Chereads / Jadi Kamu Selalu Mencintaiku / Chapter 45 - Dunia Pasangan Romansa yang Tak Terduga (1)

Chapter 45 - Dunia Pasangan Romansa yang Tak Terduga (1)

Ji Anning mengatupkan bibirnya dan tersenyum tanpa bicara. Yang Yufang tiba-tiba dengan gembira mendekat ke telinganya dan berbisik, "Kakekmu berkata, setelah Pamanmu menikah, acara pernikahanmu dan Jingfeng juga akan bisa mulai diatur."

Wajah Ji Anning seketika langsung berubah setelah mendengar berita ini.

Ia membuka mulutnya sambil memandang Yang Yufang, dan ingin memberitahunya bahwa hati Jing Feng… telah dimiliki oleh wanita lain.

Yang Yufang tiba-tiba mengulurkan tangannya lagi, dan membantunya menyisir rambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, lalu ia berkata dengan nada gembira, "Anning, keinginan Ibu selama bertahun-tahun akhirnya akan segera menjadi kenyataan."

Ia memandang Ji Anning dengan tatapan penuh kasih sayang, terutama saat memanggil dirinya sebagai 'ibu', dan benar-benar memperlakukan Ji Anning seperti putrinya sendiri. Hal inilah yang membuat Ji Anning tidak tahan untuk bertanggung atas cinta dan harapan yang ibunya berikan padanya dan Ji Jingfeng selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya, Ji Anning hanya tersenyum tipis dan menelan kembali apa yang ingin ia katakan.

Lupakan, tidak peduli apakah di hati Ji Jingfeng ada ia atau tidak, atau mungkin Ji Jingfeng dengan orang lain atau tidak, ia adalah cucu asuh di keluarga Ji. Seperti yang dikatakan Ji Ruoqian, ia telah dijual di keluarga ini.

Jadi selama Ji Jingfeng bersedia menikah dengannya, keluarga Ji harus membiarkannya menikah dengannya, dan ia tetap harus menikah.

Imajinasi selalu bersifat impulsif, sangat emosional, dan sangat bebas.

Namun nyatanya, harus berpikir dua kali atau bahkan beberapa kali ketika akan menentukan keputusan dan mengambil langkah selanjutkan. Bahkan jika ingin mengatakan sesuatu, harus dipikir baik-baik terlebih dahulu.

....

Malam itu, Ji Jingfeng tidak pulang ke rumah, dan ia juga tidak terlihat di meja makan untuk sarapan keesokan harinya.

Saat ini semua orang sudah berada di ruang makan. Kakek adalah orang yang terakhir yang tiba di sana. Setelah ia masuk, dan melihat ke orang-orang di meja, ia bertanya dengan wajah tenang, "Apakah Jingfeng sangat sibuk belajar akhir-akhir ini?"

Yang Yufang buru-buru menjelaskan sambil tersenyum, "Dia akan belajar di Eropa semester ini, dan dia sedang membuat persiapan. Dia melakukan penelitian dengan teman sekelasnya hingga larut malam kemarin. Jadi dia langsung menginap di asrama sekolah."

Mendengar ini, wajah kakek itu sedikit melembut, ia berjalan menuju tempat duduknya lalu ia pun duduk, "Ayo makan."

Melihat kakek menggerakkan sumpitnya, semua orang baru mengambil peralatan makan mereka.

"Hari Jumat, Biro Kebudayaan akan mengadakan acara, ajaklah Anning untuk ikut."

Tiba-tiba, kakek mengangkat kepalanya dan menatap Yang Yufang.

Yang Yufang terkejut, kemudian ia pun mengangkat kepalanya dan menatap kakek Ji Zhengdao, lelaki tua itu menundukkan kepalanya untuk makan setelah ia selesai berbicara.

Kebahagiaan datang terlalu cepat, Yang Yufang tertegun sejenak sebelum mengangguk dengan penuh semangat, "Baiklah, terima kasih Ayah."

Bertahun-tahun, ia hanya menjadi istri kedua dari keluarga Ji, bahkan statusnya di keluarga Ji tidak sebaik cucu tertua, Ji Xiangting.

Selama bertahun-tahun, setiap ada acara selalu tidak pernah membiarkan diwakili olehnya, Lin Yanqin yang biasanya selalu mewakili kakek untuk datang ke sebuah acara.

Ini adalah pertama kalinya kakek secara pribadi mengzinkannya untuk keluar dan menunjukkan wajahnya.

Ia merasa bersyukur, akhirnya ia akan menunjukkan dirinya, ia menundukkan kepalanya dan dalam hati ia merasa sangat bahagia.

Ketika ada orang yang senang, pasti akan ada orang yang merasa kesal.

Lin Yanqin tampak bingung dengan perintah kakek pada Yang Yufang barusan, ia mengerutkan kening dan menatap lelaki tua itu, "Ayah…"

Namun, sebelum ia bisa mengatakan apa-apa, ia sudah mendapatkan tatapan yang tegas dari kakek.

"Dalam keluarga ini, aku tidak ingin ada yang mempertanyakan keputusanku."

Setelah kakek berbicara seperti itu, seketika tidak ada lagi yang berani mempertanyakannya.

Lin Yanqin menggertakkan giginya, meletakkan tangannya di bawah meja, dan memelintir pakaiannya dengan marah.

Seperti biasa, kakek meninggalkan ruang makan terlebih dulu, dan setelah kakek pergi, suasana ruang makan langsung berubah santai.

Yang Yufang meletakkan pisau dan garpunya, kemudian berkata dengan semangat kepada Ji Anning, "Anning, jika kamu tidak ada kelas sore ini, pulang lah lebih awal dan Ibu akan mengajakmu membeli dua buah pakaian."