkali-kali. Ini kesempatan gue!
Dia menurunkan penghalangnya dan langsung berlari ke arah monster itu.
Tanpa tahu apa yang dia lakukan, Ren mengangkat tangannya dan meninju udara di depan monster itu. Tapi sebelum tinjunya mengenai, energi biru muncul dan meledak ke depan seperti gelombang kejut!
BOOM!
Serangan itu menghantam monster batu tepat di dadanya. Retakan besar muncul di seluruh tubuhnya sebelum akhirnya…
KRAK!
Monster itu runtuh menjadi serpihan batu, hancur berkeping-keping.
Ren terdiam, terengah-engah. Dia baru saja… menang?
Kerumunan yang tadinya diam mulai bertepuk tangan. Beberapa orang bahkan bersiul.
"Kau lumayan juga," kata Shira sambil berjalan mendekatinya. "Tapi ini baru awal. Kau harus belajar cara mengendalikan kekuatanmu."
Ren masih terengah, tapi dia tersenyum. "Yah… setidaknya sekarang gue tahu kalau gue gak selemah yang gue kira."
Dan dengan itu, ujian pertamanya pun berakhir.