Nama gue Mahendra, maaf gue udah ngikutin kalian."
Nala menatap tajam pada pemuda itu, yang baru saja memberitahu namanya setelah tertangkap basah. "Sebenarnya apa tujuan, lo? Kenapa lo ngikutin kita?" Tanyanya.
Jika kalian menduga pemuda itu adalah orang yang mengikuti Nala dan teman-temannya, maka kalian benar. Setelah ketauan mengikuti mereka, pemuda itu langsung disidang di tempat oleh mereka berenam. Ia langsung dicerca berbagai pertanyaan dari Nala dan yang lainnya.
"Itu karena..." Pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai Mahendra itu menjeda kalimatnya, "... Gue ngerasa kalau tujuan kita sama." Tuturnya.
Nala, Harsa, dan Cakra menjadi yang paling terkejut disana, ketiganya langsung terdiam menatap Mahen dengan raut wajah yang sulit diartikan. Sementara Juna, Jendra, dan Jingga menatap bingung, yang dimaksud tujuan yang sama itu apa? Jangan bilang pemuda ini juga mencari pohon aneh itu yang sangat ingin ditemukan Nala, Harsa, dan Cakra itu.
"Hah, maksudnya?" Tanya Juna penasaran.
"Gue tau kalau kalian lagi cari pohon besar yang bunganya merah itu. Sebenarnya, gue udah tinggal di pulau ini selama berbulan-bulan, gue datang kesini karena mau mencari pohon itu juga. Tapi, rasanya di sini gue cuma nemuin jalan buntu karena warga nggak ada yang mau buka mulut tentang lokasi pohon itu, mereka semua selalu menghindar dan bilang nggak tau. Dan kemarin, gue nggak sengaja dengar kalau ada orang lain yang juga cari pohon itu. Waktu gue selidiki ternyata kalian tinggal di rumah nenek-nenek yang dekat pantai itu. Tadinya gue mau datang kesana pagi-pagi buat tanya lebih lanjut, tapi malah gue ngeliat kalian mau pergi. Dan ya, akhirnya gue ngikutin kalian." Ungkap Mahen panjang lebar.
"Gue sebenarnya penasaran banget, dari kemarin gue coba tanya ini ke kalian tapi nggak ada yang mau jawab. Sebenarnya, kenapa kalian mencari pohon itu? Terutama kalian." Tunjuk Juna kepada ketiga sahabatnya Nala, Harsa, dan juga Cakra. "Kalian tau resikonya besar kalau kita nekat masuk ke dalam hutan buat cari pohon itu, tapi kalian tetap maksa." Lanjutnya.
"Jun, gue udah bilang kan gue nggak bisa jawab pertanyaan itu." Ungkap Nala, karena bagaimanapun ini bukanlah hal biasa yang bisa semua orang tau. Jika ia mengatakan yang sebenarnya mungkin Juna malah akan mengatai Nala sebagai orang gila.
"Kenapa? Kenapa lo nggak bisa jawab, Na?"
"Maaf Jun, tapi gue, Nala, dan Cakra benar-benar nggak bisa jawab. Nanti kalau udah saatnya pasti kita kasih tau." Ucap Harsa menengahi. Ia tidak ingin kedua temannya itu saling bertengkar.
"Udah, mending kita lanjut aja. Kelamaan kita ngobrol nanti kita nggak pulang-pulang." Jendra langsung berdiri dari duduknya.
"Terus dia gimana?" Tunjuk Jingga pada Mahen.
"Bentar Jen, gue mau nanya sesuatu ke bang Mahen dulu." Ucap Harsa.
Mahen yang mendengar namanya diucapkan pun segera mengalihkan pandangannya, melihat pemuda yang duduk di samping orang yang baru saja ia tau namanya Nala.
"Lo, kalau lo mau ikut kita cari pohon itu jawab pertanyaan gue! Lo tau tentang pintu, mawar merah, sama mimpi itu?" Tanya Harsa, ia ingin memastikan sesuatu.
