Elsa pov
Kami semua mengikuti Falco pergi ke tempat Arvin berada. Borgol di tangan RJ juga masih terpasang, ini seperti dia menjadi tawanan kami. Kami semua berjalan menuju ke tengah hutan selama sekitar 10 menit sebelum akhirnya kami melihat sebuah bangunan modern yang berdiri sendiri di tengah hutan. Saat kami sampai di depan pintu bangunan itu, kami mendengar suaranya Arvin dari pengeras suara.
Arvin:"terima kasih sudah repot repot mengantarkan RJ, sekarang kalian boleh pergi"
Fian:"Arvin, kami ingin bicara padamu, cepat buka pintunya"
Arvin:"tapi sayangnya Fian, aku tidak mau bicara dengan kalian"
Setelah mendengar itu Adzim terlihat murung, sebenarnya dia sudah terlihat seperti itu semenjak kami membahas tentang kebakaran itu di markas.
Adzim kemudian menepuk kedua pipinya lalu mencoba tersenyum. Falco kemudian meretas pintu itu agar terbuka, saat sudah terbuka, kami melihat sebuah ruangan yang cukup panjang di penuhi dengan jebakan, dan diujungĀ ruangan itu ada sebuah pintu yang tertutup.
Arvin:"bukankah sudah kubilang pada kalian untuk pergi?"
Arvin:"jika kalian memang ingin bicara denganku, kalian harus melewati seluruh jebakan itu terlebih dahulu"
Adit:"apa kamu tidak lihat? RJ ada bersama kami, bisa bisa dia juga ikut terluka"
Arvin:"sepertinya kamu lupa kalau dia juga tinggal disini"
Falco:"apakah kalian sudah selesai bicara?"
Setelah Falco mengatakan itu, tiba tiba listrik di tempat ini mati untuk beberapa saat dan kemudian kembali menyala. Saat sudah menyala, tiba tiba Falco menghilang. Tapi anehnya Adzim tetap diam dan tidak mencarinya, aku mulai benar benar khawatir dengan keadaanya Adzim. Tak lama kemudian, pintu di ujung ruangan mulai terbuka, dan kami segera menuju kesana. Saat kami berlari, aku melihat Adzim masih saja diam.
Elsa:"Dzim, kenapa kamu diam saja? Kita harus segera ketempatnya Arvin"
Adzim:"huh uh ya"
Adzim lalu berlari menyusul kami, saat kami masuk ke ruangan itu, kami melihat Falco sudah ada disana dan dia menodong Arvin dengan pistolnya dan Arvin mengangkat kedua tangannya.
Arvin:"baiklah kalian menangkapku, jadi apa yang mau kalian bicarakan?"
Fian:"kami sedang mengumpulkan orang orang..."
Arvin langsung menghentikan perkataannya Fian.
Arvin:"aku tidak ikut"
Tetron:"kenapa?"
Arvin menatap Adzima dengan penuh kebencian, sedangkan Adzim hanya menunduk diam.
Arvin:"aku tidak mau satu kelompok dengan pembunuh"
Dwiyan:"bukankah kamu sendiri juga pembunuh? Jester"
Arvin:"owh jadi kalian tau tentang itu, tapi semua itu adalah palsu, aku sendiri yang membuat berita itu"
Arvin:"aku tidak pernah benar benar menyakiti seseorang"
Arvin:"tidak seperti..."
Troublemaker:"Arvin cukup"
Arvin:"woah, aku heran kenapa kalian memihak Adzim"
Adzim:"berhenti"
Aku mendengar Adzim berbicara, tapi dengan nada yang sangat pelan.
Arvin:"apa kalian lupa siapa yang menyulut kebakaran itu"
Adzim:"Arvin, berhenti"
Adzim kembali bicara dengan nada pelan, dia juga masih berusaha untuk tersenyum.
Arvin:"apa kalian lupa, siapa yang membuat sahabat kita yang berharga kehilangan nyawanya?"
Adzim:"ku mohon berhenti"
Artha:"Arvin, cukup itu bukan salahnya Adzim"
Arvin:"benarkah? Lalu salah siapa?"
Adzim:"kumohon diamlah"
Adzim sudah tidak bisa mempertahankan senyumnya dan mulai menangis.
Arvin:"jika Adzim tidak ada disana, pasti kebakaran itu tidak akan terjadi"
Adzim:"tutup mulutmu"
Adzim bicara dengan nada yang sedikit lebih tinggi, dia juga membuat sebuah pisau es di tangan kanannya.
Arvin:"kalau saja Adzim tidak terjebak dalam kebakaran itu, Fadli pasti sekarang masih hidup"
Adzim:"KUBILANG DIAMLAH, TUTUP MULUTMU! "
Adzim langsung berlari kearah Arvin dan sepertinya dia berniat untuk menusuk Arvin dengan pisau esnya. Kami terlambat untuk menghentikan Adzim, untung saja, ada Falco diantara Adzim dan Arvin. Falco berbalik kearah Adzim dan langsung memeluknya, dan hal itu membuat pisau yang dibawa Adzim menusuk tepat ke dada Falco. Adzim yang menyadari itu langsung menghilangkan pisaunya, dan meminta maaf sambil menangis hingga badannya gemetar.
