Chereads / THE TREE OF KALPATARU / Chapter 14 - PENOLONG TAK TERDUGA

Chapter 14 - PENOLONG TAK TERDUGA

Act 1 : Pencarian Informasi

Di dalam sebuah pesawat yang menuju ke Indonesia, Thompson menghirup napas dalam-dalam saat pesawat mulai turun, menatap jendela dengan lelah. Ia tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.

Dia sedikit terkejut melihat seseorang yang dia kenal duduk di sebrang kursi disebelahnya, menyembunyikan wajah di balik majalah perjalanan.

"Apa yang kau lakukan di sini 'Nila"?" Thompson bertanya dengan nada tak percaya.

Nila menurunkan majalah dan tersenyum mengejek. "Hehe, aku ingin melihat keindahan Bali tentunya."

Thompson tercengang, berusaha memahami keputusan Nila. "Untuk apa?, Apa UPS juga di utus?."

Nila menatap Thompson dengan mata tajam. "Tidak, aku datang sendirian jadi aku ikut dengan pesawatmu. Selain itu, aku juga penasaran dengan Mishmar yang kamu cari kali ini."

Pesawatpun mendarat, dan mereka berdua keluar, menikmati udara segar Bali. Thompson masih terkejut, tapi sedikit senang karna di temani.

"Kita harus sedikit berhati-hati," kata Thompson. "Ingat mereka adalah seorang saintis jadi pasti mereka cukup pintar untuk menyembunyikan diri."

Nila mengangguk. "Kau benar, kita butuh petunjuk awal."

Mereka memulai pencarian dengan mengunjungi pusat informasi turis dan mengunjungi beberapa penginapan di sekitar bandara.

Di sebuah penginapan, mereka bertemu seorang resepsionis yang mengenali Emma dan Olivia.

"Apa kau pernah melihat kedua orang ini?" Tanya Thompson sambil mmenunjukkan sebuah foto.

"Hmmm sepertinya mereka menginap di sini dua hari lalu," kata resepsionis tersebut.

Thompson dan Nila saling menatap. "Apa mereka mengatakan sesuatu?" Thompson bertanya.

Resepsionis tersebut berpikir sejenak. "Mereka menyebutkan sesuatu tentang Pantai Lovina dan keamanan kalau tidak salah."

Thompson dan Nila mengangguk. "Haha ini tidak begitu sulit kita hanya harus ke sana sekarangkan?," kata Nila.

Merekapun menyewa mobil dan memulai perjalanan ke Pantai Lovina, berharap menemukan petunjuk berikutnya.

Dan akhirnya setelah beberapa jam Thompson dan Nila akhirnya tiba di Pantai Lovina, mereka mulai mencari petunjuk tentang Sebastian, Emma dan Olivia. Mereka menunjukkan foto kepada penduduk setempat yang mereka temui.

"Apakah Anda pernah melihat mereka?" Thompson bertanya sambil menunjukkan foto sebelumnya kepada seorang nelayan.

Nelayan tersebut memandang foto dengan seksama. "Hm….. salah satu dari orang di foto ini mirip dengan dua turis yang kemarin datang ke warung makan dekat pantai."

Thompson dan Nila saling menatap, curiga. Mereka memutuskan untuk mengunjungi warung makan tersebut.

Di warung makan, pemiliknya, Pak Komang, mengaku mengenali Emma setelah melihat foto yang berisi gambar Emma dan Olivia lewat foto yang Thompson tunjukan padanya. "Wanita ini datang bersama seorang pria yang berwajah lokal dan mereka memesan makanan lalu bertanya tentang kegiatan di sekitar sini."

Thompson menunjukkan foto lagi. "Apakah Anda tahu ke mana mereka pergi?"

Pak Komang berpikir sejenak. "Mereka berbicara tentang mengunjungi desa nelayan di sebelah utara."

Thompson dan Nilapun segera berangkat, setelah merasa cukup dengan informasi yang mereka dapatkan. Mereka yakin kalau Sebastian dan Emma pernah ada di warung itu.

Act 2 : Universitas Vidyastra

Di tempat lain di hari sebelumnya, Yogyakarta, Indonesia, menyimpan rahasia di balik keindahan budayanya. Di antara gedung-gedung kuno, terdapat sebuah institusi pendidikan yang sederhana namun elegan bernama Universitas Vidyastra.

Gedung universitas yang sederhana dengan arsitektur kolonial menyatu dengan lingkungan sekitar. Perpustakaan universitas memiliki koleksi buku dan naskah yang luas. Auditorium dan fasilitas penelitian modern mendukung proses belajar.

Universitas Vidyastra bertujuan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter mahasiswanya untuk menjadi pemimpin masa depan.

Dan di sebuah ruangan kelas kecil dengan kapasitas hanya untuk 12 orang, Terdapat sebuah kelas yang di peruntukan untuk 12 Mishmar.

