Act 1 : Elysium
Dimalam setelah kejadian pada laboratorium Eclipse , cahaya lampu di ruang rapat Sandra Satonen, Menteri Finlandia, memancarkan keseriusan. Dia menatap Arkhan.
"Apa kita perlu membuat mereka menjadi buronan internasional?" Sandra bertanya, suaranya serius.
Arkhan menggelengkan kepala, wajahnya tenang. "Tidak, aku rasa itu hanya akan membuang sumber daya kita. Fokus kita sekarang adalah Pohon Agung. Kita harus segera mendapatkan kekuatan darinya."
Sandra mengangguk, alisnya terangkat. "Tak kusangka, dia memiliki adik yang merupakan salah satu dari Mishmar. Ini mungkin akan berubah menjadi ancaman serius."
Arkhan menekankan, "Karena itu kita tidak bisa membuang waktu lagi. Pohon Agung sudah dipindahkan ke markas pusat. Tapi kita belum mendengar kabar dari Wondo. Apakah dia sudah menyiapkannya?"
"Mereka sedang dalam perjalanan kesini, karena kita tak bisa menggunakan pesawat dengan jumlah sebanyak itu, jadi kita memerlukan setidaknya 15 hari," jawab Sandra dengan nada serius.
Arkhan mengangguk mencoba mengerti keadaan "Jadi begitu….yah kita hanya perlu menunggu sedikit lebih lama"
Lalu dia menunjukkan kekaguman saat mengingat laporan yang bawahannya berikan. "Aku tidak menyangka ilmuwan bernama Anak Agung Sebastian itu berhasil lolos dari pembersihan laboratorium Eclipse yang dilakukan UPS, sungguh orang yang cukup pintar."
Sandra menatap Arkhan dengan intensitas tinggi. "Ya, dia juga membawa salah satu penelitian yang sedang mereka kerjakan."
"Apa itu?" tanya Arkhan dengan penasaran.
Sandra berhenti sejenak sebelum menjawab, "Kami tidak mendapatkan informasi detailnya, tapi mereka bilang namanya Elysium."
Ekspresi Arkhan berubah, menunjukkan keheranan. "Elysium?... Aku tidak pernah mendengarnya dari Dr. Emma, apa itu penelitian yang mereka sembunyikan?"
Sandra menggelengkan kepala. "Saya rasa bukan itu, penelitian itu tak begitu terlalu diperhatikan dan progresnya masih sangat sederhana, karena itu Dr. Emma tak melaporkannya."
Arkhan memejamkan mata, berpikir intens. "Sebastian itu bahkan sudah menyiapkan paspor untuk kabur bersama Dr. Emma dan adiknya, dan yang sangat tidak terduga lagi adalah adik Dr. Emma mungkin adalah seorang Mishmar."
Setelah berpikir sejenak, Arkhan memutuskan. "Kalau begitu, suruh saja Thompson untuk memastikannya, selagi dia masih di negara itu."
Mereka berduapun menyudahi obrolan mereka dan memerintahkan salah seorang bawahan untuk menghubungi Thompson.
Act 2 : Kargo
Tanjung Perak, Surabaya, sore hari yang berhujuran. Thompson dan Nila berdiri di dermaga, menatap kapal kargo "MV. Finlandia" yang baru saja berangkat, membawa kargo misterius menuju Finlandia.
"Dari mana kau mendapatkan orang-orang itu?" tanya Thompson, matanya menyipit penasaran.
Nila tersenyum sinis, menghisap rokoknya. "Tumben sekali kau tertarik... Yah, Pak Wondo menyediakan lebih dari setengahnya, mereka adalah para napi yang akan dihukum mati."
Thompson mengerutkan dahi, rasa tidak percaya terlihat di wajahnya. "Lalu sisanya?"
Nila menjawab santai, menggelengkan kepala. "Oh, kalau itu timku yang mengisi sisanya."
Sesaat kemudian, salah satu anggota tim mereka, berlari mendekati, membawa telepon yang berdering. "Boss, ada panggilan untuk Anda!"
Thompson langsung mengambil dan mengangkatnya. "Halo, Thompson disini!"
Suara dari seberang telepon terdengar jelas, memberikan instruksi yang singkat dan tegas. Thompson mendengarkan dengan serius, matanya mempertajam. "Baik, saya akan segera ke Bali untuk menginvestigasinya."
Nila menatap Thompson dengan rasa penasaran. "Ada apa?"
Thompson menghela napas, "Sepertinya ada Mishmar lain yang harus aku selidiki."
Nila terkejut, matanya membesar. "Mishmar lagi? Ini benar-benar aneh, bukan? Setelah berhadapan dengan Yuanyun, sekarang kau harus mencari Mishmar lain. Ini seperti kau akan selalu dikelilingi para Mishmar!, Hahaha!" Nila tertawa keras.
Thompson menggelengkan kepala, kesal. "Sial, kau benar. Padahal aku masih ingin menyelidiki sesuatu, tapi aku harus pergi ke pulau lain."
