"Tidak ada cara untuk kembali dan tidak ada kemungkinan yang lebih buruk lagi. Ayah pernah berkata, Lebih baik gagal dengan usaha, daripada hanya diam di tempat tanpa melakukan sesuatu. Eiireen juga mengatakan, seseorang yang hanya berhenti di satu tempat untuk mendapatkan pertolongan, tidak akan pernah bisa maju walau hanya selangkah." Aarav tersenyum ketika mengingat dua ucapan dari dua orang yang berbeda.
"Seperti nostalgia saja." Aarav menarik ujung bibir, tersenyum getir dengan tenag yang tersisa. Detik berikutnya, dia menelan ludah guna membasahi tenggorokan yang kering tiba-tiba. "Baiklah, aku sudah memutuskan apa yang akan kulakukan sekarang." Aarav mengepalkan tangan di depan dada.