"kenapa aku tidak bisa mengenainya.."
-jleb-
Ia tertusuk dan jatuh ke tanah. Kemudian, satu per satu para prajurit berjatuhan ke atas tanah.
Ras Half-beast memiliki kemampuan fisik dua kali lipat daripada manusia. Ketika dalam keadaan mode beast, kemampuan itu berlipat hingga dua atau tiga kali lipat, tergantung dari bakat yang mereka miliki.
Sehingga, untuk melihat pergelangan tangan atau pergerakan pusat gravitasi dari para prajurit itu menjadi hal yang sangat mudah bagi mereka.
Perbedaan dari beban yang mereka bawa turut menambah keunggulan mereka. Para Half-beast tidak menggunakan baju pelindung sama sekali, hanya kain biasa. Hal ini menyebabkan kecepatan mereka semakin unggul.
"dimana para pemanah?! dimana bala bantuan kita?!"
"musuh menyerang barisan belakang! mereka fokus pada hal itu dulu..."
-zraash-
Lehernya tertebas oleh pedang pendek milik Half-beast. Empat puluh melawan tiga puluh, akan tetapi tidak ada satupun korban jatuh dari pihak Half-beast.
Perang itu menjadi pembantaian sepihak. Tentu saja, seharusnya para manusia lah yang membantai mereka, jika Yana tidak ada di sana.
"to..tolong.."
-jleb-
Barry menusuknya tepat di leher. Kemudian, ia berlari kedepan untuk menghabisi sisa musuh mereka dengan dibantu oleh proyektil yang dilempar oleh Shanti dan Luga.
Hanya ada lima belas orang pemanah di barisan belakang, dan situasi ini membuat mereka tidak dapat mengambil keputusan antara harus tetap menggunakan crossbow atau mengganti dengan pedang mereka.
Jeda yang tercipta dari kebingungan mereka itulah yang memberi Barry dan yang lainnya waktu untuk menyerang mereka.
Satu persatu, mereka berjatuhan ke tanah hingga hanya tersisa satu orang.
"KAU.. MAHLUK HINA... komandan Libhane akan menunjukkan kekuatan manusia yang sebenarnya... hyaaaa!!!!"
Ia berlari ke arah Barry.
Barry hanya diam berdiri, tidak bergerak sedikitpun. Ia hanya menatap prajurit itu yang berlari dengan mengangkat pedangnya.
"MATI KAU!!"
-splaat-
Kepalanya hancur terkena proyektil berkecepatan tinggi. Shanti dan Luga melemparnya dengan jitu.
-bruugh-
Itu adalah prajurit terakhir yang tersisa. Barisan depan mereka pun sudah tak bersisa.
Para Half-beast memenangkan peperangan ini tanpa ada korban jatuh. Hasil ini hampir seperti mimpi bagi mereka, sebab mereka bukan pertarung namun tidak ada satupun dari mereka yang gugur.
Barry melempar pedangnya dan berteriak.
"DENGAN PERLINDUNGAN DARI ROGNIR!! DARI BUMI KEMBALI KE BUMI!!"
"DARI BUMI KEMBALI KE BUMI!"
Mereka dengan semangat menanggapi teriakan Barry.
"savior kita benar-benar luar biasa!! dia bisa mengubah nasib kita semudah ini! hahahahaha"
Barry tertawa sangat keras.
"-fuuh- ini... benar-benar sudah berakhir?"
Luga menyeka keringatnya dan menurunkan karung yang ia bawa.
"belum, ini belum berakhir"
Shanti berjalan ke arah Barry.
"Barry! kita harus segera mengikuti tuan Yana ke dalam hutan!"
"hah? apa yang.. benar juga, dimana savior?!"
"tidak perlu bertanya, bawa semua orang-orang kita dan ikuti aku, cepat!"
Shanti berlari lebih dulu ke arah hutan.
"aku mengerti! semuanya! ikuti aku!"
"YA!"
Mereka segera menyusul Shanti.
Tiga puluh Half-beast pria ditambah Shanti dan Luga berlari ke dalam hutan. Mereka semua menggunakan mode beast sehingga lari mereka sangat cepat.
"oi, Shanti! apa yang terjadi? kita sudah menang kan?"
"belum... kau lupa dengan ketua platon mereka?"
"...ah, pria dengan baju pelindung lengkap dan yang membawa bendera itu! jadi savior mencoba untuk menangkap mereka?"
"ya, tuan Yana bilang agar kita membantunya di hutan ini"
"aku mengerti sekarang.. tapi, apa savior memberitahumu? dimana kita harus menunggu?"
"....dia hanya bilang, kita akan mengerti ketika kita sudah di dalam hutan"
"..seperti biasa, aku benar-benar tidak mengerti apapun tentang savior kita"
"kau meragukannya?"
"tentu saja tidak Shanti. Suku kita sudah diselamatkan olehnya, itu fakta yang tak bisa dibantah"
"bagus kalau begitu. Tetap fokus"
Mereka mengangkat telinga mereka dan merasakan kehadiran seseorang di hadapan mereka.
"tunggu! kita sembunyi di belakang pohon itu!"
Barry memberi aba-aba kepada yang lain.
Mereka melihat ketua platon dan pria yang membawa bendera itu berdiri di tengah-tengah hutan. Mereka berdua sedang berteriak kepada seseorang sembari memasang sikap siaga.
"KAU ITU MANUSIA! TIDAK KAH KAU MALU?! MEMBANTU MAHLUK-MAHLUK BUAS ITU??"
Ketua platon berteriak.
"malu? untuk apa? karena kau manusia maka kau pihak yang selalu benar? bukankah kau yang harusnya merasa malu?"
"itu suara tuan Yana.."
Shanti berbisik kepada Barry.
"kau benar, tapi aku tidak melihatnya dimanapun"
Ia menggaruk-garuk kepalanya.
"aku yakin itulah yang tuan Yana inginkan. Mari kita tunggu tanda darinya"
"aku mengerti"
"MENYERAHLAH! DAN KOMANDAN LIBHANE AKAN MENGAMPUNIMU!"
Mereka berdua sama sekali tidak sadar, bahwa mereka sudah terkepung.
-----( Chapter 11 "Menuju ke dalam hutan" )-----