Thompson menatap Nila dengan serius. "Bisakah kau membantuku?"
Nila menjawab datar, "Tidak."
Thompson mendengus. "Dasar pelit!"
Nila menanggapi dengan tenang. "Tidak ada untungnya bagiku, dan itu urusan pribadimu. Daripada mengurus hal tak penting, kenapa kau tidak fokus saja menemukan signaturemu itu?"
Thompson mengangguk, mantap. "Benar juga, baiklah. Aku akan langsung ke Amerika begitu aku selesai di Bali."
Act 3 : Laut
Di Laboratorium yang berada di Villa Lovina, Bali, Indonesia, Sebastian dengan saksama mengotak-atik tabung kaca yang berisi cairan biru muda Elysium, sedangkan Emma berdiri di sebelahnya, memegang kertas catatan yang penuh dengan rumus kimia kompleks. Cahaya lampu laboratorium memantulkan bayangan mereka di dinding.
"Analisis spektroskopi inframerah menunjukkan ikatan hidrogen unik pada Elysium," kata Emma, mata tajamnya menatap data dengan intensitas. "Ini bisa menjadi kunci untuk memahami sifatnya."
"Benar, struktur kristalnya menunjukkan simetri heksagonal yang khas," jawab Sebastian, mengangkat tabung dan memeriksa cairan tersebut dengan teliti. "Saya yakin ini akan mengubah paradigma penelitiannya."
"Spektrum NMR-nya menunjukkan interaksi spin-spin kompleks," tambah Emma, menunjuk grafik pada kertas. "Ini menunjukkan potensi besar dalam pengembangan obat."
"Konstanta dissosiasi asamnya mencapai 6,5," kata Sebastian, menatap Emma dengan antusias. "Mungkin ini kunci untuk aplikasi farmasi dan biomedis yang revolusioner!"
Olivia yang baru pulang dari jalan jalan sorepun melangkah masuk ke villa yang sunyi, mencari tahu ke mana semua orang pergi. Ia memutuskan untuk menuju ruang bawah tanah, tempat laboratorium rahasia Emma dan Sebastian berada. Saat membuka pintu, Olivia terkejut melihat kedua ilmuwan itu sibuk mengerjakan sesuatu.
"Apa ini memang wajar bagi para ilmuwan? Kita saat ini dalam bahaya, tapi kalian malah asyik mengerjakan hal itu!" Olivia bertanya dengan nada kesal dan khawatir.
Emma dan Sebastian terkejut, berpaling dari meja kerja mereka. Emma terlihat bersalah, sedangkan Sebastian tetap tenang dan melanjutkan pekerjaannya tanpa mempedulikan kehadiran Olivia.
"Olivia, kami... kami tidak bisa berhenti sekarang," kata Emma, mencoba membenarkan.
"Tidak bisa berhenti? Apa yang kalian lakukan ini lebih penting dari nyawa kita?" Olivia melangkah mendekat, matanya terfokus pada tabung berisi cairan biru muda.
Emma menghela napas, merasa bersalah. "Mari, Olivia, kita bicarakan di luar." Emma menggenggam lengan Olivia, membawanya keluar dari laboratorium, meninggalkan Sebastian yang terus mengerjakan Elysium.
Emma menyeduhkan kopi hangat dan menyerahkannya kepada Olivia, berharap kehangatan itu bisa menenangkan hati gadis itu. Mereka duduk bersanding di dekat jendela besar, menatap keindahan laut Bali yang biru dan tenang.
"Aku tahu perasaanmu, tapi Dr. Sebastian jugalah yang sudah menyelamatkan kita," kata Emma, suaranya lembut. "Kau mungkin tidak tahu, tapi dia orang yang lebih mementingkan ilmu pengetahuan di atas semuanya, bahkan jika itu nyawanya sendiri. Karena aku masih merasa bersalah padanya, jadi aku memutuskan untuk melupakan masalah yang kita alami sejenak dan membantunya mengerjakan itu."
Olivia menatap Emma dengan mata penuh kekhawatiran, namun Emma terus melanjutkan, "Lalu kita bagaimana, Kak? Apa kita akan terus bersembunyi di sini selamanya?" tanya Olivia dengan gusar.
Emma tersenyum lembut. "Tentu tidak. Walaupun terlihat seperti orang yang tidak peduli, sebenarnya Dr. Sebastian sudah menyiapkan semuanya."
Olivia mengangkat alis, penasaran. "Benarkah jadi apa rencananya?"
Emma menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan, "Kita akan memulai hidup baru di Bali. Kamu akan bersekolah disini, dan menunggu sampai kamu lulus. Dan Ketika keadaan mulai tenang, kita juga akan mencari informasi mengenai apa yang terjadi pada tubuhmu."
Olivia mendengarkan dengan hati yang sedikit lega, menatap laut yang tenang, berharap masa depan yang lebih cerah.