Abdul yang sedang berada di pantai tak sengaja melihat sang putri yang sedang duduk termenung. Abdul menghampirinya, "ternyata anda disini putri."
Sang putri menoleh kepada Abdul, "yah, disinilah biasa aku merenung di pesisir pantai untuk menenangkan pikiranku."
"Memanglah sangat indah jika di pandang putri lautan itu dari pesisir pantai ini, membuat saya jadi teringat kampung halaman saya."
"kampung halaman?, Dimanakah kampung halamanmu?."
"kampung halaman saya berada di tanah arab, di sana pula banyak masyarakat yang hidup enak dan bahagia tanpa ada keresahan apapun."
"Namun apa yang membuatmu mau menjadi seorang musafir? Sedangkan tempat kamu berasal sangat nyaman?."
"sebab ada tugas yang harus saya selesaikan dan juga memanglah takdir yang suda saya dapatkan, selain itu banyak peristiwa yang sudah saya alami hingga dahulu hidup saya menyimpang, namun berkatnya saya tersadar."
Saling terdiam satu sama lain. Sang putri mengatakan kepada Abdul, "Seandainya apa yang aku rasakan kepadamu bukanlah hanya sekedar ucapan belakang namun itu benar?, Bagaimana menurutmu?."
Tiba-tiba jantung Abdul berdetak kencang yang dia rasakan, "a,a,apakah maksud tuan putri mengatakan macam itu?."
"belum juga kamu mengerti. Jika ini benar-benar sudah bukanlah sekedar ucapan saja, namun berasal dari perasaan bagaimanakah menurutmu?."
"Maaf putri Jasmin, saya tidak tahu apa yang tuan putri maksudkan, sebaiknya kita secepatnya mencari jalan keluar agar semua ini cepat selesai, dan agar saya bisa melanjutkan perjalanan."
"Jika begitu bawalah aku bersama mu, kemanapun itu."
"Demi yang maha kuasa, berdosalah aku jika bersama yang bukan satu darah."
Sang putri terdiam tak dapat membujuk lagi. Namun sang putri tak tahu siyapakah yang Abdul katakan sebagai maha kuasa, "siyapakah orang yang kamu sebut berkuasa, apakah dia seorang raja juga."
Abdul tersenyum dan menatap langit. "Benar tuan putri, dia raja dari segala raja, dia mampu menghidupkan dan dia juga mampu mematikan. Juga kasisayang nya lebih besar dari semua manusia yang ada di bumi ini."
Sang putri pun ikut menatap langit. "Apa kamu mengenalnya?, Siyapakah dia, dan dimanakah dia, apakah dia bisa menyelesaikan setiap masalah?."
"sebenarnya tuan putri dekat dengannya namun tidak tahu siyapakah dia. Dia akan membantu siyapa saja asal selalu dekat dan mengikuti peraturannya."
"Jika benar begitu aku ingin mencoba berkenalan dengannya?."
Putri Jasmin yang sangat penasaran dengan sosok yang agung yang dapat membantu dirinya. Lantas Abdul mengatakan kepada putri Jasmin, "jika benar anda ingin mengetahui tentang dia, jika ada kesempatan waktu, maka datanglah ke kota mekkah, di sanalah tuan putri akan tahu."
"Bukankah Mekkah adalah tempat sucinya orang-orang yang di katakan bersih."
Abdul tersenyum lagi, "tuan putri jika anda ingin seperti mereka, maka pergilah kepada dua sepasang suami istri yang berada di pertengahan kota ini?."
"Untuk apakah aku menemui mereka?, Apakah mereka dapat membantuku?."
"Mereka hanyalah perantara bagi tuan putri untuk memulai mengenalnya."
Sang putri tak sabar untuk segera mengenalinya, namun belumlah bisa dia pergi karena masih ada masalah pribadinya dengan sang ayah. Sesaat Kilauan cincin yang berkilau menyilaukan matanya dari jari abdul membuat sang putri penasaran untuk melihatnya, "mengapa cincin yang berada di jarimu itu berkilau-kilau?, apakah itu pemberian dari seseorang kepadamu?."
Jawab Abdul, "cincin ini adalah pemberian dari ibu saya, dia memberikan sewaktu saya masih kecil, namun ada ucapan yang belum sempat ibu saya ucapkan?." Sang putri meminta cincin tersebut untuk di lihatnya, melihat cincin yang indah di pandang membuat sang putri ingin memilikinya, "apakah ada lagi cincin yang seperti ini?."
"Jika tuan putri ingin memiliki maka ringan hati saya untuk memberikannya."
"Tidaklah bisa, itu adalah pemberian ibumu untukmu sendiri, bagaimana mungkin semudah itu memberikan kepada orang lain."
"tetapi cincin itu berhenti berkilau setelah di tanganmu putri."
Walau Abdul telah menemukan maksud dari Kilauan cincin itu, namun dia belum menemukan jawaban mengapa cincin itu ingin bersama sang putri sedangkan cincin itu adalah pemberian dari ibunya untuk dirinya saja.
Keberadaan dirinya di tanah Mesir kini sudah memasuki dua hari, namun belum dia dapat menyelesaikan masalah yang terjadi, tak seperti biasanya semua permasalahan selalu dapat dia pecahkan dengan muda namun kali ini sedikitpun tiada akal dan kecerdasan yang mampu menolongnya. Dia mencoba memikirkan kembali apa dan mengapa cincin pemberian ibu untuknya tiba-tiba berkilau sendiri saat pertama kali bertemu dengan sang putri dan pada saat sang putri mengambil cincin darinya, cincin itu berhenti berkilau seakan sudah menemukan tempat yang di tunggu-tunggu.
Abdul berpikiran bahwa cincin itu menunjukkan sang putri adalah takdir hidupnya, tetapi ia menolak pikirannya sendiri, iya bertanya kepada dirinya sendiri apakah ada pemikiran yang lain selain pemikiran seperti ini, namun iya terus terbayang bahwa apa yang di fikirannya benar, "Apakah maksud semua ini? Tidak mungkin, ini semua hanyalah pemikiran yang tidak baik." Ucapnya mengenai pemikirannya. "kalau seperti ini terus aku akan kehilangan akal."