Bel masuk berbunyi dan seluruh siswa berlarian menuju kelas masing-masing. Ana yang masih berjalan memasuki gerbang pun ikut beralari menuju kelasnya hingga dapat mengikuti pelajaran seperti biasanya. Mata pelajaran demi mata pelajaran Ana ikuti dengan penuh konsentrasi bersama teman sekelasnya. Kelas 12 adalah waktu dimana mereka menghabiskan waktu terakhir di sekolah, bercengkrama, bercanda dan saling bertukar cita-cita. Tidak lain ialah Ana, dirinya kini harus mengejar cita-cita tanpa sahabat yang entah kemana perginya. Hal yang ia rindukan dari sosok Raina yang pergi beberapa tahun yang lalu, meninggalkan Ana yang penuh air mata. Kenangan tentang Raina mulai bermunculan hingga membuat Ana melamun dan tidak mengikuti pelajaran dengan baik, hal itu juiga dirasakan oleh guru kimia yang sedang mengajar. Ia menyuruh Ana untuk keluar dari kelasnya saat Ana yang tidak bisa menjawab soal dipapan tulis, guru kimia itu sendiri heran dengan Ana yang akhir-akhir ini sering melamun dan mencoba menceritakannya pada guru bimbingan konseling agar melakukan bimbingan pada Ana, karena barangkali saja ada hal lain yang membuat Ana tidak bersemangat sekolah.
"Ada apa bu?" tanya Ana bingung memasuki ruangan BK yang sama sekali belum pernah ia masuki selama tiga tahun bersekolah di SMA.
"Duduk dulu, nak. Nggak ada apa-apa sih, ini cuma bimbingan biasa. Buat kegiatan ibu, biar nggak dikira nggak ada kerjaan. Hehehehe" ucap guru BK dengan bercanda.
Ana hanya tersenyum menyahuti perkataan guru BK.
"Kamu Ana kan ya? Kelas 12 Mipa 3?" tanya guru memastikan.
"Iya, bu" jawab Ana singkat.
"Kira-kira mau lanjutin kuliah atau gimana ini?" tanya guru lagi.
"Pengennya lanjut bu" ucap Ana yang memiliki sifat introvert.
"Pengen lanjut dimana?" tanya guru yang seperti mengintrogasi.
"Pengennya yang jurusan sastra atau tata boga sih bu. Tapi nggak tau" ucap Ana lagi.
"Loh, kok nggak tahu. Kan itu cita-cita kamu, nak?".
"Saya orang nggak punya bu, jadi saya takut ngerepotin bapak. Adek saya juga masih sekolah, nanti kalo saya kuliah diluar kota. Yang biayain dan ngurusin bapak sama adek siapa?" jelas Ana.
"Emang bapak kamu kerja apa?".
"Bapak sakit dan nggak kerja bu, kalo saya sama adek jualan angkringan. Bapak sekarang juga bantuin jualan" jelas Ana lagi.
Kini Ana mulai terbuka dengan guru BKnya dan guru itu pun mengetahui hal yang selama ini membuat Ana sering murung dan tertutup. Sesuai dengan akta dan kartu keluarnya, guru itu menyimpulkan bahwa Ana harus menjadi tulang punggung dari adik dan bapaknya yang sedang sakit, Ana yang merupakan anak sulung tidak memiliki tempat mengadu dan mencurahkan isi hatinya. Karena itulah dirinya menyimpan semua masalah dilubuk hatinya paling dalam dan mengesampingkan egonya demi menghidupi bapak dan adiknya.
Selesai sesi bimbingan, Ana duduk ditaman sekolahnya. Menikmati terik matahari yang menembus rindangnya pohon, dari tempatnya duduk terlihat seorang anak perempuan yang mungkin saja adik kelasnya sedang tertidur dikursi panjang bawah pohon dengan eraphone ditelinganya. Dirinya seperti belum pernah melihat anak itu, baik saat berpapasan atau mengenalnya lewat pendidikan orientasi sekolah yang ia lakukan bersama teman OSISnya. Sayup-sayup terdengar suara siswi lain memanggil kata 'Lisa', dilihatnya siswa berambut pendek dengan hiasan bandana dikepalanya menghampiri siswi lain yang terlihat asik dengan earphonennya.
"Lisa, kamu kemana aja sih? Dicariin muter-muter nggak ada, eh taunya disini. Lama-lama jadi ikan asin kamu, Lis" celoteh siswi berambut pendek yang Ana kenal bernama Mega.
"Hih! Brisik banget sih, kamu!" bentak Lisa beranjak dari tidurnya.
Mega hanya menatap Lisa yang berlalu meninggalkan dirinya, hingga bayangan Lisa lenyap termakan angin dan barulah dirinya mengejar Lisa yang kini tak nampak lagi.
Ana hanya tersenyum melihat hal itu, dirinya seperti melihat sosok dirinya dan Raina yang baru pertama kali pindah ke sekolahnya. Ia umpamakan Mega sebagai dirinya dan Lisa sebagai Raina. Dirinya kemudian beranjak dari tempat duduknya dan beralih masuk kedalam kelas karena jam perlajaran kimia telah selesai. Ia teguhkan hati untuk benar-benar konsentrasi dalam mengikuti pelajaran, ketika kakinya melangkah memasuki kelas, ia usahakan semua beban yang ia emban selama ini ia letakan didepan kelas dan masuk kedalam kelas tanpa beban itu. Dia harus benar-benar mengikuti pelajar dengan baik agar nilainya tidak terjun bebas dan mengakibatkan dirinya sulit mencari pekerjaan jikalau dirinya tidak ingin melanjutkan perkuliahan.
Hari berlalu menjadi bulan dan kini Ana harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian praktik, satu persatu mata pelajaran ia ikuti hingga ketika dirinya mengikuti ujian praktek dengan mata pelajaran tata boga dan betapa terkejutnya Ana jika salah satu koki yang ia idolakan menjadi juri atas penilaian makanan mereka masing-masing. Ujian pun dimulai, semua siswa disuruh membuat sebuah hidangan yang berbahan dasar daun singkong, awalnya Ana ragu dengan pemikirannya. Namun, dengan tekad yang kuat dan rasa percaya diri yang tinggi. Dibuatnya seporsi rolade tahu ayam dengan daun singkong sebagai lapisan penggulung dan sedikit saus yang di buat dari daun singkong rebus yang dicampur dengan beberapa bahan dan menghasilkan rasa saus yang kental, segar dari perasan jeruk kunci dan gurih dari santan yang dihaluskan bersama daun singkong. Hidangan sederhana dari bahan yang seerhana namun menciptakan rasa yang berbeda dan tentunya mendapat respon positif dari Randy Hermawan. Seorang koki terkenal yang namanya dikenal hingga ke penjuru dunia, salah seorang koki yang mengharumkan nama Indonesia lewat tangannya yang memang kurang sempurna namun menciptakan kesempurnaan itu sendiri dari masakan yang ia buat dengan hati dan perasaan.