Chereads / Levita in Lorin / Chapter 3 - Arrow to The Apple

Chapter 3 - Arrow to The Apple

Kali ini Pak Wodin hanya sendiri saat aku kembali dari WC. "Pak Markus mohon diri untuk melanjutkan penelitiannya tentang karya sastra kuno yang baru saja ditemukan di dekat-dekat sini," Pak Wodin menjelaskan saat melihat kebingunganku. Syukurlah. Aku sempat mengira telah berbuat sesuatu yang mungkin membuatnya tersinggung. 

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri sebuah lorong yang dihiasi berbagai macam ornamen dan ukiran yang, setelah kuperhatikan, sepertinya dari luar negeri. Di ujung lorong, terlihatlah sebuah aula yang sangat luas. Aku terpaku menatap aula yang kuperkirakan bisa menampung sekitar 1000 orang. Dinding aula itu dihiasi berbagai macam lukisan dan tulisan yang sepintas menyilang namun menyatu dengan sangat indah sampai ke langit-langit yang dinaungi atap transparan membuatku bisa melihat pemandangan langit biru jernih tepat diatasnya. Sungguh belum pernah kulihat aula semegah ini di sekolah manapun.

"Pak Kevin, guru seni kami, kadang melakukan pembacaan puisi atau menceritakan tentang sejarah sekolah kami di aula ini. Pameran hasil karya para siswa yang sangat berbakat di bidang seni juga biasa diadakan di sini pada periode tertentu.  Anda suka karya seni?" Pertanyaan pertama dari Pak Wodin selama kami melakukan tur di sekolah ini.

"Hmmm, kadang-kadang saya suka ke museum. Dulu sering, tapi sekarang sudah jarang," jawabku. Aku jadi teringat masa-masa sekolah dulu, saat aku cukup sering mengunjungi museum bersama seorang teman. 

"Di sini anda akan sering melihat, mendengar, bahkan menonton pertunjukan seni. Semoga Anda suka." Pak Wodin beranjak ke arah luar aula.

Aku melangkah di belakang Pak Wodin. Tepat ketika langkahku menginjak lantai terakhir aula, angin berhembus sangat dekat di dekat telinga kiriku, diiringi suara bagaikan pisau yang memotong udara. Aku mematung. APA ITU? Ucapku dalam hati. Belum sempat aku menengok ke arah kiri, terdengar Pak Wodin tertawa dan berkata. 

"Tembakan bagus, Silvy. Hati-hati salah sasaran."

Kulihat seorang gadis berambut pirang yang tinggi semampai berjalan dengan gagah ke arah kami. Tatapan matanya tajam namun ramah. Dengan penuh hormat, siswi yang dipanggil Silvy oleh Pak Wodin  itu memberi salam dengan membungkukkan badan dan menyilangkan tangan kanannya ke dada.

"Salam, Pak Wodin. Maaf hari ini latihan panahan saya…banyak meleset, heheee." Silvy menjawab sambil memandang sekitarnya. 

Aku mengikuti pandangan mata Silvy, dan…astagaaa! Banyak sekali anak panah menancap di tembok luar aula, termasuk satu yang tepat di tembok dekat telinga kiriku. Jadi…tadi itu suara…anak panah melesat? Aduh, sekolah apa iniiii? Kenapa membiarkan murid berlatih panahan sembarangan? ujarku setengah berteriak dalam hati.

"Lihat, Miss Levita, guru baru kita, sampai pucat. Lain kali berlatih indoor saja, " Pak Wodin berkata sambil, secara tidak langsung, memperkenalkanku kepada Silvy.

Silvy membungkukkan badannya penuh hormat ke arahku, lalu berkata,"Maafkan saya ya, Miss Levita. Area panahan indoor sedang digunakan Viktor untuk berlatih dengan senjata barunya, Pak. Jadi saya berlatih di sini. Saya pikir tidak akan ada yang kesini karena masih pagi."

"Hmmm, begitu. Baiklah, silakan lanjutkan latihan tapi jangan gunakan senjata di luar ruangan," Pak Wodin berkata dengan lembut namun tegas. 

Aku mengangguk kepada Silvy sebelum kembali melanjutkan tur sekolah bersama Pak Wodin. 

"Itu tadi Silvy Finalea dari Kelas Ace, salah satu atlet terbaik sekolah kami. Spesialisasi utamanya adalah wushu dengan senjata pedang, tapi mungkin kali ini dia sedang bosan dan ingin mencoba berlatih dengan senjata lain." Pak Wodin  menjelaskan sambil terus berjalan.

Luar biasa. Seorang atlet wushu putri yang mahir menggunakan pedang. Belum pernah aku bertemu dengan murid seperti ini sebelumnya. Lalu Viktor yang disebut Silvy barusan, apakah itu siswa yang membuat suara dentuman menggelegar seperti halilintar saat aku baru datang?  Membuatku penasaran saja. 

Kami mulai memasuki sebuah jalan setapak saat sebuah aroma harum menusuk hidungku. Kupejamkan mata untuk menikmati sekaligus berusaha mengenali apa yang bisa menghasilkan aroma sewangi ini. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadarinya, berhubung ini memang salah satu buah kesukaanku; apel. Apakah ada pohon apel di sekitar sini? Pak Wodin membawaku melewati sebuah gerbang dan, seolah menjawab pertanyaanku, sebuah kebun dengan banyak sekali pohon apel terbentang sejauh mata memandang. "Wow…,"ujarku dengan mulut terbuka lebar. Apel-apel tersebut tidak hanya wangi, tapi juga memiliki aneka macam warna mulai dari merah, hijau, kuning dan emas. Sebentar, apel kuning dan emas? Bagaimana bisa?

