Chereads / ABDUL / Chapter 15 - SIPEDAGANG YANG LICIK

Chapter 15 - SIPEDAGANG YANG LICIK

Seisi istana di perlihatkannya sambil sang raja menceritakan sejarah nenek moyangnya dari zaman ke zaman yang telah berkuasa di tanah Mesir. Lantas Abdul langsung saja bertanya tentang cerita nenek moyang sang raja sosok dari raja Fir'aun. "dia adalah raja pertama di Mesir ini, ia juga yang di anggap sebagai Tuhan oleh rakyatnya hingga ada seorang utusan yang membuat dirinya tenggelam di lautan." Ucap sang raja yang menjawab pertanyaan abdul.

"ya tuanku maaf apabila saya lancang bertanya tentang itu."

"Sudahlah tak apa, itu hanyalah sebuah cerita yang turun temurun di ceritakan kepada kami penerus Mesir ini."

Kini Abdul telah mendapatkan izin dari sang raja untuk pergi dengan bebas kemana saja di negeri Mesir tanpa takut ancaman dan kecurigaan dari para pengawal untuk beberapa hari kedepannya.

Keesokan harinya ketika ia sedang berjalan-jalan melihat sekeliling negeri tak sengaja ia berjumpa lagi dengan si pedagang, namun kali ini si pedagang seperti ketakutan pada saat Abdul melihat ia menjualkan dagangannya kepada pembeli. Merasa curiga Abdul segera mendekatinya. "Salam saudaraku?."

"Salam tuan." Jawabnya si pembeli. Melihat dagangan yang terlihat baik dan segar tidaklah membuat Abdul merasa curiga, namun ada satu perkara yang terlintas di pikirannya, yaitu menanyakan harga yang telah di perjualkan kepada si pembeli. "berapa kamu membeli semua bahan makanan ini, sebab aku melihat engkau membeli sedikit bahkan setiap satu di antaranya di bagi." Karena si pembeli merasa tidak mendapatkan keadilan dari si penjual maka dia menjelaskan kepada Abdul. "tuan uang saya tidaklah cukup membeli setiap bahan yang utuh, maka saya hanya membeli setengah darinya, namun saya di berikan sangat sedikit dari setiap bagiannya."

"berapakah saudaraku harga setiap setengah dari bahan-bahan itu?." Tanya Abdul.

Sipedagang yang terlihat khawatir akan harga yang ia berikan kepada si pembeli, ketika mengetahui setiap harga yang di berikan lantas Abdul marah kepadanya. "pantaskah kau menjual semua ini dengan harga yang mahal dan bahkan tak sebanding dengan ukuran setiap bahan-bahan ini, terlebih lagi kau masih membaginya menjadi dua, sekali lagi kau tak menimbangnya sebagai cara yang adil." Lantas si pedagang menyela dengan akal liciknya. "ya saudaraku bagaimanakah kau tahu sedangkan kau tak mengetahui apa-apa?." Abdul mengetahui bahwa si pedagang mencoba mempermainkannya, lantas Abdul mengembalikan perkataan si pedagang. "saudaraku memanglah aku tidak dapat mengetahui, namun aku mendapatkan Rahmat darimu agar aku mengetahui bahwa kau jujur ataupun tidak."

"Apa maksud mu?." Tanya si pedagang dengan wajah yang mengerut.

"sebentar lagi aku akan berjualan sama sepertimu dengan harga yang benar-benar sesuai dengan bahan pangan."

Si pedagang langsung terdiam namun ia berfikir bagaimanakah si Abdul bisa mendapatkannya sedangkan jarang adanya tumbuhan di sekitarannya. Datangnya abdul yang kedua kalinya menghadap raja Mesir, mengharap agar di beri bantuan berupa bahan pangan, tentunya sang raja bertanya dengan sebab apakah ia ingin berdagang sedangkan ia hanya beberapa hari di sini, di ceritakanlah olehnya dengan apa yang terjadi. Setelah mendengarkan semuanya lantas sang raja memperlihatkan salah satu ruangan yang banyak tersedia bahan pangan seperti sayur-sayuran, umbi-umbian, dan semacamnya yang terlihat segar dan mengkilap di mata.

"Beruntunglah tuan memiliki semua ini." Ucapnya Abdul memuji sang raja.

"Ambillah sesuka hatimu untuk di perdagangankan."

Setelah mendapatkan bantuan lantas Abdul segera pergi membawa semua yang di ambilnya untuk di perjualkan, tepat berdampingan dengan si pedagang licik Abdul memperlihatkan dan memanggil-manggil semua orang untuk mampir kepadanya. "kemarilah ibu dan bapak saya menjual bahan-bahan yang kalian butuhkan dan semuanya murah sesuai dengan bentuk dan kondisinya." Seluruh orang yang berkerumunan kepada si pedagang kini beralih kepada abdul, mereka melihat sayur mayur Abdul yang segar dan murah, mereka membelinya dan pulang dengan hati yang senang dan merasa tercukupi, lain seperti sebelum-sebelumnya yang merasa tak puas dan tak tercukupi.

Dia marah dan menghampiri Abdul. "hay kau, apa kau bodoh atau sengaja agar tempatku tidak di kerumuni pembeli?." Tanyanya sipedagang dengan marah. Lantas Abdul menjawab dengan tenang perkataan dari si pedagang. "Saudaraku apabila aku bodoh mengapa kau yang cerdas tak menjualkan daganganmu dengan jujur dan adil, dan apabila kesengajaanku itu hanyalah kehilafan seperti dirimu yang selalu khilaf dalam perbuatan tanpa henti dan tak sadar."

"Kau cerdas dalam berbicara, tetapi bodoh dalam berdagang." ucap hinaan si pedagang kepada Abdul. Abdul menjawab kembali hinaan si pedagang angkringan. "kamu cerdas dalam ucapan dan ekspresi, namun kamu bodoh dalam akal dan hati, seperti yang aku katakan orang yang buta saja mampu meraba daganganmu, apalagi orang yang bodoh sepertiku mampu melihat baik dan buruknya daganganmu."