Chereads / Fons Cafe / Chapter 34 - Episode 36

Chapter 34 - Episode 36

Bandara Ngurah Rai ramai dengan banyak wisatawan mancanegara seperti biasanya, tidak mengenal musim apapun.

Diantara banyaknya orang-orang disana, Rhea, Carlos dan Gung Ai ada di dalamnya. "Ini boarding pass kalian. Hati-hati di jalan ya," kata Gung Ai sambil menyerahkan boarding pass mereka berdua tak ketinggalan tiketnya juga. "Jangan lupa untuk main-main kemari lagi setelah kalian menikah!"

Wajah Carlos yang sedari tadi murung dan kusut tak menentu akhirnya terangkat, "Menikah?"

"Iya, kalian tidak akan lama lagi akan menikah. Oke?"

"Tapi Gung, kita berdua--"

"Sahabat? Dan kalian berdua hanya berpura-pura untuk menjadi pasangan kekasih yang hendak menikah?" Tanyanya luwes. Rhea tersenyum kecil. Nyatanya memang begitu kan? "Percayalah, aku dapat melihat kalau kalian memang akan menikah setelah semua hal kacau yang kalian perbuat selesai."

"Terima kasih untuk waktu yang kau berikan ya, Gung Ai," ucapnya lalu memberikan pelukan hangat pada Gung Ai.

"Tentu saja. Ajik dan Raka akan sangat senang untuk menonton aksimu di sirkuit lagi pastinya."

"Sampaikan salamku pada mereka," balas Rhea, lalu Gung Ai mengangguk. Selanjutnya Carloa memeluk Gung Ai singkat, lalu mereka masuk ke dalam untuk boarding.

-----

Sampai di Jakarta, mereka berdua di jemput oleh David, lalu segera di menuju ke Regium, tempat Leo bekerja sekaligus tempat ayah Carlos di rawat.

"Kita harus cepat mengambil tindakan, karena seperti yang sudah di jelaskan tadi, keadaan ayahmu akan semakin parah," jelas Dokter jantung yang menangani ayahnya Carlos, "Ibumu juga sudah setuju untuk operasi ayahmu, namun karena yang membiayai semuanya adalah kau, jadi ibumu hanya menyerahkan semua keputusannya padamu."

Sementara di dalam Carlos diberi beberapa kata mutiara oleh Dokternya, Rhea, David dan Kris berusaha menenangkan ibunya Carlos.

Walaupun Carlos sudah berbicara cukup lama dengan Sang Dokter, sepertinya ini akan lebih sulit lagi karena Carlos terus bersikeras untuk membiarkan ayahnya begitu, membiarkan ayahnya mati secara perlahan.

Saat Carlos keluar, mereka bertiga beserta ibunya sudah menyambutnya.

"Bagaimana? Kau setuju untuk operasi ayahmu kan, Los?" Tanya Yuni sambil berlinangan air mata. "Ibu tidak bisa hidup tanpa ayahmu, Nak."

Carlos mengeraskan rahangnya. Bisa-bisanya ibunya masih bilang tidak bisa hidup tanpa orang yang sudah menghancurkan impian keluarga ibunya. Yang Carlos tahu, Pedro, lelaki brengsek itu hanya menambah pilu dan sakit hati ibunya selama 30 tahun menikah dengan Pedro.

"Tidak. Biarkan saja dia meninggal." Tanpa permisi, Carlos meninggalkan mereka semua.

"Carlos! Kau mau kemana?!" Seru Rhea nyaring. "Biar aku ikut, Los!"

"Bukan urusanmu!!"

-----

Rhea yang kelelahan karena harinya yan cukup panjang itu masih harus mencari dimana keberadaan Carlos yang menghilag tanpa mau mengatakan sepatah katapun. Dia pun pulang ke rumah orangtuanya di Sentul, di antar oleh David.

"Wanna come inside?"

"Nope. Aku ada jadwal syuting untuk stok episode, kau masuk saja, biar aku balik sendiri."

Rhea mengangguk, "Kalau kau melihat Carlos, tolong beritahu aku ya?"

"Pastinya."

Rhea turun dari mobil David membawa koper dan barang-barangnya. Di dalam rumah, dia pun masuk dan bertemu dengan ayahnya, Sebastien. "Kau sudah pulang?" Tanyanya.

