Chereads / Love of the dreamer / Chapter 11 - Pria menyebalkan

Chapter 11 - Pria menyebalkan

Hari pun berlalu begitu cepat,

hanna berjalan di bawah sinar rembulan, di selimuti kesunyian malam, menatap bintang yang tersenyum ramah padanya, hanna menghentikan langkahnya di depan bangku taman, duduk dan bersandar mencoba masuk dalam melodi malam, ia termenung menatap air kolam renang yang begitu tenang. wajah cantik hanna bagaikan kelopak mawar yang sedang mekar di tengah rintik hujan hingga membuatnya tampak anggun, dan mempesona.

"Mmmmmmmm...mmmmmmm" hanna bersenandung untuk menghilangkan rasa bosannya, matanya tertutup perlahan, kepalanya bergerak mengikuti alunan senandung nya, merasakan segarnya angin malam yang meniup aroma dari bunga-bunga yang tumbuh di sekitar taman.

Senandung hanna menghentikan langkah seseorang, ada sepasang mata yang mencoba mencari sumber alunan senandung hanna, langkah kaki itu perlahan menyusuri taman menajamkan pendengaran nya, sampai langkah kaki itu terhenti ketika matanya menangkap sesosok wanita yang duduk manis di tepi kolam, ia mencoba mendekatinya, namun keinginan itu harus ia tunda karena ponselnya berdering.

-Beberapa saat kemudian-

Saat pria itu membalikkan badannya namun sosok wanita itu sudah tidak ada di tempat nya lagi, ia pun berjalan mendekati bangku taman untuk mencari nya namun ia tidak melihat siapapun, ia mengerutkan dahi nya dan bertanya-tanya apakah yang tadi ia lihat itu manusia atau bukan, tapi ia tak ingin mengambil pusing dan berlalu meninggalkan taman itu.

.

.

.

Hanna berjalan menyusuri jalan yang begitu ramai, mungkin karena malam ini adalah malam minggu, banyak sekali sepasang kekasih yang berjalan bergandengan tangan, namun hanna tak memperdulikan mereka karena buat hanna mempunyai seorang kekasih itu hanya akan membuang-buang waktu dan tenaganya,, di tepi jalan ia melihat cake yang tertata rapi didalam sebuah toko yang terlihat sangat ramai dan itu menarik perhatiannya, tanpa pikir panjang ia menghampiri toko kue itu, hanna pun langsung mendekati kue itu dan meminta si pelayan untuk membungkus nya namun ada tangan yang menunjuk ke arah kue yang sama dengan hanna, hanna pun menoleh dan menatap tangan yang berusaha mengambil kue miliknya..

"Oooo,,,kamuu!!" ujar pria itu yang tidak menyangka akan bertemu kembali dengan hanna. hanna hanya menatapnya heran kenapa pria di samping nya berkata seperti orang yang mengenal dirinya.

"Tolong bungkus ini untuk ku" ujar hanna yang tak memperdulikan pria di sampinya dan mengalihkan tatapan nya pada si pelayan.

"Heee!!!! tidak ini milik ku" timpal si pria yang tidak terima jika kue yang ia ingin kan di ambil oleh hanna.

"Sejak kapan kue ini menjadi milik mu??" tanya hanna.

"Sejak saat ini, kue itu akan menjadi milikku" jawab si pria dengan percaya diri. mendengar ucapan pria itu hanna menjadi kesal, bagaimana dia bisa berbicara seperti itu padahal hanna lah yang sampai dan menemukan kue itu terlebih dulu, dan dengan seenaknya pria asing di sebelah nya tiba-tiba datang dan bilang kue itu miliknya.

"Tolong bungkus kan ini untuk ku" kata hanna pada si pelayan dengan nada tegas.

"Tidak bisa, kue itu milikku" timpal si pria.

"Aku yang melihatnya duluan jadi itu milikku" jawab hanna dengan kesal.

