Chereads / HAIKAL / Chapter 4 - PART : PERTEMUAN SESAAT

Chapter 4 - PART : PERTEMUAN SESAAT

"Terimakasih sudah mendoakan Kevin.. Semoga Kevin selalu bahagia di Surga, dan semoga keluarganya diberi keikhlasan, Amiin."

Setelah berdoa bersama, selanjutnya adalah sesi makan bersama anak anak, Willy dan Selly tengah sibuk membagikan kresek berisi nasi dan beberapa cemilan.

Beberapa anak panti itu mulai berbaris melingkar untuk bersalaman lalu mengambil makanannya, tak lupa juga mengucapkan rasa terimakasih pada keluarga mereka.

Tak memakan waktu lama, setelah beberapa menit selesai, Willy dan Selly membereskan sampah-sampah sembari membersihkan piring. Sementara Ayah dan Bunda nya tengah mengobrol dengan Pak Ustad dan Pemilik Panti.

"Mas biar aku aja yang cuci piring ya.." ujar Selly pelan, begitu lembut ia berbicara.

Willy menganggu lalu berjalan keruangan tengah, melihat beberapa anak anak tengah makan, ada yang sambil ngobrol, ada yang tertawa, ada juga gang tengah fokus makan, dan 2 anak yang sedari tadi menarik perhatiannya itu, mereka seperti asyik mengobrol sembari yang satu nya menyuapi, mungkin kakak beradik. Hal itu membuat Willy teringat masa dimana saat masih di Panti, Kevin yang selalu meminta disuapi, lalu asyik bercerita.

Willy sedikit terkejut ketika pundaknya ditepuk oleh sosok yang mungkin lebih muda darinya.

Raka.

Teman mengungsinya dulu saat ia kabur dari Panti.

"Gue tau kok lu kangen Kevin," ujarnya pelan.

Willy tersenyum lalu berjalan ke samping yang sekarang sudah ada taman bahkan lebih bagus seperti sebelumnya dulu saat ia tinggal di Panti.

"Kayaknya Panti ini banyak banget yang berubah ya," kekeh Willy.

"Tentu.. Sponsornya juga semakin banyak kasih duit, jadi ini Panti jadi makin bagus," timbal Raka.

"Eh... Sekarang tinggal dimana?"

"Gue ngekos Bang."

"Gimana kerja nya? Lancar.."

"Alhamdulillah Bang, Gue lagi kumpulin modal buat buka toko sembako, doain ya Bang."

Willy mengangguk, tersenyum kecil sembari menepuk pundak Raka pelan.

"Pasti... Adek Abang udah dewasa sekarang ya, udah mau nikah belum nih?"

Raka terkekeh pelan dengan pertanyaan yang Willy lontarkan.

"Gue belum kepikiran kesitu Bang, minimal punya usaha dulu, lagian malu Bang Gue gak ada kemajuan gini gini aja, hahaa.."

"Kalo perlu bantuan atau gimana bilang aja, Abang pasti bantu."

"Bang! Abang tu udah tiap bulan ngirim duit, itu juga Abang maksa, Gue malah makasih banget sama Abang."

"Buat keperluan kamu, soalnya Abang gak mau kamu kesusahan.. jaman sekarang segala hal harus pake duit, kamu juga mesti pinter pinter nabung, uang yang dari Abang kamu pakai aja gak usah disimpen.. lagian kamu udah kayak Adek bagi Abang," tutur Willy pelan.

"Tapi Gue gak bisa jadi Kevin Bang.."

"Kamu gak perlu jadi Kevin, Kamu ya Kamu, Kevin ya Kevin... Adek Abang bukan cuma Kevin doang, tapi kamu juga.."

"Beruntung ya teh Selly nikah sama Abang, hehee.."

Setelahnya Willy dan Raka saling mengobrol banyak tentang hal, yang kemudian Selly juga ikut bergabung dengan mereka.

...

"Ndaaa Haikal berangkat ya!"

Haikal segera bergegas menuruni tangga tampak terburu buru, seperti biasa Haikal selalu memakai jaket hitam.

"Sarapan dulu!" Timbal Sang Bunda ketika melihat putranya terburu buru.

"Gak sempet Nda, Haikal ada kelas pagi!" Haikal berjalan menuju motornya yang sudah terparkir didepan rumahnya.

"Hati-hati jangan kebut kebutan!"

"OKE! HAIKAL OTW YA NDA! ASSALAMU'ALAIKUM!"

Setelahnya Haikal melaju motornya menghiraukan yang Bundanya minta, tidak boleh kebut kebutan ia malah tancap gas full. Tidak ada waktu, Haikal bisa telat sampai kampus.

Tak lama, lampu merah, Haikal berdecak pelan, kenapa mesti nyala lampu merahnya padahal ia sedang buru buru. Haikal menoleh saat mobil putih ikut terparkir menyamakan arahnya, lalu ia beradu tatapan dengan sang pemilik mobil.

