Chereads / Entah Kenapa Hidupku Tak Secerah Matahari / Chapter 8 - BAB 5-B (Sudah Saatnya Untuk Pergi Tamasya Ke Planet Uranus)

Chapter 8 - BAB 5-B (Sudah Saatnya Untuk Pergi Tamasya Ke Planet Uranus)

Agar tidak membuat bingung, tolong baca terlebih dahulu (jika berkenan) struktur penulisan di bawah ini :

"Kalimat" --> artinya Dialog saat ini.

["Kalimat"] --> artinya Dialog yang terjadi di masa lalu.

[Kalimat] --> artinya Bicara dalam hati.

'Kalimat' --> artinya Kalimat Kutipan / Kata Ambigu (makna ganda) / Informasi berita yang dibaca oleh Haika Michi sebagai tokoh utama {tergantung bagaimana konteks dan situasinya nanti}.

Selamat Membaca ^-^

@ @ @ @ @

ADA notifikasi di sana.

Siapa itu? Kotak bertuliskan 'Teman' itu berubah menjadi kuning dan terlihat jumlah notifikasi di sampingnya. 8 permintaan pertemanan. Whoaa~ apa aku cukup terkenal? Padahal baru sebulan aku meninggalkan akun ini—tapi sudah ada 8 permintaan pertemanan. Tanpa pikir panjang aku langsung menerima pertemanan itu—3 akun dengan nama perempuan, 3 akun dengan nama laki-laki, dan sisanya akun spam. Akun ku juga lumayan memiliki banyak teman—dan temanku bertambah 8 hari ini. Tapi...

Bagaimana bisa aku memiliki banyak teman di Facebook, padahal aku tidak memiliki teman di dunia nyata?

"Bisa kau kumpulkan tugasnya ke Vino?" suara dengan intonasinya yang lega mengarah kepadaku.

Tentu, dia adalah teman kelompokku—bukan—tapi, 'Teman Kelompokku'.

Tangan kanan ini mengambil kertas yang baru saja ia staples itu yang mengarah padaku.

Total esai ini berjumlah 4 lembar. Punyanya berada di 2 lembar awal dan punyaku berada di lembar ke-3 dan 4. Ini adalah piagam perdamaian. Apalagi saat halaman awal tak sengaja ku baca.

Sekilas aku cukup terkagum dengan materi yang ia buat. Konten yang ia tulis bisa menjadikannya sebagai seorang pendekar sosial. Jawaban yang ia sematkan untuk menyelesaikan permasalahan sosial terlihat Pro.

'Pengalaman seseorang begitulah amat penting. Pengalaman seseoranglah yang mampu untuk membuatnya dewasa. Pengalamanlah yang mampu untuk mengarahkan seseorang untuk bertindak ke depannya. Kebanyakan orang menjadi naif karena kurangnya pengalaman hidup. Tapi apakah pengalaman cukup untuk menjadikan seseorang dewasa? Faktanya, di luar sana banyak orang dewasa yang bobrok. Lantas apakah yang mampu menjadikan seseorang benar-benar dewasa? Masalahnya, terkadang orang dewasa dengan segudang pengalamannya justru menyalahgunakan pengalamannya serta keberaniannya dalam menghadapi sesuatu juga fisiknya yang tua untuk keuntungannya pribadi, demi memenangkan egonya yang tinggi. Mereka yang menganggap dirinya tua justru meluapkan semua rasa benci, egois dan keangkuhan mereka tanpa rasa ragu karena mereka telah dewasa. Kedewasaan mereka seakan-akan diperuntukkan untuk mempermainkan lingkungan sosial. Jadi selain lingkungan, pengalaman dan usia, yang paling berpengaruh mendewasakan seseorang adalah—'

[Ah.] Aku kebablasan. Kalau begini namanya bukan sekilas lagi. Tapi sepenuhnya.

