Chereads / Ster-Vin / Chapter 12 - Vin Couple

Chapter 12 - Vin Couple

"Heh Rendi, ayo lanjut," seru teman-temannya.

"Kagak. Capek gue menang terus."

"Gaya bener lo."

"Kalian ga pro soalnya."

"Anak anj.."

"GILAK! Cantik bener ni cewek," seru Nino.

"Ssttt.. Berisik. Orang lagi pada makan," ketus Rendi. "Eh, emang siapa yang cantik?"

"Lah, kepo juga lu akhirnya."

"Siapa sih?"

"Nih ceweknya. Ada di explore Instagram."

"Iyaa cantik kaya Nina," ujar Rendi.

"Lah, tumben lo."

"Serius gua, cantik kaya cewek gua."

"Oh gua tau tuh cewek. Emang cantik banget tuh cewek. Dia pinter, sama jago masak juga. Adiknya tetangga gua tuh," celetuk salah satu teman mereka.

"Apaan sih cowok-cowok banyak mau kaya udah perfect aja," ketus Trisha yang tengah istirahat makan di markas Revin.

"Yeh.. Sensi amat lo. Emang kenapa kalau cowok suka cewek cantik sama pinter? Salah? Dosa?"

"Udah bro biarin aja. Cuma cewek doang yang boleh sebutin tipe pasangan. Cowok diem aja biar ga dihujat."

"Cewek gitu mungkin merasa ga cantik, ga pinter, sama ga bisa masak. Makanya ngehujat. Kalau cewek yang bisa sih mereka ga bakal panas."

Trisha memang terkenal suka buat onar dan suka memancing pertengkaran. Karena itu banyak yang geram dengannya.

"Ga usah munafik lo Trisha. Lo juga carinya cowok cakep berduit," ketus Rendi.

"Heh, gue cantik ya. Wajar lah kalau gue mau cowok ganteng sama kaya."

"Lu cantik? Emang cukup cantik doang?" Balas Nino.

"Mata lo kali yang bermasalah. Gue udah cakep gini," ketus Trisha.

"Cantik ganteng itu relatif woy. Emang cowok jelek miskin ga boleh pengen punya pasangan cantik? Lagian cuma selera. Gue ga ada maksa cewek cantik mau sama gue," balas Nino.

"Biarin aja cewek kaya dia bro. Tipenya juga tinggi tapi dia ga ngaca."

"Cewek bebas bilang mau cowok tampan mapan ga ada yang hujat. Giliran cowok bilang mau cewek cantik, pintar masak, wih... Cewek pada ngamuk kaya orang kerasukan."

"Kaum double standart sabarin aja bro. Masih banyak kok cewek yang pikirannya waras, yang ga suka ngehujat."

Trisha memukul meja karena kesal. Ia pergi meninggalkan markas.

Tak lama Revin datang karena mendengar keributan. "Ada apa nih?"

"Biasalah, si tukang cari ribut."

❄️❄️❄️

Siang itu sepulang sekolah, Nina berjalan sempoyongan menuju markas Revin. Ia mencari Rendi.

"Ren..." Panggilnya begitu kakinya menginjakkan ruangan dekat pintu masuk. Ia langsung mendudukkan diri di meja makan sambil memegangi kepalanya.

Rendi menghampiri Nina. "Nina, kamu kenapa? Kok lemes?" Tanya Rendi khawatir.

Revin ikut menghampiri Nina. "Kenapa lo Nin?"

Nina terkulai lemas sambil memeluk perut Rendi. "Ren.. Anterin pulang pakai mobil aku. Tapi, anterin Stevina dulu."

"Stevina? Dimana dia?" Tanya Revin antusias.

"Dia di mobil. Tepar juga," beritahu Nina.

"Emang kalian abis ngapain?" Tanya Revin sembari langsung berlari keluar hendak mencari Stevina.

"Kalian sebenarnya abis ngapain sih?" Tanya Rendi heran. "Kalian ga macem-macem kan?" Selidik Rendi.

Nina tidak menjawab. Rendi langsung mengambilkan sebotol air mineral untuk Nina.

Sementara di samping markas, Stevina baru keluar dari kamar mandi dengan sedikit sempoyongan. Ia hampir terjatuh tapi tangannya dengan sigap bertumpu di kap mobil Nina.

Revin yang baru keluar langsung melihat Stevina dan berlari menghampirinya.

"Stevina." Revin menangkap tubuh Stevina yang hampir roboh.