Mahen sedikit terkejut, tidak menduga prasangkanya tentang orang-orang ini benar. "Udah gue duga, pasti kita punya nasib yang sama. Tenang aja, gue tau kok tentang itu." Jawab Mahen. Secara tidak langsung ucapannya itu juga menjawab beberapa pertanyaan yang juga hinggap pada pikiran Nala dan Cakra.
"Udah kan, Sa? Ayo lanjut, gue pengin cepat-cepat pulang." Jendra langsung berjalan memimpin di barisan paling depan.
---
Cahaya matahari mulai meredup, memunculkan sinar jingga yang masuk melewati celah-celah dedaunan. Terhitung hampir seharian mereka berjalan masuk ke dalam hutan mencari pohon besar berbunga merah itu. Walau dengan keraguan di hati mereka tetap melangkahkan kaki masuk lebih dalam dengan berbekal keberanian.
"Abang Jendra, lo yakin ini jalan yang benar?" Jingga bertanya, suaranya penuh kekhawatiran.
"Kalau nggak nyoba kita nggak akan tau, Ji." sahut Jendra tanpa menoleh ke belakang.
"Kayanya kita harus balik deh, bang."
"Nggak Ji, belum. Kita belum boleh balik sebelum pohon itu ketemu." Ucap Cakra tiba-tiba masuk ke dalam obrolan Jingga dan Jendra.
"Cak, tapi kalau kita tambah tersesat gimana?"
"Nggak akan, pasti kita bisa balik. Intinya kita harus nemuin pohon itu dulu." Ucapnya final, seolah orang lain tidak boleh menyanggahnya.
Mereka bertujuh akhirnya tetap berjalan mencari pohon itu. Dengan bertambahnya anggota baru membuat barisan mereka mengalami sedikit perubahan. Jendra tetap berada di depan sendiri memimpin jalan, lalu di belakangnya ada Cakra dan Jingga, di barisan ketiga ada Mahen dan Juna, dan yang berada di barisan paling belakang adalah Nala dan Harsa, mereka ditempatkan di sana untuk mengawasi Mahen jika saja orang itu berbuat hal yang mencurigakan.
Sementara Juna yang berjalan sejajar dengan Mahen, matanya menatap tajam pemuda yang baru saja bergabung dengan mereka itu. Ketidakpuasan atas jawaban-jawaban dari pertanyaannya tadi yang setengah hati terus mengganggu pikirannya.
"Bang Mahen, bener?" Tanya Juna, ia dan yang lain sudah mengetahui perihal umur Mahen yang satu tahun lebih tua darinya, mereka sempat saling berkenalan tadi.
"Iya."
"Gue masih nggak ngerti, bang. Apa maksud lo sama Harsa tadi tentang pohon, pintu, mawar, dan mimpi?" tanya Juna tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar begitu serius.
Mahen terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan apakah ia akan menjawab pertanyaan itu atau tidak. Akhirnya ia menoleh ke Juna. "Gue nggak bisa jelasin semuanya, Jun. Tapi lo harus percaya, pohon itu mungkin lebih dari sekadar pohon biasa. Kalau gue nggak nemuin pohon itu, hidup gue mungkin akan selesai di sini."
"Apaan sih maksud lo? Lo ngomong kaya gitu bikin gue tambah bingung. Ucapan lo jadi seolah pohon itu kaya hidup dan mati lo." Juna mendengus, jelas tidak puas dengan jawaban itu.
"Memang." Tutur Mahen pendek. "Lo bakal ngerti sendiri nanti."
Nala yang mendengar percakapan itu dari belakang hanya diam. Ia dan Harsa saling bertukar pandang, seolah-olah mereka berbicara dalam bahasa yang hanya mereka berdua mengerti.
---
Lama mereka berjalan, mereka merasa semakin masuk terlalu jauh ke dalam hutan. Dalam hati Nala berdoa agar mereka menemukan sebuah jalan ataupun tanda atau apapun itu agar tidak terus tersesat.
