Gadis itu tercampak di dek. Nampaknya itu salah satu cara tentara itu penyambut para pelarian yang berhasil mereka tangkap. Kemalangan Ami tak hanya sampai disitu demikian keras nya tendangan didagunya, membuat kumis palsunya tercampak. Ketika lampu sorot diarahkan padanya, ketiga tentara itu terbelalak melihat lelaki yang tendang itu tidak berkumis lagi.
Tentu saja mereka kaget, belum ada kejadian satu kali tendangan bisa mencampakkan kumis orang. Setelah mereka perhatikan, baru mereka sadar kalau pelarian itu adalah lelaki dalam penyamaran.
Wajahnya yang putih dan halus, dan bulu mata yang terlalu lentik untuk seoarang lelaki, ditambah dadanya yang ber'bukit'. Karena bajunya basah kuyup jatuh kelaut, tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya. Salah seorang tentara yang melihat keganjilan itu, mendekat dan tiba-tiba breet! baju Ami tentang dadanya robek besar. Gadis itu tak berbuat apa-apa, matanya hanya terpejam. Gadis itu bukannya membiarkan apa yang dilakukan tentara itu, tapi memang dia dalam keadaan pingsan. Sebuah tendangan keras tadi telah membuat dia pingsan.
Dalam keadaan begitulah digerayangi oleh tentara itu. Le Duan yng sudah mencapai bibir dek, melihat bahaya yang mengancam adiknya segera bangkit, namun sebelum dia melangkah jauh sebuah popor menghajar tengkuknya hingga tersungkur. Dua tentara lagi, yang melihat temannya yang sedang melakukan pekerjaan tangan di tubuh itu juga tak dapat menahan diri.
Dengan mata mendelik dan liur meleleh mereka mendekat. Mungkin, karena saking nafsunya salah seorang terpeleset. Kawannya yang seorang lagi, begitu sampai menunduk menolak kawannya yang sedang asyik meraba sana-sini sampai terjengkang. Tangannya segera terulur untuk meraba dada Ami yang terbuka lebar itu. Namun tiba-tiba dia merasa kepalanya seperti dihantam martil yang sangat besar, seolah-olah hantaman itu mencampakkan kepalanya dari lehernya. Terdengar suara berderak.
Tentara itu tak lagi sempat marah, karena matanya sudah mendelik dan lehernya patah. Dia juga tak sempat tahu kalau temannya, yang tadi terpleset itu dan temannya yang terjengkang tadi karena dia dorong. Dia tak tahu, kalau kedua temannya yang jatuh tadi karena dihantam tengkuknya oleh samurai kecil. Bahkan dia tak sempat tahu kalau yang menghantam kepalanya adalah Le Duan. Lelaki yang tadi dia hantam dengan popor. Le Duan memang tidak kena telak, dia memang cepat menjatuhkan diri pura-pura pingsan agar tak di hajar bertubi-tubi.
Ketika dia terbaring pura-pura pingsan, dia merasakan sebuah tubuh menghimpitnya, dan dia yakin kalau si Bungsu sudah mulai beraksi. Dia segera menyingkirkan tubuh tentara yang terjengkang kearahnya tadi dengan perlahan. Dan saat itu dia lihat tentara yang mengerayangi adiknya terjengkang dan melihat sebuah benda mengkilat diantara pelipisnya.
Dia segera bangkit. Dan sebagai orang yang ahli bela diri, kakinya menghajar pelipis tentara yang ketiga saat tangannya mulai turun mau menjamah adiknya. Dia menoleh kebelakang, dan dia lihat si Bungsu sudah ada disana sambil memberi isyarat dengan menunjuk kearah senjata mesin 12,7 yang ada berada didepan. Sementara dia bertugas untuk meyelesaikan dua tentara yang berada di ruang kemudi.
Juru mudi dan Kapten kapal. Le Duan memungut sebuah bedil yang tergeletak di lantai, kemudian merayap kearah depan.
Si Bungsu merayap sampai pintu ruang kemudi dan memberi isyarat pada Le Duan untuk bertindak setelah dia beri aba-aba. Le Duan yang yakin kalau tentara yang lain sudah dibereskan si Bungsu, mengangguk. Kemudian menanti, dia tahu kalau anak muda dari Indonesia itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.
Kapten kapal itu masih sedang bicara di radio. Mungkin dengan kapal patroli yang lain, atau dengan markas besar mereka di darat sana. Kalau dia serang sekarang pasti kapal-kapal patroli yang lain akan di beritahu dan akan memburu kapal ini, itu yang tak diinginkan si Bungsu.
Untung pembicaraan itu tak terlalu lama, dia mematikan radio dan mematikan hubungan. Kemudian dia bicara dengan jurumudi. Saat itu si Bungsu bersiul kecil, siulan itu didengar Le Duan. Tanpa menoleh le duan bangkit dan berjalan kebelakang menuju penjaga senjata mitraliyur 12,7.
