Ren masih terduduk di tanah, jantungnya berdetak kencang. Monster yang tadi hampir membunuhnya kini terkapar tak bernyawa, terbelah bersih oleh pedang wanita di depannya.
Perempuan itu menatapnya tajam. "Kau… bukan orang dari dunia ini, kan?"
Ren menelan ludah. "Uh… yah, semacam itu."
Dia melangkah mendekat, cahaya bulan memantulkan siluet tubuhnya yang ramping tapi kuat. Wajahnya seperti karakter dari game RPG, cantik tapi penuh kewaspadaan. Pedang panjangnya masih meneteskan darah monster yang baru saja ia tebas.
"Bagaimana bisa manusia sepertimu ada di sini?" tanyanya lagi.
Ren menggaruk kepalanya, mencoba merangkai jawaban. "Jujur aja, gue juga gak tahu. Tadi gue dipanggil sama dewa, terus katanya gue gak berguna, jadi dia ngebuang gue ke sini."
Mata perempuan itu sedikit menyipit, seperti mencoba menilai apakah Ren berkata jujur atau tidak.
"Dibuang oleh dewa?" gumamnya pelan. "Berarti… kau adalah manusia terkutuk."
Ren mengangkat alis. "Hah? Terkutuk? Maksudnya?"
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Dia menghela napas dan menyarungkan pedangnya. "Tempat ini bukan wilayah biasa. Ini disebut Lands of the Forsaken, tanah yang ditinggalkan oleh para dewa. Mereka yang dibuang ke sini dianggap tidak layak untuk hidup di dunia luar."
Ren terdiam. Jadi, dewa sialan itu tidak hanya membuangnya ke dunia lain, tapi juga ke tempat yang bahkan dunia ini sendiri tidak peduli?
"...Sial."
Perempuan itu menatap Ren lagi, kali ini dengan sedikit rasa penasaran. "Apa kau memiliki sihir atau senjata?"
Ren mengangkat bahu. "Kalau punya sihir, mungkin gue udah nggak lari kayak orang bego tadi."
Dia mendesah. "Gue bahkan gak tahu punya kemampuan apa atau enggak."
Perempuan itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengulurkan tangannya.
"Kalau begitu, ikut aku."
Ren ragu sejenak. "Tunggu, lo siapa dulu?"
"Shira," jawabnya singkat. "Aku tinggal di tempat yang aman. Jika kau ingin bertahan hidup, sebaiknya ikut denganku."
Ren menatapnya, lalu menoleh ke mayat monster di belakang mereka.
Pilihan antara mengikuti wanita ini atau bertemu monster seperti itu lagi. Jawabannya cukup jelas.
"Oke… Gue ikut."
Shira berbalik dan mulai berjalan. Ren mengikutinya, masih sedikit bingung dengan situasinya.
Saat dia melangkah ke dalam kegelapan malam, hanya satu hal yang terlintas di kepalanya.
Dibuang atau tidak, gue gak bakal mati begitu aja.
Ren mengikuti Shira melewati hutan gelap. Cahaya bulan nyaris tak menembus ranting-ranting pohon tinggi di atas mereka. Suasana sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki dan sesekali angin yang berdesir di antara dedaunan.
"Jadi… lo tinggal di mana?" tanya Ren, mencoba menghilangkan rasa canggung.
Shira tidak menoleh. "Sebuah desa tersembunyi di dalam hutan. Hanya mereka yang terbuang bisa menemukannya."
Ren mengerutkan dahi. "Desa buat orang-orang yang dibuang?"
Shira mengangguk. "Mereka yang ditolak oleh dewa, orang-orang yang dikhianati, dan mereka yang tak lagi diinginkan dunia luar… semuanya berkumpul di sana."
Ren merasa merinding. Jadi, dia bukan satu-satunya yang dikeluarkan dari dunia ini?
Setelah berjalan beberapa menit, Shira tiba-tiba berhenti di depan tebing besar. Ren mengangkat alis. "Tunggu, jangan bilang desa lo ada di balik batu ini?"
Tanpa menjawab, Shira mengangkat tangannya. Seberkas cahaya biru muncul dari telapak tangannya, membentuk pola aneh di permukaan tebing. Beberapa detik kemudian, batu besar itu perlahan bergeser, membuka jalan masuk ke dalam.
Ren melongo. "Oke… itu keren."
Shira melangkah masuk tanpa ragu, dan Ren buru-buru mengikutinya. Begitu melewati celah itu, matanya langsung membelalak.
Di depannya terbentang sebuah desa yang luas, tersembunyi di balik tebing dan pepohonan raksasa. Bangunan kayu berjejer rapi, beberapa orang berjalan di jalanan berbatu, mengenakan pakaian sederhana. Cahaya lentera memenuhi desa, menciptakan suasana hangat yang bertolak belakang dengan kegelapan hutan di luar.
"Ini… desa orang-orang terbuang?" Ren bergumam.
Shira melanjutkan langkahnya tanpa menjawab. Orang-orang di desa mulai menoleh ke arah mereka. Beberapa menatap Ren dengan curiga, sementara yang lain tampak tidak peduli.
"Pendatang baru?" suara berat terdengar.
Ren menoleh dan melihat seorang pria besar dengan tubuh berotot mendekati mereka. Dia memiliki bekas luka panjang di wajahnya, dan matanya tajam seperti elang.
Shira mengangguk. "Aku menemukannya di hutan. Dia dibuang oleh dewa."
Pria itu mengamati Ren dari atas ke bawah, seolah menilainya. Setelah beberapa detik, dia menghela napas.
"Selama dia tidak membawa masalah, dia boleh tinggal," katanya sebelum berjalan pergi.
Ren menggaruk kepalanya. "Dia siapa?"
"Kepala desa," jawab Shira singkat.
Mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah kecil di pinggiran desa. Shira membuka pintunya dan melangkah masuk. "Kau bisa tinggal di sini untuk sementara."
Ren masuk, melihat sekeliling. Rumah ini sederhana, hanya ada meja kayu, beberapa kursi, dan tempat tidur kecil di sudut ruangan.
"Besok aku akan mengujimu," kata Shira. "Jika kau ingin bertahan hidup di dunia ini, kau harus belajar bertarung."
Ren menelan ludah.
Sepertinya kehidupan barunya baru saja dimulai.