Download Chereads APP
Chereads App StoreGoogle Play
Chereads

The Lurking Threshold

Zyxd4
21
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 21 chs / week.
--
NOT RATINGS
181
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - Chapter 01: The Return of the Architect

Langit malam tampak retak, seperti kaca yang dihantam sesuatu dari dalam. Retakan itu menyebar dengan lambat, membentuk pola yang tidak seharusnya ada, memancarkan kilauan yang bukan berasal dari bintang. Kota Ravencroft bergetar—bukan secara fisik, melainkan dalam cara yang lebih mengerikan, seolah-olah keberadaannya sendiri dipertanyakan oleh sesuatu di luar batas pemahaman manusia.

Di tengah kehampaan yang menganga di atas dunia, seorang wanita melangkah keluar dari bayang-bayang realitas.

Matanya ungu, bercahaya samar seperti kilasan amethyst dalam gelap. Rambutnya hitam pekat, seakan menyerap cahaya di sekelilingnya, jatuh lurus hingga melewati pinggang. Jas gothic hitam yang ia kenakan menyatu dengan tubuhnya seperti kabut malam, dengan detail renda dan rantai perak yang menggantung di pinggangnya.

Valeria Nacht telah kembali.

Di belakangnya, kehampaan bergetar sekali lagi, lalu melahirkan sosok kedua.

Seorang pria melangkah keluar dengan keanggunan yang nyaris tidak manusiawi. Rambutnya emas, berpendar lembut dalam temaram. Matanya biru, lebih sadar akan kehadirannya di dunia ini. Ia mengenakan jas gothic yang serupa, dengan hiasan brokat keperakan yang membentuk simbol-simbol yang tidak bisa dikenali oleh manusia biasa.

Magnus Crowley, sang Penjaga Waktu.

Mereka berdiri di atas balkon tertinggi Menara Obsidian, memandang kota yang masih berdenyut dengan kehidupan fana, tak menyadari bahwa realitas mereka nyaris runtuh.

Magnus memecah kesunyian.

"Kau kembali."

Valeria menoleh perlahan, bibirnya melengkung dalam senyum samar yang tak menyentuh matanya.

"Tentu saja."

"Delapan ratus tahun bukan waktu yang sebentar."

"Waktu itu ilusi, Magnus. Aku hanya pergi sebentar… atau mungkin selamanya. Sulit membedakan keduanya."

Magnus mendengus, tetapi tak mengatakan apa-apa lagi. Ia tahu Valeria tidak pernah berbicara secara langsung.

Udara di sekitar mereka tiba-tiba berubah—bukan menjadi lebih dingin atau lebih panas, melainkan lebih padat. Cahaya di sekeliling mereka mulai memudar, ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat. Dari dalam bayangan yang merayap di ujung balkon, sebuah siluet terbentuk.

Seorang pria tinggi muncul, mengenakan mantel panjang berwarna hitam, hampir menyerupai jubah pendeta yang telah terbakar setengahnya. Matanya hitam sepenuhnya, tanpa iris atau pupil, seperti dua lubang ke dalam kehampaan.

Alistair Graves.

Sang Pengamat Agung.

"Kau kembali," katanya tanpa ekspresi.

Valeria mengangguk pelan.

"Kau pikir aku akan tetap menghilang?"

Alistair tidak menjawab. Matanya meneliti Valeria dengan cara yang aneh, seolah mencoba memahami sesuatu yang tak kasat mata.

"Ketidakhadiranmu menciptakan ketidakseimbangan," katanya akhirnya. "Entitas-entitas yang seharusnya tetap tersegel mulai bergerak. Batas antara realitas dan kehampaan mulai menipis. Dunia ini… menjadi rapuh."

Valeria mengangkat bahu, seolah itu bukan masalahnya.

"Aku hanya satu dari banyak arsitek di dunia ini, Alistair. Tidak mungkin semuanya bergantung pada keberadaanku."

Alistair menajamkan tatapannya.

"Tidak. Tapi kau adalah satu-satunya yang memahami batas antara eksistensi dan ketiadaan. Tanpamu, batas itu mulai memudar."

Magnus menoleh ke arah Valeria, ekspresinya datar tetapi matanya penuh pertanyaan.

"Itulah sebabnya kita kembali. Kita tahu ada yang salah," katanya.

Alistair menggeleng pelan.

"Tahu? Tidak, Valeria tidak kembali karena tahu ada yang salah. Ia kembali karena ia tidak bisa menghindari takdirnya. Kau tidak bisa lari dari sesuatu yang kau ciptakan sendiri."

Valeria menatapnya tanpa emosi.

"Lalu apa yang kau inginkan dariku, Alistair? Pengakuan? Permintaan maaf? Atau hanya jaminan bahwa aku masih ada?"

Alistair diam sejenak sebelum menjawab.

"Kami memanggil Dewan."

Magnus dan Valeria saling berpandangan.

"Jadi semuanya sudah sejauh itu?" tanya Magnus.

"Lebih jauh dari yang kau bayangkan."

Valeria memejamkan mata, seolah mendengar suara-suara dari luar waktu. Ketika ia membuka matanya lagi, ada kilau aneh dalam tatapan ungunya.

"Baiklah. Mari kita lihat seberapa besar kekacauan yang telah terjadi."