Chereads / GASKANA / Chapter 16 - Tiba-Tiba Yang Terencana

Chapter 16 - Tiba-Tiba Yang Terencana

Hari berlalu dan rentetan ujian praktek telah selesai. Selama sepekan mengikuti ujian praktek yang sangat menyiksa tubuh dan membuat semua siswa kelelahan. Untung saja wali kelas 12 Mipa 3 cukup perhatian mengusulkan liburan singkat dengan mengajak semua siswa termasuk kelas lain mengikuti camping di sebuah bukit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Semua hanya diwajibkan membawa peralatan camping dan berkumpul disekolah sesuai waktu yang ditentukan. Semua akomodasi dan biaya makan sudah ditanggung oleh sekolah, semuanya dilakukan hanya untuk merefresh tenaga yang harus dikeluarkan untuk ujian sekolah dan ujian nasional yang nampaknya sayup-sayup menyapa mereka.

Lama perjalanan satu jam dengan bus yang mereka naiki, jaraknya memang tidak terlalu jauh, namun karena letaknya bersebrangan dengan sungai dan mengharuskan rombongan berjalan memutarlah yang membuat perjalanan nampak lebih lama. Belum lagi kemacetan yang terjadi karena hari weekend. Untung saja semuanya terbayarkan dengan pemndangan indah yang nampak asri dan jauh dari kata polusi. Semuanya menikmati asrinya pegunungan setelah semuanya selesai mendirikan tenda. Siswa dan siswi dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 7 anak atau lebih, sesuai dengan luas tenda yang akan mereja tiduri. Makanan dan minuman telah disediakan guru, namun tidak semua guru hadir dan hanya beberapa guru yang cukup muda dan sanggup mengawasi anak-anak remaja beranjak dewasa itu.

Malam hari, semuanya diserukan untuk berkumpul ditengah lapangan untuk bermain permainan yang dirasa cukup menciptakan memori indah dikelas tiga yang sebentar lagi akan berpisah dan menetukan masa depan masing-masing. Permainan demi permainan dilakukan dan hampir keseluruhan permainan diikuti Ana hingga satu persatu temannya gugur dan memutuskan untuk tidur. Hanya tersisa beberapa orang yang masih terjaga, dianataranya adalah Ana dan Reni. Permainan yang semula diubah menjadi permainan lain dengan menggunakan botol yang diputar searah jarum jam dan jika ujung botol mengarah pada seseorang. Maka orang tersebut harus menjawab pertanyaan apa saja yang diajukan oleh pemain lain, semuanya setuju dan mulailah mereka memutar botol. Beberapa orang kena dan menjawab pertanyaan dengan diselingi tertawa senang. Hingga ketika salah seorang siswa menjadi korbannya, ujung botol mengarah padanya dan pertanyaan mulai diajukan.

"Oke, aku mau tanya. Ada nggak sih yang kamu suka di sekolah ini?" tanya Reni sembari tertawa geli mendengar pertanyaannya.

"Nah, iya. Kan banyak tuh yang suka, Luqi. Kira-kira ada nggak yang kamu suka juga, Luq" tanya seorang siswa lain.

Tanpa berpikir, mulut Luqi seakan otomatis menjawab pertanyaan itu dengan santai namun mendapat respon luar biasa dari teman-temannya.

"Ada, ada yang aku suka. Tapi dia malah suka sama orang lain" jawab Luqi singkat.

"Dan kalaupun dia mau terima aku jadi pacarnya, aku bakal nembak dia pas malam inagurasi nantu. Jadi, dia nggak ada alasan buat nolak aku karna karus fokus sekolah" jelas Luqi lagi.

"Luqi, kamu harusnya jujur sama aku dari awal. Aku nggak papa kokkalo harus mutusin cowokku buat kamu" jawab Reni yang membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.

"Tapi kalo dia nggak mau gimana, Luq?" tanya seorang siswa lain.

"Ya kan seenggaknya coba dulu ya, Luq?" jawab Ana seakan membela Luqi.

"Iya, seengaknya dia tau perasaanku" jawab Luqi lagi.

Permainan pu berlangsung hingga larut malam, salah seorang guru membubarkan permaian dan menyuruh semua siswa yang tersisa untuk tidur karena ada aktivitas lain yang harus mereka lakukan esok hari.

Selang beberapa bulan setelah camping dan semua siswa sudah selesai melakukan ujian sekolah dan ujian nasional, seperti hutang yang terbayarkan. Hingga malam inagurasi telah datang dan Ana mengikuti perayaan kelulusannya dengan teman tingkatannya. Dengan rok putih yang menutup lutut hingga sepertiga kaki ia berjalan memasuki aula sekolah yang cukup luas untuk berbagai acara. Belum sempat Ana melangkahkan kaki memasuki ruangan, tiba-tiba tangannya digandeng seseorang yang berjalan menjauh dari gedung. Sebuah atap gedung tanpa pembatas ia datangi dengan menggeret tangan Ana, Ana yang mulai tersadar mencoba melepaskan gandengan itu dan mencoba pergi meninggalkan laki-laki itu.

"Ana, aku sebenernya suka sama kamu" ucap laki-laki menghentikan langkah Ana.

Dirinya berbalik melihat wajah laki-laki itu dari kejauhan, diamatinya dengan jelas bahwa laki-laki itu ialah siswa kelas 12 yang juga mengikuti malam inagurasi seperti dirinya. Luqy, teman sekelas yang selalu bersaing peringkat dengan Ana namun terus terkalahkan. Rupanya sosok siswi yang ia ceritakan saat camping adalah Ana, Ana berbalik dan mencoba berjalan menjauh dari Luqi. Dirinya terus mengacuhkan Luqi karna berpikir bahwa Luqy hany main-main dengan ucapannya, hingga ketika tangan Luqi menarik lengan Ana. Namun, dengan sadar Ana kibaskan tangannya untuk melepaskan jeratan tangan Luqi. Nahas, sepatu hak yang Ana kenakan memiliki alas yang licin dan membuatnya hampir terjatuh dari tangga. Beruntungnya ia saat seseorang datang dan berusaha menangkap tubuhnya. Mata Ana yang tadinya terpejam kini terbelalak dengan sedikit berkaca-kaca, dirinya tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tangisnya seketika tumpah dan membasahi pipinya yang kini penuh dengan riasan, rasa tak percaya bak mimpi kini ia rasakan hingga sepersekian detik dirinya menatap sosok itu dengan air mata yang tak ada habisnya.