Chereads / GASKANA / Chapter 12 - Chapter 12 : Batu Melapuk Terkena Air

Chapter 12 - Chapter 12 : Batu Melapuk Terkena Air

"Mba! Mba! Mba! Ini bapaknya ketabrak motor" seru seorang pelanggan mengantar Pak Adi menuju tenda angkringan Ana dan Alma.

"Loh, bapak kenapa pak?" tanya Ana khawatir.

"Tadi bapak diajak teman kamu, namanya siapa ya? Rina, Rena" kata Pak Adi mengingat.

"Raina?" tanya Ana ragu-ragu.

"Ah, iya itu. Tadi katanya dia mau ngomongin sesuatu tentang kamu" jawab Pak Adi menahan perih.

"Raina? Masa sih dia ngelakuin ini? Buat apa? Kalo pun iya, kenapa dia nggak kesini?" tanya Ana kebingungan.

"Ah, yaudahlah. Bapak minum dulu ya, aku beresin barang-barang dulu. Kita pulang aja ya, bapak perlu istirahat. Alma, kamu disini dulu ya. Aku nganter bapak kerumah, sekalian bawa beberapa barang yang kotor" kata Ana memberikan segelas air putih pada bapaknya.

"Yah, maaf ya nak. Gara-gara bapak, kalian jadi haru pulang lebih awal" kata Pak Adi bertambah menyesal dan dipenuhi dengan rasa bersalah.

"Nggak papa, pak. Lagian udah malem juga, sisa makanan masih bisa dimasak buat sarap besok" jawab Ana sembari menata barang yang akan dibawanya pulang.

"Kakak pulang dulu ya dek, kalo ada yang pesen. Bilang aja udah habis, nanti kakak balik lagi bawa tiker sama markirin gerobak" kata Ana berpamitan dengan adiknya dan segera mengantar bapaknya pulang.

Sesampainya dirumah, Ana buru-buru membersihkan tangan dan menyiapkan kotak P3K untuk mengobati luka-luka bapaknya akibat terjatuh dari kursi roda yang tertabrak sepeda motor, inilah saatnya mereka berdua menyatukan pikiran. Saling bercerita, bertanya dan memberi perhatian satu sama lain, dengan pelan Ana membersihkan luka yang ada pada kaki bapaknya. Ana sudah berusaha ingin membawa bapaknya ke rumah sakit agar dapat diperiksa lebih dalam. Tapi Pak Adi merasa tau diri dan tidak ingin merepotkan Ana dengan menggunakan uang yang selama ini Ana simpan, biaya rumah sakit tentunya cukup mahal dan dirinya berpikir bahwa dirinya cukup baik-baik saja untuk dibawa ke rumah sakit

"Ditahan ya pak, Ana olesin salep biar lukanya cepet kering" kata Ana yang sedari tadi mengoleskan salep pada pinggiran luka Pak Adi.

"Bapak nggak papa kok, kamu buruan sana balik ke angkringan lagi. Kasian Alma sendirian" kata Pak Adi yang rupanya sedari tadi juga memikirkan putri bungsunya.

"Udah, selesai. Bapak istirahat ya, aku jemput Alma sebentar" kata Ana yang beranjak dari ranjang bapaknya dan segera pergi menyusul Alma di alun-alun.

Ana masih tak percaya jika Raina setega itu melakukan ini, dirinya memang pernah bercerita tentang bapaknya yang pergi meninggalkan Ana dan Alma. Apakah raina sedendam itu dengan bapaknya hingga harus melukai bapaknya, Ana yang bingung hanya bisa berjalan sambil menatap telpon yang memanggil nomor Raina tanpa jawaban.

Semua barang dikemas, Ana dan Alma sudah bersiap pulang. Mereka hanya perlu memarkirkan gerobak lalu pulang dan istirahat. Namun, belum sempat Ana mendorong gerobaknya, datanglah seorang pelanggan yang biasa datang ke angkringan Ana dan Alma.

"Udah tutup mas, ini mau pulang" kata Ana seraya menutup gerobaknya dengan terpal.

"Ah, iya nggak papa mba. Aku cuma mau tanya, yang tadi pake kursi roda itu bapaknya mba ya?" tanya pelanggan.

"Iya, mas. Kenapa ya, mas?" tanya Ana takut, barangkali saja pelanggan ini sudah datang dan dilayani bapaknya.

"Nggak kenapa-kenapa si mba. Cuma mau bilang aja, tadi kayanya bapak mba didorong sama temen mba yang maktu kemarin kesini bikin rusuh itu lho" jelas seorang pelanggan dengan mencoba menyuruh Ana mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Oh, yang waktu itu aku siram pake es" ingat Alma menjawab perkataan pelanggan.

"Zoya" batin Ana.

"Yaudah, mas. Makasih ya infonya, kita balik dulu ya mas. Permisi" kata Ana sembari mendorong gerobaknya.

Benar dugaan Ana, dirinya paham betul jika Zoya yang akan melakukan berbagai cara untuk mengancurkan dirinya. Hanya sebatas laki-laki saja membuat seorang Zoya menjadi gila dan mengorbankan segalanya, andai palanggan Ana tadi melaporkan kejadian itu kepada polisi. Tapi tidak untuk Zoya yang dilahirkan dari keluarga kaya, sudah seperti hal biasa jika diri mereka diberkahi kekayaan, terkadang Tuhan lupa meletakan sopan santun dan hati nurani pada mereka.