Langit sudah mulai gelap, dan kegelapan hutan semakin menyesakkan membuat rasa keberanian mereka mulai pudar perlahan. Suara jangkrik dan burung yang terbang kembali ke habitatnya menggema, membuat langkah mereka semakin pelan. Jendra yang berjalan paling depan pun mulai gelisah. Ia seringkali memeriksa jam di tangannya, sadar bahwa waktu hampir habis.
"Kayaknya kita harus balik," ucapnya tiba-tiba. "Kalau terlalu malam kita bakal kesulitan cari jalan keluar."
"Tapi gimana cara kita balik, bang? Jalan yang kita lewatin tadi aja udah nggak keliatan." Ucap Jingga.
"Kita putar balik dulu aja." Sahut Jendra.
Jingga menggelengkan kepalanya, menolak usulan Jendra. Mereka sudah berputar-putar di hutan sedari tadi, ia takut mereka akan tambah tersesat jika asal putar balik seperti itu.
"Terus gimana maunya?"
"Bang, kalau kita malah tambah tersesat gimana? Putar balik juga nggak pasti kita balik ke jalan yang tadi, kita udah coba, bang."
"Terus mau lo gimana, Ji?" Sahut Cakra sedikit geram dengan Jingga.
"Harusnya kita nggak terlalu lama ada di dalam hutan ini, gue udah bilang kan dari tadi kita itu harus balik!" Suara Jingga memecah keheningan, nada suaranya tinggi bercampur dengan rasa frustrasi. "Ini tuh semua karena lo, Cak. Lo yang dari kemarin maksa buat nemuin pohon itu, waktu kita tersesat tadi lo juga yang maksa nggak mau pulang." Lanjutnya dengan menunjuk Cakra yang berdiri berhadapan dengannya.
"Gue juga nggak tau bakal kaya gini, Ji. Gue cuma pengin nemuin pohon itu doang."
"Dan keinginan lo itu yang udah buat kita tersesat."
Jendra yang berada di tengah-tengah mereka berdua mencoba melerai menghentikan pertengkaran. "Udah Ji, lebih baik kita putar balik dulu aja, kita coba dulu." Ucapnya.
"Gue nggak mau bang, gara-gara lo mimpin jalan tadi aja kita jadi tersesat kaya gini."
"Ji, lo kira gue tau? Kita semua juga nggak mau terjebak di sini!" balas Jendra, dirinya tetap berusaha menjaga sikap tenang meskipun merasa kesal.
"Tapi lo yang mimpin jalan buat lewat jalur ini, bang!" sergah Jingga sambil menunjuk Jendra. "Kalau aja kita nggak ngikutin, kita mungkin nggak bakal tersesat kayak gini."
"Lo kira gue bisa tau ini bakal terjadi?" Jendra mulai kehilangan kesabarannya. "Kalau lo emang nggak mau gue di depan kenapa nggak bilang dari tadi, hah?"
Nala yang mendengar perdebatan tak berujung itu mulai jengah. Ia lelah dan hari sudah mulai gelap, tapi bisa-bisanya mereka masih di sini memperdebatkan hal-hal yang sudah terjadi.
"Udah, berhenti saling nyalahin!" potong Nala, suaranya terdengar keras. "Kita semua ada di sini karena keputusan bersama, jadi nggak ada gunanya berdebat sekarang."
"Tapi kalau kita terus-menerus tersesat kaya gini gimana, kak?" Ucap Jingga, matanya penuh kekhawatiran. "Kalau kita nggak nemuin jalan keluar sesegera mungkin, kita bisa dalam bahaya. Siapa yang mau tanggung jawab kalau sesuatu terjadi?"
"Lo percaya aja sama kita, Ji. Percaya sama abang-abang lo."
"Lo bilang gitu dari tadi, tapi sampai sekarang kita cuma muter-muter di tempat yang sama!" balas Jingga dengan nada tajam.
Sementara itu, Mahen berdiri di sisi yang agak jauh, memperhatikan perdebatan itu tanpa banyak bicara. Harsa meliriknya dan melihat Mahen dengan wajah yang tenang.
