"Apa yang baru saja kau katakan!" teriak Erina sembari mengangkat tangan yang sudah mengepal, urat pada pelipis terlihat begitu jelas terpampang pada wajah putihnya. "Jika berani sekali lagi mengatakan hal seperti itu, aku akan segera membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri!"
Aarav mengangkat bahu tidak peduli, senyuman melecehkan masih saja dia pasang di depan wajah Erina. "Aku berkata jika kalian terlalu lemah dalam berusaha. Bahkan, anak kecil saja dapat keluar dari permasalahan seperti ini dengan mudah."
Setelah mengatakan hal tersebut, Aarav berbalik menghadap pohon. Kepalanya sedikit dimiringkan ke samping, menatap setiap bagian pohon yang ada di belakangnya. Mungkin saat ini Aarav sedang menunggu momen yang pas agar dia dapat keluar dari masalah kali ini.