Langit mulai retak.
Bukan retakan biasa, bukan awan gelap sebelum badai. Ini adalah celah dalam realitas itu sendiri. Seolah-olah langit adalah cermin yang telah dipukul dengan palu raksasa, dan kini kepingannya melayang, berkilauan dengan warna-warna yang tidak seharusnya ada.
Magnus melangkah mundur, matanya menyipit menahan sakit yang tidak berwujud. Kepalanya berdengung, pikirannya terasa seperti diaduk oleh tangan yang tak terlihat.
"Valeria..." suaranya serak, hampir tak terdengar. "Apa yang... sedang kita hadapi?"
Valeria tidak menjawab.
Bukan karena dia tidak tahu, tetapi karena tidak ada jawaban yang bisa menjelaskan apa yang mereka hadapi dengan kata-kata manusia.
Di sekitar mereka, penduduk kota mulai berubah.
Mata mereka menjadi kosong, pupil mereka mengembang hingga memenuhi seluruh bola mata. Tubuh mereka mulai bergetar, tidak seperti orang yang menggigil kedinginan, tetapi seperti sesuatu di dalam tubuh mereka sedang mencoba keluar.
Dan kemudian mereka berbicara—
Bukan dengan suara mereka sendiri.
"—telah melihatnya—"
"—tak bisa dihindari—"
"—cermin yang tak bisa dipecahkan, bayangan yang tak memiliki sumber—"
Magnus mencengkeram pedangnya erat-erat, meski ia tahu senjata biasa tidak akan berarti apa-apa di hadapan sesuatu seperti ini.
Valeria, masih memandang langit yang retak, berbicara lirih.
"Kita sudah masuk terlalu dalam."
Dan saat kata-kata itu keluar dari bibirnya—
Langit benar-benar pecah.
Dari celah yang terbuka di atas mereka, ia muncul.
Sebuah makhluk yang tidak memiliki bentuk tetap.
Sebuah eksistensi yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
Magnus menatapnya, dan pikirannya mulai terurai.
Ia ingin berteriak, ingin berpaling, tetapi ia tidak bisa.
Matanya tertancap pada makhluk itu—
Makhluk dengan ribuan tentakel yang menjulur dari kehampaan, masing-masing dengan mata yang berkedip dalam pola yang tidak bisa dipahami.
Di tengah tubuhnya yang tak berbentuk, sebuah mata raksasa terbuka.
Dan dalam sekejap, segala sesuatu berubah.
Jalanan mulai melipat.
Bangunan melayang.
Waktu tidak lagi berjalan dengan lurus.
Magnus melihat dirinya sendiri—tetapi bukan dirinya yang sekarang.
Sosoknya yang lebih tua.
Sosoknya yang lebih muda.
Sosoknya yang tidak pernah ada.
Dan entitas itu... berbicara.
Bukan dalam suara, bukan dalam kata-kata, tetapi dalam konsep.
Dan Magnus mengerti.
Ia tidak seharusnya memahami makhluk ini.
Namun sekarang, ia telah melihatnya.
Dan sesuatu dalam dirinya tidak akan pernah sama lagi.
"Magnus!"
Valeria menariknya kembali ke dunia nyata.
Ia terjatuh ke tanah, tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi wajahnya, dan matanya masih melihat sesuatu di luar pemahaman.
"Magnus! Fokus padaku!"
Tangannya gemetar saat ia menatap Valeria. "Kita... kita tidak bisa melawan ini. Kita tidak bisa memahami ini..."
Valeria menarik napas dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang juga hampir runtuh.
"Tidak perlu memahaminya," katanya, matanya masih menatap makhluk itu. "Kita hanya perlu... menghapus eksistensinya dari dunia ini."
Tentakel-tentakel itu mulai bergerak, menjulur ke arah mereka.
Valeria melompat mundur, menciptakan perisai energi di sekelilingnya.
Magnus mencoba mengayunkan pedangnya—tetapi pedangnya menembus udara kosong.
