Dunia ini begitu indah. Begitu indah hingga tidak sadar ada keburukan di dunia ini. Lahir banyak sekali makhluk hidup dengan berbagai suku bangsa. Namun di dunia ini memiliki aturan tentunya, entah itu di ketahui atau pun tidak di ketahui.
Bagaimana cara orang membedakan setiap orang? Dari bangsa mereka? Tidak. Di dunia ini mempunyai sihir, sihir yang berasal dari berkah maupun kutukan. Semua memiliki sihir dan dengan sihir bisa membedakan orang yang lebih kuat dan lemah. Di dunia ini membedakan kuantitas setiap orang, terutama yang berasal dari berkah.
Sihir berasal dari berkah, sihir ini di anggap suci dan di hormati di setiap kalangan, mereka biasanya orang-orang terpilih. Sedangkan kutukan di anggap ke anggapan buruk. Mereka yang memiliki sihir kutukan akan di musuhi karena tentu saja, kata kutukan memang lah tidak baik.
Biasanya orang-orang memiliki sihir berkah berasal dari kaum tinggi atau bangsawan. Mereka tinggal di kota-kota penuh kenyamanan dan keamanan. Mereka pasti orang-orang memiliki harta lebih dari secukupnya dari hidup mereka. Terutama kerajaan, tempat yang paling bagus dari seluruh tempat di dunia ini. Kerajaan di bangun oleh orang memiliki sihir tinggi.
Orang yang memiliki sihir kutukan tidak boleh masuk ke dalam kerajaan apa pun, dan orang yang memiliki sihir rendah.
Sungguh beruntung orang-orang yang memiliki sihir berkah.
....
''Ada apa dengan orang ini?! Kenapa dia bisa sekuat ini?!''
Tumpukan tubuh tergeletak di tanah begitu banyaknya. Mereka semua tidak sadarkan diri setelah di hajar babak belur. Entah bagaimana satu pria bisa menghajar puluhan orang dengan begitu mudahnya.
''Hehehe cuma segitu? Kalau kalian ingin merampok, bawa lebih banyak lagi.''
Seorang pria tersenyum bangga.
Baju berantakan dan kusut tapi dia tidak terlihat terluka sama sekali, itu artinya dia tidak pernah terkena semua serangan bandit dari tadi.
Pria ini kuat.
''Sialan, pria ini kuat. Dari mana datangnya dia? Elindos? Daerah mana itu?''
Sisa para bandit panik menyadari hampir seluruh dari mereka kalah di tambah bos mereka sudah di kalahkan dengan mudah.
Tidak ada rencana mereka dan hal yang membuat mereka bisa menang.
''Bos sudah kalah, apa yang bisa kita lakukan sekarang?''
''Kalau begini kita harus pergi. Kita tidak akan bisa menang melawan anak itu di tambah suara pertarungan kita bisa di dengar monster di dekat sini, jadi melanjutkan pertarungan ini percuma.''
Salah satu bandit langsung menyeret bos mereka yang sedang pingsan beserta para teman-teman mereka yang lainnya. Mereka di seret ke dalam hutan, terdengar suara suara aneh dan hutan-hutan dan muncul benda dan meluncur ke atas langit, benda itu begitu besar terlihat seperti sebuah pesawat.
Tanpa menunggu lagi pesawat terbang itu langsung meluncur pergi ke atas langit, meninggalkan para pengelana. Mereka semua cukup terkejut melihat para penculik itu ternyata memiliki kendaraan terbang. Masuk akal mereka bisa menuju hutan di penuhi monster dan pindah sesuka hati mereka.
''Wah mereka memiliki kendaraan bagus, baru pertama kali aku melihat kendaraan seperti itu.'' Jaka terkagum melihat pesawat terbang itu.
Para pengelana menghela nafas lega, mereka selamat dari penculikan orang, jika saja mereka di culik yang nasib tentu menjadi lebih buruk dari nasib mereka saat ini. Betapa beruntung bagi mereka ada pria asing ini menyelamatkan mereka, sungguh mereka semua tidak tahu bagaimana cara berterima kasih kepada pria muda itu.
''Terima kasih pemuda, kami selamat berkatmu.''
''Oh tidak masalah, senang bisa menolong.''
Rendah hati terpancar dari wajah pemuda itu.
Salah satu pemilik gerobak kuda menghampiri Jaka.