Aku tersadar dan melirik. Teman kelompokku ini menatapku dengan seksama. Mungkin ia heran kenapa aku mencuri kesempatan untuk melihat tugasnya, tidak sopan sekali, pikirnya. Tapi ulasannya benar-benar membuatku tak bisa berhenti. Saat kalimat awalnya ku baca, kalimat selanjutnya seperti memanggilku untuk ikut membacanya pula. Alhasil, aku tidak bisa berhenti saat membaca si esai nomor 1 ini.

Ya, itu tentang awal mula kenapa sering terjadi konflik sosial.

Untungnya kertas ini memiliki satu celah besar.

Aku mengakui bahwa ia orang yang kompeten. Tapi ia malah meninggalkan sesuatu yang mendasar. Ini bisa ku jadikan kompensasi pelarian.

"Kau belum menulis nama kita di sini." jelas, ini memang hanya pelarian.

Ini juga jelas tugasku mengingatkan dan menulisnya. Aku hanya mencoba mengubah momen agar ia berhenti berpikir aku seorang tukang intip. Meskipun aku memang ingin membaca essai miliknya lagi. Jika saja kami berdua teman dekat, pasti takkan ada rasa sungkan membacanya sebagaimana sekarang.

"Oh, aku lupa menulisnya." intipnya.

Hmph. Momen ini sangat berguna.

Karena identitas selalu di taruh di awal, juga halaman awal adalah tugas miliknya, maka yang menulis nama itu ku serahkan padanya—bohong, tulisannya lebih indah dari ku. Tulisannya begitu rapi seperti ukiran. Gaya tulisannya layaknya Times New Roman pada sebuah aplikasi pengolah kata. Sedangkan tulisanku sendiri lebih mirip gaya tulisan Chiller.

Beberapa detik dibutuhkannya untuk menulis nama dan kelas, "Ini." lalu menyerahkannya kembali padaku.

Sesuai kesepakatan, aku yang akan menyerahkan piagam perdamaian ini pada Vino. Aku beranjak dari tempat asal dan berjalan ke depan. Kedua tangan ini memegang sisi lembar essai ini berlawanan.

Kelas ini semakin gaduh. Beberapa saat lagi bel istirahat pasti berbunyi. Itu juga isyarat bahwa mayoritas sudah menyelesaikan essai mereka. Essai ini juga pasti berguna sebagai pengganti ritual absensi hari ini yang terlewat.

HAIKA MICHI

Wajahku menunduk. Kolom pertama itu tertulis namaku dengan benar dan rapi. Saking rapinya, namaku bak nama pahlawan yang terukir di batu peringatan.

"Kau sudah selesai, Haika?"

Ini dia. Aku sudah sampai. Di ujung mataku terlihat jelas sosok Vino yang sedang bertanya. "Uh."

Aku menyodorkan essai ini dan ia pun langsung memasukannya ke dalam kerumunan essai yang lain lalu merapikannya. Sesaat ia juga membacanya.

Tak perlu khawatir, itu adalah essai yang sangat berkualitas. Aku membuatnya dengan menambahkan bumbu kegelisahan, keluhan dan sedikit rasa malas. Dan dia sendiri membuatnya dengan menambahkan bumbu kepedulian, kesungguhan dan semangat. Itu adalah karya kami. Itu adalah karya kami berdua. Itulah hasil karyaku. Dan tentunya....

NARA REZKY

Nama yang cocok. Seperti nama klan karakter salah satu Anime yang ulung dalam berpikir jua [1].

Ya, dialah kaptenku sampai barusan.

@ @ @ @ @

Menghabiskan uang Rp.12000 ternyata lebih sulit dari pada yang ku banyangkan.

"Ibu aku pesan Batagor 3, ya?"

"Ibu jangan lupa pesananku."

"Mana pesananku, Bu!?"

"Es buble rasa coklat 2, Pak."

"Ibu aku pesan—"

"Aku pesan—"

"Pesan—"

Uwaaah, kantin sekolah ini berubah menjadi tempat demo.