"Engga engga Revin. Gue bisa jalan sendiri." Stevina berusaha berjalan sendiri menuju mobil Nina.

Di mobil, gadis itu menoleh lemah.

"Lo kenapa?" Tanya Revin cemas.

Stevina tidak menjawab. "Tolong ambilin air di tas gue," pinta Stevina.

Revin mengambilkan sebotol air mineral untuk gadis yang ia sayangi itu. "Lo abis ngapain Stevi?" Revin resah. Ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu. "Lo.. Ga macem-macem kan? Lo ga minum kan?" Revin menyentuh pipi Stevina.

"Gue engga macem-macem," jawab Stevina lemah sebelum akhirnya ia tertidur.

Revin melepas jaket yang ia kenakan dan menyelimuti tubuh Stevina dengan jaketnya. Revin mengusap lembut kepala Stevina.

"Lo ga perlu khawatir. Ini semua cuma gara-gara durian," ujar sebuah suara.

Revin menoleh. Ternyata Nina yang berbicara. Didampingi Rendi di sampingnya.

"Durian?"

"Yap. Udah ayo pulang. Kita ga aneh-aneh kok."

"Terus kenapa bisa kaya gini?" Tanya Revin.

"Hachim..." Nina bersin seketika. "Jadi gini, kita tuh gatau kalau ternyata kita ga bisa makan durian. Kita mabuk abis makan durian."

"Hah? A.. Apa?" Rendi berusaha menyembunyikan tawanya. "Durian? Kalian makan durian dimana?"

"Tadi pulang sekolah tuh si Vani bawa durian. Abis makan, gue sama Stevina mau pulang, tapi tiba-tiba kita pusing sama mual banget."

Rendi tertawa lepas mendengar pengakuan Nina. "Padahal durian enak tau."

Revin lega mendengarnya. Tadinya ia pikir Stevina melakukan hal yang tidak-tidak.

❄️❄️❄️

Pukul lima sore Stevina terbangun dengan masih mengenakan seragam sekolah. Gadis itu bergegas ke kamar mandi.

Selesai mandi, sambil menyemprotkan vitamin rambut, ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Ia masih ingat, ternyata tadi ia dan Nina sama-sama mabuk sehabis memakan durian. Ia juga ingat kalau Revin yang membantunya saat hampir pingsan tadi.

"Hhh..." Stevina menghela napas. Ia buru-buru ke dapur karena cacing di perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.

Di meja makan, Stevina melihat sebuah bungkusan yang ternyata berisi makanan.

"Wow.." Stevina kegirangan karena isinya adalah bakso ceker dan tahu tek telur lengkap dengan kerupuk. Di kulkasnya juga terselip sebotol teh dingin.

Stevina makan sambil mengecek HP. Ternyata tadi jam 4 sore Revin mengirim pesan.

Jangan lupa makan abis bangun, jangan makan durian lagi.

Begitulah pesan singkat dari Revin. Ternyata makanan ini darinya. Stevina tidak membalasnya. Ia meletakkan ponselnya di meja makan dan langsung menghabiskan makanannya dengan lahap.

Drrttt...

HP Stevina bergetar. Sekilas ia melirik notifikasi. Ternyata Revin yang meneleponnya. Dengan ragu, tangan Stevina perlahan meraih ponselnya. Akhirnya ia mengangkat telepon dari Revin. Tapi tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia menunggu Revin yang berbicara lebih dulu.

Hai.. Gimana kondisi lo?

"Mm.. Baik."

Bagus deh. Oh ya, nanti malam, lo sibuk ga?

"Mm.. Di apartemen aja sih. Kenapa?"

Lo... mau dinner bareng ga?

Deg!

Harusnya Stevina merasa biasa-biasa saja. Tapi kali ini, anehnya ia merasa gugup.

"Em.. Boleh."

Di seberang sana, Revin tersenyum kegirangan karena Stevina menerima ajakannya.

Okey, nanti gue jemput.

Stevina mematikan sambungan telepon. Ia termenung sejenak sambil menggigit jari. Ia sendiri heran kenapa mau menerima ajakan Revin. Stevina berlari menghampiri cermin dan melihat wajahnya sendiri.

"Here we go," ucap Stevina pada dirinya sendiri.

❄️❄️❄️

"Wow.." Stevina berdecak kagum. Ia tak menyangka kalau apartemennya ternyata berjarak sangat dekat dengan restoran rooftop ini.

"Kita duduk paling ujung sana yuk," ajak Revin.

"Boleh."

"Silakan duduk tuan putri." Revin menarik kursi untuk Stevina.

