Setelah pertarungan melawan monster batu itu, Ren merasa tubuhnya lelah. Dia terjatuh duduk di tanah, menarik napas panjang.
Shira mendekatinya dengan ekspresi tenang. "Kau berkembang lebih cepat dari yang kuduga. Tidak semua orang bisa mengaktifkan kekuatannya di hari pertama."
Ren mengangkat wajahnya. "Jadi ini memang kekuatan gue? Gue bisa pakai mana kayak orang-orang di dunia ini?"
Shira mengangguk. "Ya, tapi kau masih belum tahu cara mengendalikannya sepenuhnya. Jika kau tidak berlatih, kau bisa melukai diri sendiri atau orang lain."
Ren menghela napas. Dia masih merasa aneh dengan semua ini. Beberapa jam yang lalu, dia hanyalah seorang anak biasa. Sekarang, dia memiliki kekuatan yang bahkan bisa menghancurkan monster besar.
Saat dia tenggelam dalam pikirannya, seorang pria tua berbaju panjang dengan lambang kerajaan di dadanya mendekat. Dia tampak berwibawa dan memiliki aura yang kuat.
"Pemuda, kau luar biasa," kata pria itu dengan suara berat. "Aku menyaksikan pertarunganmu, dan aku terkesan."
Ren menelan ludah. Orang ini pasti bukan orang biasa.
"Aku adalah Roland, salah satu penasihat kerajaan," lanjutnya. "Aku punya tawaran untukmu, Nak."
Ren mengerutkan kening. "Tawaran?"
Roland tersenyum. "Kerajaan selalu mencari orang berbakat. Dengan kekuatanmu, kau bisa menjadi seorang ksatria atau bahkan penyihir yang hebat. Jika kau mau, aku bisa membawamu ke ibu kota untuk dilatih langsung oleh para ahli."
Ren terdiam. Tawaran itu terdengar menggiurkan, tapi dia juga merasa ragu.
Shira menatapnya dengan tajam. "Keputusan ada padamu, tapi ingat, tidak semua yang bersinar itu emas."
Ren memahami maksudnya. Dia belum mengenal dunia ini sepenuhnya. Jika dia bergabung dengan kerajaan, dia bisa belajar banyak hal, tapi… apakah dia bisa mempercayai mereka?
Dia menggigit bibirnya, berpikir keras. Akhirnya, dia mengangkat wajahnya dan berkata, "Beri gue waktu buat mikir. Gue baru aja datang ke dunia ini, dan semuanya masih terasa asing."
Roland tertawa kecil. "Tentu, itu keputusan yang bijak. Aku akan berada di kota ini selama beberapa hari. Jika kau berubah pikiran, temui aku di penginapan Biru Langit."
Setelah mengatakan itu, Roland pergi, meninggalkan Ren yang masih bingung.
Shira menyilangkan tangan. "Kau memang harus berpikir baik-baik. Kerajaan bisa memberimu kekuatan, tapi kau juga bisa kehilangan kebebasan."
Ren menghela napas. "Ya… gue gak mau asal terima tanpa tahu apa yang bakal gue hadapi."
Shira tersenyum tipis. "Bagus. Setidaknya kau tidak bodoh."
Ren tertawa kecil, meski kepalanya masih penuh dengan pertanyaan. Dunia ini penuh misteri, dan dia baru saja memulai perjalanannya.
Malam itu, Ren duduk di tepi sungai dekat kota. Airnya jernih, memantulkan cahaya bulan yang bersinar lembut. Angin malam berhembus pelan, menenangkan pikirannya yang kacau.
Tawaran Roland masih terngiang di kepalanya. Bergabung dengan kerajaan terdengar seperti pilihan yang bagus. Dia bisa belajar lebih banyak tentang dunia ini, melatih kekuatannya, dan mungkin menemukan cara untuk kembali ke dunianya. Tapi… apakah itu benar-benar keputusan yang tepat?
"Gue harus mikir baik-baik," gumamnya.
Langkah kaki mendekat dari belakang. Ren menoleh dan melihat Shira berdiri di sana, tangannya dimasukkan ke dalam jubahnya.
"Kau terlihat bingung," kata Shira sambil duduk di sampingnya.
Ren mengangguk. "Gue gak tahu harus milih apa. Tawaran Roland menggiurkan, tapi gue juga gak yakin bisa percaya sama kerajaan."
Shira menatap sungai dengan tatapan kosong. "Kerajaan memang kuat, tapi juga punya banyak rahasia. Banyak orang yang bergabung dengan mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam."
Ren menelan ludah. "Maksud lo?"
Shira menghela napas. "Tidak semua orang di kerajaan itu baik. Beberapa hanya mencari kekuatan untuk keuntungan mereka sendiri. Jika kau bergabung, kau harus siap menghadapi intrik politik, perintah yang mungkin tidak kau setujui, dan tanggung jawab besar."
Ren terdiam. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu.
"Tapi kalau gue gak gabung, gimana gue bisa jadi lebih kuat?" tanyanya.
Shira menatapnya tajam. "Kekuatan sejati tidak hanya datang dari pelatihan di kerajaan. Kau bisa belajar di tempat lain, dengan cara yang berbeda."
Ren menggaruk kepalanya. "Jadi menurut lo, gue gak usah ikut?"
Shira mengangkat bahu. "Itu keputusanmu. Aku hanya memberimu sudut pandang lain."
Ren kembali menatap sungai. Dalam hatinya, dia tahu bahwa dia tidak ingin terikat oleh peraturan kerajaan. Dia ingin kebebasan untuk menentukan jalannya sendiri.
Akhirnya, dia menghela napas panjang. "Gue udah mutusin. Gue gak bakal gabung sama kerajaan."
Shira tersenyum tipis. "Keputusan yang menarik. Tapi kau harus ingat, tanpa perlindungan kerajaan, kau harus berhati-hati. Dunia ini tidak selalu ramah."
Ren mengangguk. "Gue tahu. Tapi gue bakal cari cara sendiri buat jadi lebih kuat."
Shira berdiri dan menepuk pundaknya. "Baiklah. Mulai besok, kita akan latihan lebih keras."
Ren tersenyum. "Siap, sensei."
Shira tertawa kecil. "Jangan panggil aku sensei. Aku bukan gurumu."
Ren hanya tertawa. Malam itu, dia merasa lebih tenang. Dia sudah membuat keputusan, dan sekarang saatnya untuk maju ke depan. Apa pun yang terjadi, dia akan menghadapi semuanya dengan kekuatannya sendiri.