Chereads / Kagami no Sekai – Pahlawan Terbuang yang Bangkit / Chapter 8 - Bab 8 Menguasai Dasar

Chapter 8 - Bab 8 Menguasai Dasar

Ren kembali mencoba membentuk bola mana di tangannya. Kali ini, ia sudah lebih terbiasa mengontrol energinya. Bola biru itu berputar pelan, tidak lagi goyah seperti sebelumnya.

Shira mengamati dengan tangan bersedekap. "Bagus, kau mulai bisa mempertahankannya lebih lama."

Ren tersenyum tipis. "Lumayan, tapi gue masih belum bisa ngeluarin serangan, kan?"

Shira menggeleng. "Belum. Sebelum kau bisa menggunakan sihir dalam pertempuran, kau harus benar-benar menguasai pengendalian mana. Kalau tidak, sihirmu akan kacau dan malah membahayakan dirimu sendiri."

Ren menghela napas. "Gue ngerti… tapi kapan gue bisa mulai belajar serangan sihir?"

Shira berpikir sejenak. "Baiklah, kita bisa mencoba sesuatu yang sederhana."

Mendengar itu, mata Ren berbinar. Akhirnya, ia bisa belajar sesuatu yang lebih seru.

Shira mengambil posisi di depan Ren. Ia mengangkat tangan dan mengumpulkan mana di telapak tangannya. Dalam sekejap, bola api kecil muncul, melayang di atas tangannya.

"Ini adalah salah satu sihir dasar, Api Kecil," jelas Shira. "Coba kau rasakan pergerakan mana yang aku gunakan."

Ren memperhatikan dengan seksama. Ia bisa merasakan sedikit perubahan di sekitar Shira, seolah udara menjadi lebih hangat.

Shira lalu mengarahkan bola api itu ke sebuah batu besar di dekat mereka. Api itu meluncur cepat dan mengenai batu, meninggalkan bekas hangus di permukaannya.

Ren menatap dengan kagum. "Gue juga bisa ngelakuin itu?"

Shira tersenyum. "Tentu saja, kalau kau bisa mengontrol mana dengan baik."

Ren mengambil posisi dan mulai mengumpulkan mana. Kali ini, ia mencoba mengikuti perasaan yang ia rasakan tadi dari Shira.

Namun, bukannya bola api, hanya percikan kecil yang muncul di tangannya sebelum menghilang.

"Gah! Kenapa nggak bisa?" Ren menggerutu.

Shira tertawa kecil. "Kau terlalu terburu-buru. Coba perlahan, bayangkan panas yang ada di tubuhmu, lalu arahkan ke telapak tanganmu."

Ren menarik napas dalam dan mencobanya lagi. Ia membayangkan api yang berkobar, mencoba merasakan energi panas mengalir dari tubuhnya ke tangannya.

Sedikit demi sedikit, percikan api kembali muncul, kali ini bertahan lebih lama.

Ren tersenyum lebar. "Gue berhasil!"

Shira mengangguk. "Masih kecil, tapi itu adalah awal yang bagus."

Ren merasa semakin bersemangat. Ia tahu, masih butuh latihan panjang sebelum bisa menggunakan sihir dalam pertempuran, tapi setidaknya ia sudah mulai menapaki jalannya.

"Baiklah, gue bakal latihan sampai bisa!" katanya dengan penuh semangat.

Shira tersenyum puas. "Bagus. Itulah sikap yang harus dimiliki seorang petarung sejati."

Ren menatap bola api kecil di tangannya dengan penuh antusias. Meski masih belum sempurna, setidaknya ia sudah bisa mempertahankan nyala api lebih lama dibanding sebelumnya.

Shira berdiri di depannya dengan tangan bersedekap. "Sekarang, coba arahkan seranganmu ke batu di sana," katanya, menunjuk batu besar yang sama seperti sebelumnya.

Ren mengangguk. "Baik, gue bakal coba!"

Ia menarik napas dalam, lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah batu tersebut. Dengan sekuat tenaga, ia melepaskan bola api itu.

Namun, bukannya melesat lurus seperti milik Shira, bola api Ren malah melayang tak terkendali ke arah samping, hampir mengenai semak-semak di dekat mereka.

"Wah! Hampir aja kebakaran!" seru Ren panik.

Shira terkekeh. "Itulah kenapa kau harus belajar mengontrol arah seranganmu. Kalau tidak, kau bisa membahayakan sekitarmu."

Ren menggaruk kepalanya. "Gue kira setelah berhasil nyalain api, serangannya bakal otomatis kena target."

Shira menggeleng. "Tidak semudah itu. Kau harus belajar mengarahkan mana dengan benar agar seranganmu bisa tepat sasaran."

Ren menghela napas panjang. "Baiklah, gue coba lagi."

Ia kembali membentuk bola api di tangannya. Kali ini, ia mencoba lebih fokus, membayangkan jalur yang harus ditempuh bola api itu menuju target.

Saat ia melepaskannya, bola api melesat lebih lurus dari sebelumnya, meski masih agak melenceng ke kiri dan hanya mengenai pinggiran batu.

Ren tersenyum. "Setidaknya sekarang kena target!"

Shira mengangguk. "Itu kemajuan. Kau harus terus melatih akurasi dan keseimbangan mana dalam tubuhmu."

Ren duduk di tanah, mengatur napasnya. Menggunakan sihir ternyata jauh lebih melelahkan dari yang ia bayangkan.

"Kenapa rasanya badan gue jadi berat?" tanyanya.

Shira menjelaskan, "Setiap kali kau menggunakan sihir, kau menghabiskan mana. Jika kau terlalu banyak menggunakannya tanpa kontrol yang baik, tubuhmu akan terasa lelah."

Ren mengusap wajahnya. "Jadi gue juga harus latihan buat ningkatin jumlah mana gue, ya?"

Shira mengangguk. "Benar. Tapi itu butuh waktu dan latihan rutin."

Ren mendesah. "Kayaknya perjalanan gue masih panjang banget."

Shira tersenyum. "Tidak ada petarung hebat yang menjadi kuat dalam semalam. Bahkan aku pun butuh waktu lama untuk mencapai levelku sekarang."

Ren menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. Meski lelah, ia merasa puas dengan kemajuannya hari ini.

"Baiklah, gue bakal latihan lebih giat lagi!" katanya dengan penuh semangat.

Shira tersenyum puas. "Bagus. Aku menantikan perkembanganmu selanjutnya."

Hari itu, Ren menyadari bahwa menjadi kuat bukanlah hal yang instan. Namun, dengan usaha dan tekad yang kuat, ia yakin bisa mencapai puncak kekuatan yang ia impikan.