"Oui, Pa.. Mama dimana?"

"Di kamarmu," balasnya hangat, "Bagaimana kabar pacarmu?"

Rhea mematung sebentar, "Pacarku?"

"Iya. Si Penulis Naskah Drama itu, Carlos. Bagaimana kabarnya?"

Rhea terkejut, jujur saja, ayahnya tidak pernah sekalipun menanyakan soal pacar-pacarnya. Saat dulu kuliah pun walau Rhea sempat beberapa kali pacaran, dan ayahnya selalu menganggap pacarnya itu angin lalu begitu saja. Bahkan Rhea pun berpikir kalau dia tidak akan bisa menikah karena ayahnya yang terlalu menyeramkan itu. Namun kini, ayahnya bertanya soal kabar Carlos. Ada apa gerangan?

"Tumben sekali, Papa bertanya soal pacarku?" Tanyanya lagi sambil duduk di sebelahnya. "Biasanya, Papa tidak pernah bertanya soal hal semacam ini, lho.."

"Just for my curiousity. Papa yakin kalau lelaki tempo hari yang kemari memang serius denganmu. Bahkan sejak dulu, Papa yakin kalau dia lelaki yang benar-benar melihatmu seapa adanya dirimu."

"Memangnya Papa kenal Carlos?"

"Kau mungkin tidak tahu. Tapi Papa pernah menghajar dia dan beberapa temannya yang lain, yang berani-beraninya membawamu untuk makan cumi!" Seru Sebastien. "Dan dari empat orang yang Papa hajar, Papa ingat kalau Carloslah yang mendapat hajaran paling keras di pipi, lengan dan pahanya karena dia berani mengatakan dia yang memberimu cumi paling banyak."

Rhea ingat juga kalau saat itu Carloslah yang menuruti keinginannya.

"Tapi dia juga menjelaskan kenapa dia begitu. Katanya, dia ingin melihatmu senang dan dia yakin kau akan baik-baik saja. Jika terjadi suatu hal yang buruk pun, Carlos berani bertanggung jawab untuk itu. Selama kau bahagia dan senang."

Rhea tersenyum, namun bingung. "Tunggu dulu, maksud Papa adalah, Carlos memang menyukaiku?"

"Hmm.. sepertinya dia tidak pernah mengatakan hal semacam itu."

"Maknanya tersirat, Papa!!!"

"Masa sih? Oh, mungkin iya juga," balas Sebastien sambil menyeringai.

"Ah, percuma saja bicara dengan Papa!" Rhea bangkit berdiri, lalu meninggalkan Sebastien sendirian di ruang tamu.

"Hei! Hei, Rhea! Kau mau kemana, Nak?"

"Ke kamar. Mencari tahu fakta yang sebenarnya!!" Serunya balik.

-----

Di dalam kamarnya, Rhea sibuk membereskan barang-barangnya. Mamanya keluar dari kamarnya sesaat setelah Rhea masuk. Lalu Rhea merapihkan barang-barangnya.

Foto, buku, pakaian dan ranjangnya pun tak luput dari perhatiannya. Rhea di tumpukkan buku lamanya, terdapat sebuah yearbook SMAnya. Dia pun membukanya.

Jujur saja, seharusnya dia baru kelas 3 SMP, namun karena kelas aksel sebanyak dua kali, akhirnya dia lulus SMA di usia 15 tahun. Dia pun berfoto di sebelah Kris, yang paling dekat, dan sekelas dengannya. Di jejeran foto penghargaan, Rhea berhasil mendapat predikat lulusan termuda.

Di foto halaman belakang, adalah foto-foto adik kelas. Dan tiap kelas mengirim seorang perwakilan untuk menuliskan kata perpisahan pada kakak kelasnya.

X . 2

Its almost a year after the first day I learned here, and there are so many things that I've spent with the seniors too.

May all the graduates can achieve their dreams and goals in life.

Well, however I'll be missing some of the seniors, especially Rae, who always smile brightly.

-Carlos Takamasa.

Rhea baru menyadari kalau Carlos menuliskan namanya disana. Selama ini dia tidak pernah sadar selama membaca yearbooknya.