"Hei, kamu…!"ujarnya.
Tentara yang berpangkat kopral itu menoleh, dia terkejut ketika melihat pelarian yang tadi jatuh kelaut itu sedang mengarahkan senapan uzi buatan Rusia yang menjadi senjata standar tentara Vietnam itu ke arahnya. Dia belum sempat berbuat apa-apa ketika kilatan cahaya putih kemerah-merahan. Kemudian tubuhnya tersentak-sentak ketika tubuhnya ditembus timah panas. Lalu diam.
Yang tak diam adalah kapten kapal dan juru mudi. Mereka melihat peristiwa itu. Mereka melihat pelarian itu menyemburkan timah panas dari senjata uzi buatan Rusia itu. Melihat jelas penjaga M12,7 tersentak-sentak dan terkapar di tempat duduknya dibelakang senapan mesin yang dia jaga di depan sana. Komandan kapal patroli itu mencabut pistol, namun gerakannya terhenti ketika di ruangan yang tak seberapa besar itu dia melihat kehadiran orang lain. Nalurinya mengatakan kalau orang ini adalah bahagian dari komplotan pelarian yang memegang uzi di luar. Dia segera mengarahkan pistolnya kearah orang itu. namun orang itu, yang tak lain adalah si Bungsu segera mengantisipasi. Dalam dua langkah panjang dan cepat, dia sudah berada di sejangkauan tangan di depan kapten itu. Si Kapten tiba-tiba merasakan tangannya yang memegang pistol itu telah di cengkram orang tersebut. Demikian keras cengkraman itu, seolah-olah di jepit ragum besi. Jari-jemarinya terdengar berderak. Dan tak ada yang bisa dia lakukan selain berteriak karena remasan tangan yang sangat kuat.
Jurumudi kapal itu, yang baru menyadari ada orang lain diruangan itu setelah kaptennya meraung, segera meraih pistolnya di pinggang. Namun sambil mencengkram tangan si kapten, si Bungsu menghantam belakang kepala jurumudi itu dengan sebuah pukulan. Jurumudi itu tertelungkup diatas kemudinya.
Kapten kapal patroli itu bahu kanannya sampai miring dan kepalanya ikut miring karena tangannya yang memegang pistol itu masih dicengkram si Bungsu.
Sebagai perwira yang ahli beladiri, tidak biasanya dia dengan mudah diperlakukan seperti ini. Dia bermaksud mempergunakan tangan kirinya yang bebas, atau kakinya untuk menendang. Namun entah mengapa, saat tangan kanannya dicengkram lelaki ini, semua anggota tubuhnya yang lain tak bisa digerakkan. Apapun gerakan yang dia buatnya, yang terasa adalah rasa sakit dihulu jantungnya. Semua gerakan yang dia lakukan berakhir dengan seringai sakit. Si Bungsu menghantamkan tangan kirinya kewajah kapten yang sedang menyeringai itu. Hidung kapten itu kontan remuk, enam giginya berderak copot dihantam oleh lelaki dari Situjuh Ladang Laweh itu. Pistolnya segera beralih ketangan si Bungsu. Dan si kapten terhantar di lantai dengan kesadaran tinggal separuh. Saat itu Le Duan memapah adiknya keruang kemudi. Tak lama kemudian dalam ruang kemudi itu Ami mulai berangsur sadar dari pingsannya.
"Hei, sudah bangun?"sapa si Bungsu.
Gadis itu untuk sementara mengejap-ngejap mata. Menatap pada si Bungsu, pada abangnya. Kemudian bergerak perlahan kearah si Bungsu sembari menutupi dadanya yang terbuka dengan bajunya yang robek.
"Aku ingin cepat keluar dari mimpi buruk ini, Bungsu…"bisiknya sambil memeluk si Bungsu erat-erat dari samping.
"Kita lanjutkan rencana kita. Hanya tinggal dua babak menjelang babak akhir…"ujar si Bungsu.
Le Duan sudah mengambil alih kemudi.
"Bisa dicari posisi kapal patroli yang lain dengan radar?"tanya si Bungsu.
"Ya, saya sedang memantaunya. Ada tiga kapal disekitar kita. Yang terdekat sekitar dua mil, yang terjauh sekita sepuluh mil…"jawab Le Duan. Sambil merperhatikan layar radar yang ada didekat kemudi.
"Baik, sekarang kita cari mayat-mayat pengungsi tadi…"ujar si Bungsu.
Le Duan segera memutar kapal itu kearah mereka datang tadi. Dia menyetel lampu sehingga cahayanya menyapu laut di depan mereka. Dengan memutar tuas yang ada di ruang kemudi. Si Bungsu yang tubuhnya masih digelayuti Ami, mengarahkan lampu sorot kekiri-kekanan.
