Dimas berjalan keluar dari dalam rumahnya dengan membawa pedang besi yang terlihat sudah tua dan juga berkarat, sayangnya harga pedang sangatlah mahal dan penghasilannya kurang untuk membeli pedang yang lebih bagus.
Paman Deer melihat bahwa Dimas keluar dari rumahnya dan melihat bahwa dia membawa pedang.
"Selamat pagi, Dim. Apakah kamu ingin pergi berburu lagi ?" Sapa Paman deer dan bertanya kepada Dimas dengan nada ramah.
Dimas mengangguk dan membalas sapaan Paman Deer " Iya, Paman. Aku perlu untuk mengumpulkan banyak uang untuk pergi ke Kota, aku ingin memulai hidup baru disana"
"Oh! Pantas saja kamu sangat rajin berlatih satu tahun terakhir, aku senang bahwa kamu memiliki tujuan yang besar. Aku harap kamu akan suksesnya di Kota dan aku hanya memberi saran bahwa kamu harus berhati-hati disana dan menjaga perilakumu" Paman Deer terkejut dan memberikan nasihat kepada Dimas. Dia tidak memberitahukan tujuannya berubah profesi kepada orang lain sampai saat ini, hal yang wajar jika Paman Deer terkejut.
Dimas menerima nasihat itu dengan senang hati dan mengucapan terima kasih kepadanya.
"Terima kasih atas sarannya, paman. Aku tidak akan melupakan apa yang kamu katakan, Aku akan pergi ke hutan jadi aku selamat tinggal paman"
"Hati-hati di hutan, tapi karena kamu sudah terbiasa maka seharusnya kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan" Paman Deer mengangguk.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke arah yang berbeda-beda.
Di dalam perjalanan Dimas disapa oleh orang-orang desa yang sama sekali tidak akan pernah tejadi jika itu adalah satu tahun yang lalu, memang benar perkataan bahwa Kekuatan adalah pendatang rasa hormat.
Sejak Dimas berhasil mendapatkan hasil buruannya setahun yang lalu dan rajin berburu dia mulai mendapatkan rasa hormat dari para penduduk desa yang bahkan sebelumnya bersikap acuh kepadanya mulai lemparkan senyum kepadanya.
Mereka hanyalah seorang bermuka dua, Dimas sama sekali tidak ingin bergaul dengan mereka tetapi dia tidak menunjukkan hal tersebut dan membalas sapaan mereka sambil terus menjaga jarak dari usaha mereka untuk menjadi lebih dekat dengannya.
Walaupun ada yang menunjukkan rasa hormat bukan berarti semuanya memiliki perasaan baik terhadapnya, ada juga yang iri dengan pencapaian Dimas. Dimas sudah berhasil memburu banyak sekali hewan dalam satu tahun dan dia melebihi hasil dari rata-rata pemburu.
Jadi adalah hal wajar jika ada yang merasa iri dengan pencapaian-nya.
Namun Dimas sama sekali tidak pernah meladeni mereka dan hal yang terburuk akan terjadi adalah bahwa dia terpaksa untuk mereka seperti yang terjadi pada beberapa orang yang berusaha menyergap-nya.
Mereka berhasil menusuk Dimas dan memenggal kepalanya, tapi karena keabadian-nya Dimas berhasil membunuh mereka dan membuat kejadian itu seperti penyerangan binatang buas.
Setelah kejadian itu, Dimas mulai sulit untuk mempercayai orang lain lagi. Kejadian itu merupakan pelajaran yang paling berharga baginya dan tidak akan pernah dia lupakan dengan sangat mudah.
"Kamu ingin pergi berburu lagi, Dimas ?" Tanya penjaga gerbang setelah melihat bahwa Dimas mengenakan pakaian berburunya dan membawa pedang.
Dimas melihat ke arah kedua penjaga itu dan mengangguk "Iya, Lagi pula jika aku tidak berburu aku tidak akan mendapatkan uang dan makan" Dia membuat lelucon kecil kepada mereka.
Mereka berdua tertawa kecil dan mengangguk setuju terhadap perkataan Dimas.
"Kamu benar, menjadi pemburu sangatlah sulit, aku bersyukur bahwa aku menjadi penjaga walaupun penghasilanku lebih rendah daripada kalian tetapi resiko-nya kecil" Kata penjaga kedua.
Dimas mungkin akan berpikir sama dengan Penjaga kedua jika dia tidak memiliki keabadian, dia lebih suka menjadi anggota Milisi karena lebih aman dan kehidupannya lebih terjamin daripada menjadi pemburu.
