Chereads / Destinies : Origin / Chapter 8 - Lost Kingdom Atlantis

Chapter 8 - Lost Kingdom Atlantis

Adzim pov

Setelah kami istirahat sebentar di markas, kami membahas tujuan kami selanjutnya.

Adzim:"Selanjutnya kita kemana?"

Falco:"Atlantis"

Fian:"Atlantis?, bukankah itu hanya dongeng anak anak?"

Anjas:"jangan bilang kau percaya pada dongeng anak anak?"

Falco:"tidak, kerajaan itu benar benar ada"

Adit:"kalaupun kerajaan itu memang ada pasti kerajaan itu ada di....."

Falco memotong perkataan adit.

Falco:"di dalam lautan, benar"

Qori:"bagaimana cara kita kesana?"

Fian:"benar, kerajaan itu pasti punya keamanan yang sangat ketat"

Falco:"aku sudah memikirkan hal itu"

Falco:"Adzim, Fian, Adit, Qori, dan Ina"

Falco:"kalian ikut dengan ku"

Anjas:"aku ikut, aku ingin melihat legenda itu"

Falco:"tidak"

Anjas:"kenapa? Bukan hanya aku saja yang membakar dapur"

Falco:"karena kekuatanmu tidak akan berguna di dalam air"

Kami lalu pergi ke garasi bagian air. Biar aku jelaskan, garasi di markas memiliki 3 bagian yaitu bagian kendaraan darat seperti mobil, motor dan sebagainya; bagian kendaraan udara seperti jet, helicopter dan sebagainya; dan bagian kendaraan air seperti perahu dan kapal selam. Kami menggunakan kapal selam dan langsung berangkat. Saat sudah berada di sekitar samudra Hindia aku melihat pemandangan bawah laut yang sangat indah.

Adzim:"pemandangan yang luar biasa, sungguh mengagumkan"

Falco:"kamu benar, pemandangan alam yang diciptakan tuhan memang indah"

Falco:"hanya saja manusia terlalu egois dan menghancurkan itu semua"

Fian:"kamu benar, andai saja alam tidak dirusak, aku sangat ingin melihatnya"

Falco:"bersiaplah kita sudah dekat ke Atlantis"

Terlihat dari jauh ada kerajaan yang indah dan terlindungi oleh perisai yang terlihat seperti gelembung.

Adzim:"bagaimana kamu akan menembus perisai itu?"

Falco:"benda apapun pasti memiliki titik lemah, kita akan masuk lewat sana"

Kami berhasil masuk ke Atlantis, dan Atlantis sungguh kerajaan yang sangat indah.

Falco:"ayo"

Fian:"tunggu, apa kamu tidak butuh pakaian selam?"

Falco:"tenang saja, gelembung itu menahan agar air tidak masuk dan menjaga oksigen di dalam"

Fian :"baiklah"

Saat kami turun, kami dihadang oleh para pasukan Atlantis yang menodongkan tombak mereka kearah kami.

Penjaga atlantis:"siapa kalian? Dan bagaimana kalian bisa masuk?"

Falco lalu mengangkat kedua tangannya.

Falco:"kami bukanlah musuh"

Falco:"kami ada perlu dengan raja kalian"

Falco:"bisakah kalian mengantar kami?"

Penjaga atlantis:"baiklah, tapi kami harus mengikat tangan kalian, untuk berjaga jaga"

Falco lalu mengulurkan tangannya. Setelah mengikat kami, mereka kemudian mengantar kami ke raja mereka.

Setelah sampai di ruang tahta, kami semua terkejut karena raja dan ratu Atlantis adalah Dwiyan dan Dela.

Dwiyan:"kalian? Apa yang kalian lakukan disini?"

Fian:"Dwiyan? Dela? Kalian raja dan ratu Atlantis?"

Dwiyan :"benar, tapi Kami hanya pengganti sementara karena Yang asli menghilang, bagaimana kalian bisa masuk?"

Adzim:"bisakah kamu menyuruh mereka melepaskan tali ini?"

Dwiyan:"maaf"

Dwiyan:"Penjaga tolong lepaskan mereka, aku mengenal mereka"

Penjaga:"baik yang mulia

Para penjaga lalu melepaskan ikatan kami.

