Drrrrtttttt. ponsel eci berdering berkali-kali, eci tidak menyadarinya karena terlalu asik bermain bersama hanna, sampai akhirnya ia meraih ponsel miliknya dan terkejut.
"Kak kau dimana, kenapa tidak pulang-pulang?" ucap devan dari sambungan telpon.
"Ohh ya ampun, maaf aku lupa jika kau ada di apart ku saat ini, kalau begitu kau kemari lah, aku sedang ada di resto bersama hanna,, kau pasti belum makan kan" ucap eci.
"Wah wah wah,, kalian sedang bersenang senang rupanya, sedangkan aku di sini kelaparan,, aku akan kesana sekarang" devan langsung menutup telpon dan beragkat menyusul hanna dan eci. eci langsung mengirimkan lokasi keberadaannya ke devan, tak lama kemudian devan muncul dengan wajah kesal. namun saat matanya melihat makanan yang begitu banyak di atas meja, wajah devan langsung bersinar, perutnya pun seakan meronta minta cepat di isi oleh semua makanan itu, devan langsung duduk di tengah-tengah eci dan hanna lalu mulai melahap semua makanan di hadapannya, seperti orang yang tidak makan berhari-hari devan sangat cepat melahap semua makanan itu.
"Heiii pelan-pelan nanti tersedak, seperti tidak pernah melihat makanan enak saja kau ini" Ucap eci.
"Aku sangat kelaparan ka, apakah kau tahu aku tidak makan teratur karena kau begitu sibuk dengan urusan mu, padahal kau tahu aku tidak pandai memasak, dan.." eci langsung menginjak kaki devan saat melihat raut wajah hanna yang berubah menjadi murung ketika mendengar perkataan devan. devan langsung menatap hanna.
"Akhh maksud ku, aku tidak ingin makan makanan yang tidak di buatkan oleh kak eci, seperti itu" devan mencoba mengembalikan suasana yang tidak sengaja ia rusak.
Hanna tersenyum tipis mendengar perkataan devan.
"Bukan kah kita hanya beda satu tahun devan? kenapa kau sangat manja?" ucap hanna. mendengar ucapan hanna yang seperti itu devan hampir saja memuntahkan makanannya.
"Befffttt" devan menatap tajam hanna.
"Hei kau singa betina, apa maksud mu manja?" ucap devan.
"EHhh singa betina kau bilang!!" wajah hanna kesal mendengar ucapan devan.
"Kenapa?, bukan kah itu cocok dengan wajahmu?" ucap devan dengan senyum meledek.
"HAhhh.. kau laki-laki mesum" ucap hanna.
"APA!!" ucap devan yang tidak terima dirinya di bilang lelaki mesum.
"Hei hei heii kalian ini, jangan mulai lagi dech, aku tidak mau menjadi sorotan publik hanya karena ulah kalian berdua yang seperti anak anak" ucap eci yang mencoba menengahi dan mencegah pertengkaran bodoh antara hanna dan devan. hanna dan devan pun saling menatap dengan kesal, sampai akhirnya devan mengalihkan tatapannya dari hanna.
"Syukurlah aku bisa membuat dia tidak memikirkan perkataan ku tadi, bagaimana pun keadaannya saat ini sedang tidak baik" batin devan yang sudah mengetahui kondisi hanna dari cerita eci, walaupun eci hanya bilang hanna sedang tidak sehat. sebenarnya eci sendiri pun sampai saat ini masih tidak mengetahui kondisi hanna yang sebenarnya, karena hanna masih belum menceritakan apapun pada eci.
"Untung saja aku bisa mengalihkan fokus mereka, karena mereka melihat wajah ku yang berubah akibat ucapan devan tadi" batin hanna.
"Devan kau cukup pintar mengubah topik pembicaraan, semoga saja hanna lupa dengan ucapanmu tadi" batin eci. mereka bertiga saling mengkhawatirkan satu sama lain, tanpa ingin menunjukan nya.
Setelah keseruan di resto tadi hanna pun pulang dengan perasaan senang dan kenyang.
Hanna melangkah masuk kedalam kamar, melemparkan badannya ke atas kasur, tubuh hanna terasa sangat lelah, hanna menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, dan mengangkat tangan nya melihat cincin yang melingkar di jari manisnya membuat hanna menghela nafas berat, kenapa ia harus mengalami hal seperti ini. ini sungguh tidak masuk akal, hanna berusaha untuk tidak mempercayai hal itu namun nyatanya ia tidak bisa menghindar dari takdir yang sudah terikat dengannya.
Ia merasa hidupnya kini jauh lebih buruk dari sebelumnya, kebahagiaan nya di renggut oleh mimpi yang tidak sengaja ia alami, kebebasannya kini berubah jadi kekhawatiran, senyumannya kini mulai di renggut oleh rasa takut. Bahkan mungkin orang-orang di sekitarnya mulai lelah dengan kondisi nya sekarang.
Jika seperti ini terus hanna tidak lagi bisa memantau perusahaan milik ayahnya, jika hanya eci sendiri yang melakukannya itu akan membuat eci sangat kesulitan, seperti yang ia tahu di dunia ini bukan cuma ayahnya saja yang memiliki perusahaan yang bergerak di bidang game, bahkan banyak sekali musuh-musuh yang ingin menjatuhkan ayahnya.