Saat itu kapten kapal itu siuman, disusul jurumudinya. Ami melepaskan pelukannya dan menendang kapten itu, si kapten melenguh pendek dan pingsan lagi . Jurumudinya dihajar dengan tumit tentang dadanya. Mata jurumudi itu terbelalak dan kembali terjengkang.
"Hei, jangan bunuh mereka…"ujar si Bungsu.
"Mereka hanya tidur sebentar…." ujar Ami.
Sekitar lima menit berlayar, lewat lampu sorot mereka melihat dua tubuh mengapung di laut.
"Lambatkan mesin…"ujar si Bungsu.
Le Duan memperlambat mesin kapal. Posisi dua mayat itu, mayat wanita yang masih memeluk bayi lelakinya, terlihat mengapung dekat lambung bagian kanan.
Ketika mayat itu berjarak tiga atau empat meter dari lambung kapal, si Bungsu menyuruh menghentikan kapal. Kemudian dia menatap Ami yang masih saja bergelayutan di tubuhnya.
"Bisa kau bangunkan sahabatmu yang tidur itu, Ami..?"ujar si Bungsu perlahan.
Ami menatap lemari di dinding belakang ruang kemudi itu. Membukanya. Dan disana ada termos dan roti. Dia ambilnya termos itu. Ketika dibuka tercium aroma kopi yang cukup harum.
"Mereka butuh kopi saat udara dingin begini…"ujar Ami sambil berjalan kearah tubuh kapten dan jurumudinya.
Lalu tanpa bicara, dia menyiramkan kopi panas itu kewajah kedua tentara vitnam itu. Keduannya sontak kaget tersadar dari pingsannya. Mereka memekik akibat siraman kopi panas itu.
Si Bungsu melepaskan tuas lampu sorot, menguncinya. dimana cahaya lampu sorot itu terarah ke dua tubuh mayat yang mengapung di laut. Kemudian dia mencekal leher si kapten, membawanya berdiri. Le Duan menyeret jurumudi. Mereka membawa kedua orang itu keluar ruang kemudi, lalu menuju dek bahagian kanan kapal.
"Kalian lihat dua mayat itu?"ujar si Bungsu, yang cepat diterjemahkan Le Duan ke bahasa Vietnam.
Mata kedua tentara itu bukanya melihat kearah kedua mayat itu. Melainkan menatap kelaut luas. Berharap kapal patroli yang lain datang membantu. Namun sejauh mata memandang yang terlihat hanya kegelapan.
"Sudah tak terhitung jumlah orang-orang yang kalian biarkan mati di tengah laut. Kini giliran kalian bagaimana rasanya mati seperti itu. Untuk semetara untuk bisa mengapung, Kalian harus minta tolong kedua mayat itu. Tubuhnya terpaksa kalian jadikan pelampung. Kini turunlah…!"perintah si Bungsu.
Belum habis takut dan kecut hati kedua orang itu, tiba-tiba tubuh mereka sudah melayang ke laut, semeteran dari mayat yang terapung-apung itu.
Kapten itu memekik sambil memohon-mohon minta belas kasihan. Demikian juga jurumudinya. Mereka menggapaikan tangan ke kapal berusaha mencari pegangan. Namun bibir dek kapal terlalu jauh untuk mereka jangkau. Ombak yang deras membawa mereka menjauh dari kapal. Mendekati mayat yang mengapung dengan diam. Si Bungsu dan Le Duan menatap dingin kerah kedua tentara Vietnam itu.
"Jalankan kapal…"ujar si Bungsu
Le Duan memasuki kamar kemudi. Menambah gas kemudian kapal itu meluncur. Meninggalkan tentara itu dengan ketakutan yang luar biasa itu. Si Jurumudi kemudian berenang memdekati mayat yang mengapung itu. Dia sungguh takut. Namun ucapan lelaki asing itu ada benarnya, walau jijik dan ketakutan mayat ini bisa dijadikan pelampung. Lalu menggantung disana.
Benar, karena mayatnya sudah berlobang porinya dan di penuhi air bisa dijadikan pelampung darurat. Dan berusaha menggerak-gerakan kakinya biar bisa dia mengapung.
Dengan cara itu pula dia berusaha mendekati si jurumudi yang bergelayut di mayat yang kapal mereka menenggelamkannya.
Namun si jurumudi tampaknya tak mau diganggu. Untuk menahan tubuhnya saja mayat itu sudah tak begitu kuat. Apalagi harus berdua dengan kapten itu. Diam-diam dia mengayuh kakinya agar menjauh dari jangkauan sang kapten. Sedangkan si kapten berusaha juga untuk mencapai mayat itu. Semakin kuat dia berenang, tambah kuat juga dia menjauh, si Kapten akhirnya tahu perbuatan jurumudinya.