"Thank you."

Stevina melihat-lihat pilihan menu. Ia mendongak ketika merasa orang yang duduk di depannya ini tengah memperhatikannya.

Dan ternyata benar. Revin memandanginya sambil senyam-senyum entah kenapa. Stevina mengangkat kedua alisnya sebagai kode untuk menanyakan ada apa gerangan.

"Gapapa. Gue suka aja liat muka lo yang cantik natural." Revin mencubit pipi Stevina dengan tidak manusiawi.

"Revin sakit!"

"Vin. Gue mau ngomong serius." Raut wajah Revin seketika menegang.

"Serem banget ekspresi lo."

"Dengar baik-baik Stevina. Ini cukup penting. Ingat, ini penting."

"Apaan?"

"Denger baik-baik. Dan tetap konsentrasi."

Stevina terkekeh. "Okey."

Revin menarik napas panjang "Tanpa mascara, bulu mata lo lentik menawan. Tanpa pensil alis, alis lo tetap anggun. Tanpa lipstik, bibir lo merah menggoda. Tanpa eyeliner, pandangan mata lo udah bisa meluluhkan hati gue."

Stevina tertawa kecil mendengarnya.

"...dan tanpa.. Tanpa.. Tanpa.. Aduh gue lupa. Apa ya namanya?" Revin berusaha mengingat-ingat.

Stevina tertawa. "Tanpa..?"

"Pemerah pipi apa sih namanya?"

"Ohh.." Stevina tertawa renyah. "Blush on?"

"Ahh itu dia." Revin menepuk jidatnya. "Aduh... Gue udah hapalin tapi lupa lagi. Ahhh gagal gue." Revin tampak kecewa. "Tapi boleh lanjut gak?"

Stevina mengangguk.

"Dan tanpa blush on, pipi lo yang menggoda itu, buat gue pengen cium."

Stevina tersenyum menunjukkan eye smile indahnya sambil refleks menyentuh pipinya. "Lo lucu Revin," goda Stevina sambil tersenyum manis. Ia tak mau kalah dari Revin.

Revin menarik tangan kanan Stevina dan menciumnya berkali-kali.

"Revin.. Rame loh di sini."

"Biarin dunia tau kalau gue sayang sama lo."

Stevina menunduk malu.

Revin mengangkat tangannya. Dua orang penyaji makanan datang sambil membawa baki makanan. Dan satu orang lagi membawa mini chocolate fountain.

Stevina bingung. Kenapa makanan sudah datang selagi ia dan Revin masih belum memesan makanan.

"Okey. Makasi," ujar Revin. Dua penyaji itu tersenyum simpul dan berlalu pergi.

"Ini dessert restoran? Memang disajiin lebih awal?"

"Stevina, buka tudung sajinya," perintah Revin.

Stevina melirik tudung saji stainless yang pinggirannya dihiasi dengan pink roses.

Stevina speechless ketika melihat apa yang ada dibalik tudung saji itu.

Tiramisu cake with whipping cream!

Diramaikan oleh strawberry berukuran besar yang mengitari kue itu. Whippy cream di atas kue membentuk lekukan bertuliskan,

'Can We be Vin Couple?'

Stevina melempar pandangan ke arah Revin yang tengah menatapnya.

"Kalau boleh, lo ambil strawberry itu. Terus celupin ke chocolate fountain, terus lo gigit."

"Kenapa gue harus lakuin itu?"

"Kalau lo lakuin itu, artinya.. Gue resmi.." jeda Revin. "Jadi pacar lo," tutupnya.

"Hhmm.." Stevina memandangi chocolate fountain di sebelah kanannya. Ia melempar tatapan ke arah Revin dengan durasi sekitar sepuluh detik. Menatap wajah Revin sambil berpikir sejenak. Cara Revin menembaknya memang lain daripada yang lain. Tanpa pikir panjang lagi, ia melakukan apa yang Revin harapkan.

Stevina tengah sibuk mengunyah strawberry. "Em.. Manis," rayu Stevina.

Mata Revin berbinar seketika. Senyumnya melebar memperlihatkan deretan giginya.

"Artinya, lo mau?"

Stevina mengangguk mantap.

Revin menyentuh pipi Stevina, kemudian beranjak bangun dari kursinya dengan penuh antusias.

Stevina kebingungan. Lelaki berjaket kulit hitam dengan headband biru di kepalanya itu hendak pergi kemana?