Hanna berfikir keras untuk mencari solusi agar orang-orang di sekitarnya berhenti untuk mengkhawatirkan dirinya, tapi semakin hanna memikirkannya malah semakin membuat hanna menemui jalan buntu, ia memejamkan matanya dan teringat oleh sosok sang ayah yang selama ini berusaha membesarkannya seorang diri, berapa banyak kesulitan yang telah di lalui ayahnya demi membesarkan hanna, dan ayahnya tidak pernah menyerah,, tapi kenapa ia sangat lemah kekita hanya mendapatkan cobaan seperti ini, ini tidak ada apa-apanya di bandingkan semua yang telah di lalui sang ayah, tanpa di sadari air mata sudah membasahi pipi hanna, hanna menangis dalam diam sampai akhirnya ia pun tertidur pulas.
.
.
Detik demi detik jam berlalu, kegelapan malam mulai meredup, suasana dingin mulai menghangat, sehangat selimut yang masih menutupi tubuh hanna.
"Tak...tak..tak...csssssss"
"Uhukk...uhukkkk"
"Uuuhhhhhh..ckkk suara apa itu?" hanna terbangun karena mendengar suara dari arah dapur. Dengan mata yang masih setegah tertutup hanna beranjak dari kasur dan mendekati sumber suara itu.
"plak" ada telapak tangan yang menahan dahi hanna yang hampir menabrak sisi rak penyimpan makanan.
Karena matanya yang masih setegah tertutup hanna tidak melihat jelas apa yang ada di hadapannya, ketika ia melihat tangan orang yang menahan dahinya, hanna pun terkejut.
"YAAAAAA" hanna memundurkan tubuhnya, mata yang sebelumnya masih redup kini terbuka sangat lebar.
"Lagi lagi kau!!!...Sejak kapan kau bisa masuk ke sini!!!" hanna mengarahkan jarinya pada orang di hadapannya yang ternyata itu adalah devan.
"Kau ini,, bisa ga sih ga teriak, ngagetin aja" devan kembali ke sisi wajan tanpa menghiraukan pertanyaan hanna.
"Hahh??? aku di kacangin??" batin hanna.
"YAA... aku sedang berbicara dengan mu,, ken--Aawww awww..huufffftt huufttt.. kau ini bisa tidak sihh" ucap hanna yang kesal karena kecipratan minyak panas.
"Aku tidak bisa.. makanya kau diam jangan bikin aku makin pusing" ucap devan yang bingung dan juga kesal.
"Kalau tidak bisa kenapa masakkkkkkkkkk" ucap hanna kesal.
"Aku juga tidak mau, tapi ka eci yang meninggalkan ku dengan semua benda ini, sekarang dia malah ga datang datang... menyebalkan" Ucap devan yang mengerutu sendiri.
"Uhukkk...uhukkk... minggir biar aku saja..uhukkk" hanna mengambil spatula dari tangan devan dan meminta devan menyingkir.
entah apa yang ada di dalam wajan karena sudah tidak berbentuk lagi. Hanna mencoba menyelesaikan apa yang di kacaukan oleh devan dan akhirnya selesai.
"Huffftt akhirnya" hanna mengusap dahinya yang penuh dengan keringat.
"Aduuh..mataku" hanna mengucek matanya yang terasa seperti ada yang masuk, ia lupa jika tangannya habis memegang cabai sewaktu ia masak tadi.
"Ahhhh..aw..aw,, aduh pedas aduhhhh.. air mana air..airr" hanna berjalan mencari air.
devan yang melihat hanna mencoba menahan tawa karena hanna tidak mau diam.
"Sukurin.. akibat ga mau diam si, bukannya langsung cuci tangan malah kucek mata, jelas jelas tadi megang cabai,, hahaha" devan bukannya membantu malah menonton dan mentertaawakan kesialan hanna.
"Kauuuu.." hanna sangat kesal tapi dia lebih memilih mencari air dari pada meladeni ledekan devan. Hanna berjalan mencari keran air.
"Ahhh ini dia...ehhh ko ga keluar airnya... ahhhh sial sekarang aku harus ke toilet,,, toilet sebelah mana lagi iihhh" hanna berjalan lagi setelah keran tempat mencuci piring tidak mengeluarkan air, hanna berjalan merambat mencari pintu toilet tapi ia justru lupa arah mana yang menuju toilet, akibat bangun tidur masih dengan keadaan setegah sadar hanna jadi mengalami kesilaan seperti ini, di tambah devan yang hanya mentertawakan dirinya.
"Hhhahhhahah..aduh sakit perut.. tapi kasihan juga dia, sebaiknya aku bantu dech" ucap devan lirih, devan pun berjalan menghampiri hanna dan menuntunnya ke arah toilet. Sesampainya di toilet hanna langsung membasuh wajahnya dengan cepat, devan berdiri menahan tawa disamping hanna.
"Harum sekali..aroma apa ini?" devan tiba tiba mencium aroma yang di timbulkan dari cincin yang ada di jari hanna itu.
"Apa ini harum dari tubuhnya?,, tapi kenapa aku baru menciumnya?" devan terus menatap hanna heran, karena sejak tadi ia bersama hanna tapi tidak mencium aroma apapun, lalu kenapa sekarang tercium, apa mungkin hidungku bermasalah?, devan bertanya tanya pada dirinya sendiri.
"Huhhh aakhirnya,, kenapa perih sekali" hanna terdiam ketika melihat pantulan devan yang menatap dirinya dari cermin dihadapannya.
"Apa yang kau lihat" ucap hanna.
"Hahh!!" jawab devan.