Chereads / Mimpi di Hari Rabu | Na Jaemin / Chapter 13 - Mati atau Maju?

Chapter 13 - Mati atau Maju?

Nala terbangun dengan rasa sakit berdenyut di kepalanya. Semua yang baru saja ia alami terasa seperti mimpi buruk yang sangat menyakitkan.

Perlahan Nala membuka matanya, mencoba menerima cahaya yang masuk ke penglihatannya. Kali ini Nala hanya dapat merasakan rasa dingin yang menusuk dan keheningan yang seperti mengurungnya.

Ia menatap dinding-dinding putih yang memantulkan bayangan samar. Seluruh tubuhnya terasa berat setelah dipaksa mengingat sesuatu yang ingin ia lupakan seumur hidup. Memori masa kecilnya yang ternyata bukan kenangan indah, melainkan ingatan dari eksperimen yang dilakukan oleh Black Roses.

Pintu ruang putih terbuka tiba-tiba. Sosok seorang pria berjas putih masuk, membawa tablet di tangannya. Itu adalah Dr. Johnny, salah satu ilmuwan dari Black Roses.

"Natala," ujarnya datar.

Nala memalingkan wajahnya ke arah pria itu, matanya menyipit penuh kebencian. Seluruh tubuhnya tegang, namun ia tetap diam menunggu apa yang akan dikatakan pria itu kali ini.

"Kami akhirnya menemukan apa yang kami cari darimu," lanjut Dr. Johnny sembari menatap layar tablet di tangannya.

"Kau adalah kunci untuk menyempurnakan eksperimen ini."

Nala mengepalkan tangannya, mencoba menahan emosi yang sudah hampir meluap. "Berhenti mengucapkan namaku dengan mulut kotor itu!" serunya dengan suara tegas.

Dr. Johnny mendongak dari tabletnya dan menatapnya, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Lalu haruskah aku memanggilmu subjek 127?"

"Aku bukan subjek eksperimen kalian!" balas Nala tajam. "Aku manusia, bukan alat. Aku punya hidup, punya masa depan, dan kalian menghancurkan semuanya!"

Dr. Johnny tertawa kecil, suara tawanya terdengar dingin dan penuh penghinaan. "Hidup? Masa depan? Kau terlalu naif, Natala. Hidupmu sudah menjadi milik kami sejak lama. Setiap ingatan, setiap mimpi, setiap langkah yang kamu ambil semuanya adalah hasil dari eksperimen ini. Kau tidak pernah benar-benar memiliki kehidupanmu sendiri."

Nala sangat ingin bangkit dan memukul wajah pria paruh baya di depannya ini, namun tertahan oleh borgol di tangannya. Tubuh Nala bergetar penuh amarah.

"Kalian tidak punya hak untuk menentukan hidupku. Aku tidak akan membiarkan kalian mengontrolku lagi!"

Dr. Johnny tetap tenang, meskipun mata Nala menatapnya penuh kebencian. "Dan apa yang akan kau lakukan, Natala? Melawan kami? Melarikan diri? Jangan bodoh. Tidak ada tempat di dunia ini yang aman untukmu. Kau adalah bagian dari eksperimen ini, dan kau tidak akan pernah bisa lepas dari kami."

"Kalian mungkin bisa mengurung tubuhku," balas Nala dengan suara yang mulai bergetar, "tapi kalian tidak nggak akan pernah bisa mengurung pikiranku."

Dr. Johnny mengangkat alisnya, terkesan dengan keberanian Nala meskipun ia tahu itu sia-sia.

"Pikiranmu? Oh, Natala, pikiranmu adalah milik kami sejak awal. Setiap mimpi yang kau alami, setiap kenangan yang di pegang erat-erat, semuanya sudah kami manipulasi. Kau hanya hidup dalam realitas yang kami ciptakan untukmu."

Dr. Johnny melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah. "Natala sayang, tidak ada jalan keluar untukmu. Di manapun kamu berada kami akan selalu menemukanmu, bahkan jika harus mencari hingga ke dunia lain. Dan lagi ingat ini nak, dunia ini tidak akan menerima seseorang sepertimu, seseorang yang sudah tercemar oleh eksperimen ini. Satu-satunya tempatmu adalah di sini bersama kami."

Nala tertawa sinis, meskipun matanya memancarkan kemarahan. "Setidaknya itu lebih baik daripada hidup sebagai boneka kalian."

Dr. Johnny menatapnya dengan pandangan tajam, senyumnya menghilang. "Kalau begitu kau hanya memaksa kami untuk mengambil tindakan lebih keras, Natala. Kau akan mengerti, pada akhirnya melawan kami hanya akan membuat segalanya lebih buruk untukmu."

Belum sempat Nala membalas ucapan Dr. Johnny, tiba-tiba masuk dua orang lelaki yang juga memakai jas putih khas laboratorium. Nala dikawal oleh dua orang itu ke ruangan lain. Ruangan itu tidak berbeda dari ruang putih yang sebelumnya ia tempati.