Memesan – Menunggu - Memprotes. Itulah siklus yang selalu terjadi di saat-saat seperti ini.

Andai saja aku tidak lebih cepat datang ke kantin, mungkin saja aku masih berada dikerumunan itu sebagai gladiator muda yang sedang bertempur dan siap kalah. Jika kenyataannya begitu, sudah ku pastikan aku berada di barisan paling belakang dan terabaikan. Benar, aku bukanlah seorang gladiator yang buas dan haus akan kemenangan. Aku hanyalah seorang gladiator pemalas yang memberi poin tinggi pada rasa malasku. Itu saja. Jadi sudah sepatutnya aku bangga akan raihanku hari ini yang mampu mendahului para gladiator berbakat seperti mereka-mereka, bukan? Dan satu informasi yang cukup penting, saat waktu senggang, hanya beberapa menit hitungan jari bukanlah harta yang besar. Tapi jika yang dimaksud waktu senggang itu adalah jam istirahat, 5 sampai 10 menit saja sudah berarti satu harta yang besar. Jika tidak bergegas dan gerak cepat, maka miniatur kehidupan gladiator muda seperti mereka yang akan terjadi.

Jadi selamat berjuang kawan-kawan.

Juga serta merta satu informasi yang cukup penting lainnya.

Jam istirahat adalah waktu emas 24 karat bagi siswa. Namun peringkatnya bukanlah berada di posisi pertama melainkan ketiga. Posisi pertama sudah jelas menjadi milik 'Jam Kosong' alias saat di mana guru berhalangan hadir atau mungkin… enggan hadir.

Kebanyakan kasus yang terjadi sih, saat guru tidak mengajar itu memang karena mereka benar-benar ada urusan penting yang tidak dapat terlewatkan. Terkecuali guru tersebut muak dengan anak didik mereka sampai-sampai mereka enggan mengajar karena tingkah laku mereka yang mengesalkan, itu bisa menjadi opsi lainnya. Siapa yang bisa menyangkalnya? Bahkan jika aku menjadi seorang guru lalu ada bocah kurang ajar seperti itu di hadapanku, aku akan membuatnya remedial berkali-kali.

Atau setidaknya menghukumnya dengan menulis, 'Aku Adalah Anak Nakal. Tolong Maafkan Aku Wahai Rajaku' sebanyak 10 lembar.

10 lembar kertas Folio.

Waktu emas 24 karat diposisi kedua adalah 'Jam Pulang'. Penantian inilah yang menguatkan fakta bahwa relativitas waktu itu benar adanya. Saat-saat inilah waktu terasa lama meskipun tinggal 15 menit lagi. Saking terasa lamanya, mungkin aku bisa membuat replika candi Borobudur dalam waktu 15 menit saja. Mengerikan, bukan?

Dan meski kalah pamor, 'Jam Istirahat' tetap memiliki tempat tersendiri di hati para siswa. Kalau mau tahu apakah jam istirahat merupakan sebuah harta karun bagi para siswa, cobalah lihat ekspersi mereka seksama. Terkadang terlihat begitu lepas, tapi terkadang karena begitu lepasnya justru terlihat menjijikan. Seperti laki-laki yang menjadi pusat perhatian saat ini. Ku pikir apa yang membuat kerumunan sebanyak ini seperti kerumunan di kantin tadi? Ternyata dia orangnya. Landasan dasar apa yang membuatnya berani melakukan itu, huh? Membawa orang yang disukainya lalu menyatakan cinta dipinggir lapangan—dekat selokan, di mana orang-orang melihatinya.

Dasar kumpulan jiwa muda.

Tenang saja, tidak semua orang pro kepada laki-laki yang kelebihan hormon dopamin itu [2]. Sebagian besar perempuan memang berteriak, 'Kyaaa' tapi kebanyakan laki-laki berbisik, 'Menjijikan'—dan baru saja ku dengar komplotan laki-laki berteriak, 'Tolak! Tolak! Tolak!'. Bagus, itu berguna untuk keduanya—untuk memotivasi sang perempuan dan menjatuhkan motivasi sang laki-laki. Uh, itu motivasi yang bagus kawan. Aku suka dengan cara kalian.