Sudahlah, terlalu larut untuk membahas Zoya. Alma dan Ana sudah sampai dirumah dan segera membersihkan diri untuk selanjutnya pergi tidur. Ana telah tidur lebih dulu setelah sebelumnya memeriksa jendela serta pintu agar terkunci dengan rapat, tak lupa memeriksa bapaknya yang sudah terlelap pulas dalam kamarnya. Kini berganti Alma yang mengerjakan tugas prakarya, dirinya cukup penakut untuk mengerjakan tugasnya diruang tamu. Segala peralatan seperti stik es cream, lem, kertas warna serta gunting diboyongnya kedalam kamar setelah selanjutnya ia fokus membuat tugas prakarya yang akan ia bawa esok pagi.

"Brakkk!!!".

Terdengar suara benda jatuh didapur, dasarnya Alma penakut menjadi semakin tak karuan. Dirinya berusaha membangunkan Ana yang telah tertidur dengan pulas hingga tak berkutik seperti orang yang sedang pingsan. Alma benar-benar ketakutan saat itu, namun dirinya juga penasaran dengan suara yang tidak mungkin disebabkan oleh tikus. Alma memberanikan diri melangkah keluar dari kamarnya dan mencoba mengintip dapur yang tertutup dengan horden. Lega sekaligus kasihan saat menyaksikan bapaknya berusaha mengambil air diatas meja yang tak sampai ia capai, Alma kemudian teringat bahwa mungkin saja kakaknya lupa menyiapkan minum untuk bapaknya dikamar. Tak kalah kaget Alma saat menyadari bapaknya berbalik arah menuju kamar dan tidak jadi minum, jantungnya hampir saja lepas, dirinya akan mereasa malu jika ketahuan mengintip bapaknya yang sedari kemarin tidak ia anggap. Untung saja ada lemari tv yang dapat digunakannya untuk bersembunyi. Alma memang membenci bapaknya, namun jauh dilubuk hatinya tertanama rasa rindu yang membuatnya semakin sedih jika menatap wajah bapaknya secara langsung. Merasa situasi sudah aman, Alma pergi kedapur dan mengambil sebotol air dan meletakkannya diatas meja kamar bapaknya, syukurlah bapaknya tidur memunggungi pintu kamar dan memudahkan dirinya menaruh botol berisi air putih. Tanpa disadari, rupanya Pak Adi belum sepenuhnya tertidur, dirinya kemudian tersenyum bahagia dengan mata yang tertutup. Akhirnya Alma yang keras kepala seperti dirinya mulai membuka hati untuk bapaknya, dirinya tak berhenti meneteskan air mata bahagia dengan terus tersenyum hingga larut dalam tidurnya.

Pagi telah tiba, saatnya Ana dan Alma berangkat sekolah. Ana berpamitan dengan bapaknya dan segera mengejar Alma yang lagi-lagi meninggalkan kakaknya tanpa berpamitan dengan bapaknya. Setelah keduanya berangkat sekolah hingga siang hari, Pak Adi merasa kesepian sendirian dirumah. Dirinya terlalu bosan untuk hanya tidur-tiduran atau menonton tv diruang tamu. Pak Adi kemudian mengambil inisiatif menyiapkan dagangan yang akan dijualnya bersama Ana dan Alma nanti malam, dirinya memang tidak terlalu pintar meracik bumbu. Tapi dirinya cukup yakin dengan racikan Ana yang sudah disiapkan sebelumnya, Ana memang terbiasa menyiapkan bumbu sebelum berangkat sekolah agar Alma yang pulang lebih dulu akan dengan mudah mengolah bahan yang cukup gampang. Jeroan hanya cukup diungkep dengan beberapa rempah-rempah dan selanjutnya dimasak dengan bumbu semur yang sudah tersedia pula didalam lemari es. Dihidupkannya kompor yang kemudian ia letakkan panci berisi jeroan ayam seperti usus, hati dan ampela yang sudah ditambahkan beberapa rempah-rempah seperti jahe, lengkuas, sereh, daun jeruk dan salam seperti yang sudah disiapkan Ana. Sembari menunggu airnya menggurah dan masak, Pak Adi juga menyiapkan wedang jahe dalam teko yang sudah terletak diatas kompor sebelahnya, dirinya hanya perlu menyalakan kompor dan menunggu keduanya masak dengan sempurna. Pak Adi juga tak lupa menghaluskan beberapa bahan yang akan dibuatnya menjadi semur kecap untuk jeroan ayam dan telur puyuh yang akan dijadikan sate. Namun nahas, serbet yang terlatak diatas kompor wedang jahe tersambar api dan merambat ke barang-barang yang terbuat dari plastik. Asap telah mengepul dan membuat Pak Adi berbalik arah melihat kobaran api dibelakangnya, Pak Adi yang malang membuat kebakaran yang cukup hebat didapur rumahnya.

"Semuanya gara-gara aku" batin Pak Adi sebelum dirinya jatuh pingsan dengan kobaran api dan asap yang membuat dirinya tak sanggup bernafas. Seluruh rumah telah terisi asap, beberapa warga yang menyadari kebakaran dirumah Ana segera menelpon pemadam kebaran dengan sedikit membantu memadamkan api menggunakan air yang diambil dari rumah tetangga sebelah rumah Ana. Semuanya menjadi saling bahu membahu sembari menunggu pemadan kebakaran datang, seperti itulah keakraban Ana dengan tetangganya yang membuat semua tetangga berusaha membantu memadamkan api dirumah Ana. Seperti pepatah, apa yang akan kau tanam, itulah yang akan kau panen. Semuanya jelas menggambarkan bagaimana kebaikan Ana terhadap sekelilingnya.