Adzim:"maaf Falco maaf maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, maaf, maaf, maaf"
Falco memeluk Adzim semakin erat.
Falco:"tak apa Dzim, berhentilah menangis, aku baik baik saja"
Adzim lalu membalas pelukannya Falco.
Arvin:"ha! Kalian lihat sendiri kan? Kalau dia bukan pembunuh, seharusnya dia tidak akan marah seperti itu"
Arvin:"tapi ini sangat ironis, Fadli menyelamatkan Adzim karena dia menyukai Adzim, dan sekarang, Adzim malah mesra mesraan dengan pria lain"
Arvin:"dasar tidak punya hati"
Para Troublemakers dan beberapa cowok yang lain sudah tidak bisa mengendalikan amarah mereka dan berniat menyerang Arvin, tapi untunglah kami masih bisa menahan mereka.
Fian:"ARVIN, ITU SUDAH KETERLALUAN, CEPAT MINTA MAAF KE ADZIM! "
Tapi Arvin diam saja, Falco yang masih memeluk Adzim, menoleh kearah Arvin, dan entah kenapa saat itu kami semua langsung menjauh dari Falco, bahkan para cowok yang marah juga ikut menjauh, dan Arvin sampai jatuh dari kursinya.
Falco kemudian menghela nafasnya.
Falco:"Arvin, kamu sudah keterlaluan"
Falco:"dan juga berhentilah untuk kecewa pada dirimu sendiri"
Arvin:"apa maksudmu kecewa pada diriku sendiri?"
Falco:"aku memang tidak tau seberapa dekat kamu dengan Fadli, tapi aku tau, saat kamu mendengar kalau Adzim terjebak di dalam kebakaran sebenarnya kamu ingin masuk dan menyelamatkan dia bukan?"
Falco:"meskipun begitu tubuh kamu tidak mau bergerak, lalu ketika Fadli masuk dan menyelamatkan Adzim, bahkan ketika Fadli terjebak, kamu masih saja diam"
Falco:"kamu terlalu takut untuk bergerak, dan pada akhirnya kamu menyesalinya, kamu menyesali kelemahanmu sendiri"
Falco:"kamu kecewa kepada dirimu sendiri dan mulai menyalahkan orang lain untuk itu"
Falco:"berhentilah berlari dan cobalah untuk menerima kenyataan"
Arvin:"huh apa apaan omong kosong itu, jangan bicara seolah olah kamu mengenalku, kamu tidak tau apapun tentangku"
RJ:"tidak, dia benar"
Arvin:"RJ?"
RJ:"Falco benar, sepertinya sudah terlalu lama kamu berlari"
RJ:"aku rasa ini sudah waktunya untuk kamu menerima kenyataan, kamu harus mulai mencoba mempercayai orang lain lagi"
Arvin langsung tertunduk dan RJ mendekatinya, lalu dia jongkok di depan Arvin.
Arvin:"aku tau itu, aku sudah sering memikirkannya, tapi aku tidak bisa"
RJ:"kamu bukannya tidak bisa, tapi kamu tidak mau mencoba"
Arvin lalu menatap wajah RJ.
RJ:"pikirkanlah baik baik, dan apapun pilihanmu aku akan selalu berada di sisimu"
RJ lalu tersenyum, dan Arvin membalas senyumannya.
Arvin:"terima kasih RJ"
Arvin lalu berdiri dan berjalan kearah kami.
Arvin:"teman teman, aku minta maaf, aku benar benar minta maaf karena aku sudah bertingkah brengsek"
Veri:"tak apa Vin, kami tau perasaanmu kok, kami juga merasa begitu"
Fian lalu tiba tiba memukul Arvin sampai Arvin terperosok.
Fian:"sekarang aku sudah lega"
Fian dan para Troublemakers lalu membantu Arvin untuk berdiri.
Adit:"selamat datang kembali kawan"
Arvin lalu berjalan kearah Falco dan Adzim. Falco sedikit melemaskan pelukannya.
Arvin:"Adzim"
Adzim:"MENJAUHLAH! "
Kami terkejut melihat Adzim kembali berteriak. Adzim bahkan tidak menoleh dan tetap memeluk Falco. Arvin mencoba untuk meminta maaf lagi.
Arvin:"Dzim, aku mau minta ma....."
Adzim:"MENJAUHLAH! , JANGAN MENDEKATI KAMI! "
Arvin menghela nafasnya lalu kembali ketempat kami.
Arvin:"sepertinya masih mustahil untuk minta maaf pada Adzim"
Ryan:"ya itu salahmu sendiri sih"
Arvin:"aku tau itu"
Kali ini Qori yang mencoba untuk mendekati Adzim.
Qori:"Dzim"
Adzim:"SUDAH KUBILANG JANGAN MENDEKATI KAMI!"
Adzim lalu membuat penghalang dari es yang tembus pandang dan memisahkan kami dari mereka.