Chereads / Love of the dreamer / Chapter 15 - Penjelasan Eci

Chapter 15 - Penjelasan Eci

"Masuk lah" ujar raffa yang mengarahkan eci ke ruangan tempat hanna tidur.

eci langsung masuk dan mencari keberadaan hanna, yang ternyata hanna sedang terlelap dengan sangat nyenyak di atas kasur milik raffa. eci menghampiri hanna dan memeriksa keadaannya, setelah ia memeriksa keadaan hanna yang ternyata baik-baik saja ia pun memutar tubuh nya menghadap raffa yang tengah berdiri tepat di belakangnya.

"Maafkan aku karena sudah berfikiran buruk tentang mu dokter" ujar eci yang merasa sangat bersalah.

"Tidak apa, wajar jika kamu berfikir seperti itu karena hanna adalah sahabat kesayangan mu, benar bukan?" jawab raffa.

"Ya benar dia bukan hanya sahabat kesayangan ku, tapi ia sudah seperti kakak sekaligus adik ku" jawab eci.

"Terimakasih karena sudah menjaganya dok" kata eci.

"Iya sama-sama" raffa menjawab dengan senyuman manisnya.

.

.

.

Langit sore mulai terlihat, angin berhembus perlahan menari bersama daun-daun dan rumput yang ada di taman apart tempat hanna tinggal. hanna berjalan dengan raut wajah kesal yang sesekali mengusap wajahnya dengan kedua tangan nya, eci yang berjalan di belakang hanna tidak berani untuk berjalan ke samping hanna karena ia tahu hanna sedang sangat kesal karena dirinya meninggalkan hanna berdua bersama seorang pria yang baru saja mereka temui dua kali. ketegangan pun menjalar ke seluruuh tubuh eci saat ini. ketika eci hendak memulai percakapan hanna tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap eci . hanna menatap eci tajam dan eci menatap hanna dengan sangat polos, hanna kembali berjalan dan menahan rasa kesalnya, ia tahu jika eci bukan orang yang pergi meninggalkannya begitu saja, pasti ada sesuatu yang sanggat mendesak sehinggga eci meninggalkannya.

"Akkhhhh eciiii kau sungguhh...akhhhh"hanna mengacak-acak rambutnya berusaha menahan emosinya, karena ia tidak bisa marah pada sahabatnya itu. hanna langsung duduk di bangku yang ada di depannya di susul eci yang mencoba menghilangkan emosi hanna pada dirinya.

"Han kamu baik-baik saja?" tanya eci.

"Ya aku baik, sebaik kamu meninggalkan ku bersama dokter itu" jawab hanna kesal.

"Hehehe maaf han, sungguh aku tidak bermaksud melakukan itu, lagian kamu juga sih tidur ga lihat tempat dan waktu" jawab eci yang seakan memberitahu kecerobohan hanna sendiri.

"Lalu jika aku tertidur di pinggir jalan apa kamu akan meninggalkan ku?" tanya hanna dengan wajah kesalnya yang justru terlihat sangat lucu.

"Tentu saja" jawab eci.

"Apa!!... kamu ini sahabat ku atau musuh ku sebenarnya eci" ujar hanna.

"Tentu saja sahabat mu" eci tersenyum untuk menggoda hanna.

"Kamu itu seperti musuh yang menyamar menjadi sahabatku" jawab hanna yang langsung mengalihkan tatapannya dari eci.

"Hahahahaha,, baiklah aku minta maaf sahabat ku tersayang, karena telah meninggalkan mu di sana" eci langsung memeluk hanna erat.

"Urusan penting apa yang membuat mu sampai meninggalkan ku eci, ceritakan semuanya" jawab hanna yang menuntut penjelasan dari eci.

"Baiklah akan aku ceritakan semuanya,, tapi tersenyum lah dulu, coba lihatlah bunga di sekitar mu mulai layu karena wajahmu yang cemberut itu" eci kembali menggoda hanna.

"Iiissshh sudah cepat cerita" wajah hanna memerah akibat kata-kata eci.

"Baiklah baiklah,, jadi seperti ini..." eci menceritakan semua nya kepada hanna tanpa terkecuali, dan hanna fokus mendengarkan cerita eci.

.

.

.

Sementara itu raffa yang tengah duduk tenang di ruangannya termenung menatap sapu tangan di atas meja kerjanya, ia terus menatap sapu tangan itu sambil tersenyum, pikirannya kini hanya ada hanna hanna dan hanna, entah sihir apa yang di gunakan hanna sampai mampu memikat hati seorang dokter tampan yang di kenal selalu menjaga jarak dengan wanita, dan hanna adalah wanita pertama yang membuat dirinya selalu ingin dekat dan ingin semakin dekat dengannya.