Revin sedikit berlari menuju panggung kecil restoran. Revin memberi kode. Seseorang datang menghampirinya dan menyodorkan sebuah gitar.

Dari kejauhan, Revin menatap Stevina. Jemarinya mulai memetik senar gitar. Disusul oleh warna suaranya yang khas.

Stevina terenyuh mendengarnya. Ternyata Revin menyanyi untuk menghiburnya. Suara Revin membuat sore harinya terasa hangat. Lagu Girls Like You yang ia bawakan membuat beberapa pengunjung mulai fokus memandanginya.

Jantung Stevina berdebar ketika Revin mendekatinya. Lelaki itu kini berdiri tepat di hadapannya. Bersiap mempersembahkan chorus lagu Maroon 5 itu.

Cause girls like you.... Run 'round with guys like me

'Til sun down when i come through...

I need a girl like you yey yey yey...

Pengunjung bertepuk tangan heboh usai Revin bernyanyi.

Stevina beranjak bangun begitu Revin berhenti bernyanyi. Ia menatap lekat-lekat mata lelaki yang dulu ia anggap hanyalah parasit yang akan ia abaikan selama masa SMA-nya di Vrekodara. Tapi sekarang, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ternyata ia jatuh hati dan menjadi pacar Revin. Lekaki yang tidak pernah menyerah untuk mendekatinya.

Revin mencium tangan kanan Stevina yang lembut itu. Pengunjung lain bertepuk tangan dan bersiul melihat pasangan baru itu. Menciptakan rona merah bak udang rebus di kedua pipi Stevina.

Revin sendiri, dalam hatinya tengah bergetar hebat. Ternyata segala usahanya untuk menjadi pacar Stevina, hari ini membuahkan hasil yang ia harapkan.

❄❄❄

Rambut yang berterbangan akibat laju moge hitam Revin, membuat Stevina merasa seperti melayang.

"Peluk dong. Nanti jatuh."

"Kalau aku jatuh emang ga berhenti buat nolongin?"

"Mending peluk aku. Daripada jatuh terus luka," rayu Revin.

"Iya iya." Masih malu-malu, Stevina melingkarkan kedua tangannya.  Revin melirik tangan Stevina yang memeluknya. Akhirnya saat yang ia tunggu-tunggu, terjadi juga hari ini. Senyum setengah terukir di wajah Revin.

Di malam sepi itu, jalanan serasa milik berdua. Stevina melihat pemandangan malam kota Jakarta, dengan kepalanya yang bersandar di tubuh Revin sambil menikmati indahnya suasana malam. Dan juga, indahnya suasana hatinya saat ini.

Stevina dapat mengendus aroma harum pacarnya itu. Entah tubuhnya, jaket kulitnya, atau rambutnya yang memang harum, Stevina tidak peduli. Yang ia tahu, ia hanya jatuh cinta dengan aroma itu. Aroma yang sanggup membuatnya betah berlama-lama memeluk Revin.

❄❄❄

"Lo lagi, lo lagi! Lo memang pakarnya masalah keterlambatan ya?!"

Stevina ingat OSIS itu. OSIS yang sama yang memarahinya saat pertama kali ia telat.

"Kak, biar Nina aja yang urus."

"Yaudah, silakan."

"Stevina, ikut gue ya," pinta Nina.

Stevina mengangguk. Ia pasrah saja menjalankan hukuman yang akan ia hadapi. Hari ini, ia telat datang. Bukan kedua kali, bukan juga yang ketiga kalinya. Ia murid yang paling sering datang terlambat. Bahkan ia bisa saja menjadi pemecah rekor di SMA Vrekodara untuk urusan keterlambatan.

Stevina dibawa ke ruang OSIS. Apa ia akan ditugaskan untuk membersihkan ruang OSIS?

"Gue tinggal ya." Nina berlalu pergi begitu saja.

"Eh.. Bentar.. Nina.." Stevina kebingungan. Kedua bola matanya menyorot setiap sudut ruang OSIS dan bertanya-tanya apa yang harus ia bersihkan di ruangan sebersih ini.

"Oh.. Jadi ini murid yang suka telat itu?" Terdengar sebuah suara berat.

Stevina menoleh ke sumber suara.

Revin tiba-tiba berdiri di belakang Stevina. Entah darimana datangnya. "Revin?" Kedua bola mata Stevina berbinar senang mendapati Revin ada di sana.

"Coba kamu jujur. Kenapa suka telat?" Revin mengacak-acak rambut Stevina.

"Emm.. Kebablasan. Aku kesusahan bangun pagi," akunya singkat.

