Kegelapan abadi. Kesunyian tanpa batas. Tidak ada cahaya, tidak ada kehidupan—hanya kehampaan yang membentang tanpa ujung.
Di tengah kekosongan itu, sesosok entitas terbangun. Ia tidak memiliki bentuk, tidak memiliki suara, hanya keberadaan yang ada dan tidak ada di saat yang sama. Aventerus Revinus. Nama itu muncul tanpa asal, mengalir dalam kehampaan yang sunyi.
Ia melangkah, namun tidak ada tanah. Ia berbicara, namun tidak ada suara. Namun, dalam kesendiriannya, ia memahami sesuatu yang belum pernah ada—keinginan untuk menciptakan.
Dari kehendaknya, Sepuluh Realm pun lahir.
Solmora, cahaya pertama yang membelah kegelapan.
Netheros, bayangan yang mengikuti cahaya.
Aerthas, tempat bagi kehidupan fana.
Dravaryn, api yang membakar tanpa akhir.
Vaelstrom, samudra luas yang tak berbatas.
Zephiryx, angin yang berbisik di antara dunia.
Terranova, tanah subur penuh keajaiban.
Mortis, pintu menuju dunia roh.
Abyzzar, tempat di mana realitas hancur.
Voidheim, sisa kehampaan yang tetap tak tersentuh.
Saat Eldoria terbentuk, keseimbangan mulai goyah. Dari setiap realm, entitas-entitas baru lahir. Dewa, iblis, dan makhluk-makhluk legendaris mulai bangkit. Mereka, yang lahir dari esensi realitas, mulai mempertanyakan siapa yang menciptakan mereka.
Namun, Aventerus tetap diam dalam kegelapan, menyaksikan dari balik bayangan, tanpa seorang pun menyadari keberadaannya.
Dan di sanalah segalanya dimulai.