Tanpa peduli apa kelanjutan dari cerita kedua sejoli itu, aku melewati gelombang manusia tersebut begitu saja. Dari satu titik ke titik lain, dari satu keramik ke keramik putih lain dengan wajah bangga sekaligus meremehkan. Ya ampun, apa cuma aku saja yang mampu menahan gejolak cinta di saat SMA? Dasar lemah kalian.

Terus berjalan, gerakan mataku mengintip ke sebuah kelas setelah melangkah cukup jauh, dan ternyata menit istirahat sudah berjalan 4 angka. Itu tandanya tersisa 4 angka lagi sampai jam istirahat selesai.

Harus bergegas. Atau aku akan mati ditempat.

Misal saja aku bisa menghubung singkat memori ingatanku, aku bisa di bebas tugaskan setelah berjuang membeli dan memakan sarapanku tadi di kantin—hari ini memang pengecualian, di mana aku tidak memakan jajanan kantin ku di belakang sekolah melainkan di kantin—walaupun memang itu yang sudah sepatutnya terjadi, sih. Alasannya karena ada satu dari lain hal yang memaksaku untuk tidak bertele-tele.

Karena ada seseorang yang menagih janjiku di ujung sana.

Otakku menjejalkan perintah dengan paksa kepada ke dua kakiku. Untuk apa alasannya? Jelas agar kaki-kaki ini tetap mau melangkah meski terasa berat.

Dan terasa semakin berat saat di ujung sana terlihat sesosok perempuan dengan wajah memberengutnya sedang duduk di meja piket.

Hanya beberapa langkah lagi agar kedua kaki melangkah sampai tujuan.

"Lama banget!"

Langkah kaki ini pun terhenti. Muka bosan dan intonasinya yang enggan menjadi indikator lampu merah bagiku.

"Pagi tadi aku tidak sempat sarapan. Kalau aku melewatkan jam istirahat bisa-bisa aku mati."

"Manusia tidak semudah itu mati, Mikki."

Ada benarnya memang. Manusia tidak akan mati begitu saja karena melewatkan sarapan pagi. Tapi setidaknya bisakah tidak menyimpulkannya semudah itu? Sungguh, aku jadi tidak enak hati setelah melihat raut wajahnya yang lelah menungguku—apalagi langsung memahami jawaban sistematis tadi.

"Bagaimana jika aku terjangkit penyakit Maag?"

"Oh...." berengut wajahnya berhenti. Pipi yang ditopang tangan kanannya juga kembali tegap. "Aku punya satu hal yang bagus untukmu, Mikki."

Selembar kertas keluar dari laci meja—sekaligus satu gerakan senyuman simpul entah untuk siapa yang menyudahi wajah bosannya. Meski transisi skenario ini berjalan menjadi lebih baik, aku punya firasat agak buruk saat berhadapan dengannya sekarang. Tidak seperti dulu, Bu Echa yang ku kenal saat ini suka memberi perintah-perintah yang aneh untukku. Ini seperti berubah menjadi semacam phobia.

Sebut saja ini Echaphobia.

Bukannya tidak memiliki inisiatif, hanya memang dasarnya aku tidak punya inisiatif seperti para sanguinis yang mudah membaur [3]. Jadi aku hanya berdiri diam di sampingnya saat beliau berkata ia punya hal yang bagus untukku tanpa bertanya, 'Oh benarkah? Lalu kertas apa itu?' walau aku memang penasaran dengan rencananya yang membawaku kemari.

"Kau tahu isi dari selebaran ini, Mikki?"

"Tidak. Kertas apa itu?" oh, ternyata aku melakukannya.

"Kau masih ingat tugas yang ku berikan padamu waktu itu, bukan?"

