Download Chereads APP
Chereads App StoreGoogle Play
Chereads

Mimpi di Hari Rabu | Na Jaemin

_inhayyy
--
chs / week
--
NOT RATINGS
1.7k
Views
Synopsis
Sesuatu yang Nala temukan di dalam mimpi mungkin tak akan membiarkannya terbangun lagi. Nala terjebak di dalam mimpi aneh yang terus berulang setiap hari Rabu. Ia terbangun di putih tak berujung dengan suasana sunyi senyap, hanya deru nafasnya yang terdengar. Namun di tengah-tengah itu semua ada sebuah pintu kayu tua berdiri kokoh seolah mengundang Nala untuk membukanya. Nala sadar bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar mimpi biasa di balik pintu misterius itu. Apa yang mengintai di balik pintu itu? Ketakutan atau harapan? Atau sesuatu yang lain?
VIEW MORE

Chapter 1 - Mimpi Yang Aneh

Di dalam sebuah ruangan putih yang luas tak terbatas, terdengar suara deru nafas di tengah suasana yang sunyi senyap. Di tengah ruangan hampa itu terlihat juga sebuah pintu kayu yang berdiri kokoh mencolok di tengah kehampaan. Permukaan kayu yang terlihat tua itu terukir ukiran-ukiran yang seolah menceritakan kisah panjang yang terlupakan. Gagang pintu terbuat dari kuningan yang mulai memudar kilatnya, memantulkan cahaya redup dari suatu tempat yang tak diketahui. Sekejap, kedua mata indah itu terpesona oleh keindahan pintu itu. Dengan jantung bergemuruh ia mengulurkan tangan dan meraih gagang pintu.

"Gue bisa buka pintunya." gumamnya dalam hati.

Dengan perlahan tangan putih itu memutar gagang pintu, bunyi berderit terdengar nyaring menggema di ruangan sunyi itu.

"Apa yang ada di balik pintu ini?" tanyanya pada dirinya sendiri, rasa penasaran dan ketakutan bercampur aduk di dalam dirinya.

"Natala..."

Tiba-tiba ia mendengar suara memanggil namanya. Kepalanya menoleh ke sekeliling, mencari sumber suara itu. Namun, ia tidak menemukan siapa pun, suara lirih tapi yang entah mengapa terdengar jelas itu seolah-olah berasal dari dalam dirinya sendiri.

"Natala... Natala..."

Matanya seketika terbuka. Nala terbangun dengan keringat dingin membasahi dahinya. Jantungnya berdebar kencang, nafasnya tersengal-sengal. Ia mencoba mengingat mimpinya, namun hanya samar-samar dirinya mengingat tentang pintu kayu itu dan suara misterius yang memanggil namanya.

"Mimpi itu lagi." Ucap Nala sembari menyeka keringat yang keluar dari dahinya.

Setiap hari Rabu semenjak tiga bulan yang lalu Nala selalu memimpikan hal yang sama, berada dalam kehampaan putih yang tak berujung serta sebuah pintu kayu tua di tengah-tengah suasana sunyi. Setiap Nala hendak membuka pintu itu pasti akan terdengar suara yang memanggil namanya dan seketika ia akan terbangun dari mimpi itu.

Mimpi tentang pintu misterius itu terus menghantui Nala. Ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar mimpi, seolah-olah ada sesuatu yang menunggunya tersembunyi di balik pintu tua itu.

Awalnya Nala kira ini hanyalah sebuah mimpi biasa, hanya bunga tidur yang biasa orang-orang bicarakan. Hingga mimpi kedua dan ketiga Nala masih berpikir ini hanya sebuah kebetulan mimpinya terus berulang, namun saat mimpi keempatnya Nala mulai merasa aneh. Nala mulai menyadari mimpi itu selalu muncul di hari Rabu dan akan berhenti setiap dirinya berusaha membuka pintu itu, terus seperti itu terulang kembali di hari Rabu minggu depannya. Nala pun tak hanya diam saja, ia mulai mencari arti-arti dari mimpi itu. Namun, tak ada jawaban yang dapat memuaskan hatinya. Internet, buku, bahkan bertanya ke temannya pun seolah tak ada gunanya.

