Chereads / ABDUL / Chapter 17 - PUTRI MAHKOTA

Chapter 17 - PUTRI MAHKOTA

Setelah selesai menyantap makanan serta meneguk air dia melakukan istirahat sejenak, namun dia tak sadar tertidur pulas di bawah pohon palem yang sejuk hingga membuatnya terlena dalam tidur. Tak beberapa lama suara kaki kuda yang terdengar berlari kearahnya membuatnya terbangun. "suara kuda, dari mana asalnya?." Terlihat seorang wanita menunggang sebuah kuda melaju kearahnya, si wanita itu turun dan memohon pertolongan kepadanya abdul. "tolong lah aku, aku sedang di kejar sekelompok pria jahat."

"Bagaiamanakah bisa saya membantumu?." Tanya Abdul.

"apapun itu, bawalah saya ketempat yang aman." Melihat di sekelilingnya tak ada satupun tempat dapat di jadikan tempat persembunyian, Abdul memikirkan apabila si wanita bersembunyi di balik pohon pasti akan di ketahui, lantas ide yang tak terduga dilakukannya kepada si wanita tersebut. Tak beberapa lama sekelompok pria berkuda terlihat mendekatinya, lalu mereka bertanya kepadanya. "hay, apa kau melihat seorang wanita melintasi tempat ini?." Jawab abdul sambil berpindah tempat. "semenjak dari tadi saya tidaklah melihat satu wanita manapun melintasi tempat ini." Namun para pria berkuda melihat kuda seperti kuda si wanita yang mereka kejar, karena kuda yang bersama Abdul membuat mereka curiga bahwa Abdul menyembunyikan si wanita.

"Apakah kamu mencoba mengelabuhi kami? Kami sangat kenal dengan kuda itu."

"Tuan-tuan apakah Cuma satu kuda yang seperti ini, dan jika saya mengelabuhi kalian dimanakah saya bisa menyembunyikannya, sedangkan kalian tahu disini tidak ada tempat persembunyian yang terbaik dari kalian." Melihat kiri dan kanan tak ada satupun tempat di jadikan persembunyian, akhirnya para pria berkuda mempercayai ucapannya. "baiklah tetapi apabila kau melihatnya Segeralah datang menemui raja kami di kota alexandria di kota pelabuhan."

"Baiklah tuan saya akan memberitahukan."

Setelah mereka pergi Abdul segerah menggali gundukan pasir yang menanam sang putri cukup lama, meski tertanam di gundukan pasir sang putri masilah dalam keadaan baik. "maafkanlah saya membuatmu terkubur cukup lama." Ucap Abdul. Sang putri berterima kasih Abdul mau menolong dirinya, dan berkat kain yang di tempelkan di wajahnya ia masih dapat bernafas ketika dia terkubur. Namun Abdul berfikir mengapa dia harus memberitahukan kepada sang raja dan apakah wanita yang bersamanya pada saat ini memiliki kesalahan kepada sang raja, lantas Abdul mencoba bertanya kepadanya. "saudariku tadi mereka mengatakan kepadaku apabila melihatmu maka aku harus menyampaikan kepada sang raja, apakah kamu memiliki kesalahan?." Tak enak hati jika berbohong kepada Abdul dia berterus terang tentang dirinya. "saya sebenarnya adalah putri mahkota di kerajaan alexandria, saya lari dari kerajaan karena ayah saya akan menikahkan saya dengan raja Mesir, sedangkan saya sama sekali tidak menyukainya, mau tidak mau saya pergi menjauh." Abdul yang tak menyangka bahwa seorang putri yang bersamanya sejak tadi tanpa berpakaian layaknya putri kerajaan. "mengapa tuan putri tidak berterus terang saja kepada saya?."

"Apabila saya berterus terang mungkin kamu tidaklah mau menolong saya."

"tuan putri saya tidaklah dapat membantu lebih dari ini, sebab hanyalah tuan putri saja yang dapat menyelesaikan masalah pribadi tuan putri sendiri. saya hanyalah seorang pejalan yang hanya mengharapkan pencerahan dan ilmu di dalam diri."

"Namun apabila kamu mau membantu saya maka kamu akan mendapatkan imbalan yang besar nantinya."

"maaf tuan putri kalau hanyalah sekedar imbalan saya bisa mendapatkannya sendiri." Tegasnya kepada sang putri. Namun sang putri bersi keras agar Abdul mau menolong dirinya agar sang ayah tidak mau menikahkan dia kepada raja Mesir. Tak tega melihat sang putri yang menangis meminta pertolongan, mau tak mau abdul harus menolongnya namun dengan caranya bukan peraturan dari sang putri, tentunya sang putri menyetujui persyaratan Abdul. Tak tega melihat Abdul yang berjalan kaki di samping kudanya, sang putri menegur kepadanya. "mengapa kamu tidak menaiki bersama saya maka lebih cepat pula kita akan sampai." Tanya sang putri.

Jawab abdul. "Maaf tidaklah pantas saya naik bersama anda." Sang putri turun dan menarik kuda miliknya, mereka berjalan bersama-sama, di sepanjang jalan saling bercerita satu sama lain di antara mereka. Saling berbagi cerita hingga tak terasa mereka telah sampai di negeri alexandria. "inilah negeri alexandria." Ucap sang putri.

Berkata Abdul sambil melihat sekeliling negerinya. "betapa megah dan indahnya negeri ini, sungguh dia menciptakan yang terbaik seperti."

"memanglah terlihat indah namun bagiku tidak. negeri kami berdampingan dengan lautan jadi memungkinkan adanya orang-orang yang melakukan pelayaran dan memanfaatkan sumber daya lautnya."

Tiba-tiba para pengawal kerajaan datang dan membawa tuan putri beserta Abdul ke istana, setelah mereka sampai ke istana sang putri mendapat murka dari sang ayah karena kepergiannya secara diam-diam.