Ia mengertakkan giginya. "Sial! Kita tidak bisa melawannya dengan cara biasa!"
Makhluk itu berbicara lagi.
"—kalian telah melihat—"
"—maka kalian telah menjadi bagian dari kami—"
"—tidak ada jalan keluar—"
Magnus menutup telinganya—tetapi suara itu tidak berasal dari luar. Itu berasal dari dalam kepalanya sendiri.
Valeria menyadari sesuatu.
"Kota ini..." gumamnya. "Ini bukan hanya tempat yang terjebak di antara realitas."
Magnus menoleh ke arahnya, wajahnya penuh kebingungan dan ketakutan. "Apa maksudmu?"
Valeria menelan ludah.
"Kota ini adalah entitas itu sendiri."
Magnus terdiam.
Ia menatap bangunan-bangunan yang melayang, jalanan yang terlipat, penduduk yang berbicara dengan suara yang bukan milik mereka.
Lalu ia menatap makhluk di langit—
Dan ia mengerti.
Kota ini adalah cerminan dari sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sesuatu yang mencoba menciptakan dirinya sendiri melalui ingatan kolektif manusia tentang kota-kota yang telah terlupakan.
Jika mereka tidak menghentikannya sekarang—
Ia akan terus tumbuh.
Ia akan terus berkembang.
Ia akan menggantikan realitas itu sendiri.
Magnus mengatur napasnya. "Bagaimana cara kita menghentikannya?"
Valeria menatap makhluk itu—lalu menatap waktu itu sendiri.
"Aku bisa... mengisolasi kota ini dari aliran waktu utama," katanya perlahan.
Magnus mengerutkan kening. "Maksudmu...?"
"Jika kota ini tidak pernah ada dalam aliran waktu yang kita ketahui... maka makhluk ini juga tidak pernah ada."
Magnus menggertakkan gigi. "Kau yakin itu akan berhasil?"
Valeria menatap makhluk itu sekali lagi.
Ia bisa merasakan mata itu menatapnya.
Ia bisa merasakan makhluk itu memahami niatnya.
Dan dalam sekejap—makhluk itu berteriak.
Sebuah jeritan yang tidak berbunyi, tetapi merobek realitas di sekitar mereka.
"Valeria! Cepat lakukan!"
Valeria menutup matanya—
Dan mengaktifkan Paradox Waktu.
Namun makhluk itu tidak membiarkannya Tentakel-tentakel raksasa mencambuk udara, bergerak lebih cepat dari suara, menghancurkan bangunan-bangunan yang ada di bawahnya. Kota itu mulai terbalik, gravitasi berubah-ubah tanpa aturan.
Magnus dan Valeria terhempas ke udara, melayang tanpa kendali.
"Magnus!" teriak Valeria.
Magnus menggeretakkan giginya dan menggunakan pedang dan belatinya sebagai jangkar, menancapkannya ke reruntuhan bangunan yang melayang di angkasa.
"Valeria, rencanamu! Cepat!"
Valeria mencoba fokus, tangannya membentuk simbol paradox waktu. Namun, sebelum ia bisa menyelesaikan mantranya, salah satu tentakel mengarah ke arahnya dengan kecepatan mengerikan.
Seketika, Magnus melompat, menebas tentakel itu dengan sekuat tenaga—
CRAAASH!
Darah hitam pekat menyembur, tapi bukan darah biasa. Itu adalah substansi yang mengandung realitas alternatif, dan saat tetesannya mengenai tanah, ia berubah menjadi dunia-dunia mini yang sekarat dan hancur dalam hitungan detik.
"Apa-apaan ini?" Magnus menggerutu, matanya penuh keputusasaan.
Makhluk itu bergerak semakin liar.
Dari tubuhnya, celah-celah dimensi lain terbuka, dan dari dalamnya keluar makhluk-makhluk tanpa bentuk yang berteriak dalam frekuensi yang tidak bisa didengar manusia, tapi bisa dirasakan di tulang mereka.
