Chereads / Master of LYNK / Chapter 23 - Bab 2, Chapter 23: Misi Pertama

Chapter 23 - Bab 2, Chapter 23: Misi Pertama

Aruta dan Mono pun langsung terkejut melihat Sako yang ada di depan mereka. Sako juga ikut terkejut melihat Aruta dan Mono.

"Sako, dua orang ini adalah Aruta dan Mono," lanjut Kuroto. "Kalian akan menjadi satu tim-" belum sempat Kuroto menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ketiga anak itu serentak mengatakan, "OGAH!!"

Kuroto pun terkejut mendengar itu. "Eh?! loh kalian udah kenal?" tanya Kuroto yang kebingungan.

"Siapa juga yang mau laki-laki mesum ama laki-laki sok dingin kayak dua orang ini," ujar Sako dengan wajah juteknya.

"Hey sopanlah sedikit," ujar Aruta.

"Tcih," Sako memalingkan wajahnya.

"Hey," Mono memanggil Sako namun Sako hanya bergeming.

"Hey Sako," suara Mono mulai naik namun Sako tetap bergeming.

"Hey dasar bocah sialan," Mono langsung menarik tangan Sako membuat Sako pun akhirnya menghadap ke arahnya. Mono pun melotot ke arah Sako. "Kau sudah masuk ke tim ini. Sopanlah sedikitpun dengan rekan-rekanmu," ujar Mono dengan suara rendah namun mengitimidasi.

"Terus kenapa kalau aku tak melakukannya?" tanya Sako balik menatap tajam ke arah Mono.

"Oh, kau masih berani ternyata," ujar Mono mulai emosi. Aruta masih ada di sebelah Mono dan mulai ikut terpancing emosi dengan kata-kata Sako.

Dengan tangan lainnya yang tidak dipegang Mono, Sako memeras kerah Mono sembari berkata, "Ya, memangnya kenapa kalau aku berani?"

Aruta mendekati Sako dan menahan tangan Sako yang meremas kerah Mono. "Tidakkah kau punya sopan santun?"

"Kalian ingin menyerangku? Serang saja. Akan kubunuh kalian," ujar Sako.

Situasi semakin tegang namun tiba-tiba Pak Kuroto datang dan memegang kerah baju bagian belakang Aruta dan Mono. Di sisi lain, Bu Haruki datang memegang kerah baju bagian belakang Sako. Pak Kuroto dan Bu Haruki mengangkat mereka seperti mengangkat kucing.

"Eh?" Aruta, Mono, dan Sako pun terkejut.

"Haduh kalian ini udah kayak kucing mau berantem aja," ujar Kuroto. "Simpan energi kalian. Bertarunglah di dalam misi saja."

"Huff, apa boleh buat. Harus satu tim sama laki-laki ginian," ujar Sako menghela nafas. Aruta dan Mono pun semakin kesal melihat ekspresi Sako.

"Sudah-sudah. Kuroto, sepertinya lebih baik kau cepat berangkat. Kalian sudah molor lama sekali. Aku akan tetap di sini menunggu Gren dan lainnya kembali," ujar Haruki.

"Okhe," ujar Kuroto. "Berikan Sako kepadaku."

Bu Haruki pun menyodorkan Sako yang ada di tangannya. Dengan cepat, Kuroto menggendong Sako di pundaknya sedangkan Aruta dan Mono, dia bawa seperti membawa guling.

"Hey apa-apaan in-" belum sempat Mono menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Kuroto langsung melesat dengan kecepatan super tinggi.

"BWAAaaahhh!!"

Kuroto membawa mereka ke tempat parkir yang ada di sana dan menghampiri sebuah mobil. Kuroto membuka pintu mobil itu dan langsung melempar ketiga bocah itu ke dalam mobil.

"Aduh," Mono yang dilempar pertama oleh Kuroto. Mono sempat pusing sebentar namun tak lama kemudian hilang. Dia menoleh ke arah dia dilempar masuk dan terkejut ketika melihat Aruta yang dilempar ke arahnya.

"H-hey," Mono tak sempat menghindar dan Aruta pun menabraknya.

"Aduh," desis Aruta sembari memegangi kepalanya. Aruta menoleh ke arah Kuroto dan melihat Kuroto yang akan melempar Sako. "H-hey tunggu-"

Kuroto tak mendengarkan Aruta dan langsung melempar Sako kedalam.