Falco:"kami masuk melalui titik lemah perisai"

Dwiyan:"siapa kamu?"

Falco:"panggil saja aku Falco"

Dwiyan: "salam kenal, aku Dwiyan"

Dwiyan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Falco menjabat tangan dwiyan.

Falco: "salam kenal juga yang mulia"

Dwiyan: "panggil saja aku dwiyan"

Dwiyan: "ngomong ngomong apa yang kalian lakukan disini?"

Adzim :"kami sedang mengumpulkan orang orang yang memiliki kemampuan melebihi manusia biasa"

Adzim:"maukah kalian bergabung dengan kami?"

Dela mau bergabung namun Dwiyan menolak.

Dela: "tentu saja"

Dwiyan: "mengumpulkan orang orang? Untuk apa?"

Falco:"menyelamatkan dunia"

Falco:"yang mulia, bumi ini sedang diserang oleh iblis yang dapat merasuki dan mengendalikan manusia"

Falco:"jika dibiarkan, manusia akan punah, dan bumi akan hancur"

Dwiyan:"untuk apa peduli kepada manusia, mereka juga merusak alam"

Dwiyan:"laut ini juga pernah tercemar karena ulah manusia, dan kami besusah payah untuk membersihkannya"

Adzim:" tapi jika dibiarkan bumi bisa hancur"

Dwiyan:"jika kita menyelamatkan manusia bumi juga bisa saja hancur"

Falco:"yang mulia apa anda akan membiarkan manusia punah?"

Dwiyan:"sudah aku bilang jangan panggil aku yang mulia"

Falco:"maaf"

Dwiyan:"lagipula manusia tidak akan punah, kan masih ada kalian"

Dwiyan:"kalian boleh tinggal di kerajaan ini sampai keadaan sudah aman"

Falco:"bagaimana dengan yang lain?"

Dwiyan:"yang lain?"

Adzim:"teman kita yang lain"

Dwiyan:"dimana mereka?"

Falco:"dimarkas ku"

Dwiyan:"ajak saja mereka kesini, aku tidak keberatan"

Falco:"terima kasih, tapi tidak"

Falco:"apa kamu pikir para Dementor itu tidak akan menyerang kesini?"

Dwiyan:"biarkan mereka mencoba jika mereka bisa"

Dwiyan:"seluruh laut ini berada dikendali ku"

Dela lalu berusaha untuk membujuk Dwiyan.

Dela:"lebih baik kita membantu mereka"

Dela:"dengan kekuatanmu kamu bisa sangat membantu"

Dwiyan:"aku tidak akan membantu mereka yang merusak alam"

Falco:"tapi, coba bayangkan kalau kami saja bisa masuk kesini menurutmu bagaimana dengan mereka?"

Dwiyan:"aku akan menghancurkan mereka sebelum mendekat ke perisai"

Qori:"bagaimana kalau kamu tidak bisa melawan mereka?"

Dwiyan:"aku adalah raja dari lautan ini, tentu saja aku bisa melawan mereka"

Dwiyan:"lagipula kenapa kalian ingin menyelamatkan manusia? Apa yang telah manusia lakukan untuk kalian?"

Falco:"kami menolong manusia, karena kami juga adalah manusia"

Falco:"dan bukankah sudah seharusnya untuk saling tolong menoling sesama makhluk hidup"

Dwiyan:"baiklah, tapi jelaskan padaku, apa gunanya menyelamatkan orang yang telah mencemari dan merusak bumi?"

Falco:"tidak semua manusia itu buruk"

Falco:"kalau kamu memang menganggap dirimu kuat, bagaimana kalau kamu mencoba bertarung melawanku"

Dwiyan:"maaf?"