Kaki jenjang itu Nala pijakan ke atas ubin lantai yang terasa dingin. Tubuhnya bangkit dari tempat tidur, dengan langkah gontai berjalan menuju kamar mandi berharap air dingin dapat membasahi kulitnya dan menenangkan pikiran yang kacau.

Di bawah guyuran air dari shower, Nala memejamkan matanya. Ia membayangkan kembali berdiri di depan pintu kayu itu, mencoba meraih gagang pintu yang menarik perhatiannya. Namun, hal itu tak pernah berhasil, hingga lama kelamaan rasa frustrasi menguasainya. Kenapa ia terus memikirkan mimpi aneh itu? Apa ada yang tersembunyi di balik pintu kayu tua yang ada di mimpinya? Atau mungkin, ini hanyalah imajinasinya saja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di otaknya, membuat kepalanya terasa sakit.

Dengan nafas panjang, Nala mematikan aliran air. Sebelum keluar dari kamar mandi ia menatap sebuah cermin yang terpasang di dinding dekat pintu kamar mandinya, berusaha menemukan jawaban dalam pantulan matanya yang sayu. Akhirnya, ia menghela nafas dalam, hari ini ia harus fokus pada kuliah saja. Mimpi itu seaneh apa pun harus ia simpan untuk nanti. Dengan malas ia keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

---

Di tengah kesibukan para generasi emas bangsa ini, Nala dan sahabatnya Taro sedang duduk bersama di perpustakaan. Walau buku-buku tebal menumpuk di depan mereka tetap saja pikiran Nala melayang jauh.

"Kenapa lo? Kaya orang linglung gitu." tanya Taro melihat Nala yang hanya menatap kosong pada buku yang dibukanya.

"Nggak apa-apa." Jawab Nala singkat.

Taro menaikan alisnya bingung dengan sikap Nala, Apakah ini karena kuis tadi yang tidak memberi hasil memuaskan pada Nala?

"Nggak apa-apa kali Na, nilai jelek mah udah biasa buat kita." ucap Taro sembari melanjutkan buku yang ia baca, sehabis ini masih ada kelas lagi yang juga berisi kuis.

Nala memandang Taro setelah mendengar ucapan sahabat karibnya itu. "Apa sih Ro, bukan karena itu gue bengong." Ucapnya.

"Terus kenapa?" Taro meletakkan bukunya di atas meja.

"Semalam gue mimpi lagi."

Taro sedikit membelalakkan matanya mendengar ucapan Nala. Tangan putih itu segera meraih ponsel pintar di sampingnya, mengecek hari apakah ini.

"Oh ya ampun semalam Rabu ya, lo beneran mimpi itu lagi, Na?" Tanya Taro setelah melihat ponselnya menunjukkan bahwa hari ini adalah hari Kamis.

"Iya." jawab Nala singkat.

Sahabat Nala itu memang sudah mengetahui perihal mimpi aneh yang dialaminya. Nala sering kali bercerita pada Taro jika memang dia tidak bisa menahan semua kegelisahan ini seorang diri.

Reaksi Taro tentu saja bingung dengan mimpi yang dialami Nala. Dia kerap kali melihat hal yang sama seperti yang dialami Nala namun hanya pada buku atau film yang ditontonnya, bukan pada kehidupan nyata seperti ini.

Nala pun menceritakan kembali mimpinya yang aneh itu pada Taro. Ruangan putih tanpa ujung, pintu kayu tua yang tak pernah bisa dibukanya, dan perasaan aneh yang menyelimuti setiap melihat pintu itu.

Taro yang sudah sering mendengar cerita Nala mengangguk sambil mendengarkan dengan seksama. "Lo udah coba nafsirin mimpi itu dari sudut pandang yang lain nggak?" tanya Taro.

"Sudut pandang lain gimana?" Tanya Nala bingung.

"Ya kaya jangan fokus sama pintu itu gitu, sama hal-hal lain yang ada di mimpi lo." Taro menjelaskan dengan sederhana.