"Oh, itu. Soal kau yang menitipkan salam pada Nikki agar dia tidak lagi telat makan?"

"Bu-bu-bukanlah!"

Respon yang cepat.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mikki. Aku sudah memikirkan hal matang-matang itu untukmu, tahu."

"Tapi sayangnya aku memang tidak mengerti apa yang kau maksud Bu Echa." dengan mimik serta intonasi yang datar, itu sangat membantu dalam hal meyakinkan seseorang. Semoga saja.

Seperti tidak terima, ia melawan balik dengan mengernyitkan matanya yang dalam sekejap menjadi tatapan sinis, "Baiklah, akan ku perjelas lagi khusus untukmu." serta menggambarkan siratan penuh makna bahwa aku akan kalah.

Aku paham bahwa beliau mengerti aku sedang main-main, tapi pertarungan mental antara aku dengannya kembali terjadi untuk kesekian kalinya.

"Kau adalah relawan festival,"

[Ugh.] Aku sedikit syok dengan kalimat pembukanya.

"Dalam beberapa hari lagi kau akan menjadi relawan festival dan ikut membantu dalam sebuah acara,"

Itu memang tugas yang cukup berat—untukku.

"Kau juga akan bertemu banyak teman baru dan saling membantu serta berbagi pengalaman, sekalipun kau tidak menyukainya."

Itu benar. Termasuk dengan ekor kalimatnya.

"Tidak ada hari libur untukmu."

[Ugh.] Itu juga benar.

"Hari liburmu akan dicabut paksa."

[Ugh.] Itu juga sangat benar, tapi—

"Kau tidak bisa bermalas-malasan di rumah, tidur ataupun membaca komik."

Ya~ aku turut bersedih, tapi—

"Dan kau tidak bisa melarikan diri."

[Hentikan.] Perkataannya semakin membuatku terasa miris. "Aku tahu itu adalah aibku. Jadi tidak perlu berterus terang lagi."

"Jadi kau sudah ingat, Mikki?"

"Itu…. Aku hanya main-main, kok. Kau juga sudah tahu, kan?"

"Tentu. Tapi karena kau menggodaku, jadi apa salahnya aku balas menggodamu, Mikki?"

[Aku tidak punya jawaban.]

"Karena semuanya sudah jelas, aku ingin kau….. Hmm, sebut saja ini perkenalan." Beliau memajukan kertas yang berada di atas meja itu. Meski ucapannya terdengar ambigu, aku mulai mencoba memahami situasinya.

"Apa ini?"

"Lihat baik-baik."

Dan kurasa aku sedikit mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Ini adalah daftar nama para siswa-siswi yang menjadi relawan. Bagaimana menurutmu, Mikki?"

Bagaimana? Ini adalah pertanyaan yang elegan. Salah satu kalimat hangat yang ku sukai—terlihat seperti melibatkan siapapun orangnya dan menganggapnya menjadi bagian penting dalam sebuah lingkungan. Jadi apakah aku harus menjawabnya dengan jawaban yang elegan pula??

"Hmmm... kurasa mereka semua pekerja keras." begitulah. Aku mengerti sekarang. Aku benar-benar tidak bisa membuat kalimat manis. Payah.

"Aku tidak menanyakan soal bagian itu. Lagipula, kenapa kau selalu merendahkan diri sih, Mikki?"

Dari mana kesimpulan itu datang?? Perempuan yang satu ini benar-benar terlalu peka.

Atau mungkin karena dia terlalu mengenalku, ya?

"Baiklah. Jadi intinya apa bu Echa? Kau ingin aku berkenalan dengan mereka semua?" kalimat itu keluar atas sedikit dari feeling-ku dan jelas tambahan humorku yang tidak begitu bagus.

"Kau pintar sekali, Mikki. Ya, kurang lebih seperti itu."

Hah? Feeling-ku benar-benar mengerikan. Dan humorku benar-benar payah.

"Kau tidak sedang bercanda kan, Bu Echa??"

