Chereads / Mimpi di Hari Rabu | Na Jaemin / Chapter 15 - Menyusun Strategi

Chapter 15 - Menyusun Strategi

Setelah eksperimen selesai, Nala dibawa kembali memasuki ruang kurungan. Seperti biasa, ia adalah yang terakhir selesai karena di dalam sudah terlihat Mahen dan Cakra yang duduk berhadapan. Keduanya tampak lelah, mungkin eksperimen mereka terasa panjang kali ini. Dapat Nala rasakan juga suasana di antara mereka terasa sunyi.

Nala menghampiri mereka, mendudukkan dirinya di tengah-tengah Mahen dan Cakra.

"Gue berhasil nemuin mereka," ucap Mahen dengan nada rendah setelah Nala duduk.

Nala langsung mendongak, ekspresinya campuran antara harapan dan kekhawatiran. "Mereka masih hidup, bang?" tanyanya dengan suara pelan.

Mahen mengangguk, "Juna, Jendra, dan Jingga benar ada di Detention Hall. Mereka kelihatan lemah, tapi gue yakin mereka masih hidup."

Nala menarik nafas panjang, mencoba mengendalikan emosi yang membanjiri dirinya. Ia lega mendengar kabar itu, mengetahui sahabat-sahabatnya masih hidup cukup untuk membuatnya tenang.

"Gue lega dengar itu," ucap Nala akhirnya. "Tapi kalau mereka ada di sana, berarti kita harus nemuin cara buat membebaskan mereka."

"Tapi gimana caranya?" Cakra yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Setau gue ada banyak kamera pengawas."

Mahen mengangguk menyetujui, "Dan di ruang tahanan itu juga ada kamera pengawas."

Nala terdiam sejenak, pikirannya berpacu mencari solusi.

"Kalau ada banyak kamera pengawas, pasti ada ruang kontrolnya," ucap Nala sembari memandang kedua sahabatnya. "Kita harus cari ruang kontrol itu dan mematikan akses kamera."

"Tapi, gimana kita bisa tahu lokasinya?" tanya Cakra lagi, matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

"Kita butuh informasi lebih banyak," sahut Mahen sebelum Nala sempat menjawab. "Lebih baik kita pikirkan rencananya lebih matang lagi. Kita nggak boleh tergesa-gesa, apalagi yang nantinya malah merugikan kita."

Ketiganya terdiam lagi, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ruang kurungan itu, meskipun kecil dan pengap kini menjadi tempat mereka merencanakan sesuatu yang bisa mengubah segalanya.

Nala akhirnya menghela nafas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa mereka harus memulai dari hal yang paling mendasar.

"Oke, kita mulai dari dasar. Gue setuju kalau kita butuh lebih banyak informasi sebelum bertindak, dan ini rencana awal gue."

Mahen dan Cakra menatap Nala dengan perhatian penuh, menyadari bahwa apa yang akan ia katakan bisa menjadi penentu hidup mereka.

"Pertama, kita harus dapetin kunci buat akses seluruh ruangan di laboratorium ini. Gue selalu merhatiin, ternyata semua ilmuwan yang setiap hari jemput kita ke ruang eksperimen itu pasti selalu bawa kunci-kuncinya. Jadi siapapun dari kita setiap dibawa ke ruang eksperimen harus manfaatin setiap kesempatan kecil untuk ngambil kunci itu. Walau cuma satu, tapi harus ada yang dapat."

"Gue akan coba," ucap Mahen tanpa ragu.

"Gue juga," tambah Cakra, meskipun suaranya sedikit lebih pelan.

"Bagus."

"Setelah itu, kita perlu cari tahu lokasi pasti ruang kontrol, ruang berkas, atau ruangan penting lainnya. Kalian ingat kan? Tujuan kita dari awal juga buat menghancurkan Black Roses ini. Jadi sebelum kita keluar dari sini, kita harus menemukan apapun itu sebagai bukti buat menghancurkan Black Roses, atau setidaknya ngungkap ini ke publik. Kita juga harus cari jalan keluar dari laboratorium ini. Karena saat rencana ini jalan, kita cuma punya satu kesempatan, dan tentu kita harus langsung keluar dari sini."

Mahen mengangguk mantap. "Berarti kita harus terus gerak, bener?"