Magnus tertarik ke dalam celah dimensi, dan ia bertarung di multidimensi, melawan pasukan entitas yang seakan mengubah bentuk tiap kali ia menebas mereka.
Satu detik mereka seperti tangan yang menggapai, detik berikutnya mereka berubah menjadi wajah manusia yang menangis, lalu berubah lagi menjadi bayangan tanpa pemilik.
Dan di atas mereka, makhluk utama menatap mereka dengan penuh kesadaran.
Valeria menekan kedua tangannya ke dada, memusatkan kekuatan paradox waktu.
"Aku butuh waktu!"
"TIDAK ADA WAKTU!" Magnus berteriak dari celah dimensi, menghindari serangan dari lima arah sekaligus.
Tapi makhluk itu tidak akan membiarkan mereka menang begitu saja.
Sebuah tentakel raksasa menembus langit, lalu turun ke arah mereka dengan kecepatan yang mustahil.
Magnus tidak bisa menghindar.
Dan sebelum ia menyadari—
Ia sudah mati.
Magnus jatuh ke dalam kehampaan tanpa ujung.
Tubuhnya tidak ada, tapi kesadarannya masih hidup.
Di sekelilingnya, wajah-wajah yang pernah ia kenal berbisik dalam bahasa yang tidak ia pahami.
Ia tahu bahwa ia tidak seharusnya ada di sini.
Ia tahu bahwa waktu seharusnya tidak berjalan di tempat ini.
Lalu, sebuah suara berbicara langsung ke dalam kesadarannya.
"—kalian semua akan menjadi bagian dariku—"
"—dan kalian akan memahami segalanya—"
"—hingga kesadaran kalian hancur—"
Magnus berjuang untuk kembali.
Dan saat itu juga—
Sebuah tangan menariknya kembali ke realitas.
Valeria.
"Bangun!"
Magnus tersentak. Ia kembali ke medan perang.
Tapi ada sesuatu yang berubah.
Makhluk itu kini menatapnya dengan lebih intens, seolah telah menyadari bahwa Magnus telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
Dan saat itu juga, Magnus mendengar bisikan dalam pikirannya.
"—kau sudah menjadi bagian dariku—"
Tidak! Magnus menggertakkan giginya, memegang kepalanya yang terasa seperti ingin pecah.
Valeria menatapnya dengan cemas, lalu memegang pundaknya.
"Kita harus mengakhirinya sekarang."
Magnus menatapnya.
Lalu mengangguk.
Valeria mengangkat tangannya ke udara.
Energi biru berputar di sekelilingnya, membentuk lingkaran sihir yang tidak hanya berputar dalam ruang, tetapi juga dalam konsep keberadaan itu sendiri.
Makhluk itu merespon.
Ia mulai menjerit.
Ia tahu apa yang akan terjadi.
Ia berusaha melawan takdirnya.
Magnus melompat—menebas tentakel-tentakelnya satu per satu, membuka jalan bagi Valeria.
Valeria menghancurkan batas waktu, menarik kota ini keluar dari aliran sejarah.
Makhluk itu menghancurkan realitas di sekelilingnya, mencoba bertahan.
Namun, ia tidak bisa melawan hukum waktu itu sendiri.
Dan dalam satu detik—
Semua lenyap.
Magnus terjatuh ke tanah, terengah-engah.
Di sekelilingnya, kota itu masih ada, tetapi penduduknya kembali normal.
Tidak ada yang mengingat apa pun.
Tidak ada yang sadar akan apa yang baru saja terjadi.
Magnus menatap Valeria.
"Apakah kita berhasil?"
Valeria tidak menjawab.
Ia menatap langit, tempat makhluk itu menghilang.
Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berkata:
"Untuk saat ini."
Dan entah kenapa, di sudut pikirannya, Magnus merasa bahwa ini belum berakhir.
Makhluk itu masih ada di suatu tempat.
Menunggu.