"Apa senyum manisku ini terlihat aku sedang berbohong?" ia benar-benar tersenyum setelah mengatakannya.

[Berhenti memuji diri sendiri.] Juga gaya menopang dagu itu. "Ku harap begitu."

"Kau ingin punya kakak seperti pinokio yang pandai berbohong, ya?"

"Uh." ini tidak serius. Mana mungkin aku menginginkan seorang kakak yang berasal dari kayu dan keajaiban mengubahnya menjadi manusia? Tapi jika memungkinkan, dari pada menggunakan kejaiban untuk itu, lebih baik aku menggunakan keajaiban itu untuk pergi ke planet uranus dan mengambil sebanyak-banyaknya berlian lalu pulang dengan selamat. Lalu menjadi kaya mendadak kemudian.

Aku baru membaca rumor itu tadi malam saat berselancar di internet. Dan semoga saja aku bukan korban berita kebohongan.

"Meski terlihat menjengkelkan," suara tertawanya sedikit terdengar, "Aku suka dengan wajah tulusmu itu lho, Mikki." ditambah mimik wajahnya yang menghangat. Tapi kalimatnya itu, apa itu sebuah pujian?? Entahlah.

Mendengar rencana beliau barusan, sengatan-sengatan kecil menghujam benakku. Tentang 'Kenapa' dan 'Bagaimana'. Kenapa aku harus melakukan itu? Bagaimana jika aku gagal? Ini tidak seperti aku mencoba melarikan diri. Hanya saja untuk seorang penyendiri, berkenalan dengan orang lain adalah sesuatu hal yang rumit—apalagi banyak nama perempuan di sana. Jika aku disuruh berkenalan dengan mereka hanya untuk tujuan yang tidak ku mengerti, lebih baik aku memaksa berkenalan dengan mereka agar hidupku berubah menjadi merah jambu. Ku harap setidaknya ada satu orang perempuan yang menginginkan pria tidak berguna sebagai kriterianya. Dengan begitu ku pastikan ada satu tempat untukku setelah itu. Mengharukan.

Dan aku kembali mencoba memahami situasi.

Benar adanya jika beliau ingin mengubahku dengan membuat miniatur serta perkenalan sosial di dalamnya. Dan itu yang sedikit menyengat benakku barusan dan membuatku berpikir apa yang akan terjadi ke depannya nanti. Tapi aku tidak akan berasumsi lebih jauh, aku terbiasa dengan alur yang monoton—jadi tak perlu mempermasalahkan soal skenario. Lagi pula beliau bukanlah seseorang dengan karakter kekanak-kanakan yang merencanakan sesuatu tanpa alasan dan tujuan. Juga aku yang terlalu terpaku pada kata kunci 'Kenapa' dan 'Bagaimana'. Padahal aku justru melewatkan kata dasarnya. Jadi bagaimana kalau begini,

"'Apa' yang harus aku lakukan?"

"Hmmm?" pertanyaan ku barusan membuat matanya sedikit mengerjap. Untuk waktu sesaat mata kami saling bersitatap. "Oh, soal itu,"

Aku tahu beliau mengenalku dengan sangat baik. Jadi pasti ada rencana dibaliknya.

Tubuh beliau mengusik, dalam hitungan detik laci meja berwarna cokelat tua di depannya itu kembali tertarik keluar oleh tangan kanannya. Setumpuk kertas putih polos yang sudah tercetak tulisan di atasnya mungkin akan menjadi jawaban dari pertanyaanku.

"Ini," tuturnya dengan kalimat sumbang, setelah menjatuhkan tumpukan tersebut dengan pelan sembari mencari kertas lain yang mungkin masih tertinggal di sana lalu menutupnya kembali. "Aku sudah membuat ini." dan dengan bangga ia menepuk-nepuk tumpukan kertas itu.

Aku memperhatikan sejenak. "Surat Undangan?" seperti yang kupikirkan.