Pelayan itu jadi bingung harus memberikan kue nya pada siapa, karena kue itu hanya tersisa satu dan kini di perebutkan oleh dua orang yang tidak mau mengalah. Akhirnya si pelayan itu pun mempunyai ide untuk membuat dua pelanggan nya tidak bertengkar, ketika tangan hanna menunjuk pada kue itu dan berkata kue itu miliknya mata si pria pun mengarah pada apa yang di tunjuk hanna dengan mata yang langsung terbuka lebar saat melihat apa yang hanna tunjuk, hanna pun mengikuti arah tatapan pria di hadapannya, mulut dan mata hanna langsung terbuka lebar melihat kue yang ia inginkan ternyata sudah menjadi dua bagian,, hanna dan si pria itu pun saling tatap sebelum akhirnya menjatuhkan tatapan mereka pada si pelayan, namun si pelayan dengan polosnya tersenyum sampai seluruh gigi nya terlihat.

"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?, bukankah ini solusi terbaik agar kalian tidak bertengkar" kata-kata yang keluar dari mulut si pelayan yang seakan-akan tidak berdosa itu membuat hanna dan pria di hadapannya diam tak berdaya.

"Ha...Ha....Ha..Ha....hahahah,,,ahaha" tawa hanna yang tidak percaya dengan kelakuan si pelayan yang entah tindakannya itu bisa di bilang pintar atau bodoh. sementara pria si samping hanna hanya diam menatap kuenya dengan senyuman pasrah, hanna membalikkan tubuhnya dan membungkuk menutup wajah nya, sedangkan si pria berjalan ke pojok dan meletakkan tangannya pada dinding.. mereka tak percaya kue cantik itu kini hancur oleh pelayan yang mencoba memberikan yang terbaik buat mereka tapi malah membuat mereka jengkel.

-Beberapa saat kemudian-

"Aku tidak jadi membeli ini, pria itu yang akan membayarnya" ujar hanna yang bangkit dan menghampiri si pelayan. mendengar pernyataan hanna si pria langsung menghampiri nya.

"APA!!, tidak mau, kau saja yang membayar itu" jawab si pria.

"Aku???..." jawab hanna.

"Iya kamuu" sahut si pria.

"Kenapa harus aku, kau yang membuat kue itu rusak, jadi kau lah yang harus membayarnnya" jawab hanna.

"Jika kau tidak datang dan mengacau ini tidak akan terjadi" timpal si pria.

"Aku yang pertama datang, tapi kau tiba-tiba mengaku jika itu kue milik mu" jawab hanna kesal.

mereka pun saling adu mulut tak mau mengalah, sampai akhirnya si pelayan angkat bicara.

"Bagaimana jika harganya di bagi dua biar adil" kata si pelayan dengan wajah polos tanpa dosanya.

"TIDAK!!" jawab hanna dan si pria secara bersamaan yang membuat seisi toko menatap mereka bertiga.

Karena kesal sekaligus malu hanna pun pergi meninggalkan mereka berdua tanpa memperdulikan apa yang terjadi, karena sudah membuat keributan akhirnya si pria lah yang membayar kue itu dan pergi menyusul hanna.

.

.

Ia mengejar hanna yang berjalan santai, berusaha menyamakan langkah kakinya namun saat langkah mereka hampir sama hanna melemparkan tatapan buas penuh kekesalan pada pria di sampingnya yang membuat pria itu menghilangkan niat untuk berjalan di samping hanna. Mereka berdua berjalan dalam diam di tengah keramaian malam minggu, sampai akhirnya pria itu membuka pembicaraan.

"Tidak heran jika kamu dan burung itu bertengkar, ternyata kamu memang tidak pernah mau kalah,," ucapan pria itu membuat langkah kaki hanna terhenti, melihat hanna yang berhenti ia pun berhenti, hanna membalikkan tubuh nya menatap tajam pada pria itu.

"Burung?" ujar hanna lirih. ia mengingat-ingat kapan dan dimana ia bertengkar dengan seekor burung.

"Ahhhhhh.. jadi kau pria yang mentertawai ku di taman itu" kata hanna yang kemudian ia kembali berjalan,,

"HAHHHH"