Namun, dia memiliki keabadian dan ditakdirkan bahwa dia harus pergi ke banyak tempat atau berhasil membuat penyamaran yang sempurna sehingga dia bisa tetap tinggal di satu tempat untuk waktu yang sangat lama.
"Kamu benar, tapi lebih menyukai tantangan daripada kehidupan seperti kalian" Kata Dimas dengan bercanda.
"Mungkin kamu benar, tapi rasa bosan ini lebih baik untukku" Kata Penjaga pertama sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar.
Melihat bahwa tidak ada yang bisa dikatakan lagi disini, Dimas memutuskan bahwa sudah waktunya untuk pergi ke hutan.
"Aku akan pergi, selamat tinggal "
"Hati-hati di hutan" Kata penjaga kedua dan Dimas mengangguk sambil terus berjalan masuk ke dalam hutan.
...
Dimas menggunakan pedang untuk memotong dahan-dahan yang menghalangi jalannya, dia perlu menggunakan tenaga ekstra karena pedangnya yang berkarat.
Dia terus berjalan maju sambil terus waspada di sekitarnya, ini adalah hutan tempat dimana binatang buas sering muncul jadi dia harus tetap berhati-hati karena keabadian-nya tidak mematikan rasa sakit.
Dimas terus berjalan maju mencari hewan yang memiliki ukuran besar, hewan kecil sama sekali tidak menarik perhatiannya karena.
"Aku perlu membeli pedang yang memiliki kualitas terbaik, di desa ada satu tetapi harganya sangatlah mahal. Namun sebelum aku melancarkan serangan-ku , aku perlu memiliki senjata yang memiliki kualitas terbaik" Dimas memiliki tatapan berbahaya di dalam matanya. Dia masih tidak melupakan rencananya untuk membunuh kepala desa bahkan semakin kuat setelah satu tahun ini.
Dia masih teringat akan wajah tersenyum dari Kepala desa saat dia menjual hasil buruan-nya dengan harga sedikit lebih murah daripada rata-rata, dia terus bertahan dengan semua itu dan tidak melompat ke wajahnya dan menebaskan pedang kepadanya.
"Sialan, mengingat pak tua itu terus membuatku merasa marah. Jika bukan karena kemampuan fisikku lebih lemah daripada dirinya maka aku sudah menebas kepalanya sejak lama" Dimas menggertakkan giginya saat perasaan membunuhnya terus meningkat.
Dia memiliki dendam terhadap Pria tua itu walaupun umurnya baru 35-an tetapi Dimas bahkan tidak ingin menyebutkan namanya dan menyebutnya sebagai pak tua terasa lebih baik baginya.
Jika bicarakan keterampilan berpedangnya, Dimas memiliki keyakinan diri bahwa dia diatas Kepala desa tetapi sampai sekarang yang menjadi kekurangannya adalah fisiknya, dalam pertempuran apapun bisa terjadi jika dia terkena serangan dari kepala desa maka dia pasti akan terpental bahkan saat ini dia masih memiliki keraguan dengan kekuatan fisiknya.
Kepala desa menunjukkan kekuatannya yang sama sekali tidak manusiawi, dengan hanya tangan kosong dia bisa menghancurkan sebuah pohon. walaupun tangannya memiliki tanda-tanda terluka tetapi buka itu intinya, dengan umurnya yang sudah sangat tua itu dia masih bisa menunjukkan kekuatan yang sebesar itu.
Dimas perlu berada di dalam keadaan terbaik-nya baik itu kondisinya dan peralatan-nya.
Roooarr
Dimas dapat mendengar suara auman keras dari sebelah kirinya yang sangat menarik perhatiannya.
Rooarr
Rooarr
Growwwlll
Suara auman itu seperti beberapa binatang buas sedang bertarung.
"Pertarungan binatang! Aku bisa menggunakan ini untuk mendapatkan binatang buas tanpa perlu mengeluarkan keringat" Dimas tersenyum gembira dengan apa yang dia dapatkan.
Sangat jarang Dimas menemukan pertempuran binatang dan hanya beberapa kali Dimas menemukan pertempuran binatang dan biasanya mereka bertarung dengan sangat cepat dengan kedua-duanya dalam kondisi terluka parah.
Dimas bisa menghemat lebih banyak waktu dengan itu, jadi dia segera pergi untuk melihat pertempuran binatang itu.