''Tapi bagaimana dengan pedangmu, kami tidak tahu kalau anak memakai jubah itu ternyata adalah pencuri. Kami minta maaf karena tidak memeriksa semua penumpang.'' pemilik gerobak kuda merasa bersalah.
Bagaimana bisa nasib pria yang menolong mereka menjadi seperti ini?
Pemuda itu memakai wajah tidak keberatan atau pun marah. Dia tersenyum percaya diri.
''Tenang saja, pedangku tidak akan ke mana-mana. Anak itu pasti ada di sekitar kerajaan, bukankah letak kerajaan tidak jauh lagi?''
''Itu benar, beberapa jarak lagi kita akan sampai di kerajaan Helius, tempat tujuan kita.''
''Hmmm Helius?''
Pemuda itu memiringkan kepalanya, seperti bingung. Ini membuat pemilik gerobak kuda ikutan bingung.
''Apakah ada yang salah?''
''Ya... sepertinya aku menuju ke kerajaan salah.'' Dia masih memiringkan kepalanya.
''B-benarkah? Maafkan kami, sungguh kami tidak tahu ke kerajaan ke mana kau akan pergi. Kami tidak bertanya terlebih dahulu kepadamu.''
Pria itu masih berpikir masalah sekarang. Dia menuju ke kerajaan salah, sekarang mungkin saja rencananya sudah hancur menuju ke kerajaan tertentu. Dia menghela nafasnya mencoba mencari kelanjutan perjalanannya.
Para pengelana lain merasa bingung sekarang namun di antara mereka merasa lega mendengar sebentar lagi tempat tujuan mereka sudah dekat, dan perjalanan tersiksa ini akan berakhir. Tapi apakah itu benar?
''Baiklah aku rasa aku akan menuju ke kerajaan itu, untuk sekarang ini,'' jawabnya.
''Baguslah, sekarang kita harus melanjutkan perjalanan. Aku sudah merasa kalau para monster akan segera ke sini setelah mendengar pertarungan mu dengan para bandit itu.''
Mereka langsung buru-buru kembali ke kereta kuda dan melanjutkan perjalanan. Namun kali ini suasana menjadi lebih terbuka atau bisa di bilang ceria. Tadinya mereka terdiam satu sama lain tanpa mengatakan sepatah kata apa pun, sekarang malah mereka mengobrol satu sama lain dengan lebih terbuka.
Ada yang tertawa, ada yang membuat lelucon atau pun membicarakan keluarga, masa lalu, tempat tinggal. Bisa di bilang situasi sekarang lebih nyaman.
Ini mungkin efek dari pria tadi yang telah menyelamatkan mereka, pria tadi berseru mengatakan kalau namanya adalah Jaka.
''Tuan Jaka..''
Jaka yang dari tadi duduk terdiam sambil memejamkan matanya langsung sadar. Dia melihat pria paruh baya memanggilnya, dia kemungkinan berumur lima puluhan lebih tapi tampak dia masih memiliki tubuh segar tanpa kurus sedikit pun.
''Bolehkan aku bertanya anda sebenarnya dari mana?'' pria itu bertanya dengan ramah ke penyelamat nya.
''Oh aku dari Elindos, daerah yang begitu jauh sebegitu jauhnya aku tidak tahu entah sudah berapa lama aku melakukan perjalanan,'' jawabnya dengan senyum ramah.
Pria tua itu mengangguk mengerti.
''Apakah anda punya keluarga?''
''Aku memiliki empat orang putri sedangkan istri ku sudah tiada cukup lama,'' jawabnya lagi dan masih tetap memakai wajah ramah.
''Maaf, aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu.'' pria tua itu merasa bersalah.
Mereka mengobrol, bercerita, dan tertawa. Seolah-olah mereka sudah saling kenal satu sama lain. Walaupun ada perampok lagi atau pun mungkin monster mereka bisa mengandalkan pria itu. Pria misterius datang dari jauh menuju ke kerajaan yang salah, itu keberuntungan mereka.
Kereta kuda melewati pegunungan dan hutan. Keadaan mulai lebih cerah dari sebelumnya berkat cahaya matahari, namun ada sesuatu yang membuat kecerahan di sekitar mereka lebih terang.
Di depan mereka ada tempat tinggal yang begitu besar atau bisa di bilang kerajaan. Akhirnya mereka berhasil sampai di tempat yang mereka tuju, berakhir sudah penderitaan mereka dengan penderitaan, kelaparan, kehausan dan ketakutan kepada monster. Mereka akhirnya mencapai tempat yang aman.