"Aku tidak mungkin sekejam itu padamu, Mikki. Jadi kau tidak perlu berpikir keras dan menganggapku nenek sihir atau semacamnya, lho!"

Sebelumnya beliau berpikir tentang pinokio, kemudian sekarang nenek sihir. Kenapa ia ingin sekali menjadi cerita masyarakat???

"Aku selalu berpikir baik tentangmu, kok. Ya, hmm." Apa akting senyumku ini terlihat natural? Tapi rasanya aku terlalu memiringkan bibirku ke kanan—tidak simetris—mungkin malah terlihat seperti ingin mengajak perang. Ku harap beliau bisa maklum.

"Aku sangat mengenalmu, Mikki. Jadi jelas aku sudah mengantisipasi apa yang akan kau pikirkan. Kau pasti sempat berpikir apa-apaan aku ini, ya kan? 'Padahal kau tahu sifatku, tapi malah menyuruhku berkenalan dengan orang-orang, jelas itu mustahil untukku, bukan?' Pasti begitu."

Keluhannya benar-benar memiliki landasan dasar. Jadi seperti inikah rasanya dimengerti oleh orang lain? Luar biasa. Meskipun aku sedikit ironi dengan konteksnya, sih.

"Tapi kau tak perlu khawatir, Mikki. Sebelumnya aku sudah pernah bilang aku telah memikirkan semuanya matang-matang untukmu, bukan? Surat undangan ini juga termasuk ke dalam rencanaku. Dan aku juga berpikir panjang kalau kau akan kesusahan bila tanpa perantara. Jadi surat ini akan memudahkanmu nantinya. Bagaimana? "

"Kalau kau bertanya… apa misi ini tidak bisa dibagi dua?"

"Sebenarnya 18 orang siswa relawan yang tertulis di sana hanya catatan terakhir yang ku catat saja, lho. Selama 2 hari terakhir masih ada cukup banyak nama yang belum ku catat karena baru mendaftar. Mungkin kau bisa mengambil sesi yang keduanya nanti?"

"Tidak. Terimakasih. Aku dengan senang hati berbagi pekerjaan."

"Cepat banget jawabnya."

'Jika orang lain bisa, kenapa aku tidak?' Kalimat barusan berlaku untuk orang lain. Untukku sendiri malah seperti ini : Jika orang lain bisa, kenapa harus aku? Aku terkesan dengan ideologi itu. Memuakkan, bukan?

"Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan? Kau tidak ingin bertanya tentang alasanku melakukan ini?"

"Tidak. Aku cukup bisa membaca skenarionya."

"Begitu, ya? Aku percaya kau memang mampu melihat 'Sesuatu' yang tidak nampak seperi itu, Mikki."

Aku juga percaya beliau melakukan ini demi keutuhan masa depanku—walau membuatku meringis.

"Aku bersyukur kalau kau mengerti sebelum aku menjelaskannya. Membuat surat undangan memang ideku sendiri saat ada rapat beberapa waktu lalu. Karena tidak ada yang mengusulkan ide ini, sedangkan aku sendiri terpikirkan, aku menjadi merasa bertanggung jawab. Lalu semua yang datang pada rapat menyetujuinya selama aku sendiri yang mengurus semuanya. Tak salah kalau ini hanya di bilang sekedar formalitas, tapi aku hanya ingin mengapresiasi semangat para relawan lewat surat ini—aku hanya ingin menghargai semangat mereka meski aku sendiri sadar ini saja tidaklah cukup. Tapi setidaknya meminta izin jauh lebih baik."

Selama bertahun-tahun mengenalnya, sifat pengapresiasian pada orang lain itu ternyata terus melekat pada diri beliau. Memilih menjadi seorang guru serta membiarkan sifat itu tetap melekat seperti kombinasi apik—kurasa beliau tidak melakukan blunder untuk menentukan masa depannya sendiri.

"Selain membagikan surat undangan itu kepada masing-masing siswa, aku ingin meminta satu hal lagi saat kau membagikan setiap suratnya, Mikki."