Pak Wodin hanya tersenyum melihat ekspresi wajahku, sebelum mulai  menjelaskan, "Kebun ini sebenarnya  tempat praktikum untuk belajar menanam buah-buahan. Hanya saja sejak kebun ini berdiri, tak seorangpun yang berhasil menumbuhkan buah dengan efektif…kecuali satu siswi. Hasilnya adalah pohon-pohon apel yang sekarang Anda bisa lihat sendiri. Hebat sekali, bukan?" 

Bertepatan dengan berakhirnya penjelasan Pak Wodin, terdengar suara senandung ceria seorang gadis. "Dan sepertinya siswi yang saya ceritakan barusan sedang di lokasi," tambahnya. 

"Oh, Pak Wodin. Selamat datang!" seorang siswi dengan pakaian berkebun yang cantik muncul dari balik salah satu pohon apel dan memberi salam seperti yang Silvy lakukan sebelumnya. Wajahnya tampak cerah tersapu sinar matahari pagi. Matanya yang bulat memancarkan kecerdasan yang tidak dapat ditutupi. Senyum cerianya membuat suasana kebun ini semakin menyenangkan. Rambutnya rapi dikepang dua. Tangan kanannya memegang sebuah galah sementara tangan kirinya menjinjing sekeranjang apel berwarna warni.

"Selamat pagi, Isabella. Kita kedatangan tamu spesial hari ini. Perkenalkan guru baru yang akan bergabung dengan sekolah kita, Ms. Levita Natsir." Bapak Wodin memperkenalkanku kepada siswi bernama Isabella itu.

"Senang bertemu dengan…Isabella?" Aku menundukkan kepala dan menyilangkan tangan kananku seperti yang dilakukan Silvy dan Isabella. Sepertinya itu cara mereka memberi salam.

"Betul, Ms. Levita Natsir. Saya Isabella Dunalestari dari kelas Ace, siswi yang hobi berkebun. Salam kenal. Senang bertemu Ms. Natsir. Nanti kita belajar apa dengan Ms. Natsir?" Isabella sungguh siswa yang sangat ceriwis.

"Hahahaha, sabar dulu, Isabella. Tunggu saja nanti di kelas, kamu akan tahu belajar apa dengan Ms. Natsir." Bapak Wodin  tertawa mendengar rentetan pertanyaan Isabella.

"Tenang saja, Pak. Bapak tahu saya tidak pernah bolos kelas. Ms. Natsir, apa kita akan langsung belajar hari ini?" Isabella bertanya dengan penuh semangat.

Aku tersenyum menjawab pertanyaan Isabella."Sepertinya kamu harus sabar dulu, karena saya juga belum dapat jadwal mengajar dari Pak Wodin. Belum lagi saya banyak yang masih perlu saya ketahui tentang sekolah ini. Tapi saya akan merasa sangat senang bila diberi kesempatan mengajar siswi dengan rasa ingin tahu sebesar dirimu, Isabella."

"Tentuuuu! Selain belajar berkebun, aku juga suka memasak. Mang Ardrim kemarin mengajariku membuat apple pancake, apple ale, dan apple soup. Aaah ya, aku suka belajar bahasa juga. Kemarin Bram mengajariku bahasa baru yang dipelajari dari teman onlinenya. Bonjour. Comment allez-vous, mademoiselle? Itu lirik lagu baru Bram yang dia buat pagi ini. Bram pandai sekali membuat lagu. Oh ya, Ms. Gyna mengajariku mendesain dan menjahit baju. Ini hasilnya: baju berkebun  baruku. Bagus kan, Miss?"

Jujur saja, baru kali ini aku bertemu murid dengan kemauan belajar disertai kemampuan berbicara seperti Isabella. Tambah lagi dia terlihat begitu terbuka kepada orang sepertiku yang baru hari ini dia kenal. Itulah kenapa aku memutuskan bertanya tentang apel-apelnya; sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan. 

"Nah, kalau begitu, boleh tahu gimana cara kamu menumbuhkan apel-apel yang berwarna kuning dan emas?" 

"Hmmm…Itu….rahasia, hehehe. Sampai jumpa, Ms. Natsir. Welcome and enjoy your tour, " Isabella tersenyum sebelum berlari kecil dan menghilang di balik sebuah pohon apel.

Jawaban itu seketika mengubah ekspresi wajahku yang tadinya senang menjadi sedikit kecewa. Isabella yang begitu ceriwis tentang berbagai hal sepertinya tidak suka bila ada yang bertanya tentang rahasia apelnya. 

"Saya bisa paham kalau Anda terkejut. Bahkan saya, para guru, staf sekolah dan seluruh siswa di sini tidak ada yang pernah tahu bagaimana Isabella menumbuhkan apel-apel itu, terutama yang berwarna kuning dan keemasan. Ketika panen pun, hanya Isabella yang bisa memanennya. Siswa junior dan yang satu kelas dengannya diberikan apel hijau, siswa senior diberikan apel merah, staf sekolah diberikan apel kuning, dan para guru diberikan apel emas," Pak Wodin menjelaskan dengan nada menghibur sebelum mengajakku kembali melanjutkan tur. 

Sepanjang perjalanan melewati pohon-pohon apel yang  terawat dan menghasilkan buah yang menyejukkan mata, sejumlah pertanyaan muncul di benakku. Bagaimana mungkin hanya satu siswi yang mampu menangani kebun  seluas ini? Kenapa Isabella seolah tidak mau ada yang mengetahui rahasianya? Belum lagi tiga siswi di WC yang jujur saja, masih membuatku merinding. 

Dibalik semua kemegahan yang kasat mata, Aster Biru sepertinya menyimpan segudang misteri…