Kelas itu memiliki sebuah atmosfer yang hangat dan nyaman, dindingnya dihiasi dengan simbol-simbol kuno dan gambaran kekuatan alam. Meja dan kursi disusun rapi untuk memfasilitasi diskusi.

Profesor Kavindra sang 'Nalanda, dari India' (Satu satunya Mishmar didunia yang tidak berinkarnasi, berumur lebih dari 34 ribu tahun namun masih terlihat seperti 40 tahun, sedang memandang delapan muridnya dengan serius.

"Baiklah, mari kita mulai kelas hari ini. Saya akan mengabsensi kalian terlebih dahulu, Akira?"

Akira (18 tahun, Reinkarnasi Vayuja, Kaede Kazuha, Jepang): "Hadir, Profesor."

Profesor Kavindra: "Luna?"

Luna (12 tahun, Reinkarnasi Jyoti, Lumière, Perancis): "Hadir, Profesor."

Profesor Kavindra: "Ethan?"

Ethan (22 tahun, Reinkarnasi Kalaka, Chrono, Inggris): "Hadir, Profesor."

Profesor Kavindra: "Aisha?"

Aisha (8 tahun, Reinkarnasi Prithvi, Gaia, Afrika Selatan): "Hadir, Profesor."

Profesor Kavindra: "Leticia?"

Leticia (20 tahun, Reinkarnasi Agni, Ignis, Brazil): "Hadir, Profesor."

Profesor Kavindra: "Zain?"

Zain (15 tahun, Reinkarnasi Vayu, Aero, Pakistan): "Hadir, Profesor."

Profesor Kavindra: "Sophia?"

Sophia (25 tahun, Reinkarnasi Hima, Gelida, Rusia): "Hadir, Profesor."

Profesor Kavindra: "Daniel?"

Daniel (10 tahun, Reinkarnasi Loha, Ferrum, Jerman): "Hadir, Profesor."

Baiklah hari ini, kita akan mempelajari konsep Signature, senjata spesial Mishmar. Apakah kalian sudah memahami dasar-dasarnya?" Tanya professor sambil berjalan kearah mereka.

Akira mengangguk. "Signature adalah simbol kekuatan dan identitas Mishmar, kan, Profesor?"

Profesor Kavindra tersenyum. "Benar, selain itu Signature juga merupakan sebuah benda yang biasanya berbentuk sebuah senjata yang juga di takdirkan untuk seorang mishmar"

Luna bertanya, "Bagaimana cara mendapatkannya, Profesor?"

Profesor Kavindra menjawab, "Signature basanya hanya.... "

Kelaspun berlanjut Profesor Kavindra menerangkan semua hal yang perlu mereka ketahui baik mengenai Mishmar atau yang lainnya.

Act 3 : Vidyaraja

Setelah 3 jam, kelas berakhir dan profesor Kavindra kembali ke ruang kerjanya, dia duduk sendirian, menatap ke langit-langit dengan mata bijak yang telah menyaksikan 3400 tahun sejarah dunia. Keheningan yang mendalam membalut ruangan, seolah-olah waktu itu sendiri terhenti.

Sebuah Perjalanan Panjang,

Lahir di Mohenjo-Daro, peradaban Indus, pada 1600 SM, Vidyaraja - nama asli Profesor Kavindra - telah menyaksikan peradaban bangkit dan runtuh. Ia menjadi saksi bisu perang antara peradaban Indus dan Mesir, pembangunan Piramida Giza yang megah, dan kelahiran agama Hindu serta Buddha yang membentuk spiritualitas umat manusia.

Abad Pertengahan membawa Vidyaraja ke Eropa, di mana ia menjadi penasihat raja dan ilmuwan terkemuka. Ia menyaksikan Perang Salib yang memperlihatkan kekuatan iman, pembangunan Katedral Notre Dame yang menunjukkan keindahan arsitektur, dan munculnya Renaissance yang membawa perubahan besar bagi umat manusia.

Pada masa modern, Vidyaraja berpindah ke Asia Timur sebagai guru spiritual. Ia menyaksikan pembangunan Dinasti Ming, Perang Dunia I dan II yang memperlihatkan kehancuran, dan Revolusi Industri yang membawa perubahan teknologi.

Setelah 3400 tahun, Vidyaraja memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Profesor Kavindra dan mendirikan Universitas Vidyastra. Ia bertujuan mengumpulkan ke 12 Mishmar untuk melindungi keseimbangan dunia, dan mengembangkan pengetahuan supernatural.

"Aku telah menyaksikan sejarah dunia," kata Kavindra dengan suara lembut. "Sekarang, hanya tinggal 4 Mishmar lagi sebelum Ramalan itu benar benar terjadi."

Kavindra menatap ke luar jendela, memandang masa depan yang penuh harapan dan tantangan. Apakah ia berhasil mencapai tujuannya? Hanya waktu yang akan menjawabnya.