Nala pun sedikit berpikir apa hal-hal lain yang ada di mimpinya. Seingatnya hanya pintu itu yang menarik perhatiannya atau suara yang selalu memanggilnya.

"Oh, itu biasanya di mimpi ada suara yang manggil-manggil gue, cuma nggak kelihatan wujudnya. Suara-suara lirih doang."

Taro seketika merinding mendengarnya, kenapa mimpi Nala jadi menakutkan seperti ini. Jika Taro di posisi Nala mungkin dirinya sudah menangis ketakutan.

"Ih ngeri banget ada yang manggil-manggil gitu." Ucapnya. Nala hanya bergumam singkat menanggapi.

Saat mereka sedang asik berdiskusi, seorang mahasiswa mendekati meja mereka. Nala dan Taro memandang mahasiswa perempuan berkacamata itu dengan tatapan bingung.

"Kenapa ya, mba?" Tanya Nala memulai pembicaraan.

Gadis itu sedikit membenarkan letak kacamatanya sebelum menjawab. "Maaf ganggu, kenalin nama aku Elsa dari jurusan psikologi. Maaf, tadi aku nggak sengaja dengar pembicaraan kalian." Ungkap Elsa.

"Nala, dari Teknik Informatika."

"Gue Taro, dari Teknik Informatika juga," Kedua bersahabat itu pun ikut mengenalkan dirinya singkat.

"Maaf tadi aku nggak sengaja dengar pembicaraan kalian, katanya kamu mimpi aneh terus ya, Nala?" Tanya Elsa.

Gadis itu menarik nafasnya sebelum melanjutkan. "Sebenarnya aku lumayan tertarik dengan cerita kamu. Boleh nggak aku dengar lagi dan mungkin kasih kamu saran-saran kecil kalau aku bisa?" Tanya Elsa sembari melihat bagaimana reaksi Nala.

Nala menatap curiga pada Elsa, untuk bagaimana bisa gadis ini dengan percaya dirinya mengurusi urusan orang lain? Walaupun begitu Nala tetap menimbang-nimbang apakah ia akan menerima tawaran Elsa. Mata tajam Nala menatap sang sahabat, seolah mengerti Taro sedikit menganggukkan kepalanya.

Nala lalu menyetujui usulan Elsa dan mempersilahkan Elsa duduk. Awalnya Elsa hendak duduk di samping Nala tetapi dengan segera Nala berpindah ke seberang dan duduk di samping Taro membiarkan Elsa duduk sendiri di kursinya. Elsa sedikit kaget tapi ia dengan cepat menetralkan kembali raut wajahnya dan segera duduk di bangku perpustakaan itu.

Tanpa menunggu lama Nala kembali menceritakan apa yang dialaminya selama tiga bulan terakhir. Tentang mimpi anehnya yang terus terjadi setiap hari Rabu, dimana ia akan berada pada ruangan hampa berwarna putih yang sunyi dan di tengahnya terdapat pintu kayu tua yang mencolok. Nala tak pernah membuka pintu itu karena setiap ia akan membukanya selalu ada sesuatu yang memanggilnya lalu ia pun terbangun dari lingkaran mimpi itu.

Elsa mendengarkan dengan serius cerita Nala, sesekali menganggukkan kepalanya dan menatap Nala serta Taro yang menimpali cerita sang sahabat.

Selesai bercerita, gadis berkacamata itu langsung bertanya kepada Nala. "Apa yang kamu rasain waktu di dalam mimpi?" Tanya Elsa penasaran.

Nala memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat kembali suasana dalam mimpinya. "Ruangannya terasa sangat kosong dan entah kenapa gue kaya terkurung, kaya lagi di penjara." jawabnya pelan.

Memang benar Nala selalu merasa terkurung saat berada dalam mimpinya. Ruangan yang hanya terlihat berwarna putih tanpa ujung itu seolah menyiksanya. Dalam mimpinya Nala pernah mencoba berlari menjauh dari pintu mencari jalan keluar lain, tapi rasanya ia hanya berlari di tempat saja. Sejauh apapun kakinya membawanya hanya putih yang terlihat dan pintu itu pun tak pernah terlihat menjauh darinya. Rasanya seperti Nala tetap berada di tempatnya dan hanya pintu itu yang bisa membawanya keluar dari sana.