"Dokter ini ada berkas yang harus anda tandatangani dan---??" ujar suster yang masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya, suster itu terdiam ketika orang yang ia ajak bicara melamun sambil tersenyum ke arah benda mati dihadapannya.

"Dok??" ujar suster lagi. Tapi dokter raffa tetap tidak menyadari kedatangan seseorang ke ruangannya.

"Dokter raffa, anda baik baik saja??" suster pun kembali bertanya dan melambaikan tangan ke arah dokter raffa, sampai akhirnya raffa terkejut dengan kedatangannya.

"Ahh Ya...Ada apa?" dokter raffa menjawab dengan gugup sambil merapihkan jasnya. suster yang melihat ekspresi dokter raffa pun menahan tawanya, karena baru kali ini dokter raffa menunjukan sikap seperti itu.

"Ini dok" menyerahkan berkas pada dokter raffa.

Dokter raffa langsung membacanya dengan cepat dan menandatangani semua berkas itu lalu menyerahkannya lagi pada suster di hadapannya.

Suster itu pun pergi meninggalkan raffa yang masih menahan rasa malunya.

.

.

.

Eci membukakan pintu untuk hanna, dan hanna pun langsung masuk ke dalam unit nya, ia berjalan menuju kamar dan berbaring di atasnya di susul dengan eci yang berbaring tepat di sampinnya.

"Han" kata eci.

"Ya?" jawab eci.

"Apa aku boleh menginap di sini?" tanya eci.

"Kenapa kamu bertanya? kamu sahabat ku tentu saja boleh, lagi pula kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal seperti itu?" tanya hanna penasaran.

"Aku hanya berfikir kamu akan mengusir ku setelah aku tadi meninggalkan mu" jawab eci. jawaban eci membuat hanna tertawa.

"Baiklah jika kamu berfikir seperti itu, kalau begitu pergilah" jawab hanna. mendengar ucapan hanna eci langsung menoleh ke arah hanna.

"Kau sunguh jahat han" jawab eci.

"Aku kan belajar itu dari mu" jawab hanna. mereka berdua tertawa bersama mendengar jawaban hanna yang dengan polos nya mengatakan dirinya belajar jahat dari eci.

"Apa kamu lapar han" tanya eci.

"Ya aku sangat lapar" jawab hanna.

"Bagaimana kalau kita pergi makan di luar" ujar eci.

Hanna menghela nafas panjang dan langsung bangkit mengambil tas miliknya dan berjalan keluar.

"Kamu mau kemana?" tanya eci bingung yang melihat hanna tiba-tiba pergi.

"Cari makan, apalagi!!" jawab hanna. mendengar jawaban hanna eci pun langsung berlari mengejar hanna.

"Hei tunggu aku, kau curang sekali" eci mengambil tas miliknya dan berlari menyusul hanna.

Mereka berdua pun akhirnya sampai di sebuah resto terkenal di paris dan memesan banyak sekali menu spesial, sampai seisi meja penuh oleh piring dan tidak ada celah sedikit pun. ketika eci hendak mengambil makanan nya tangannya langsung di cubit oleh hanna.

"Aduhh" eci langsung mengusap tangan nya yang terasa sakit akibat cubitan hanna.

"Apa kamu melupakan sesuatu?" tanya hanna.

"Melupakan sesuatu?" eci berfikir keras apa yang sedang di maksud hanna, tak butuh waktu lama eci pun mengerti maksud hanna. ia langsung menatap hanna tajam, begitu juga hanna menatap eci dengan tajam dan juga senyum misteriusnya.

Mereka mengepalkan satu tangan nya masing-masing dan meletakkan tangannya di samping wajah mereka.

"Satu..." ucap hanna.

"Dua..." ucap eci.

"Tiii---ga!!"ucap mereka bersama berbarengan dengan melempar tangannya ke arah depan. ternyata mereka melakukan permainan sebelum mereka menyantap makanannya, mereka biasa melakukan itu sejak pertama bertemu dan terbawa sampai sekarang. siapa yang menang ia yang akan memakan satu makanan, dan yang kalah tidak bisa makan.

"Assaaaa,, aku menang" ucap hanna yang tertawa puas karena selalu mengalahkan eci dari babak pertama.

"Ahhh sudah ku duga" eci tersenyum kecut. Dan itu terus berlangsung.

.

.