Falco:"jika kamu tidak bisa melawanku kamu tidak akan bisa melindungi lautan ini"

Qori:"apa kamu sudah gila? kamu baru saja menantang raja lautan "

Dwiyan:"dia benar, jika kita bertarung, kamu bisa saja terbunuh"

Dwiyan:"aku sudah menganggapmu sebagai temanku, aku tidak mau membunuhmu"

Falco:"terimakasih telah menganggapku sebagai temanmu, tapi aku tidak takut mati"

Falco:"jika aku menang kamu harus membantu kami"

Falco:"tapi jika aku mati, berarti bumi tidak membutuhkanku lagi, karena kamu sudah pasti bisa menjaga bumi ini"

Falco:"lagipula aku juga tidak memiliki peran apapun"

Dwiyan:"bukankah kamu ketua team ini?"

Falco:"Adzim adalah ketuanya"

Hal yang baru saja dia katakan benar benar membuat kami semua terkejut.

All:"HA??!!"

Adzim:"sejak kapan aku jadi ketuanya?"

Falco:"sejak awal memang kamu ketuanya, aku hanya membantu saja"

Adzim:"tapi"

Falco:"sudahlah Dzim"

Dwiyan:"baiklah, aku terima tantanganmu"

Dela:"Dwiyan!"

Dwiyan:"tenang saja aku tidak akan membunuhmu, lagipula aku juga penasaran dengan kemampuanmu"

Dwiyan:"mari kita pergi ke tempat latihan"

Sesampainya ditempat latihan aku dan yang lainya duduk di samping arena, sedangkan Falco dan Dwiyan sudah siap ditengah arena.

Dwiyan:"kapanpun kamu siap"

Falco: "bertarunglah dengan seluruh kekuatanmu"

Falco POV

Kami saling memberi hormat dengan sedikit membungkukan tubuh kami. Dia menyerangku dengan pukulan namun aku bisa menghindarinya dan membalas pukulanya, kami saling melakukan serangan fisik kurang lebih selama 5 menit namun dia tidak menggunakan kekuatan miliknya

Falco:"kenapa kamu tidak menggunakan kekuatan mu? "

Dwiyan:"kamu sendiri tidak menggunakan kekuatan mu"

Aku mengambil pistol ku dan menodongkan padanya.

Falco:"bagaimana dengan ini?"

"dor" aku menembakan pistol ku kearahnya. Dia menggunakan air  sebagai perisai untuk menahan peluru dari pistolku.

Dwiyan:"apa yang kamu lakukan?"

Falco:"sudah kublingang aku ingin kita bertarung secara serius"

Dwiyan:"baiklah"

Aku mengambil pistol ku yang satunya lagi dan dia menyerangku dengan kekuatan airnya, aku juga menyerang nya dengan pistolku. Puluhan peluru sudahku tembakan hingga dia terpojok dan akhirnya dia menyerangku dan mengurungku di dalam Bola air yang besar

Adzim:"Falco!"

Dwiyan:"tenang saja, dia tidak akan mati"

Ini gawat aku tidak boleh kalah, masker ini cuma bisa memberi udara hanya untuk 10 menit.

Falco: "aku tidak boleh kalah jika aku kalah bumi ini akan hancur"

Dwiyan: "kenapa kamu sangat peduli terhadap bumi ini?"

Falco: "sudah aku bilang kan? sesama...."

Dia memotong perkataanku.

Dwiyan:"hentikan omong kosongmu itu"

Kepalaku semakin pusing dan sepertinya aku akan pingsan.

Adzim POV

Falco masih terkurung di dalam bola air itu dan sepertinya dia sudah pingsan.

Adzim:"keluarkan dia dwiyan, dia sudah pingsan"

Dwiyan:"baiklah"

Tiba tiba kami semua merasakan ada kekuatan besar dan mengerikan yang berkumpul. Fian menelan ludahnya lalu bertanya.

Fian: "apa kalian juga merasakan itu?"

All:"iya"

Kami mencari dimana kekuatan itu berkumpul, dan ternyata kekuatan itu berkumpul di Falco. Setelah semua kekuatan itu berkumpul, kekuatan itu meledak dan menghancurkan bola air yang mengurung Falco. Ledakan kekuatan itu bahkan sampai membuat Dwiyan terlempar hingga terbentur dinding. Kami yang duduk tidak terlalu jauh dari arena pun juga ikut merasakan dampaknya. Kami melihat kearah Falco, dan dia dikelilingi aura hitam yang mengerikan.