Shazia masih cemberut, mulai masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Tak sampai lima menit, ia kembali membuka pintu kamarnya dan kembali merebahkan tubuhnya di ruang tamu. Bryan yang merasa bingung langsung membangunkan tubuhnya dan mencoba untuk menenangkan Shazia.
"Adik, kenapa wajahmu masih terlihat cemas seperti itu?"
"Kakak, pikiranku tidak bisa tenang karena memikirkan masalah ini. Ini pertama kalinya. Eh, kedua kalinya ada yang berani membuat berita miring terhadap diriku. Bagaimana mungkin aku bisa tenang memikirkan ini, Kak?" Shazia langsung membangunkan tubuhnya.
"Iya, aku tahu. Tapi, sudahlah, Adik. Kamu—"
Suara bel dari pintu berbunyi. Bryan langsung menghentikan ucapannya dan mencoba melihat siapa yang sudah berani memencet bel semalam ini. Ia langsung menghembus nafasnya panjang setelah melihat Harshad dan Freya dari kamera pengawas. Ia kembali melangkahkan kakinya untuk mendekati Shazia.