Rae, adalah singkatan dari namanya. Rhea Andrina Escoffier, di singkat Rae. Dan itulah nama yang sering dipakai oleh Carlos, Leo, Tatsuya dan Alex untuk memanggilnya. Jadi apa memanf Carlos menyukainya sewaktu SMA dulu? Bagi Rhea, bukti ini saja sudah cukup.

Akhirnya dia pun mandi, untuk menyegarkan pikirannya. Namun setelah selesainya pun dia masih memikirkan hal itu dan membuatnya bingung.

Akhirnya, Rhea pun teringat akan janji Alex yang mau mengatakan alasannya menolak Rhea sekian kali banyaknya dulu. Tapi ponselnya berdering.

David Kajima.

Dengan cepat, Rhea mengangkatnya. "Ya Vid? Ada barangku yang tertinggal?"

"Oh, bukan. Ini soal Carlos, aku melihat mobilnya di sirkuit Sentul. Lamborghini kuningnya. Persih terparkir disana."

"Kau yakin?"

"B 2412 LOS. Betul kan itu nomor mobilnya?"

"Iya. Ya sudah, aku kesana. Kau tahan saja dulu dia disana!"

-----

Kurang dari setengah jam, Rhea sudah sampai disana. Seperti biasa, dia tidak pernah menganggap kalau jalan raya adalah jalan raya selayaknya. Dia selalu menganggap jalan raya, dan jalan manapun adalah sirkuit.

Tidak peduli seramai apa, baginya tiap jalanan adalah sirkuit. Sehingga dia pun bisa menganggap jalan-jalan dengan mobil adalah latihan balap.

Sampai disana, Rhea segera masuk, dan menemui David. "Sudah berapa lama dia disini?"

"Kata penjaganya dari jam setengah dua siang," jawab David. Rhea melihat jam tangannya yang menunjukkan jarum pendek di angka 5 dan jarum panjang di angka 6. "Sudah kurang lebih lima jam dia bermain disini. Sepertinya dia benar-benar kesal."

"Vid, tolong bilang ke penjaganya, matikan semua lampunya."

David melakukan seperti yang disuruhnya. Rhea melompat masuk ke sirkuit, dan menunggu Carlos di garis akhir. Melihat Rhea, Carlos langsung menurunkan laju mobilnya.

Ia pun membuka pintu dan helmnya.

"Que fais-tu?!--apa yang kau lakukan?!" Serunya kesal.

"I'm the one who should ask the same thing as you said! Apa yang kau lakukan disini, Bodoh!? Apa gila? Kau tidak memikirkan perasaan ibumu memangnya?!"

"Apa pedulimu?"

"Kau selalu mengatakan kalau keluargamu memang rusak. Ayahmu tidak pernah menghargai ibumu, dan ibumu hanya bisa menangis. Sementara apa yang kau lakukan untuk keluargamu yang rusak itu?! Apa!? Jawab aku!"

Carlos tercenung mendengar pernyataan dan pertanyaan yang di ajukan oleh Rhea secara bertubi-tubi.

"Dengar, aku selalu bilang kalau barang yang rusak selalu bisa diperbaiki. Namun yang hancur, sudah seharusnya di buang. Keluargamu hanya rusak Los, hanya rusak!" Serunya lagi, "Kalau memang ibumu tidak bisa melakukan apapun, kau seharusnya yang melakukan sesuatu untuk itu!"

Carlos masih tidak bisa menjawab, dan hanya diam.

"Apa kau menyayangi ibumu?"

Kali ini Carlos bergeming dan menganggukkan kepalanya.

"Apa kau sedih melihatnya sedih?"

Carlos mengangguk lagi.

"Sekarang ibumu sedang sedih Carlos. Dia sedih karena kau, anaknya tidak peduli dengan ayahnya yang sakit!"

"Aku punya alasan untuk yang satu itu!"

"Apa?! Alasan macam apa lagi yang mau kau berikan, huh!?" Seru Rhea. "Temui ibumu, minta maaf padanya, dan jadwalkan ayahmu untuk di operasi. Secepatnya!"

"Tidak akan!"

"Jangan salahkan aku kalau aku tidak mau menemuimu lagi kalau begitu."

Rhea pun melompat lagi dari sirkuit, ke pembatas, dan menuju lapangan parkir, lalu pergi secepatnya dari sana.