"Bang Mahen, lo tau jalan keluar nggak? Lo kan katanya udah lama di sini." Tanya Harsa, berharap pemuda itu bisa membantu.
Mahen menggeleng perlahan. "Gue juga nggak yakin. Tapi dengerin gue, pohon itu nggak akan ketemu kalau kalian masih saling menyalahkan. Percaya atau nggak semakin kita ribut semakin kita susah keluar dari sini."
"Jadi menurut lo kita harus gimana?" tanya Juna skeptis.
"Ikutin perasaan kalian," jawab Mahen. "Kadang, yang bener itu bukan logika, tapi hati."
Jawaban itu hanya membuat suasana semakin tegang. Juna mendengus, sementara Jingga hanya memutar bola matanya.
Sebelum ada yang sempat membalas ucapan Mahen, Nala tiba-tiba melangkah maju.
"Udah cukup! Sekarang kita fokus aja. Kita cari jalan bareng-bareng, nggak usah saling nyalahin lagi. Kalau mau keluar dari sini kita butuh kerja sama." katanya tegas.
Semua terdiam, tersadar bahwa perdebatan itu memang tidak membawa mereka ke mana-mana. Dengan langkah berat, mereka kembali berjalan, mencoba mencari jalan keluar meskipun kelelahan dan ketegangan mulai menguasai.
Saat mereka meneruskan perjalanan, mata Cakra tiba-tiba menangkap sesuatu di kejauhan. Ada sebuah siluet besar yang terlihat berbeda dari pohon-pohon lainnya. Cakra berhenti berjalan, matanya membelalak.
"Eh, tunggu!" teriaknya, membuat yang lain berhenti. "Gue liat sesuatu!"
Semua kepala menoleh ke arahnya. Cakra menunjuk ke arah siluet itu. "Di sana! Kayaknya itu pohonnya!"
"Eh, iya anjir."
Tanpa pikir panjang Jendra segera berlari ke arah yang ditunjuk Cakra, diikuti oleh yang lainnya. Nafas mereka semua memburu saat akhirnya tiba tak jauh di depan sebuah pohon besar.
Nala memandang pohon itu, matanya menelisik melihat bentuk dari pohon yang sudah ia cari terus menentukan. Pohon itu terlihat tua karena sudah tak ada lagi daun di rantingnya. Namun, walau begitu poton itu tetap terlihat luar biasa, batangnya besar dan kokoh, menjulang tinggi hingga rasanya bisa mencapai langit. Dan yang paling mencolok adalah bunga-bunga merah terang yang anehnya bermekaran di ujung cabang-cabangnya. Walau tak ada dedaunannya bunga itu tetap bersinar samar, seperti memiliki cahaya sendiri yang memancarkan kehangatan di tengah gelapnya hutan.
Mereka semua terdiam, terpesona oleh keindahan pohon itu. Namun, di saat yang sama mereka merasakan sesuatu yang aneh. Entahlah, mereka juga tidak bisa mendeskripsikan perasaan apa itu. Namun, yang mereka tau pasti ada sesuatu yang aneh dengan pohon itu.
"Itu dia..." bisik Mahen dengan nada penuh kelegaan. "Pohon yang gue cari..."
Nala melangkah mendekati pohon itu, tangannya terulur mencoba menyentuh batangnya.
"Natala..."
Sebelum tangannya sempat menyentuh batang pohon, ia berhenti. Nala mendengar suara itu lagi, suara yang sama yang terus memanggilnya di dalam mimpi.
"Kalian... dengar itu?" tanya Nala pada teman-temannya, suaranya bergetar.
"Dengar apa?" tanya Harsa bingung.
"Natala..."
Nala membelalakkan matanya lagi. Belum sempat ia kembali bertanya pada teman-temannya, suara aneh itu kembali terdengar. Suaranya seperti bisikan yang lembut namun jelas, dan dapat Nala rasakan suara itu ada di depannya. Di dalam pohon besar itu.
-To be Continued-