Nala mengangguk. "Kalau kita udah punya kunci-kuncinya, kita bisa bergerak malam hari di mana aktivitas laboratorium ini terhenti. Walau masih ada yang bangun, gue yakin itu nggak akan banyak. Paling cuma beberapa orang. Kita juga harus bergerak secara diam-diam dan berpencar supaya kita bisa cari lebih banyak informasi."

Cakra mengangkat tangan ragu-ragu, sebelum menyela. "Tapi, Kak, berpencar itu berisiko. Kalau salah satu dari kita ketahuan, maka yang lain bisa terjebak juga. Kita nggak bisa cuma berharap semua berjalan lancar."

"Lo memang bener, Cak," ucap Nala dengan tenang. "Tapi kita nggak punya pilihan lain, karena kita harus bagi tugas dan bergerak cepat. Malam pertama, kita fokus cari lokasi ruang-ruang penting dan rute keluar."

"Setiap hari, setiap saat, kita juga harus pelajari pola penjagaan dan waktu pergantian shift. Perhatiin setiap detail saat kalian dibawa keluar masuk ruang kurungan," tambahnya.

Mahen mengangguk lagi, kali ini dengan lebih yakin. "Oke, gue tahu maksud lo, Na. Kalau kita tahu kapan penjaga ganti shift, itu bakal jadi momen terbaik buat kita bergerak, benar?"

"Benar," jawab Nala. "Gue yakin mereka punya celah beberapa menit saat pergantian, dan kita bisa manfaatin itu."

Hening sejenak melingkupi mereka. Namun, Nala tidak membiarkan keraguan menyusup terlalu lama. Ia menatap Mahen dan Cakra satu per satu, memastikan mereka memahami pentingnya rencana ini.

"Setelah kita kumpulin semua informasi itu, baru kita susun langkah berikutnya. Kita harus matiin kamera di rute rencana kita. Jangan matiin semuanya, karena kalau semua kamera mati, para ilmuwan itu pasti bisa curiga dan langsung periksa."

Cakra mengangguk, memahami logika itu. "Jadi kita cuma matiin kamera di jalur yang bakal kita lewatin? Tapi gimana caranya kita tahu?"

"Tenang, Cak. Gue udah pikirin soal itu. Lo lupa kita anak jurusan teknik?" Sahut Nala. "Kalau kita bisa akses ruang kontrol, kita pasti bisa buat kamera-kamera cuma mati di rute rencana kita, sementara kamera lain tetap berfungsi normal. Kita manipulasi sistemnya supaya tetap terlihat aman bagi mereka."

Mahen tersenyum kecil. "Lo pinter banget, Na. Mereka nggak akan sadar kalau kamera-kamera itu sebenarnya nggak lagi ngerekam kita."

Nala hanya tersenyum percaya diri setelah dipuji Mahen. Namun, ia tahu dalam hatinya bahwa rencana ini masih jauh dari sempurna.

"Setelah kamera-kamera itu aman," lanjut Nala, "kita bebaskan Juna, Jendra, dan Jingga. Kita udah tahu lokasi mereka jadi itu sebuah keuntungan besar buat kita. Setelahnya, kita cari berkas atau bukti tentang Black Roses. Dokumen itu penting kalau kita mau menghancurkan Black Roses, atau minimal ngungkap apa yang mereka lakukan ke publik."

"Dan terakhir, kita kabur keluar dari tempat ini?" ujar Cakra, dan diiyakan oleh Nala dan Mahen.

"Tapi lo sadar kan, Kak? Ini rencana gila. Banyak kesalahan yang bisa terjadi."

Nala menatap Cakra dengan pandangan serius, tetapi matanya penuh keyakinan. "Gue tahu ini nggak akan mudah. Tapi kalau kita tetap di sini, kita nggak akan pernah keluar hidup-hidup. Ini satu-satunya kesempatan kita buat ngelawan. Kalau kita nggak ambil risiko sekarang, kita bakal terus jadi korban."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tekad perlahan menggantikan keraguan di mata Mahen dan Cakra. Mereka tahu bahwa hidup mereka kini bergantung pada keberanian dan kerja sama mereka.

"Baiklah," ucap Mahen akhirnya, suaranya tegas. "Kita mulai sesegera yang kita bisa. Kita kumpulin informasi sebanyak mungkin."

Cakra mengangguk. "Dan kita nggak boleh gagal."

Nala tersenyum kecil, meskipun hatinya berat. "Kita nggak akan gagal."

-To be Continued-