Elsa sedikit berpikir setelah mendengar jawaban Nala, "Mungkin pintu itu bukan cuma sekedar pintu." Ucap Elsa mengalihkan perhatian Nala dan Taro.

Gadis itu menatap Nala dalam, "Mimpi itu terkadang berkaitan dengan alam bawah sadar kita, makanya kita terkadang bermimpi hal-hal yang sebelumnya kita pikirkan atau rasakan saat terbangun. Dari yang kamu ceritain mungkin pintu itu seperti simbol dari sesuatu yang ingin kamu sembunyikan atau sesuatu yang membuat kamu terjebak."

Seketika Nala terdiam merenungkan kata-kata Elsa. Setelah dipikir-pikir lagi ia memang selalu menghindari masalah dan menyembunyikan perasaannya.

"Terus gimana caranya biar gue berhenti mimpi ini terus? Gue stress lama-lama setiap mimpi ini, gue ngerasa kejebak dan nggak ada jalan keluarnya." Ucap Nala terlihat frustasi. Taro yang disampingnya menatap Nala prihatin, ya seperti yang ia bilang ia akan menangis jika mengalami hal serupa seperti Nala.

"Sebenarnya aku masih bingung sama mimpi kamu, Na." Ucap Elsa. "Mungkin terkait mimpi kamu masih bisa disambungkan dengan alam bawah sadar, tetapi untuk mimpi yang sama yang terus terulang di hari Rabu aku nggak tau apa jawabannya. Aku masih bingung kenapa hal itu bisa terjadi."

Nala menghela nafas dalam mendengar ucapan Elsa. "Apa gue nggak bisa keluar dari lingkaran aneh ini?" Tanyanya entah pada Elsa, Taro atau dirinya sendiri.

Elsa sedikit tidak tega melihatnya. "Mungkin kamu bisa coba perhatikan pola-pola tertentu di mimpi kamu, atau detail-detail yang mungkin kamu lewatkan yang nggak pernah kamu perhatikan." Ucap Elsa.

Nala yang mendengarnya merasa tertarik, mungkin akan ia coba. Sudut bibirnya sedikit naik menghasilkan senyuman yang sangat tipis. "Terimakasih." Ucapnya lirih.

Semoga Nala bisa keluar dari jeratan mimpi aneh ini. Walau sedikit tapi ia merasa seperti mendapat harapan yang akan membawanya pada kebebasan.

---

Hari ini hari Rabu, hari yang biasanya sangat Nala benci tapi kali ini ia sangat menantikannya, Nala akan mencoba hal-hal yang sebelumnya Elsa katakan.

Sebenarnya ia sedikit ragu apakah bisa atau tidak, karena setahunya orang tidak bisa mengendalikan mimpinya. Sebelumnya pun Nala hanya membiarkan mimpinya selalu berjalan begitu saja. Namun, kali ini ia akan mencoba hal baru, bisakah dirinya memperhatikan hal-hal kecil di dalam mimpi aneh itu? Nala pun penasaran.

Nala membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan seprei polos berwarna abu-abu itu. Selimutnya ia naikan sebatas pinggang lalu memejamkan mata. Nala mencoba menidurkan dirinya walaupun ia belum merasa mengantuk. Berbagai metode ia coba untuk membuatnya segera tidur.

Lama mata itu terpejam hingga suasana berubah begitu sunyi, hanya suara jarum jam yang terus bergerak yang terdengar. Deru nafas Nala berubah menjadi teratur. Di dalam suasana gelap saat matanya tertutup sayup-sayup Nala merasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Rambutnya yang mulai memanjang bergerak pelan karena sentuhan angin itu. Perlahan-lahan Nala membuka matanya, menerima biasan cahaya yang mulai memasuki Indra penglihatan.