Kerajaan ini berdiri kokoh dengan dinding di sekitar nya, begitu luas hingga sulit melihat ujung samping kerajaan itu, di dalamnya berdiri bangunan-bangunan tinggi dan tampak bercahaya cukup terang. Bisa di sebutkan di dalam kerajaan pasti begitu banyak sekali orang-orang walaupun mereka hanya bisa melihat tembok dari luar.
Para pengelana kagum tentunya, mungkin kebanyakan dari mereka berasal dari desa-desa kecil sehingga baru pertama kali melihat bangunan sebesar ini. Mereka terlihat begitu senang akhirnya bisa mencapai kerajaan yang mereka khayalkan di dalam kereta kuda. Tempat yang akan mereka jadikan tempat tinggal, hidup tenang tanpa rasa kelaparan dan kehausan di tambah mempunyai tempat perlindungan dari para monster. Ini mimpi menjadi kenyataan.
Mereka merasa begitu senang.
Jaka menatap kerajaan itu juga merasa kagum, sepertinya ini juga pertama kalinya dia melihat kerajaan sama halnya dengan para pengelana lain. Tapi ini bukanlah kerajaan yang dia tuju namun dia sudah memutuskan ke sini terlebih dahulu, berpikir bisa memikirkan perjalanannya nanti.
Kereta kuda hampir sampai di dekat gerbang masuk kerajaan. Di lihat dari dekat mereka melihat tembok kerajaan itu begitu besar ternyata, ini sepertinya membuat para monster kesulitan masuk ke dalam kerajaan.
''Apa itu?''
salah satu pengelana melihat ke samping sambil menunjuk batu kristal berbentuk kotak vertikal berdiri beberapa puluh meter dari tembok kerajaan, dan ada lagi kristal batu sepuluh meter di sampingnya, ternyata kristal-kristal itu berjejer dengan rapi seperti menunjukkan pola lingkaran mengelilingi kerajaan itu. ukuran kristal itu cukup besar, sebesar empat orang dewasa berdiri tegak.
''Itu seperti sebuah pelindung,'' kata Jaka melihat dengan teliti batu kristal itu.
Dan mereka menyadari kalau lingkungan mereka ternyata lebih hidup, tumbuhan hijau bisa terlihat di sekitar kerajaan dengan banyaknya, ada bunga-bunga cantik dan menawan, dan bahkan ada makhluk hidup di sekitar tempat ini seperti burung-burung yang terbang di atas langit-langit kerajaan, makhluk seperti tikus tanah namun dengan tanduk dan ukuran lebih besar dan lagi ada serangga-serangga seperti lebah mengelilingi bunga-bunga.
Kereta kuda pun sampai di depan gerbang kerajaan. Mereka semua berhenti dan para pengelana keluar.
''Akhirnya kita sampai!''
''Aku akhirnya bisa makan!''
''Sungguh sejuk sekali tempat ini berbeda dengan hutan gelap tadi.''
Mereka semua tampak bergembira, terlihat begitu senang sampai ada yang terletak ke tanah mencoba menikmati rasanya rumput hijau muda itu.
Jaka menuju ke arah kusir.
''Jadi apakah kau punya akses untuk masuk ke dalam atau kau punya orang kenalan di kerajaan ini?'' Jaka bertanya.
''Kalau itu tenang saja, aku bisa mengatasinya.'' kusir itu lalu melihat ke atas lalu dia terlihat menarik nafasnya dalam-dalam.
Jaka bingung melihat tingkah nya dan secara spontan kusir itu berteriak dengan kerasnya.
''Tolong buka pintunya! Tolong kami!''
Semua pengelana terkejut mendengar teriakan pak kusir, dan ada yang aneh dengan kata-katanya, seolah-olah dengan malah ingin meminta pertolongan. Semua orang lalu menyadari sesuatu.
''Tunggu jadi kau sama sekali tidak punya akses masuk ke dalam?''
Pak kusir berbalik dengan senyuman kaku di bibirnya.
''Hehe.''
Semua orang terdiam melihat pak kusir itu, jadi artinya dia hanya menghantar mereka ke sini namun tidak memiliki apa pun agar mereka bisa di terima masuk ke dalam kerajaan. Ini buruk, benar-benar buruk. Suasana yang tadinya bergembira malah kesal melihat ke arah pak kusir.