"Waa!" Sako pun menabrak Aruta dan menimpanya. "Aduh," Sako sempat pusing sebentar. Saat fokusnya kembali, Sako terkejut dia sedang menimpa Aruta.

"Apa kau baik-baik sa-"

Belum sempat Aruta menyelesaikan perkataannya, Sako langsung menampar wajahnya dengan sangat keras "Menjauh dariku!" Tak berhenti sampai di situ, Sako terus memukuli dan menampari Aruta. "Dasar... plak... laki-laki... plak... mesum!!"

Di sisi lain, Mono yang ada di paling belakang harus bertahan dari Aruta dan Sako yang sedang bertengkar. "Mmmh mhmmh mmh!" suara Mono tertahan karena mulutnya tertimpa punggung Aruta. Namun beruntung tak lama kemudian, punggung Aruta bergeser membuat Mono setidaknya bisa bernafas. "Hey berhentilah kalian!" Namun sayang keberuntungannya tak terlalu mendukungnya karena tak lama kemudian, mulut Mono terkena sikut Aruta.

"Hey sudahlah kau!" Aruta pun mencubit kedua pipi Sako.

"H-hey jangan sentuh aku!" Sako pun membalas Aruta dengan menarik rambutnya.

Tak lama kemudian, Kuroto masuk dan duduk di depan setir. "Baiklah, cukup bertengkarnya. Duduk manislah di kursi kalian," ujar Kuroto sembari memasang sabuk pengamannya.

Aruta dan Sako pun akhirnya diam dan kembali ke tempat duduk mereka. Walau mereka berdua masih cemberut dan saling membuang wajah.

"Fiuh akhirnya," gumam Mono sembari kembali duduk.

"Baiklah. Anak-anak, waktunya kita berangkat!" ujar Kuroto.

***

Kuroto pun membawa Aruta, Mono, dan Sako dan berhenti di sebuah parkiran dekat supermarket.

"Baiklah, ayo turun," ujar Kuroto sembari melepas sabuk pengamannya.

"Loh, kita mau misi kok ke supermarket?" tanya Aruta.

"Waahh!! Apa misinya belanja?? Kalau bapak yang bayarkan sih aku jagonya ya," ujar Sako yang seketika bersemangat.

"Enak saja. Ya enggak lah," ujar Kuroto.

"Yahh," Sako kecewa.

Kuroto pun keluar dari mobil diikuti oleh ketiga anak itu.

"Kita harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Tenang, lokasinya tak jauh dari sini kok," ujar Kuroto.

"Oke." ujar ketiga anak itu bersamaan.

Mereka pun mengikuti Kuroto berjalan kaki. Hari sudah gelap dan jalanan pun cukup sepi. Beberapa saat kemudian, mereka berada di depan gang yang cukup sempit.

"Kita hampir sampai."

Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di depan gerbang sebuah rumah yang sudah sangat tua. Banyak sekali retakan di tembok rumah itu dan atapnya juga terlihat kusam.

"Inilah tempat misi kita hari ini. Menurut informasi yang kudapat, di dalam rumah itu ada "medan sihir alami' yang terbentuk. Ada beberapa orang yang masuk dan tidak bisa keluar. Tugas kalian adalah 'mengangkat' medan sihir itu dan menyelamatkan orang jika ada yang masih hidup di sana," ujar Kuroto.

"Medan sihir? Apa itu?" tanya Aruta.

"Medan sihir adalah area yang dipenuhi energi LYNK. Medan sihir terbagi menjadi dua yaitu medan sihir alami dan buatan. Medan sihir alami tercipta jika terdapat sebuah 'objek sihir' yang mengendap di suatu tempat dalam waktu yang sangat lama. Lama-kelamaan, medan sihir alami pun terbentuk dengan objek sihir itu sebagai pusat medannya," ujar Kuroto.

"Uhh objek sihir itu apa?" tanya Aruta.

"Objek sihir adalah benda yang memiliki energi LYNK nya sendiri. Jadi terkadang objek sihir bisa berbentuk berbagai hal mulai dari benda normal atau mungkin benda yang tak pernah kau lihat," jawab Kuroto.