"Mimpi ini." Ucapnya lirih begitu putih tertangkap netranya.

Matanya segera melihat sekeliling mencari hal utama yang sedang dicarinya. Memandang kesana kemari mencari tujuannya, hingga sebuah pintu kayu tua terlihat di ujung sana. Nala pun tak menunggu lama segera menghampiri pintu itu, pintu yang selalu menjadi objek penasaran dan rasa frustasinya.

Sebelum meraih gagang besi pintu itu Nala memperhatikan dengan teliti permukaan kayu itu. Walau terlihat tua pintu itu tetap berdiri kokoh di depannya, bahkan saat tangan putih Nala menyentuh permukaan kayu itu jemarinya sama sekali tak merasakan butiran debu di sana.

Matanya kembali menelisik melihat ukiran-ukiran pada pintu itu. Nala yakin siapapun yang membuat ukiran ini pasti sangat bekerja keras, saking rumitnya hingga Nala berpikir yang membuat ukiran ini hanya punya dua pilihan antara mati atau menyelesaikan keindahan karyanya.

Di bagian atas pintu Nala melihat sebuah ukiran mawar yang begitu indah, hampir terasa nyata dengan kelopak-kelopaknya yang terbuka sempurna memancarkan kesan hidup yang memikat jiwanya. Namun, matanya terhenti pada sebuah ukiran yang menarik perhatiannya.

"Tempat rahasia tumbuh sebelum terang, di sana jiwa yang hilang pertama kali bermimpi." Ucap Nala membaca kalimat yang berada pada permukaan kayu tua itu. Sebelumnya Nala tak pernah memperhatikan ternyata ada sebuah kalimat tertulis di bagian tengah pintu.

Nala terdiam mengerutkan alisnya. Kata-kata membuatnya merasa bingung dan penasaran. Ia mencoba menebak apa arti tersembunyi dari kalimat itu, namun sekeras apapun ia berpikir Nala hanya terjebak dalam kabut ketidakpastian.

Karena merasa tak ada jawaban pasti arti dari kalimat di pintu itu Nala memutuskan untuk membukanya saja, berharap ia akan segera bangun setelahnya. Dengan ragu Nala mengulurkan tangannya meraih gagang pintu yang dingin dan berat. Ia menarik napas dalam, kali ini entah mengapa Nala merasakan ketegangan yang amat sangat. Jantungnya bergemuruh kuat hingga telinganya seperti dapat menangkap suara detakan jantungnya. Lalu, dengan satu gerakan pelan Nala mencoba membuka pintu itu. Gagangnya berputar dengan suara berderit nyaring memecahkan keheningan yang terasa.

"Natala..." Lagi-lagi suara itu terdengar. Setiap Nala berusaha membuka pintu kayu itu akan ada suara yang selalu memanggil namanya.

Kali ini Nala tidak menghiraukan suara itu, walau lama kelamaan suara yang awalnya berbisik itu berubah menjadi jelas Nala tetap membiarkannya. Tangannya tetap mencoba membuka pintu itu.

"Natala..."

"Natala... Natala..." Suara itu menjadi semakin jelas seperti bukan lagi sebuah bisikan. Badanya meremang seketika saat Nala merasa suara itu seperti benar-benar ada di samping telinganya.

"Natala..."

"NATALA..."

Bisikan itu berubah menjadi teriakan bersamaan dengan pintu yang terbuka sempurna. Nala memejamkan matanya entah karena terkejut dengan teriakan itu atau karena cahaya terang yang tiba-tiba tertangkap Indra penglihatannya. Sebuah cahaya yang amat sangat terang menyembur keluar, menyinari wajah Nala yang penuh dengan rasa penasaran. Belum terlihat jelas apa yang ada dibaliknya, namun Nala sangat yakin di balik pintu itu ada sesuatu yang benar-benar menunggunya.

-To be continued-

- Main Character unlocked

Natala Agni Pratama (21 y.o) (Na jaemin)

- Characters Unlocked

1. Oliv Taro Maldini (21 y.o) (Shotaro)

2. Elsa Safira (21 y.o) (Winter aespa)