Revin terkekeh . "Yaudah. Kalau gitu kita tidur bareng aja. Aku yang bangunin kamu supaya ga telat. Hehe.."

"Revin!" Stevina mencubit lengan Revin.

"Ampun-ampun."

"Jadi.. Hukumanku apa ketua OSIS?" Stevina menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi sok menantang.

"Hukumannya, jalan-jalan pulang sekolah nanti. Kita nonton bareng."

Stevina terkekeh.

Revin melingkarkan kedua lengannya di pinggang Stevina. Tatapan lembutnya selalu setia memandangi Stevina. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di leher Revin.

"Jadi hukumannya diterima kan?" Goda Revin.

"Aku terima. Tapi kamu harus kasi aku hukuman juga dong."

"Enggak. Kamu balik aja ke kelas. Aku ga tega hukum pacarku."

"Jangan gitu ih. Kamu harus adil dong Revin. Kalau kamu ga mau kasi aku hukuman, aku ga mau temenin kamu nonton."

Revin mendekap Stevina. "Kalau gitu izinin aku buat nemenin kamu. Aku mau bantuin kamu."

"Kaya waktu aku pertama kali dihukum?"

"Iyaa. Boleh kan?"

"Okey. Boleh."

Dari balik pintu, Nina mendengar semuanya. Niatnya untuk memasuki ruang OSIS batal karena takut merusak momen romantis pasangan baru itu. Nina tersenyum senang sambil berlalu pergi.

❄️❄️❄️

Siang itu di halaman sekolah, tengah ramai murid-murid berkumpul.

"Kalian ga mikir perasaan dia? Gue ga habis pikir deh. Apa ga ada rasa kasian sedikitpun di hati lo itu?!" Seru Nina.

"Oh iya lupa. Gimana kalian mau mikir, otak aja ga punya. Kalau rasa kasian.. kayanya kalian juga ga punya hati deh," imbuh Nina.

Teman-teman menatap Nina dengan bingung.

"Gini deh. Kalau kalian mau bakar dia, bakar gue sekalian. Ga ada gunanya gue hidup tanpa dia," ujar Nina lantang.

"Jangan gitu. Ini salah aku udah ngajak kamu mencuri. Udah kamu pulang aja. Demi aku," pinta Rendi.

"Aku engga akan ninggalin kamu di sini. Orang tuaku aja ngebuang aku. Mereka ga sayang sama aku. Di dunia ini siapa lagi yang sayang sama aku kalau buk.. an.. ka.. mu.."

"Ahahahaa..." Tawa Nina sambil berjongkok.

"Cut...!!! Heh lo kenapa ketawa Nin? Tadi ekspresi lo udah dapet. Argh.. ulang-ulang!" Seru Vani.

"Ya maaf. Mana pernah kuat gue nahan tawa kalau lagi akting. Udahlah, maklumi gue bukan aktor," bela Nina.

"Woy, siapa nih yang buat script? Kurangajar gue jadi dibuat bucin," seru Rendi.

"Gue juga woy. Di dunia nyata mana rela gue mati demi Rendi," sergah Nina. "Bisa diganti ga sih script-nya?"

"Siapa yang mau buat ulang heh! Lu mau buat ulang Nin?" Celetuk Vani.

"Maaf diri ini tidak berbakat," ujar Nina.

Siang itu Stevina dan teman kelasnya sedang latihan untuk tugas drama Bahasa Indonesia.

Stevina sibuk membaca naskah sambil menunggu gilirannya untuk tampil.

"Stevina, dicariin tuh sama Revin," beritahu Vriska.

"Dimana dia?"

"Dia nunggu lo di kelas."

Stevina langsung berlari menuju kelas. Sampai di sana, hanya ada Revin sendiri.

"Revin," panggil Stevina.

Revin tengah memakai jaketnya.

"Kamu mau kemana?" Tanya Stevina.

"Hari ini aku bareng OSIS lainnya mau ngirim surat ke sekolah lain. Aku minta maaf ga bisa temenin kamu sampai selesai latihan."

"Iyaa gapapa Revin."

Revin mengeluarkan sesuatu dari kolong bangkunya. "Ini buat kamu." Revin membelai kepala Stevina. "Aku pergi dulu ya."

"Iyaa hati-hati Revin."

Stevina membuka bungkusan pemberian Revin. Isinya ada camilan, minuman, dan makan siang yang dibungkus kertas minyak. Stevina tersenyum senang. Kebetulan ia sudah sangat lapar.