Haikal mengangguk sebagai sapaan, lalu kembali menancap gas setelah lampunga berubah Hijau.

Hanya 15 menit, Haikal sudah sampai dikampus, ia segera berlari ke kelasnya setelah memarkirkan motornya.

"Telat! 10 menit!"

Ucap dosen saat Haikal hendak duduk dikursi, Haikal memutar bola matanya, syukurlah bukan cuma dia yang telat tapi masih banyak. Ya tentu saja banyak, ssharusnya kelas siang, pemberitahuan mendadak kelas pagi saat subuh tadi. Untung saja data ponselnya tidak pernah mati.

"Siapa lagi yang belum dateng?" Tanya Dosen.

"Banyak lah Pak, orang bapak kasih taunya dadakan," jawab Haikal.

"Bapak ada perlu soalnya nanti siang, yasudah kita mulai aja.."

Haikal membuka laptopnya dan buku tulis yang ia bawa.

"Proposal kumpukan sekarang!"

Haikal membelalakan matanya terkejut, pasalnya ia baru setengah mengerjakan proposalnya.

"Bukannya besok ya Pak?" Ujar salah satu mahasiswa mewakili pertanyaan Haikal.

"Sekarang aja, besok presentasinya."

Beberapa orang menyerahkan proposalnya, sementara Haikal hanya terduduk diam, sembari memainkan ponselnya.

"Haikal!"

"Iya?"

"Proposal kamu mana?"

"Saya belum selesai pak, besok aja ya."

"Bukannya udah mau seminggu saya kasih tugasnya, kenapa masih belum selesai?"

"Saya gak sempet Pak, maaf!"

"Haikal Haikal, tiap kumpul tugas kamu suka paling terakhir.. untungnya kamu pinter."

"Besok ya boleh?"

"Yasudah.. jangan lupa infoin ke yang lain yang gak ikut kelas hari ini, suruh langsung aja ke meja saya kumpulin proposal."

"Iya pak."

Setelahnya jam kelas dimulai.

Pukul 10.00

Akhirnya kelas selesai, Haikal menguap sembari merentangkan tangannya, inilah malasnya ikut kelas pagi, ia hanya mengantuk bukannya fokus.

"Bro! Gue kumpulin Proposal dulu ya.."

"Duluan aja ke kantin biasa, gue ada perlu, nanti gue nyusul.." ujar Haikal.

Ia bergegas keluar kelas setelah membereskan alat tulisnya dimeja, perutnya sedaritadi berbunyi, meminta makan. Haikal ingat ia juga mesti kerjain tugas. Akhirnya Haikal berjalan ke kantin yang lumayan sudah ramai.

Mata Haikal melotot saat menangkap sosok yang ia takuti, lalu berbalik mencari cari kursi kosong, namun sialnya tidak ada tempat yang kosong, perutnya berbunyi sedaritadi.

Segerombolan cewek rempong yang kemana mana selalu ikutin Haikal, itu maksudnya. Haikal harus membeli makan dulu sebelum pergi, namun belum sempat pergi, para cewek itu sudah berteriak saat melihat Haikal.

"Aishh!! Sialan!"

Haikal melihat seorang perempuan dihadapannya, tanpa berpikir panjang ia menarik lengan perempuan itu, membuat sang empu terkejut dibuatnya.

Haikal berlari, sudah lumayan menjauh, ia menghela nafas tampak ngosngosan.

"Kak!"

Haikal terkejut setelah mendapati perempuan itu didepannya.

"Kakak kenapa tarik tarik saya?!" Kesal perempuan itu yang ikut ngosngosan juga.

Rupanya Haikal juga tidak sadar, saking paniknya menghindar ia menarik siapapun didepannya. Astaga membuat malu.

"Aahh.. anu.. maaf maaf, saya panik tadi," ujar Haikal.

"Untung saya bungkus siomay nya kalo nggak bisa bisa tumpah!"

Dan aaa.. Haikal belum membeli makanan.

"Anjiiirr!! Gue belum beli makanan! Sial.."

Haikal melirik perempuan yang masih didepannya itu, ia menyadari perempuan itu kehausan.

"Tunggu bentar ya! Titip tas disini!"

"Mau kemana? Ini tasnya gimana?!"

"Beli minum!"

Perempuan itu menghela pelan, lalu duduk ditempat duduk, bawah pohon tampak segar dan nyaman.

"Ini.. maafin saya ya sekali lagi!"

Haikal ikut serta duduk didepan perempuan itu, "Makan disini aja.."

"Makasih kak."

Haikal mengambil laptop dan buku paket yang lumayan tebal, baiknya ia mesti selesaikan proposal dulu lalu makan.

Hendak membuka laptopnya Haikal melirik sang empu yang masih diam canggung.

"Santai aja! Makan disini, liat tuh kantin penuh.. saya mau kerjain proposal dulu."

Perempuan itu mengangguk, lalu Haikal kembali dengan tugasnya.