''Apa maksudmu 'hehe'?! Kau hanya menghantar kami tanpa memberi kami kemungkinan untuk masuk!''
''Kau menipu kami!''
''Sialan apakah mereka akan mengusir kita?!''
Mereka semua panik sambil memarahi pak kusir.
Jaka di sisi lain dari tadi terdiam. Dia cukup terkejut mengetahui mereka sudah di tipu oleh pak kusir namun di dalam pikirannya dia masih bingung. Apakah itu benar? Apakah benar pak kusir menipu mereka sampai ke sini? Dengan menjelajahi tempat yang begitu jauh dan mengerikan dia merasa tipuan pak kusir tidak pantas jika di bandingkan dengan tadi, pak kusir hanya meminta beberapa uang, perhiasan atau barang-barang berharga dan akhirnya mereka sampai di tempat ini. Ini terlalu berlebihan jika mereka di tipu oleh pak kusir.
Pak kusir hanya terdiam sambil tersenyum kaku, para pengelana seperti sedang bersiap-siap menghajar pak kusir.
''Hey kalian hentikanlah.'' Jaka mencoba menghentikan mereka semua.
''Tapi tuan, dia sudah menipu kita dan mungkin saja kesalahan perjalananmu mungkin karena dia juga.'' salah satu dari pengelana berkata dengan sopan.
Para pengelana lain mempersiapkan peralatan untuk menghajar pak kusir, dari batu atau kayu di sekitar mereka.
Pak kusir yang ketakutan langsung berlari ke belakang Jaka, mencoba mencari perlindungan dari pemuda itu.
Mereka semua mendekati Jaka dan pak kusir itu secara perlahan-lahan, mencoba menghajar pak kusir. Dan tentu mereka tidak mau berhadapan dengan Jaka, mereka semua pasti akan kalah jika bertarung dengannya walaupun mereka semua bisa mengeroyoknya.
''Hey siapa kalian semua!?''
Terdengar suara teriakan dari atas tembok.
Terlihat banyak orang berbaris jajar dari atas tembok. Mereka memakai seragam putih, seragam mereka terlihat rapi, dari baju berlengan panjang dengan sarung tangan dan di punggung mereka memakai jubah putih. Bagian bawah mereka tidak terlihat karena ke tutupan tembok.
''Aku ulangi siapa kalian?!'' salah satu dari mereka berteriak sekali lagi.
''Itu Wizard..'' salah satu pengelana terlihat ketakutan.
Dari salah satu ketakutan pengelana membuat Jaka penasaran. Ini seperti pertama kalinya dia mendengar nama itu itu. Wizard, entah kenapa nama itu membuatnya seperti orang yang harus takut terhadapnya.
''T-tolong kami!'' salah satu pengelana berteriak berharap mereka bisa menolong mereka.
''Hah! kalian hanya pengelana. Pergilah kami tidak mau membawa orang kotor seperti kalian! Tempat ini adalah tempat orang bermartabat tinggi dan kalian bukanlah siapa-siapa jadi pergilah!''
Kata-kata itu langsung menusuk ke hati para pengelana. Hinaan itu membuat mereka syok dan langsung murung. Tidak ada yang bisa mereka katakan untuk membela diri mereka, ini sudah menjadi hal biasa orang kerajaan menghina dan mengusir orang biasa seperti mereka.
''Kamu mohon biarkan kami masuk ke dalam kerajaan ini, kami sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi, bahkan jika memang harus menjadi budak pun aku tidak masalah!'' salah satu pengelana berkata.
Dia sepertinya sudah merasa frustasi dan berpikir menjadi budak sudah cukup untuk tinggal di kerajaan ini, entah apa yang akan mereka lakukan kepada dirinya tapi ini satu-satunya cara jika seperti ini.
''Sudah aku bilang! kami tidak butuh orang seperti kalian! Pergi atau kami harus menggunakan cara kekerasan!''
Beberapa dari mereka langsung menggunakan tongkat besi dan mengacungkan ke arah Jaka dan para pengelana. Mereka akan bersiap-siap akan menembak!
Para pengelana ketakutan dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, para wanita mulai menangis merasa kecewa. Seharusnya mereka tidak perlu berharap berlebih.