---

Nala berjalan memasuki ruangan putih itu, setelahnya pintu di kunci dari luar. Dapat ia lihat di sana terdapat dua orang yang juga di kurung sepertinya, Nala mengenali mereka tentu saja. Di sana terdapat Mahen, pria yang baru bergabung dengan kelompoknya beberapa waktu lalu. Terlihat Mahen duduk di sudut ruangan dengan wajah kusam. Di sisi lain Cakra berdiri sambil bersandar di dinding, matanya penuh dengan kemarahan yang ia coba sembunyikan.

"Cakra? Mahen?" gumam Nala dan berjalan mendekati mereka.

Mahen mengangkat kepalanya perlahan, menatap Nala dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Nala..." ucapnya pelan. "Akhirnya lo di sini."

Nala melangkah mendekat, meskipun ia bisa merasakan ketegangan di antara mereka.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian ada di sini? Lalu di mana yang lainnya? Jingga, Juna, dan Jendra?"

Mahen menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Gue nggak tau mereka ada dimana, Na. Waktu gue masuk ke sini nggak ada siapapun, habis itu nggak lama Cakra dan lo masuk."

"Apa kalian baik-baik aja?" Tanya Nala sedikit khawatir. Bagaimanapun sekarang mereka ada di tempat eksperimen Black Roses yang dapat mencelakai mereka kapan saja.

"Gue baik-baik aja, Na. Cuma ada sesuatu hal yang bikin kepala gue sakit. Satu kebenaran yang nggak pernah gue duga."

Nala hanya memiringkan kepalanya bingung, ia tidak mengetahui apa maksud ucapan Mahen.

Mahen menghela nafas panjang sebelum berucap. "Ternyata gue selama ini adalah subjek eksperimen Black Roses. Gue udah di sini menjalani eksperimen dari dua tahun lalu. Mereka nangkap gue saat gue coba mencari tahu tentang organisasi yang melakukan eksperimen gila di kota ini. Gue pikir gue bisa ngelawan mereka, tapi ternyata gue salah. Mereka malah jadiin gue subjek eksperimen untuk menguji stabilitas dunia paralel. Dan parahnya gue baru tau itu semua sekarang, mereka sempat menghapus ingatan gue ternyata."

Nala menatap Mahen dengan pandangan terkejut, ternyata bukan ia saja yang menjadi subjek eksperimen di sini.

Setelah mengetahui cerita Mahen, Nala menatap Cakra yang berdiri bersandar pada dinding. Jika Mahen juga adalah subjek eksperimen maka ada kemungkinan Cakra juga mengalami hal serupa.

Cakra yang melihat tatapan Nala tertawa sinis. "Gue? Gue juga sama kaya kalian. Ternyata gue juga udah jadi subjek eksperimen di sini dua bulan. Mereka bilang gue yang menggantikan lo, Kak Nala. Menggantikan lo sebagai subjek utama eksperimen ini. Lo tahu apa artinya, kak? Gue disiksa dan dipaksa masuk ke dunia paralel yang sama kaya lo. Semua itu karena lo berhasil melarikan diri selama ini."

Nala terkejut mendengar nada penuh kebencian dari Cakra. "Gue... Gue nggak tahu, maaf. Gue nggak pernah ingin ini terjadi."

"Tentu aja lo nggak tahu," balas Cakra dingin. "Lo sibuk melarikan diri, sementara orang lain menanggung akibatnya."

Mahen melirik keduanya, mencoba meredakan ketegangan. "Cukup, Cakra! Menyalahkan Nala nggak akan mengubah apa pun. Kita semua sama di sini korban Black Roses. Yang penting sekarang adalah gimana kita keluar dari sini."

Malam itu, ketiganya duduk melingkar di lantai dingin ruang putih. Setelah mengetahui kebenaran yang selama ini terkubur di ingatan mereka, akhirnya untuk pertama kalinya mereka berbicara dengan jujur tentang apa yang telah mereka alami. Nala menceritakan hidupnya yang dihabiskan dalam eksperimen, Mahen berbicara tentang dirinya yang menjadi subjek eksperimen saat mencoba mencari tahu kebenaran Black Roses, dan Cakra akhirnya mengakui rasa takut yang selama ini ia pendam.

"Gue nggak mau mati di sini," ucap Cakra dengan suara pelan. "Tapi gue tahu kita nggak bisa kabur begitu aja. Mereka pasti akan memburu kita sampai ke ujung dunia."

Mahen mengangguk setuju. "Itu benar. Black Roses nggak akan ngebiarin kita hidup bebas, terutama lo, Na." Tunjuk Mahen pada Nala. "karena lo yang pertama kali berhasil ngebuka pintu antar dimensi."

"Apa, nggak bisa kita pergi aja balik ke dunia lama itu?" Tanya Cakra.

Nala menggeleng pelan. "Nggak bisa, bahkan di dunia lain pun mereka bakal cari cara bawa kita kembali."

Mahen menatap keduanya serius. "Kita cuma punya dua pilihan, yaitu mati atau menghancurkan mereka."

-To be Continued-