"Begitu ya. Jadi kita harus menghancurkan objek sihirnya untuk mengangkat medan sihirnya?" tanya Aruta.

"Tidak perlu sampai dihancurkan. Bawa objek itu keluar dari medan sihir saja sudah cukup," jawab Mono yang ada di sebelah Aruta.

"Pintar! Nah untuk medan sihir buatan sendiri adalah medan sihir yang sengaja dibuat seseorang. Butuh waktu paling tidak dua puluh empat jam untuk membuat medan sihir buatan. Pusat dari medan sihir buatan sendiri adalah orang yang membuatnya. Untuk menangani medan sihir buatan itu cukup repot karena medan sihir itu masih ada walaupun pembuatnya keluar dari medan sihir," jelas Kuroto.

"Baiklah mungkin itu cukup. Untuk sisanya, aku rasa Mono sudah cukup ahli dan bisa memimpin kalian masuk ke dalam medan sihir di rumah itu. Dia pasti sudah tahu tentang medan sihir," ujar Pak Kuroto.

"Bapak sendiri ngapain?" tanya Mono.

"Bapak mau beli Ayam Bakar Hotwings dulu. Kalian tahu sendiri seberapa ramai tempat itu walau baru buka kan. Ya bukanya waktu jam makan malam sih. Pantes rame," jawab Kuroto. "Bapak pergi dulu ya. Sudah mau buka ni tempatnya," ujar Kuroto. "Oh ya, satu lagi. Aruta, Sako kalian yang hati-hati ya. Karena jika tidak, aku bahkan tak yakin jika tubuh kalian bisa kembali keluar dari sana," ujar Kuroto yang kali ini lebih serius. Namun tak lama kemudian, keseriusan Kuroto kembali hilang. "Baiklah, semangat ya semuanya!" Dia pun langsung melesat meninggalkan Ketiga anak itu.

"Hadeh orang itu," ujar Mono. "Ayo kita masuk."

***

Aruta, Sako, dan Mono mulai memasuki rumah itu dengan Mono yang ada di paling depan. Ketika mereka bertiga mulai memasuki rumah itu, Aruta dan Sako pun terkejut melihat bagian dalam rumah itu jauh lebih besar dari penampilan luar rumahnya. Saat masuk, mereka berada di sebuah ruangan super besar dengan ada dua buah tangga besar yang ada di sebrang ruangan. Ruangan ini cukup bersih dan seperti aula. Di antara kedua tangga itu, terdapat sebuah lorong yang cukup besar. Dan pada lantai dua, terdapat sebuah lorong yang sejajar dengan pintu masuk. Dan terdapat beberapa pintu yang mengelilingi aula itu.

"Sepertinya medan sihir di sini membuat bagian dalam rumah ini lebih besar daripada tampang luarnya," ujar Mono. "Rumah ini cukup besar kalau kita menjelajahinya hanya dengan satu tim. Aruta, kau bersama Sako menelusuri lantai satu. Aku akan menelusuri lantai dua," ujar Mono.

"Kau sendirian?" tanya Aruta.

"Aku lebih senior dari kalian berdua. Aku akan baik-baik saja sendirian. Kalian berdua bersamalah agar kalian lebih aman," ujar Mono.

Aruta melihat ke arah Sako dan Sako masih cemberut kepadanya. Aruta balik menatap Mono dan berbisik, "Hey kau menyuruhku bersamanya agar kau tak bersamanya kan."

"Iya," jawab Mono. "Baiklah, semangat kalian," Mono mulai pergi menaiki tangga menuju lantai dua.

Aruta kembali menghadap Sako dan bergumam, "Aduh aku bersama dengan gadis ini."

"Huff apa lihat-lihat. Cepatlah orang mesum. Selesaikan misi ini. Aku ingin cepat pulang," ujar Sako yang langsung berjalan mendahului Aruta.

"Hey jangan panggil aku mesum hanya karena sepatu ini. Dan satu lagi, namaku Aruta!" ujar Aruta kesal sembari mengikuti Sako di belakangnya.

Sako dan Aruta mulai memasuki lorong utama yang ada di lantai satu aula itu.

"Hati-hati loh ya. Kalau kau kenapa-napa aku gak mau nolong loh," ujar Sako.

"Hadeh iya-iya," ujar Aruta. "Aku tidak yakin misi ini akan lancar," gumam Aruta.