''Hey kita harus segera pergi,'' kata Jaka sambil mencoba memberi arah kepada para pengelana.
tongkat cahaya para Wizard tampak bercahaya dan seperti benar-benar akan menembak.
''Sial, kalau saja pedangku ada disini,'' geram Jaka kesal.
Namun tiba-tiba saja mereka berhenti. Mereka semua menghadap ke belakang sambil berbaris seperti ada yang menyuruh mereka untuk berhenti. Muncul seorang pria yang rapi, dari wajah mereka dan dia juga memakai pakaian armor putih tidak terlalu tebal. Dia melihat Jaka dan para pengelana sementara lalu menghadap kembali ke arah orang yang mengusir mereka. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu.
Lalu pria itu kembali melihat ke arah Jaka beserta para pengelana.
''Kalian para pengelana! Jika kalian ingin masuk ke dalam maka berjalannya ke arah kanan tembok ini, di sana kalian akan menemukan sebuah rumah kecil. Tunggulah di sana!''
Pria itu hanya mengatakan perkataan itu dan lalu pergi, di ikut oleh para Wizard tadi.
Semua pengelana terheran-heran. Apa maksud pria itu tadi? Dia menyuruh mereka semua untuk menuju ke arah kanan tembok yang artinya mereka harus mengelilingi tembok besar ini dan menemukan sebuah rumah kecil. Lalu apa? Dia menyuruh mereka tunggu di situ? Ini membuat para pengelana bertanya-tanya.
''Apa ini jebakan?''
''Entahlah, mungkin saja.''
''Aku rasa ini jebakan. Mungkin saja di sana dia menyuruh prajurit untuk menangkap kita lalu menjadikan kita budak, itu yang masuk akal di kepalaku.''
''Bukankah itu lebih baik. Menurut kalian mana yang lebih baik, di luar tembok yang bisa saja di bunuh dan di makan para monster atau menjadi budak di kerajaan ini? Tentu saja aku akan memilih menjadi budak.''
Para pengelana masih berpikir dengan keputusan mereka. Bagaimana jika memang ini jebakan? Apakah mereka akan menjadi budak atau langsung di bunuh?
''Bagaimana menurutmu tuan?''
Beberapa pengelana melihat ke arah Jaka. Pria itu memang juga ikut berpikir, dia berdiri sambil memegang dagu nya seperti berpikir dengan keras, tapi tidak ada rasa takut keluar dari tubuhnya.
''Hmmm sebaiknya kita ikuti kata orang itu.''
''Tapi bagaimana jika itu memang jebakan?''
''Tenang saja, aku akan melindungi kalian semampu ku.''
Kata-kata terakhir Jaka membuat para pengelana terperangah. Mereka masih tidak percaya kalau pria ini masih rela akan menjaga mereka.
''T-Terima kasih tuan, kami tidak tahu harus membalasmu dengan apa.''
''Tidak masalah, aku senang membantu kalian.''
Mereka pun mulai berjalan mengitari tembok besar ini. Di perjalanan mereka bisa menyadari tembok ini memang besar dan begitu kokoh. Warna tembok ini putih bersih dan sedikit bercahaya seperti ada pelindung sihirnya. Kali ini anak-anak sekarang lebih terbuka, yang tadinya hanya bisa memeluk orang tua mereka dengan ketakutan dari saat perampokan dan hingga sekarang, namun kali ini mereka bisa berjalan sendiri dan bahkan ada yang berlari kesana-kemari.
Hingga sampai lah mereka di tempat yang di tuju. Tampak ada rumah tua yang kecil, bahkan sudah terlihat hampir rapuh.
Mereka semakin tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh pria tadi tapi orang yang menyelamatkan mereka begitu percaya diri dan menuju rumah itu, di susul oleh mereka.
Mereka masuk. Di dalam terlihat seperti rumah biasa, ada ruang tamu, dapur dan tempat mandi, bahkan peralatan rumah biasa, meja, kursi, tempat tidur dan lainnya.
Para pengelana melihat-lihat apa yang ada di tempat ini. Mereka terheran-heran, sebenarnya apa yang di pikirkan pria tadi.
''Sebenarnya apa yang pria tadi inginkan, sekarang kita ada di sini lalu apa? Menunggu untuk apa?''
Beberapa lama mereka bertanya-tanya, tiba-tiba terdengar suara dari salah satu ruangan rumah itu, suara yang cukup kuat.
Mereka semua kaget.
....