Peri baik hati—Jin milik Aladin, layaknya mereka yang bisa mengabulkan permintaan, saat ini aku juga sedang mendengarkan permintaan beliau dan akan mengabulkan permintaannya satu per satu. Apakah namaku sudah cukup untuk masuk ke dalam buku dongeng anak-anak?

"Apapun itu, Bu Echa. Asal jangan menyuruhku melakukan suatu hal yang mustahil."

"Tidak, kok. Hanya meminta nomor kontak mereka. Sebentar," acung satu jari telunjuknya. Kotak laci meja itu kembali terbuka untuk ketiga kalinya. "Ini," kemudian selembar kertas cetak mendarat pelan di atas meja.

Kenapa tidak mengambil semua kertasnya sekalian saja, sih!!?

"Aku ingin kau meminta setiap nomor kontak siswa maupun siswi di kolom kertas ini. Karena aku berpikir kau akan mengeluh dengan sanggahan-sanggahanmu, jadi kertas ini sudah aku beri stampel resmi dan sekarang posisimu aman. Kau hanya perlu menyodorkan kertas ini pada mereka sambil berkata, 'Bu Echa meminta kontak kalian' tanpa mereka ataupun kau sempat berpikir yang aneh-aneh. Mudah, kan? Aku melakukan ini hanya untuk jaga-jaga." aku senang tindakannya selangkah lebih dulu dibanding pola pikirku. "Dan kalau kau mau, aku mengizinkanmu menyimpan salah satu nomor siswi yang kau sukai, Mikki."

"Aku tidak sebar-bar itu, Bu Echa."

Dan apa-apaan senyumnya barusan???

Jika berjalan berkesinambungan, waktu istirahat tersisa hanya kurang dari 5 menit lagi. Aku melihat sekilas jam dinding yang menempel dekat ruang aula saat percakapan kami hening sesaat. Sampai beliau bertanya akan sesuatu.

"Oh, iya. Kau benar-benar mengatakan salamku padanya?" pasti maksudnya adalah tentang salam 'Cinta' itu.

"Iya."

"Lalu?"

"Dia hanya tersenyum seperti biasa."

"Tidak ada yang lain?"

"Dia juga bilang, 'Iya cerewet. Katakan itu padanya' kurang lebih begitu."

"Begitu, ya?"

"Uh."

Menarik sedikit waktu sebelumnya.

Sebelum jam istirahat dimulai.

Sebelum bel istirahat berbunyi.

Tepat sesaat setelah aku mengumpulkan tugas IPS sebelumnya dan kembali duduk.

Beliau datang ke kelasku untuk memberitahu bahwa aku harus menemuinya di meja piket. Dan itulah alasan kenapa aku harus bergegas. Melewatkan jam istirahat di belakang sekolah seperti biasa—serta melewati pengakuan perasaan seorang siswa yang kelebihan hormon dopamin tadi. Dan akhirnya berakhir seperti sekarang.

"Terima kasih sudah menyampaikan salamnya ya, Mikki."

Hhhhh.

Kenapa tiba-tiba aku merasa menjadi kurir cinta???

End.

*****

[BAB #6 akan diusahakan untuk publikasi, 20 April 2020]

Keterangan Sitasi :

[1] Nara : Merupakan nama klan yang menjadi klan tercerdas dari serial Naruto.

[2] Dopamin : Merupakan sebuah hormon dalam tubuh manusia yang berpengaruh untuk meningkatkan suasana hati, rasa bahagia, semangat hingga kepercayaan diri.

[3] Sanguinis : Sebutan untuk seseorang yang memiliki kepribadian terbuka dan riang.

*****

Terima kasih yang sudah menyempatkan diri untuk membaca.

Terus pantengin untuk kelanjutan bab-bab berikutnya, yaw.

Berikan komentar dan vote kalian sebagai bentuk dukungan untuk novel ini.

Salam.